BAB : 25

1506 Words
  “Kamu mau kemana?” tanya Norin pada Eren yang sudah siap seperti mau pergi. “Rumah sakit, Ma ... nemenin Kalina. Kebayang kalau Kakak yang di sana, auto masuk ICU Kalina ntar mendapatkan sikap aneh putra mama yang satu itu,” jelas Eren tertawa. Bukan apa-apa, hanya berpikir saja kalau Kalina berada dekat Ken kan bawaannya auto meninggoy. Bisa heboh kan jadinya. Diberikan sikap manis saja, udah bikin mata sobatnya itu tak tidur semalaman, apa kabar kalau Ken menjaga dia. “Ini Mama mau ke rumah sakit sama Papa. Kamu di rumah aja, nanti Ken Papa suruh pulang” jelas Wira yang sudah bersiap. Eren mengangguk setuju atas saran mamanya. Terdengar suara deru mobil memasuki area pekarangan rumah. Bisa dipastikan siapa yang datang. Tak lama langkah kaki itu memasuki rumah. “Loh, kok Kakak pulang? Kalina sendirian dong,” komentar Eren pada kedua orangtuanya ketika tahu kalau yang datang adalah kakaknya. Segera berjalan menemui dia yang baru turun dari mobil. “Kok Kakak pulang?”  “Males aku nemenin dia. Cerewet, Aneh,” umpatnya kesal langsung saja berlalu menuju kamarnya di lantai atas. Raut kesal di wajah Ken tentu saja membuat ketiganya bingung. Jarang-jarang, kan, seorang Ken menunjukkan wajah kesal. Dia mah seringnya bikin kesal. “Dia kenapa?” Eren menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Terjadi sesuatu, mungkin,” tebak Wira. “Yasudah, Mama sama Papa ke rumah sakit dulu, ya. Kemungkinan nginep nemenin Kalina, kasihan, kan, orang tuanya nggak di sini,” terang Norin. Eren mencium punggung tangan keduanya. “Hati-hati, Ma, Pa.” Seperginya Wira dan Norin, Eren segera kembali menuju kamarnya. Tapi sikap Ken membuatnya penasaran, hingga langkahnya justru ia tujukan ke kamar kakaknya. Membuka pintu itu perlahan, mengintip, melirik ke sekitar, tapi tak menemukan si pemilik kamar. Saat otaknya sedang berkelana, tiba-tiba sebuah sentilan di dahinya membuatnya kaget dan meringis. “Kakak!” teriaknya kesal. “Ngapain kamu ngintip-ngintip, hah?” “Tanganmu suka sekali menyentilku. Itulah kenapa aku jadi malas belajar, karena sentilanmu mengenai otakku,” gerutunya menggosok-gosok dahinya. Ken tak menanggapi pernyataan bodoh adiknya itu. Ia sedang badmood, hingga tak berminat berdebat ataupun adu argument dengan adiknya yang sedikit nyebelin ini. “Ada masalah, ya?” tanya Eren mengikuti langkah Ken yang menuju tempat tidur. “Nggak ada apa-apa. Aku mau istirahat, capek,” responnya langsung merebahkan badannya di kasur. “Kalau mau di sini jangan berisik.” Kebiasaan adiknya sudah terekam jelas di otaknya. Sebagai seorang cewek, Eren itu tergolong cerewet tingkat dewi. Awalnya Eren duduk diam di samping Ken yang sedang tidur, tapi otaknya terus berpikir panjang ... hingga akhirnya ia malah mengirim pesan pada Zean. “Kak Zean.” “Ya.” “Lagi sibuk?” “Lagi mandi.” Eren sampai mengumpat saat mendapatkan balasan seperti itu dari Zean. Untung saja tak dalam keadaan video call, bisa pengsan di tempat dirinya melihat penampakan yang bling-bling. “Ada apa?” “Kak Ken kenapa?” “Memangnya Ken kenapa?” Zean balik bertanya. “Aku nanya loh itu.” “Tahu, Ken, kan ... dia mana pernah punya masalah. Makanya aku tanya balik.” “Ya, sama sepertimu,” balas Eren lagi dengan menyelipkan sebuah emoticon memutar bola mata pertanda menyindir. “Masalahku ada padamu, Sayang.” Tawa Eren sampai meledak saat mendapatkan pesan balasan dari Zean. Receh sekali dirinya, auto klepek-klepek dipanggil dengan panggilan Sayang. Ken melempar Eren dengan bantal. “Sudah ku bilang jangan berisik,” omelnya. “Ih, apaan, sih, Kak ... lagi PMS, ya. Sensitive banget,” umpatnya. Ken duduk berhadap-hadapan dengan Adiknya. “Iya, aku tuh lagi kesal pake banget sama temanmu. Apa cewek memang selalu begitu? Ingin di mengerti, tapi tak pengertian. Ingin dipahami, tapi tak bisa memahami. Membuat otakku tak beres karenanya.” Usianya sudah belasan tahun, hingga tahu betul watak kakaknya dari yang paling kecil sekalipun. Hingga kini ia dibuat diam dan bengong hanya karena omongan Ken yang menurutnya begitu panjang dan ... apa yang sedang dia bicarakan? Masalah cewek? “K-kak ... telingaku nggak salah dengar, kan? Kamu ngebahas cewek?” Menarik napasnya dalam-dalam seolah menahan emosi saat mendengar balasan dan respon Eren. Haruskah dia bertanya seperti itu/ Apa dia berniat meledeknya. “Dasar bocah!” Kembali ke posisi tidurnya. Sementara Eren sedang menahan tawanya dengan sikap dan perubahan Ken. Kemudian ia menelepon seseorang saking penasarannya. “Apaan, Beb?” “Kal ... lo apain Kak Ken sampai uring-uringan nggak jelas begini?” tanyanya sambil tertawa. Ken langsung bangun dan dengan cepat merebut ponsel milik Eren yang saat itu masih terhubung dengan Kalina, kemudian memutus percakapan itu. Ayolah ... jangan sampai adiknya ini bikin otaknya makin ruwet kayak benang kusut, ya. “Ngeselin kamu, ya, Dek. Awas, loh ... uang jajanmu ku sita,” ancam Ken. Merebut ponselnya dari Ken. “Ih, nggak mempan. Ada Mama dan Papa di rumah, aku bisa langsung minta tanpa perantara Kakak.” Menjulurkan lidahnya kemudian kabur dengan secepat kilat dan halilintar. Merebahkan badannya kembali dan menutupi kepalanya dengan bantal. Enggak beres ini mah dengan otaknya. Kalina benar-benar membuatnya mode stress. Awalnya ingin tidur, tapi malah tak jadi. Rasa kantuknya tiba-tiba lenyap. Beranjak dari tempat tidur dan berpindah menuju meja dan duduk di kursi. Menghadapi sebuah buku yang memiliki ketebalan yang lumayan. Awalnya masih normal, hingga akhirnya keanehan muncul. Masa iya tiba-tiba ada Kalina di halaman buku yang ia baca, sedang tersenyum manis padanya. Matanya melotot, saat penglihatannya yang kini sepertinya mulai bermasalah. Dengan cepat menutup buku itu dan menarik napasnya dalam. “Gue mau gila,” gerutunya.   ---000---   Sudah jam 8 malam, Kalina masih mengobrol dengan Norin. Bukan apa-apa, hanya merasakan kehadiran sosok mamanya saat bicara dengan mama dari sahabatnya ini. Ingin mengatakan rindu pada mamanya, tapi ia tak ingin jika orang tuanya justru mengkhawatirkan dirinya di sini. Bibik di rumah saja tak mengetahui tentang keadaannya. “Nggak mau kasih tahu mamamu, Kal?” tanya Norin. “Nggak usah, Tante. Takutnya nanti mereka khawatir dan langsung pulang. Aku tahu mereka pasti sibuk di sana.” Norin tersenyum sambil mengangguk. “Kalina, Tante mau tanya sesuatu sama kamu. Bisa memberikan jawaban yang jujur, kan?” Sedikit was-was dengan perkataan Norin. Feelingnya mengatakan ada hal yang sedang dipikirkan wanita paruh baya ini. “Tentang apa, ya, Tante?” “Serena benar nggak punya pacar?” Nah, kan ... tebakannya benar. Pasti Norin tak percaya begitu saja dengan penjelasannya tadi pagi yang mengatakan kalau Eren itu tak pernah pacaran. Sekarang saat sendiri dirinya diserang lagi dengan pertanyaan itu. “Kalina,” sentak Norin “Iya, Tante.” “Jawab jujur.” “Maaf, tapi Tante jangan marah, ya. Aku nggak ada niatan buat bohong, hanya saja semuanya sudah berakhir. Makanya ku pikir tak penting juga.” “Maksud kamu?” “Eren pernah pacaran,” ungkapnya. Entah sudah feeling dengan apa yang ia katakan, hingga sikap Norin justru tampak biasa. “Sudah lumayan lama. Dia pacaran sama cowok yang kebetulan ada di sekolah yang sama. Tapi Tante tenang aja, karena sekarang mereka sudah putus.” “Putus karena apa?” “Tante tahu Sandra, kan?” Norin tersenyum. “Tentu saja Tante tahu, kan ... kalian bertiga sahabatan dari kecil. Apa-apa barengan, kemanapun dan di manapun” “Sebelumnya kami memang bersahabat, tapi sekarang enggak lagi, Tan. Karena Sandra menghianati Eren. Di belakang, ternyata dia menjalin hubungan juga dengan cowoknya Eren yang bernama Glenn.” Untuk kabar ini Norin barulah sedikit tersentak. Ternyata putrinya sedang mengalami patah hati. Hanya saja yang membuatnya bingung, kenapa justru tak terlihat di wajah Eren sebuah kesedihan atau sejenisnya? Biasanya para gadis akan badmood kalau lagi broken heart. “Salah satu hal yang membuat Om sama Tante tak mengijinkan dia pacaran, ya, ini. Kami nggak ingin jika dia sedih ataupun merasakan sakitnya patah hati dan dikhianat. Apalagi, Ken ... punya adik satu-satunya seolah dia jaga mati-matian. Maka dari itu Zean ...” Norin menghentikan kata-katanya saat menyadari kalau saat ini ia bicara dengan Kalina yang sahabat dari Eren. “Kak Zean kenapa, Tante?” Tiba-tiba Kalina ikut penasaran. Bukan apa-apa, hanya saja pikirannya justru sudah mencurigai sesuatu tentang hubungan keluarga Eren dan Zean yang tampak tak biasa. Norin menggeleng dengan senyuman, kemudian menyodorkan seulas buah jeruk pada Kalina yang diterima gadis itu dan menikmatinya. “Tidak ada. Hanya saja kami sudah menetapkan Zean sebagai laki-laki yang akan menjadi pendamping dan menjaga Serena.” Makin dibuat bingunglah Kalina mendengar penjelasan Norin. Ada Serena, ada Zean ... ada apa sebenarnya? Kenapa ia merasa ada sesuatu dengan keduanya. “Kalau pendamping buat Kak Kenzie udah disiapkan juga belum, Tan?” tanya Kalina dengan sedikit ragu-ragu. Antara percampuran rasa penasaran, rasa malu dan rasa takut. Anggap saja kali ini otaknya sedang mengalami masalah, sampai harus memberikan pertanyaan sejenis itu pada Norin yang jelas-jelas adalah mamanya Kenzie. Dahi Norin berkerut saat mendapatkan pertanyaan itu dari Kalina. “Maksud kamu?” “Eh, nggak jadi. Abaikan saja pertanyaanku, Tan.” Geblek memang. Bisa-bisanya ia dengan langsung bertanya hal seperti itu pada Norin. Ketahuan Ken, bisa dibuat mati kutulah dirinya. Bisa dia simpulkan dengan cepat kalau ia menyukai Ken. Meskipun pada nyatanya itulah yang sebenarnya.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD