Chapter 16

1508 Words
    Shana meraih tas kecil dan ponselnya begitu mendapat pesan dari Kak Morus. Shana keluar dari rumah saat jam menunjukkan pukul tujuh malam. Shana mengambil mobil di garasi dan segera cabut dari rumahnya.     Shana berkendara dengan agak ngebut menuju ke kampusnya. Ia membawa mobilnya sampai ke parkiran dosen di dekat gedung dekanat dan memarkirkan mobilnya di sana.     Shana berjalan perlahan ke bagian gedung kegiatan mahasiswa, tempat di mana Morus telah menunggunya. Shana berjalan sembari mengamati sekitar. Ia memasang sikap waspada.     Shana menaiki undakan untuk sampai ke selasar gedung kegiatan mahasiswa. Shana sudah bisa melihat seseorang berdiri di balik gelap. Itu pasti Kak Morus.     "Kak Morus," panggil Shana yang membuat Morus menoleh ke arahnya.     Morus yang semula bersandar di pilar gedung kegiatan mahasiswa, akhirnya menegakkan tubuhnya. Ia melambai singkat dan mengulas senyum.     "Mana kak buktinya?" tanya Shana langsung. Dia tidak mau membuang waktu terlalu lama dengan orang asing yang baru dikenalnya ini.     "Sorry kalau gue minta ketemu dan nggak jadi kirim buktinya lewat chat." Morus menyerahkan berkas yang dimasukkan ke dalam map plastik.     "Iya, nggak papa kok. Makasih ya, Kak." Shana menggerak-gerakkan berkas dari Morus itu. "Nanti gue kasihin ke ayah."     Morus mengangguk dan menggumamkan kata terima kasih juga. Ia menepuk bahu Shana dan berlalu meninggalkan gadis itu.     "Eh, kak Morus," panggil Shana untuk menahan Morus agar jangan pergi dulu.     "Ya?" tanya Morus dengan dahi berkerut.     Shana berdeham, "Ehm, tadi pagi di auditorium ada kejadian apa, Kak?"     Morus menghela napas, "Ada mayat lagi."     "Tapi kenapa respon panitia bisa sehisteris itu? Kemarin kan juga mereka tahu kalau ada penemuan mayat," cecar Shana dengan tampang penasaran yang berusaha ia tutup-tutupi.     Morus mengangguk-angguk, "Mayat itu adalah cewek yang digantung tanpa busana di ruang auditorium. Wajar kan kalau itu jadi pemandangan yang mengejutkan."     Shana ber-oh-ria. Ia lalu teringat sesuatu lagi, "Kakak udah tau identitasnya?"     Morus menggeleng, "Gue belum sempat cari tahu. Tapi kata panitia lain, mayat itu adalah maba dilihat dari seragam ospek hitam putih yang dilipat rapi dan diletakkan di dekat mayat itu."     Shana bergidik ngeri mendengar penjelasan Morus itu. Bukankah pembunuh sangat sinting hingga melakukan hal menjijikkan dan melanggar hukum begitu?     Melihat Shana sudah tidak akan bertanya apa-apa lagi, Morus kembali pamit dan sungguhan beranjak dari sana.     Shana juga segera hengkang dari gedung kegiatan mahasiswa. Ia tidak mau lama-lama berada di kampus yang gelap dan sepi ini. Kalau ada sesuatu yang buruk, Shana akan kesulitan meminta bantuan.     Shana mempercepat langkahnya saat merasakan ada bayangan hitam yang mengikutinya. Bulu kuduk Shana meremang. Apa itu hantu penunggu kampus atau arwah gentayangan mayat-mayat yang ditemukan tewas kemarin itu? Shana tidak berani menoleh ke belakang meski untuk mengecek.     Shana langsung menuju mobilnya. Ia menyalakan mesin mobilnya dan bergegas tancap gas pergi dari kampusnya. ***     Shana tidak bodoh. Dia belum mempercayai Morus sepenuhnya. Maka untuk memastikan bukti yang Morus berikan adalah bukti asli yang tidak dimanipulasi, Shana mengecek berkas-berkas dalam map plastik itu satu per satu. Oh ya, Morus bilang kalau dia juga tidak mendapatkan bukti-bukti itu dengan tangannya sendiri. Ada orang yang sengaja melaporkan kepada Morus selaku ketua panitia ospek soal kejadian-kejadian selama ospek berlangsung. Jadi, Shana memang harus sehati-hati itu.     Pertama kali yang Shana lihat dari berkas itu adalah selembar foto yang dicetak di atas kertas hvs. Satu lembar foto di dalam berkas itu yang menunjukkan bahwa Aci dan Cila sedang menghadap ke arah tumpukan kotak makan siang untuk maba. Aci tampak tertawa, sementara Cila hanya tersenyum kecil menatapi kotak-kotak itu. Apa maksud dari foto ini? Apa Aci dan Cila lah pelaku yang memberi obat pencahar ke makan siang para maba?     Shana menggeleng. Ia memperingatkan dirinya sendiri agar tidak terlalu cepat mengambil keputusan. Saat ini dia tidak boleh beranggapan dan membuat otaknya selalu mencari kesalahan Aci dan Cila. Apa yang kedua orang itu lakukan di depan kotak makan siang, belum tentu seperti yang Shana pikirkan.     Shana memindahkan lembaran tadi ke tumpukan terbawah berkas yang ia teliti. Sekarang, Shana bisa melihat foto kedua. Foto kedua menunjukkan Aci dan Cila yang duduk-duduk di bagian tangga.     Shana mengernyit. Apa maksud foto itu? Aci dan Cila duduk di tangga lalu apa yang salah dengan hal itu?     Sebuah lampu menyala di kepala Shana. Shana ingat tangga apa itu. Itu adalah tangga menuju ke rooftop gedung dekanat. Shana hanya baru mengetahui satu tangga yang bentuknya melingkar begitu di kampusnya. Tangga itu pasti benar-benar tangga menuju rooftop. Kalau begitu, apa maksud foto ini?     Belum sempat berpikir lebih jauh, Shana dikejutkan dengan suara bel rumahnya. Shana menghela napas untuk menenangkan degup jantungnya yang seperti genderang perang. Shana memang paling malas kalau ada yang mengagetkan dirinya saat dia sedang fokus dan serius.     Oke, bel rumah Shana kembali berbunyi. Sepertinya Shana harus segera mengecek siapa yang datang malam-malam begini. ***     Arthur berdiri di depan pintu rumah Shana. Sebenarnya Arthur sudah berdiri lama di teras rumah Shana. Tapi ia baru memutuskan untuk memencet bel saat rasa penasarannya tidak dapat dibendung lagi.     Arthur menekan bel sekali lagi karena pintu rumah Shana tidak kunjung dibuka. Arthur melirik ke jendela kamar Shana. Lampu kamar Shana masih menyala. Jadi tidak mungkin Shana sudah pergi tidur.     Pintu terbuka. Shana keluar dari rumahnya. Shana menatap Arthur dengan dahi berkerut samar.     "Arthur, kamu ngapain ke sini?" Shana agak gelagapan.     Shana memperhatikan Arthur dari atas sampai bawah. Arthur menggunakan hoodie berwarna hitam dan celana panjang hitam. Shana mengernyit lagi.     "Arthur, lo yang tadi ngikutin gue di kampus?" tebak Shana dengan mata sedikit menyipit dan menatap curiga pada Arthur.     Arthur mengangguk. Ia kelihatan tidak merasa bersalah telah membuat Shana ketakutan.     "Gue tau lo mau ketemu Morus. Gue cuma nggak mau lo dalam bahaya," ucap Arthur tenang.     "Whoa," pekik Shana tak habis pikir. "Arthur, gue kan udah jelasin ke lo tadi siang. Kak Morus nggak mau ada yang tau hal ini selain gue."     Arthur mengusap wajahnya kesal, "Pake otak lo, Sha. Pikirin baik-baik alasan Morus minta lo merahasiakan ini dari teman-teman lo. Lo yakin Morus beneran berniat baik dan mau ngungkap kasus ini? Harusnya kalau dia beneran punya niatan mengungkap kasus ini, dia nggak keberatan kalau gue, Verrel, dan Agatha juga bantuin lo."     "Bentar, deh. Gue belum tanya lo tau gue ketemuan sama Morus dari siapa?" tanya Shana sembari mengedikkan kepala.     "Agatha," ujar Arthur singkat.     "Oh, jadi Agatha ngikutin gue beneran malem itu?" Shana mengangguk-angguk kepala karena dugaannya terbukti benar. "Kayanya kalian terlalu berlebihan curigain Kak Morus terus-terusan. Dia nggak seburuk yang kalian pikirkan."     "Bukan kami yang curigaan tapi lo yang berhasil ketipu sama kebaikan palsu yang dia perlihatkan," tukas Arthur agak keras.     "Maksud lo? Emang lo kenal sama Morus atau lo tau sesuatu tentang dia?" Shana mempertanyakan alasan Arthur menuduh Morus menipu Shana. "Enggak, kan? Lo juga nggak tau apa-apa soal dia, Ar. Tapi lo terlanjur nggak suka sama dia. Makanya lo terus berpikiran negatif sama Morus."     Arthur menurunkan emosinya menghadapi Shana yang sama keras kepalanya dengan dirinya. Ia menatap Shana dengan serius tapi sudah tidak dengan ekspresi marah. Arthur berkata penuh penekanan, "Morus itu mantannya Aci."     "Terus?" Shana menaikkan sebelah alisnya. Ia masih tidak tahu apa yang salah dengan status Morus yang merupakan mantannya Aci.     "Lo nggak curiga dia yang bunuh Aci?" tanya Arthur dengan nada rendah dan dengan penekanan pada setiap katanya. ***     Sementara Arthur bilang akan mengintai Shana dan Morus, Agatha memilih mengintai Panji. Agatha sedikit menaruh curiga pada cowok bernama Panji itu. Cowok itu selalu tampil sebagai sosok pemimpin yang selalu bisa memimpin para bawahannya dalam mengatasi masalah. Kelihatan keren, kan? Tapi tiba-tiba saja, Agatha jadi menaruh curiga pada Panji karena hal itu.     "Buruan jemput. Lima menit nggak dateng, gue pergi sendiri nih," ancam Agatha di telepon.     Ia lalu memutus sambungan teleponnya dengan Verrel lalu memasukkan ponselnya ke dalam sling bag mini yang tersampir di bahu kirinya. Agatha menunggu jemputan di balik gerbang rumahnya. Itu sesuai dengan perintah Verrel yang bilang kalau bahaya menunggu jemputan di pinggir jalan.     Hampir menunggu sekitar sepuluh menit, Agatha baru bisa melihat mobil Verrel menepi. Agatha membuka gerbang rumahnya dan langsung masuk ke mobil Verrel.     "Lo bilang malem ini nggak akan mengintai siapa-siapa. Kenapa tiba-tiba telepon gue minta ditemenin ngintai Panji?" protes Verrel.     Agatha yang masih mencari posisi nyaman akhirnya menoleh pada Verrel. Ia menyipitkan matanya menatap Varrel. "Jadi lo nggak ikhlas nemenin gue sekarang?"     "Bukan gitu maksud gue, Tha," sanggah Verrel cepat. Ia buru-buru menjalankan mobilnya sebelum Agatha ngambek dan turun dari mobil Verrel.     "Kita ke kafe Dua Belas Jari, ya," ujar Agatha.     Verrel menoleh cepat pada Agatha, "Emang ada kafe yang namanya kaya gitu? Seketika gue langsung inget sama usus."     "Ih, Rel, itu tuh kafe yang kemarin kita datengin sama Arthur dan Shana. Waktu kita ngintai Kak Morus," terang Agatha.     Verrel menggeleng lantaran lupa dan dia memang tidak memperhatikan nama kafe itu. Tapi mendengar nama kafe itu berhasil membuat Verrel mengingat bentuk usus. Kok, creepy ya? ***     Agatha turun dari mobil Verrel. Ia menatap sebentar papan nama bertuliskan Dua Belas Jari yang disertai logo cangkir kopi.     Agatha yakin sekali kalau ini memang kafe milik Panji, seperti informasi yang telah ia cari.     "Tau dari mana kalau kafe ini punya Panji?" tanya Verrel yang sudah berdiri di samping Agatha.     Agatha mengeluarkan kaca mata hitam, lalu memakainya. Ia menjawab pertanyaan Verrel sambil berjalan memasuki kafe, "Dari instagramnya Kak Panji."     "Lo stalking Panji?" Verrel ternganga.     Agatha menghela napas melihat Verrel yang terlalu drama, "Cuma liat-liat foto di i********: dia kok. Itu bukan kejahatan besar."     "Pakai second account?" tebak Verrel.     Agatha menggeleng cepat. Ia menurunkan kaca mata hitamnya hingga matanya kembali terlihat. Senyumnya terkembang geli, "Third account."     "Parah, lo. FBI butuh orang dengan talenta kaya lo," gurau Verrel membuat Agatha tergelak.     Mereka akhirnya berhenti berisik dan masuk ke dalam kafe dengan tenang. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD