Shana dan Arthur masih membolak-balikkan bukti yang Morus berikan pada Shana.
"Gue paham niatan Morus," ujar Arthur setelah melihat foto ketiga.
"Apaan emang?" Shana menaikkan sebelah alisnya.
Arthur berdeham pelan, "Gue merasa, Morus pengen ngarahin lo agar berpikir ini semua ulah Aci dan Cila."
"Tapi Ar, mereka udah mati sekarang," bantah Shana. "Mereka itu korban."
"Sebentar, Sha. Gue masih ada omongan selanjutnya." Arthur melirik Shana dengan muka ditekuk.
"Oh, gue kira udahan tadi jelasinnya." Shana menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal.
"Di foto ketiga, itu adalah foto Panji dan Langir yang lagi jalan sama maba inceran mereka di area kampus. Pada hari itu, Aci dan Cila tewas setelah lembur. Bukti yang Morus kasih ini, mengarahkan kita untuk berpikir bahwa Panji dan Langir ada kaitannya sama kasus ini juga." Arthur lanjut menjelaskan.
"Tapi nggak menutup kemungkinan kalau memang itulah yang terjadi. Panji sama Langir yang udah celakain Aci sama Cila. Mungkin ya, Aci dan Cila mergokin mereka jalan sama maba." Shana mengutarakan pendapatnya.
Arthur mengangguk, "Oke, itu juga mungkin. Tapi gue rasa, bukti yang dibawakan Morus ini berniat mengkambinghitamkan Langir dan Panji. Dugaan gue lebih beralasan, Sha."
Shana menggusah napas. Ia memang sulit membuat Arthur mengubah pemikirannya. Cowok itu konsisten banget.
"Ya udah, lanjut foto ke empat," ujar Shana agar perdebatan antara dirinya dan Arthur tidak berkepanjangan.
***
Verrel dan Agatha sudah lumutan menanti Panji keluar dari klub malam. Sekarang sudah lewat tengah malam, tapi klub malam itu makin ramai saja.
"Aduh, mata gue udah berat banget ini," teriak Agatha di dalam mobil. Ia kelihatan sangat frustasi.
"Eh, eh, itu Panji." Verrel menepuk-nepuk bahu Agatha dengan semangat.
"Ikutin-ikutin," perintah Agatha.
"Sabar, dia kayanya masih nunggu seseorang," ujar Verrel.
Agatha dan Verrel lalu terdiam. Mereka fokus mengamati Panji.
Panji dan temannya kelihatan membalikkan badan saat pintu keluar klub terbuka. Kenapa Panji kelihatan sedang bersembunyi?
"Itu Morus, kan?" Verrel menunjuk-nunjuk orang yang barusan keluar dari klub itu.
"Eh iya, njir. Morus ngapain ada di sini juga?" Agatha menyipitkan matanya untuk memperjelas melihat Morus yang barusan keluar club.
"Kalau dari yang gue tangkep, Morus nggak tau kalau ada Panji di sana. Mereka nggak saling ketemu di dalem." Verrel mulai menebak-nebak.
Agatha tidak berkomentar. Ia hanya fokus mengamati, Panji, Morus, dan seorang cewek yang baru saja keluar dari klub malam itu. Cewek itu adalah cewek yang sama dengan yang menjemput Morus dan pergi ke kafe Dua Belas Jari.
"Wow, kita ketemu cewek genit itu lagi. Dia kelihatan masih kaya anak kecil. Tapi kok bisa masuk klub ini?" Agatha bertanya-tanya.
***
Arthur dan Shana masih saling adu argumen. Sebenarnya hal seperti ini memang wajar terjadi mengingat semua masih lah berupa dugaan-dugaan.
Shana bersandar pada sofa. Tangannya terlipat di depan d**a. "Jadi Ar, menurut gue, foto keempat itu berusaha menunjukkan bahwa Langir lah yang terakhir bersama si maba. Artinya, bisa jadi ini semua ulah Langir. Oh ya, mayat itu kan ditemukan di mobil Panji, jadi mungkin Langir mau cuci tangan soal hal ini dan melimpahkannya pada Panji."
"Enggak, Sha. Langir sama Panji itu pasti kambing hitam. Nih ya, lo kalau mau bunuh orang, lo bakal taruh mayatnya di mobil lo biar semua orang tau, gitu?" Arthur memutar badannya hingga berhadapan dengan Shana.
Shana menolak gagasan Arthur, "Iya, tapi kan kita mana tau sih modus pembunuhan ini apa. Lo sadar nggak kalau Kak Panji selalu tampil kaya superman di setiap penemuan mayat. Dia yang koordinir panitia, dia yang bubarin kerumunan, dan dia yang nge-hendle semuanya. Biar apa? Biar dia kelihatan wow banget."
"Semacam pansos?" Arthur menelengkan kepalanya.
"Tepat, pansos." Shana menekankan setiap kata.
Arthur menggeleng cepat, "Gue nggak setuju."
"Argh, Arthur," teriak Shana kesal. Ia menggerakkan tangannya seolah-olah sedang meremas sesuatu. "Lo kenapa bikin gue geregatan sih. Darah tinggi gue kumat nih," keluh Shana sambil memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.
Arthur terkekeh, "Dah lah, bahas besok lagi. Tapi berkas ini jangan diserahin ke siapa-siapa dulu. Kasus ini bukan bapak lo yang nanganin. Kita bakal nyesel kalau ternyata kita sampai salah nyerahin bukti dan mereka terlanjur percaya sama bukti itu. Paham?"
"Hmmmm," gumam Shana panjang dan ogah-ogahan.
"Gue balik sekarang ya." Arthur bangkit berdiri. Ia meraih hoodie yang tadi ia sampirkan di tangan kursi.
"Nggak nginep aja? Udah tengah malem, Ar." Shana berniat mencegah Arthur pergi. Ia menoleh ke arah jam dan mendapati sekarang sudah tengah malam.
Arthur mengedikkan bahu, "Gue balik aja. Besok masih ospek dan gue belum siapin baju olahraga."
"Ya udah, hati-hati di jalan." Shana mewanti-wanti sambil mengantarkan Arthur keluar dari rumahnya. "Arthur, gerbang jangan lupa ditutup lagi."
***
Sekarang, Verrel dan Agatha sedang mengikuti Panji yang sedang mengikuti Morus. Paham tidak? Intinya Verrel dan Agatha mengikuti Panji. Sedangkan Panji sekarang ini sedang mengikuti Morus.
"Kita kaya lagi main sinetron azab," lantur Agatha. Cewek itu sudah tidak terlalu bersemangat mengintai incaran mereka.
"Kok sinetron azab?" tanya Verrel bingung. Dia tidak bisa menebak ke mana arah pembicaraan Agatha.
"Nih dengerin judul yang sesuai sama aktivitas kita. Azab seorang penguntit adalah dikuntit oleh orang lain," kelakar Agatha.
Verrel terkekeh mendengar lelucon garing yang Agatha ucapkan. Ia lalu bertanya, "Yang kena azab di sini siapa?"
"Panji lah," gumam Agatha antara sadar dan tidak sadar.
Verrel terkekeh lagi melihat Agatha sudah setengah tertidur. Untung Verrel belum ngantuk. Dia masih bisa melanjutkan syuting film azab penguntit dikuntit balik ini.
***
Agatha terbangun dari tidur singkatnya. Ia merasa linglung sejenak. Saat menoleh dan mendapati Verrel ada di sampingnya, Agatha menegakkan tubuhnya. Ia juga melihat ke luar mobil. Ternyata mobil Verrel berhenti di depan rumahnya.
"Sorry, gue bikin lo nggak bisa pulang. Sekarang jam berapa?" Agatha membenarkan posisi sandaran jok mobil Verrel seperti sedia kala. Ia lalu meraih tasnya dan bersiap turun.
"Setengah dua pagi," jawab Verrel setelah melihat jam di ponselnya.
Agatha melongo, "Serius? Ya udah, lo balik gih sekarang. Sekali lagi sorry ya bikin lo nungguin gue bangun."
"Santai aja kali, Tha. Dah sana lanjut tidur. Tapi jangan kebablasan sampai siang, besok masih ada ospek," pesan Verrel sebelum Agatha sungguhan turun dari mobil.
"Siap, bos. Gue masuk dulu ya," ujar Agatha sembari melambaikan tangannya.
Verrel memperhatikan Agatha sampai cewek itu masuk gerbang rumah. Begitu Agatha menghilang di balik pintu gerbang, Verrel segera melajukan kembali mobilnya di jalanan.
Sekarang sudah dini hari. Verrel jadi agak was-was karena ada beberapa jalan sepi yang harus ia lewati.
***
Arthur menyibak selimutnya. Percuma, sekeras apapun usahanya untuk terlelap, ia tetap saja terjaga. Matanya benar-benar tidak mau diajak kompromi.
Arthur turun dari ranjangnya. Ia meraih ponselnya yang ia letakkan di meja belajar. Ia mengecek aplikasi perpesanan, tidak ada yang penting. Ia lalu mengecek email masuk.
Ada email dari Pak Gerald yang mengirimkan sebuah berkas kronologi. Arthur mengernyit. Kronologi apa?
Arthur membuka file itu. Ia mengangguk-angguk paham. Jadi ini adalah kronologi kematian Aci dan Cila. Berdasarkan hasil pemeriksaan, Aci diperkirakan telah tewas sejak tujuh jam sebelum ditemukan. Itu artinya Aci dihabisi sekitar pukul sepuluh malam. Lalu Cila diperkirakan tewas satu jam berselang sejak tewasnya Aci. Di tubuh Aci dan Cila sama-sama terdapat luka tusukan pisau. Luka itu dalam dan bukan hanya goresan-goresan.
Berhubung polisi ragu kalau kedua mayat itu dihabisi di tempat penemuan, mereka sedang mengembangkan proses penyelidikan agar jangkauannya lebih luas. Jadi Aci dan Cila kemungkinan dibunuh terlebih dulu baru dibawa ke kampus, begitu?
File berikutnya adalah soal maba yang ditemukan tewas di mobil Panji. Maba itu diperkirakan tewas pukul sepuluh malam. Penyebab kematiannya adalah benturan benda tumpul. Ternyata, polisi berhasil menemukan rekaman cctv mobil yang menyorot Langir dan maba itu sebelum pukul sepuluh malam.
Polisi sudah meminta Langir memberikan kesaksian. Menurut kesaksian yang Langir berikan pada polisi, Langir memang mengajak maba itu ketemuan. Mereka sudah berteman sejak lama. Sebenarnya tidak ada hubungan khusus di antara keduanya, hanya saja malam itu si maba yang mengetahui kalau Langir baru saja kehilangan pacarnya, akhirnya berniat menghibur Langir.
Langir mengantarkan maba itu pulang saat satpam mulai keliling mengosongkan kampus. Langir mengaku tidak lagi bertemu dengan maba itu hingga keesokan paginya maba itu ditemukan tewas.
Seharusnya, kesaksian Langir bisa dicek dengan cctv mobil Panji. Tapi ternyata, cctv itu hanya merekam sampai pukul sepuluh kurang lima belas menit. Polisi bisa mendeteksi goncangan pada menit-menit sebelum cctv itu mati. Jadi tidak ada bukti yang bisa menunjukkan siapa yang meletakkan mayat itu di mobil Panji.
Panji sebagai si pemilik mobil juga mengaku tidak tahu apa-apa. Mobilnya mogok dan ia sedang meminta bantuan orang bengkel untuk mengurus kerusakan mobilnya.
Morus yang sore harinya terekam mendekati mobil itu juga mengaku bahwa dia diminta Panji mengecek kerusakan apa saja yang ada di mobilnya sehingga Panji bisa memberitahu pihak bengkel soal kondisi mobilnya.
Sejauh ini, semua orang punya alasan yang jelas. Lalu apakah mungkin pelakunya bukan mereka bertiga? Padahal Arthur merasa begitu yakin kalau pelaku itu adalah salah satu dari ketiga petinggi panitia ospek.
***
Shana keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga dengan cepat, lalu membuka pintu depan rumahnya.
Mobil Verrel sudah terparkir di depan gerbang rumah Shana. Tak mau membuat teman-temannya lama menunggu, Shana melangkah gegas ke mobil Verrel.
Seperti biasa, sudah ada dua temannya yang lain selain Verrel di dalam mobil itu. Mobil melaju begitu Shana menutup pintu.
Hening sejenak. Tidak ada yang bicara. Verrel juga tidak memutar musik apa-apa.
"Sha, gue bukannya pengen kita musuhan," lirih Agatha tiba-tiba.
Arthur menoleh sejenak, tapi ia langsung menghadap ke depan lagi. Verrel melirik dari kaca, tapi ia juga tidak berniat nimbrung.
***