Di gedung kesenian, tempat di mana pertunjukan teater digelar, empat s*****n itu duduk di barisan depan. Mereka memang datang agak awal, jadi masih bisa memilih tempat. "Ar, yang tadi angkat-angkat meja di depan itu si Nolan bukan, sih?" bisik Shana pada Arthur yang duduk di sebelah kirinya. Arthur menoleh lalu mengangguk, "Iya." "Wah, keren ya. Ikut organisasi seni di luar kampus gini, pasti bikin dia punya relasi yang luas. Makanya dia pede banget pas harus jadi perwakilan buat mimpin kelas kemarin." Shana berkomentar. Arthur mengangguk-angguk, "Tadi gue juga liat Talea." "Talea yang dipanggil Lea itu kan. Yang kemarin ikut tampil juga?" tanya Shana. Matanya melebar lantaran takjub. Arthur mengangguk lagi, "Iya. Lea yang itu." "Wah, pantes kemarin m

