Gerhana Datang

1039 Words
Asep sudah sampai membawa aku dan RX King-nya hampir tiba di lampu merah. Tiba-tiba saja Asep menghentikan laju motornya. Kepala Asep berpendar dan lehernya meninggi seperti jerapah untuk bisa melihat ke depan sana. "Ada apa-an sih, Aak?" Aku ikut celingukan ketika bertanya itu. "Ayo Aak jalan!" perintahku kali ini sambil mendorong punggung Asep. "Ntar dulu Sy, itu di depan kayak ada kecelakaan gitu, deh," kata Asep sambil masih tetap celingukan. "Ah, yang benar Aak?" tanyaku yang masih tak percaya dengan apa yang aku dengar darinya tadi. Aku pun kemudian berusaha untuk bisa melihat dengan lebih jelas lagi. Asep kali ini sampai berdiri dari motornya. Ia kemudian turun dari motornya, "elo tunggu di sini aja," katanya kemudian beranjak untuk memastikan ke tempat kejadian di sana. "Jangan lama-lama!" kataku sedikit berteriak karena Asep sudah sedikit jauh.Sambil menunggu Asep kembali, aku masih mencoba untuk mencari tahu. Dan karena sudah cukup lama Asep belum kembali juga, akhirnya aku sedikit bergerak maju. "Ada apa ya?" aku dengar seorang ibu bertanya pada pengendara yang ada di sebelahnya. "Sepertinya ada kecelakaan motor di sana bu," jawab seorang pria muda itu. Aku pun tanpa terasa semakin mendekat. Terlihat orang berkerumun di sana, seseorang dengan berseragam sekolah terbaring di pinggir aspal, kemudian mobil polisi datang namun mobil ambulance belum juga datang. Aku yang penasaran pun semakin mendekat. Motor itu... Sepatu itu... Helm itu... Aku berlari kemudian menerobos di antara kerumunan. Tidak mungkin... Bukan dia... Aku bergetar hebat dan jantung pun terasa berhenti ketika seorang polisi membuka helm yang menutupi wajahnya. Sedang polisi lain menggambar tubuh korban di pinggir aspal tempat ia terbaring tak berdaya. "Tidak," aku menggeleng tak percaya, "tidak mungkin dia!" "Osy! gue kan sudah bilang lo jangan ke sini!" bentak Asep yang berusaha menahan tubuhku. "Rezky...!" aku berteriak dan berlari ke sana. "REZKY...!" teriak aku dengan lebih kencang lagi sambil mengangkat kepalanya ke pelukan. "Aku sudah bilang berkali-kali kamu jangan jemput aku. Rezky ayo bangun, kamu bilang kita akan pergi ke pantai. Kamu bilang akan mengajak aku ke pantai. Ayo kita pergi, ayo kita membolos. Aku mau asalkan kamu bangun sekarang, ayo kita membolos besok atau kapan pun, ayo bangun Rezky!" aku terus berteriak dan berusaha untuk membangunkan dia yang sudah tak berdaya. Aku harap tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya. "Mbak tolong pergi dari sini," perintah seorang polisi. "Mana ambulansnya? cepat panggil ambulans sekarang!" perintahku. "Ambulans masih dalam perjalanan, sebentar lagi sampai, mbak tenang ya dan tolong pergi dari sini." "Sy, ayo kita jangan di sini, tenang aja Rezky pasti nggak kenapa-napa," kata Asep yang berusaha untuk membuat aku tenang kemudian memeluk pundak aku untuk membawaku pergi dari sini. "Nggak, aku nggak akan pergi sebelum ambulans datang! mana ambulans mana?" aku terus berteriak seperti tanpa sadar. Aku nggak mau kehilangan dia, tidak! Rezky ayo bangun dan katakan kalau kamu baik-baik saja, ayo pangeran basket-ku. Ambulans datang dan aku terus menatap ke sana tak sabar untuk melihat mereka membawa tubuh tak berdaya ini segera ke rumah sakit. "CEPAT!" teriak aku. Aku lihat dua orang petugas medis membawa tandu dan satu orang lagi membawa peralatan untuk memberikan pertolongan pertama. Aku menyingkir dari sini agar mereka bisa bergerak cepat. Asep kemudian memeluk pundak aku untuk memberikan ketenangan. "Tenang Sy, dia nggak bakal kenapa-napa, dia cuma pingsan, lo jangan takut," kata Asep. "Tapi Aak, dia nggak bergerak," kataku merengek. "Iya Sy, itu karena dia pingsan, pokoknya kamu tenang aja dia bakal siuman," Asep saja berusaha untuk menenangkan aku, dan aku sedikit pun nggak peduli dengan itu. Aku melepaskan diri dari Asep, "Rezky! Suster tolong, aku ingin ada bersamanya, tolong izinkan aku untuk ikut naik ambulans bersama dengan dia," aku memohon kepada petugas medis. "Tolong suster, kasih dia izin," kata Asep yang ikut berusaha membujuk petugas medis itu. Dia mengangguk dan Asep pun langsung membantu aku untuk naik. Selama di dalam perjalanan aku terus berusaha untuk membuat Rezky tersadar atau pun sekadar membuka cela matanya. "Rezky ayo bangun, ayo buka matamu." Suara alat kontrol detak jantung seolah membuat jantungku pun seirama. "Mbak ini pacarnya?" tanya suster. "Iya suster, kami baru aja jadian, dan kenapa semua ini harus terjadi? aku nggak mau kehilangan dia secepat ini, atau kapan pun. Aku nggak mau dia sampai kenapa-napa," jawab aku yang terus merengek. "Kalau memang begitu mbak bicara aja terus, supaya dia bisa dengar dan jadi punya semangat untuk bisa cepat sadar sepenuhnya," kata salah satu perawat lagi. Aku yang sudah bingung bercampur sedih kemudian hanya mengangguk lesu saja, aku tidak melepas tangan Rezky sedikit pun juga. Aku justru menggenggam tangannya semakin erat seakan aku tidak ingin melepas dia pergi, bahkan sesekali aku mencium punggung tangannya. Aku tak sadar bahwa ternyata kedua tanganku penuh dengan noda darah dari kepala Rezky tadi ketika aku memangku kepalanya. "Cepat kenapa lama sekali sampai di rumah sakit?" tuntut aku. "Sabar ya mbak, sebentar lagi kita sampai," jawab salah satu dari petugas medis yang ada bersamaku. Ketika aku turun dari ambulans ternyata Asep dan yang lain mengikuti dari belakang mobil ambulans. Mungkin saja ketika kejadian itu mereka memang sudah ada di dekat tempat kejadian karena kecelakaan itu terjadi di dekat lampu merah. Rezky bersama motor kesayangannya mengalami kecelakaan tunggal. Aku berlari kecil mengikuti tim medis membawa Rezky dan semua temanku mengikuti dari belakang. Sampai di IGD, aku ingin masuk ke ruangan namun petugas melarang aku untuk ikut masuk. Aku berdiri pasrah di depan pintu yang sudah ditutup saat ini kemudian semua teman yang ada berusaha untuk menenangkan aku. Aku sadar ternyata Asep, Jannes, Dewi, Lasmi, Tia dan Tina ada di sini menemani aku. "Aak, tolong hubungi keluarganya," pintaku kepada Asep. Menit berlalu, tak ada satu pun keluarga Rezky yang tiba di rumah sakit. Aku mengintip dari kaca ruang IGD, tak lama kemudian dokter keluar dan apa ..., apa yang dia katakan kepada Asep karena aku tidak lagi sanggup untuk bertanya. Apa? Apa arti dari gelengan kepala itu dokter? "Tidak dokter, tolong jangan katakan itu. Tolong selamatkan dia dokter, aku mohon." Sekali lagi aku lihat dia menggeleng, "maaf, pasien sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Benturan di kepala belakangnya terlalu fatal hingga mengakibatkan dia mengalami luka dalam yang sangat parah," jawab dokter menjelaskan. "Tapi dokter, kami baru saja jadian. Dan dia, dia adalah anak tunggal, kasihan sekali orang tuanya dokter," kataku lagi. Sekali lagi dokter hanya menggeleng tanpa kata. Aku berteriak sekerasnya, berusaha untuk menolak takdir ini. ... Takdir Cinta-ku dengan dia yang harus terpisah secepat ini. ... Apalah artinya hidup tanpa kekasihku... percuma kuada di sini... - - - - - - - - - - - - * * * - - - - - - - - - - - -
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD