"Apa, Non, Bibi dipanggil kerja lagi? Alhamdulillah ya Allah, iya Non, Bibi mau. Bibi sekarang juga akan datang ya Non," sahut Bi Ratih, yang ada di seberang sana, yang kini menjadi lawan bicaraku.
Kini aku kembali memanggilnya untuk bekerja sebagai ART, sebab dulu sempat diberhentikan karena Mas Reno yang memintanya. Ia memberi alasan, kalau sekarang ada Mbak Wina, yang akan membantu pekerjaan rumah tanggaku.
Tapi setelah Mbak Wina ada, ia tidak pernah sekalipun mau membantuku. Malah tetap saja, aku yang punya rumah, yang capek ini dan itu.
***
"Mas, kamu itu habis dari mana saja sih, kok jam segini baru pulang? Handphone kamu juga kenapa tidak kamu aktifkan? Padahal sebelum kamu berangkat, aku sudah meminta kepadamu, supaya kamu jangan lama-lama nganterin Mbak Wina dan juga Ibu. Tapi ini apa, Mas. Malah adzan subuh kamu baru pulang. Padahal tanggung, Mas. Kamu nggak usah pulang saja sekalian, cecarku.
"Kamu itu bagaimana sih, Mila? Suami pulang salah, nggak pulang apalagi. Bukannya suami datang disambut dengan wajah ceria, ini malah disambut dengan omelan," protesnya.
Bagaimana aku tidak marah, jika ternyata Mas Reno bermain serong dengan perempuan lain, yaitu mantan Kakak iparnya sendiri. Aku yang baru saja selesai melaksanakan shalat malah terpancing emosi, ketika melihat kehadiran pria jahat ini.
Menurutku, Mas Reno ini sudah kehilangan akal sehatnya. Karena ia tidak merasa bersalah, dengan semua perbuatannya tersebut, yang dengan sengaja melalaikan peringatanku. Padahal aku sudah bilang, kalau mengantar Mbak Winanya jangan terlalu lama, tapi ini sepertinya malah sengaja, ingin membuat aku terpancing emosinya.
"Mas, bagaimana aku tidak ngomel sama kamu, sedangkan sikap kamu saja membuat aku aku terpancing emosi. Sudah aku bilang, ngantar mereka jangan terlalu lama, ini malah jam segini baru pulang. Kalau memang kamu bersikap seperti ini terus, silakan kamu tinggal bareng saja sama mereka. Karena percuma jika mempunyai suami, tetapi tidak pernah menganggap istrinya ada. Kamu selalu bersikap, kalau iparmu itu lebih penting dibanding istri kamu, Mas. Kamu selalu mengistimewakan Mbak Wina dibanding aku, yang menjadi istri sah kamu. Apa sebenarnya, kamu itu mempunyai hubungan khusus ya dengan Mbak Wina? Sehingga kamu selalu membelanya habis-habisan," tanyaku panjang lebar.
"Kamu itu ngomong apa sih, Mila, nggak jelas banget? Sudah kamu nggak usah ngomong apa-apa lagi, aku malas mendengarnya. Aku pulang karena aku ngantuk. Aku mau tidur, bukan mau mendengar ocehan kamu," kilah Mas Reno, sambil langsung berjalan menuju kasur dan membaringkan tubuhnya.
'Memang dasar kamu ya, sudah dikasih hati, tetapi masih juga minta jantung,' gumamku.
Aku sebenarnya emosi sekali melihat tingkahnya ini , tetapi luapan emosiku masih aku tahan. Apalagi melihat Mas Reno malah langsung tertidur. Sepertinya Mas Reno kecapekan banget, hingga membuat dia langsung ngorok saat tubuhnya menyentuh kasur.
Mas Reno juga bukannya bersiap untuk pergi ke kantor, tetapi ia malah tertidur nyenyak. Aku pun tidak lagi menegurnya, tetapi membiarkan dia semau sendiri. Aku malah langsung mempersiapkan diri untuk sarapan, sebab mulai hari ini aku yang akan mengurus perusahaanku sendiri. Karena aku tidak mau melihat, perusahaan peninggalan Papaku harus hancur begitu saja.
***
"Bi, tolong bikin aku sarapan ya," pintaku, saat aku telah menemui Bi Ratih, yang berada di dapur.
"Mau sarapan apa, Non?" tanya bi Ratih.
"Bikinkan aku sandwich ya, Bi," sahutku.
Bi Ratih pun menuruti permintaanku, ia segera membuatkan sandwich untukku. Aku pun duduk di kursi yang ada di ruang makan, sambil menunggu Bi Ratih yang sedang membuatkan sandwich buatku.
"Non, ini sandwich-nya," ujar Bi Ratih, sambil meletakan sandwich-ku, di atas meja makan yang ada di hadapanku.
"Terima kasih ya, Bi," sahutku.
Aku pun mendekatkan piring, yang berisi sandwich pesananku tersebut.
"Bi, nanti kalau Mas Reno meminta Bibi untuk membuatkan sarapan buat dia. Bibi jangan mau ya," pesanku kepada asisten rumah tanggaku ini.
"Lho, memangnya kenapa, Non?" tanya Bi Ratih.
Ia begitu heran, saat aku memintanya seperti itu.
"Pokoknya jangan mau, Bi. Kalaupun ia marah, bilang saja aku yang melarangnya. Enak saja dia mau menyuruh-nyuruh Bibi, sedangkan dulu ia meminta Bibi berhenti. Lagian, yang menggaji Bibi itu aku, bukan dia. Jadi Bibi nggak perlu takut ya," terangku.
"Oh iya, Bi, satu lagi. Aku minta, supaya Bibi jangan memberitahu Mas Reno, kalau aku pergi ke Kantor. Jika dia nanya, bilang saja aku tidak memberitahu Bibi kemana aku pergi," pesanku.
"Baik, Non, kalau memang seperti itu mau Non Mila. Bibi pasti melaksanakannya," sahut Bi Ratih.
Setelah itu ia pun pamit untuk mengerjakan pekerjaan lainnya, sedangkan aku menikmati sarapanku pagi ini. Aku mengisi perutku untuk memulai hari, aku akan kembali berkutat dengan urusan kantor, yang telah lama sekali aku tinggalkan.
Selesai sarapan, aku bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Aku kembali memakai pakaian kerjaku, yang sudah satu tahun ini hanya menghiasi lemariku. Setelah bersiap, aku segera berangkat, sedangkan Mas Reno masih tertidur lelap.
***
"Selamat pagi semuanya," sapaku, saat aku telah memasuki kantor, yang sudah dipenuhi oleh karyawanku.
"Pagi juga, Bu Mila," sahut mereka.
Setelah itu, aku segera menuju ke ruanganku, yang setahun ini aku tinggalkan. Baru saja aku masuk, Pak Hartono datang menemuiku.
"Bu, ini laporan yang kemarin Ibu minta," ujarnya.
"Oh, iya. Terima kasih ya Pak Tono," sahutku.
Setelah itu ia pamit, untuk kembali ke ruangannya. Aku pun kini membuka dan membaca laporan tersebut, sambil duduk di kursi kebesaranku, yang diambil alih oleh Mas Reno. Tapi mulai hari ini dan seterusnya, aku yang akan kembali mendudukinya.
"Lihat saja, Mas, apa yang bisa aku lakukan untuk menghancurkanmu. Aku akan membalas semua perbuatanmu, yang selama ini kamu dan keluargamu lakukan terhadapku," lirihku.
Bersambung ...