Bab 5

937 Words
"Begini, Bu. Sebelum saya memberitahu semuanya, ada hal yang ingin saya tanyakan dulu sama Ibu. Apa Ibu tidak keberatan?" tanya Pak Hartono. Ia tidak secara langsung memberitahuku, tentang masalah perusahaan. Tetapi ia memintaku untuk menjawab pertanyaannya terlebih dulu. Aku sebenarnya semakin tidak mengerti, dengan apa yang akan dibicarakan oleh Pak Hartono. Kenapa juga ia harus muter-muter nanya ini dan itu, padahal ia bisa to the point saja membetitahuku semuanya. Tetapi biar bagaimana pun aku menghargai Pak Hartono, jadi aku menyetujui saja dengan apa yang diminta Pak Hartono tersebut. "Iya, Pak Tono, aku tidak keberatan kok. Silakan saja, memangnya Bapak mau bertanya apa kepadaku? Insya Allah aku akan menjawabnya selama aku bisa, serta jika pertanyaannya tidak menyinggung tentang privasiku," sahutku. "Nggak kok, Bu. Pertanyaannya juga tidak menyinggung masalah pribadi kok," terang Pak Hartono. Ia pun menarik napas berat, seakan apa yang akan ia pertanyakannya itu berat untuk dia katakan. "Bisa langsung saja nggak, Pak? Soalnya aku penasaran banget," pintaku. "Bu, jadi begini, apakah selama ini Pak Reno tidak pernah bilang, tentang permasalahan perusahaan?" tanya Pak Hartono. "Tidak, Pak, memangnya kenapa dengan perusahaanku? Karena selama ini, Mas Reno selalu bilang, kalau perusahaan baik-baik saja. Bahkan katanya sekarang perusahaan lebih maju," jawabku. Aku memberitahu Pak Hartono, tentang apa yang diucapkan suamiku, tentang perkembangan perusahaan. "Maaf ya, Bu, saya harus ralat perkataan Pak Reno. Karena apa yang diucapkannya itu bohong, Bu. Karena perusahaan saat ini sedang diambang kebangkrutan. Asal Ibu tau ya, semenjak Ibu memberi kuasa kepada Pak Reno untuk memimpin perusahaan. Perusahaan sekarang sering sekali rugi, Bu. Bukan karena perusahaan kalah tender, tetapi karena setiap data yang saya tulis, tidak sesuai dengan dana yang ada di kas. Kebetulan saya telah meminta bantuan ke tim khusus untuk menelitinya, itu pun saya lakukan tanpa sepengetahuan Pak Reno. Kami mencoba menelusuri, dari mana awalnya kerugian ini dan ternyata, ada yang selalu mentransfer uang dalam jumlah besar ke nomer rekening fiktif. Saya melakukan semua ini, bukan karena bermaksud apa-apa, ya Bu. Justru karena saya takut dijadikan kambing hitam nantinya. Apalagi saat ini, saya menjabat sebagai manager keuangan. Saya bertanggung jawab penuh untuk mengelola keluar masuknya uang perusahaan," tutur Pak Hartono. "Apa, jadi perusahaan saat ini sedang diambang kebangkrutan, Pak Tono? Terus siapa yang selalu mentransfer uang ke nomer rekening fiktif tersebut?" tanyaku. "Jadi begini, Bu. Orang yang memegang kendali atas semua itu, hanya aku dan Pak Reno. Karena dia, yang sekarang memimpin perusahaan. Tapi, kalau saya berani bersumpah, Bu. demi Allah, saya tidak pernah melakukan semua itu. Kalau memang saya yang melakukannya, buat apa saya membongkar semua ini ke Ibu? Itu sama saja, saya menyerahkan diri kepolisi," terangnya lagi. "Jadi maksud Pak Hartono, kemungkinan besar yang melakukan semuanya ini adalah Mas Reno begitu?" tanyaku tidak percaya. "Ya seperti itulah, Bu. Jika Ibu merasa kurang yakin, dengan apa yang aku katakan tadi. Sebaiknya Ibu segera menyelidikinya sendiri, Biar Ibu bisa melihatnya langsung, apa yang sebenarnya terjadi," saran Pak Hartono. Kalau memang apa yang dikatakan Pak Hartono terbukti, jika Mas Reno yang melakukannya. Berarti ia benar-benar keterlaluan dan tidak tahu malu. Lalu untuk apa, ia melakukan semuanya itu? Padahal aku telah memberinya kepercayaan, supaya ia memimpin perusahaanku dengan benar. Tapi kenapa, dia malah mau mengambil milikku juga, dengan cara mentransfer uang perusahaan ke nomer rekening fiktif. Hingga membuat perusahaan berada diujung kebangkrutan. Padahal selama ini, dia dan juga keluarganya hidup dari kekayaan orang tuaku. Tapi kenapa, air s**u malah dibalas air tuba. Aku semakin kesal saja kepada Mas Reno dan juga keluarganya, kini ditambah lagi dengan Mbak Wina. Mereka semua itu benar-benar kumpulan benalu, yang meresahkan dan harus segera dimusnahkan. Tapi aku tidak mau asal, yang nantinya malah akan merugikan diri sendiri. Aku harus mengatur strategi yang cantik, supaya target langsung terkunci, sehingga dia tidak bisa lahi3 berkutik. "Aku percaya kok kepada, Pak Hartono. Karena Bapak lebih lama berada di perusahaan almarhum Papa, jika dibanding dengan Mas Reno yang hanya baru seumur jagung," ungkapku. "Alhamdulillah, kalau memang Ibu percaya kepada saya. Hati saya merasa tenang, Bu. Kalau pun nanti, ada orang yang akan mengkambing hitamkan saya karena permasalah ini, saya sudah siap melawannya. Karena saya sudah punya dekengan yang kuat," sahut Pak Hartono "Baiklah, Pak Tono, lebih baik kita bekerja sama saja, buat membongkar semuanya ini. AKarena aku pun merasa kesal, dan sakit hati. Mendengar perusahaan yang Papa bangun dari nol, kini harus berada diambang kehancuran. Itu semua dilakukan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Orang yang baru masuk ke dalam kehidupan keluargaku. Aku ingin membuat mereka menyesal, Pak. Apa Pak Tono mau bekerja sama denganku?" tanyaku. Pak Tono hanya manggut-manggut, saat mendengar ceritaku. Ia pun menyeruput kopi, yang tadi dihidangkan oleh asisten rumah tangganya. "Boleh juga sih, Bu. Justru aku senang, jika Ibu mau ikut bertindak, supaya orang yang berbuat seperti itu tau, kalau Ibu itu bukan wanita lemah." Pak Hartono menyetujui ajakanku. "Betul, Pak Hartono. Kita mesti membuat strategi yang matang dan tidak terduga, Pak. Supaya target kita tidak menyangkalnya dan akan membuat si benalu itu terkesan," ungkapku. Setelah itu kami pun membuat rencana untuk menjebak dan mengatur strategi, buat memberi pelajaran kepada Mas Reno. Aku akan membalas dendam kepada orang, yang telah membuat perusahaanku hampir mengalami kehancuran. 'Lihat saja kamu, Mas. Apa yang bisa aku lakukan kepadamu,' geramku. Setelah itu aku pun pamit kepada Pak Hartono dan juga istrinya. Aku ingin segera pulang untuk beristirahat. Karena menghadapi suasana seperti ini, membuat aku merasa cepat lelah. Sesampainya di rumahku, aku segera memasukan mobil ke garasi, kemudian aku masuk ke kamar. Aku segera mengambil handphone, yang ada dalam tas jinjingku, kemudian aku menelepon seseorang. "Bi Ratih, Bibi bisa kembali kerja lagi ya. Kalau bisa Bibi datang sekarang juga ya, Bi. Aku tunggu," pintaku. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD