Verrel memilih meja dekat dengan bar. Alasannya adalah karena Panji sedang duduk-duduk di bar bersama dengan rekannya.
Agatha menarik kursi yang berhadapan dengan Verrel. Ia duduk di sana setelah beres memesan minuman dan makanan.
"Itu Kak Panji ngobrol sama siapa?" tanya Agatha pada Verrel.
Verrel menggeleng. "Nggak tau, dia belum noleh. Tapi gue sih kayanya nggak kenal sama postur tubuhnya."
Agatha mengangguk-angguk. Ia menunduk menatapi ponselnya. Agatha lanjut stalking akun i********: milik pemilik kafe ini.
"Panji biasa ada di sini setelah pulang kuliah. Hampir setiap malem dia di sini. Kadang kalau pagi atau siang nggak ada kelas, dia juga dateng ke sini." Agatha menggumam, membaca dengan pelan tulisan di ponselnya.
Verrel mendongak sebentar untuk melirik ke Agatha, lalu kembali menunduk. Sepertinya bukan dia yang tengah Agatha ajak bicara.
"Hmm, Morus sering banget komentar di postingannya Panji." Lagi-lagi Agatha menggumam.
Kali ini Verrel menatap Agatha cukup lama meski cewek itu sibuk dengan ponselnya. Saat Verrel menoleh ke arah belakang Agatha, ia melihat pelayan kafe hendak mengantarkan pesanan Agatha.
"Tha, berhenti dulu stalking-nya. Pelayan kafe ini mau anterin pesenan lo," bisik Verrel.
Agatha paham dengan maksud Verrel. Ia segera membalikkan posisi ponselnya hingga layarnya berada di bawah.
"Silakan dinikmati," ucap pelayan kafe ramah dibarengi senyuman.
Agatha dan Verrel juga balas tersenyum. Pelayan itu segera meninggalkan meja Agatha dan Verrel seberes mengantarkan pesanan Agatha.
"Cicipin deh, itu menu terlaris dan disukai pelanggan kafe kami." Seseorang berdiri di sebelah meja Agatha dan Verrel.
Agatha mengintip dari balik kacamata hitamnya. s**l, orang yang sedang ia tatap adalah Panji, si pemilik kafe ini dan orang yang tengah ia intai!
Verrel berdeham kaku tapi berusaha tersenyum. "Ini mau nyobain."
"Iya, ini baru mau nyobain." Agatha membeo ucapan Verrel. Ia lalu mencomot makanan yang dipromosikan Panji.
"Oke selamat menikmati. Wajah kalian familier jadi saya kira kita saling kenal. Makanya saya sapa kalian. Maaf mengganggu, silakan dinikmati." Panji menggerakkan tangannya bergerak seperti memindai wajahnya dengan telapak tangannya. Ia tersenyum sekali lagi sebelum meninggalkan meja Agatha dan Verrel. Panji kemudian kembali duduk di bar bersama rekannya.
Sepeninggal Panji, Agatha dan Verrel saling tatap. Mereka sepertinya sama-sama bertanya-tanya apakah Panji mengenali mereka atau tidak.
"Menurut lo, dia tau nggak kalau kita ini maba?" tanya Verrel.
Agatha menggeleng bingung, "Gue nggak tau. Tapi kita kan sering banget bersinggungan sama Kak Panji. Jadi dia samar-samar inget muka kita."
"Duh, apes bener dah." Verrel menyesap minumannya.
***
Arthur menatap Shana. Ia sedari tadi masih berdiri di depan pintu karena memang Shana belum mempersilakannya masuk.
"Jadi, gue boleh masuk?" tanya Arthur.
Shana tersadar, "Oh, iya."
Shana membuka daun pintu lebih lebar dan membiarkan Arthur memasuki rumahnya. Shana menutup pintu dan bergegas menyusul Arthur di ruang santai.
"Gue mau liat apa yang lo dapetin dari Morus," pinta Arthur.
Shana menghela napas. Ia agak ragu apakah harus memperlihatkan bukti itu pada Arthur atau tetap menyimpannya seorang diri.
"Sha, kalau pun gue lihat bukti dari Morus sekarang, dia nggak akan tau," yakin Arthur.
Shana masih tetap ragu. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Kalau misal ada yang terjadi setelah gue lihat bukti dari Morus, berarti memang cowok itu patut dicurigai. Gitu kan mikirnya?" Arthur tetap membujuk.
"Oke, gue ambil berkasnya," putus Shana kemudian berbalik dan menuju ke kamarnya.
Shana merapikan berkas-berkas dari Morus yang tercecer di kasurnya. Ia memasukkan berkas-berkas itu kembali ke dalam map.
Shana melangkah gegas keluar kamar, menuruni tangga, dan kembali ke ruang keluarga. Shana bisa melihat Arthur sudah duduk di sofa sembari bermain ponselnya.
"Nih berkasnya," ucap Shana sembari mengangsurkan berkas-berkas itu.
Arthur mengangguk, "Thanks."
Arthur dengan cekatan membuka map dan mengeluarkan beberapa lembar hvs dari dalam map itu. Arthur membolak-balik berkas-berkas itu.
"Lo udah liat semuanya?" tanya Arthur pada Shana. Tapi mata Arthur tetap terpaku pada berkas yang tengah ia cermati itu.
Shana menggeleng dan berjalan mendekati Arthur. Shana duduk di sebelah Arthur. Sambil ikut melihat-lihat berkas di tangan Arthur, Shana menjawab, "Belum semua. Gue baru lihat dua foto."
"Ini bukti Morus yang dapetin?" tanya Arthur lagi.
Shana kembali menggeleng, "Enggak."
"Terus Morus dapet semua ini dari mana?" cecar Arthur.
"Katanya ada yang kirimin dia berkas ini. Terus karena dia bingung gimana cara nyerahin ke penyidik, dia minta tolong gue buat kasih ini ke ayah," terang Shana.
Arthur mengangkat wajahnya dari berkas-berkas itu. Ia beralih menatap Shana dengan serius. "Sha, dia tau dari mana lo anak Pak Gerald?"
Shana mengedikkan bahu sembari menggeleng. "Entah. Kenapa emang?"
Arthur menunjuk-nunjuk Shana, "Lo patut curigain dia karena tahu siapa bokap lo tanpa lo kasih tau."
Shana menghela napas. Lagi-lagi Arthur memancing kecurigaan Shana pada Morus.
***
Agatha dan Verrel masih di tempat yang sama, kafe Dua Belas Jari. Mereka bahkan sudah menambah pesanan agar tidak diusir dari sana.
"Makin malem, kafe ini makin rame aja ya," gumam Agatha sambil melirik sekitar.
Verrel turut memperhatikan kanan kirinya, "Iya, banyak mahasiswa nongkrong di sini. Padahal kuliah kan baru mulai senin besok. Kenapa mereka udah keliaran di sekitar kampus?"
"Mungkin mereka anak-anak kos dan perantauan yang udah balik ke sini. Makanya sambil nunggu waktu kuliah, mereka meet up dulu sama temen-temen," duga Agatha.
"Iya, siapa tau habis liburan jadi lupa kan sama muka temen," cengir Verrel membuat Agatha melayangkan gamparan di bahu cowok itu.
Agatha geleng-geleng, "Orang b**o kali yang bakalan lupa sama muka orang cuma gara-gara lama nggak ketemu selama liburan."
"Ya kan siapa tau ada gitu orang pelupa." Verrel tetap ngeles.
"Lo kali bawaan umur jadi pikun." Agatha kembali melayangkan pukul pada Verrel. Kali ini menyasar kepala cowok itu.
Verrel mengelus-elus kepalanya yang barusan kena pukulan Agatha. "Gue otw pelupa bukan gara-gara pikun, tapi gara-gara amnesia. Tiap hari lo geplak-geplak kepala gue."
"Haha, sorry Beb," ujar Agatha ringan. Dia tidak sungguhan berniat minta maaf.
Mereka terdiam saat Panji berjalan menjauhi bar bersama temannya itu. Tanpa dikomando, baik Verrel maupun Agatha langsung sigap mengikuti Panji.
Untung saja Agatha sudah membayar makanan di awal bersamaan dengan waktu pemesanan. Ia dan Verrel jadi bisa cepat hengkang dari tempat itu menguntiti Panji.
Panji naik keboncengan motor temannya. Sementara Verrel dan Agatha langsung menyelinap ke dalam mobil dan bersiap tancap gas.
Saat motor teman Panji mulai melaju, Verrel juga tak segan-segan langsung mengikuti. Ternyata motor yang ditumpangi Panji itu keluar dari area kampus.
"Mereka mau ke mana malem-malem gini?" tanya Agatha sembari memanjangkan lehernya untuk mengikuti pergerakan motor yang ditumpangi Panji. "Eh, mereka sen ke kanan. Kayanya mau nyebrang."
Verrel memperlambat laju mobilnya. Ia memberikan jarak agar tidak terlalu dekat dengan motor yang ditumpangi Panji.
"Anjir, mereka parkir di klub malam." Agatha memukul-mukul dashboard mobil Verrel dengan kesal.
Verrel turut memarkirkan mobilnya. Tapi baik ia maupun Agatha sama-sama ragu untuk keluar dari mobil.
"Kita nggak mungkin bisa masuk ke sana. Lo belum ada KTP kan?" tanya Verrel pada Agatha. Namun mata Verrel tidak lepas dari papan nama tempat klub malam itu.
Agatha menggeleng lesu, "Belum. Duh gimana dong? Masa perjuangan kita sia-sia. Padahal dari tadi kita tongkrongin di kafenya, dia nggak melakukan apa-apa."
"Ya udah kita tunggu mereka di sini aja. Sampai mereka keluar lagi," putus Verrel. Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok mobil. Sepertinya, malam ini ia akan begadang menunggu Panji keluar dari klub malam itu.
***
Agatha mendatarkan sandaran jok. Ia kemudian mencari posisi yang nyaman untuk rebahan.
"Gini amat sih ngintilin orang," keluh Agatha. Matanya terfokus pada ponselnya.
Verrel menoleh pada Agatha, "Tapi keren, lho. Udah kaya detektif di film-film. Sampai harus mata-matain dari dalem mobil."
"Masih lama nggak ya Kak Panji di dalam? Gue pengen pipis nih." Agatha menegakkan tubuhnya kembali. Kakinya bergerak-gerak gelisah.
Verrel menoleh ke belakang, "Tuh ada pom bensin di belakang."
"Temenin yuk," pinta Agatha.
Verrel menggeleng, "Lah, nanti yang jagain si Panji kalau dia keluar klub malam ini siapa? Bisa-bisa kita kecolongan."
"Duh, gue sendirian nih jalan ke sana?" tanya Agatha. Gerakan kakinya makin berisik.
"Iya, nggak akan ada apa-apa. Udah sana, cewek nggak boleh manja." Verrel membukakan pintu untuk Agatha dari dalam.
Agatha berdecak, sempat ingin protes. Tapi ia sudah tidak tahan menahan keinginan untuk pipis. "Ya udah deh."
Agatha langsung ngacir ke pom bensin yang berjarak dua puluh meter dari tempat Verrel memarkir mobilnya. Memang pom bensin lah tempat yang umumnya menyediakan fasilitas toilet yang dapat digunakan oleh siapa saja. Sebenarnya, Agatha bisa saja menumpang menggunakan toilet di rumah orang atau di rumah makan. Tapi di sini tidak tersedia bangunan seperti itu. Kawasan ini adalah kawasan khusus klub malam.
Akhirnya, Agatha sampai juga di toilet pom bensin. Pom bensin di sini kelihatan sepi karena memang posisinya agak masuk ke dalam g**g yang merupakan kawasan klub malam. Tidak semua orang melewati kawasan ini.
Agatha jadi cepat-cepat menuntaskan urusannya dan pergi dari tempat ini. Takut kalau-kalau dia akan ada dalam bahaya.
Agatha kembali masuk ke dalam mobil Verrel setelah menghabiskan waktu lima belas menit untuk pergi pulang dari toilet.
"Lama banget?" celetuk Verrel.
Agatha hanya mengedikkan bahu dan kembali memposisikan dirinya agar rebahan.
"Kak Panji belum keluar?" tanya Agatha sambil melirik ke pintu masuk klub malam itu.
Verrel mencebikkan bibirnya. "Belum, kayanya Panji betah banget lama-lama di tempat ini."
"Lo kan udah cukup umur buat clubbing, pernah masuk ke sana?" tanya Agatha sedikit penasaran.
Verrel menggeleng, "Nope."
Agatha mengangguk-angguk, "Kenapa?"
Verrel menoleh pada Agatha. Ia meringis, "Gimana ya, gue kayanya nggak cocok sama suasana klub malam."
Agatha ber-oh-ria. Ia lalu berhenti tanya-tanya dan kembali fokus bermain ponselnya.
***