01 Pria di Tepi Sungai
Langit sore di wilayah Elthorne selalu terlihat tenang.
Cahaya matahari memantul lembut di permukaan sungai kecil yang mengalir di belakang mansion keluarga mereka, sementara angin musim panas meniup pelan ujung gaun putih milik Vivian.
Tempat itu adalah satu-satunya tempat favoritnya.
Tidak ada bangsawan. Tidak ada pesta. Tidak ada tatapan kasihan.
Hanya suara air dan ketenangan.
Vivian duduk di bawah pohon besar dekat tepi sungai sambil membuka buku yang sejak tadi sebenarnya tidak ia baca. Pikirannya terlalu penuh.
Tiga hari lalu, ibunya kembali menolak undangan pesta dari keluarga kekaisaran atas namanya.
Dan seperti biasa, alasannya sama.
“Lady Vivian masih terlalu lemah untuk menghadiri acara publik.”
Vivian menghela napas pelan.
Kadang ia merasa lucu mendengar rumor tentang dirinya sendiri.
Sebagian orang percaya ia mengidap penyakit aneh. Sebagian lain bahkan percaya ia hampir mati.
Padahal kenyataannya tidak sedramatis itu.
Keluarganya hanya terlalu melindunginya.
Atau lebih tepatnya terlalu takut kehilangan dia ke istana.
Vivian menutup bukunya perlahan sebelum berdiri dan berjalan mendekati sungai. Airnya terlihat lebih deras dari biasanya setelah hujan semalam.
Namun langkahnya tiba-tiba berhenti.
Sesuatu tersangkut di antara bebatuan dekat aliran sungai.
Vivian menyipitkan mata.
Bukan.
Seseorang.
Tubuh seorang pria.
Jantung Vivian langsung berdegup cepat.
“Ya Tuhan…”
Gaunnya terangkat sedikit saat ia buru-buru turun mendekati sungai. Air dingin langsung membasahi sepatunya, tapi Vivian tidak peduli.
Pria itu terbaring setengah sadar dengan pakaian hitam penuh darah. Rambut hitamnya basah menutupi sebagian wajahnya.
Dan bahkan dalam keadaan seperti itu…
dia tetap terlihat mengintimidasi.
Vivian menelan ludah gugup.
“A-apa Anda bisa mendengar saya?”
Tidak ada jawaban.
Tangannya gemetar pelan saat menyentuh bahu pria itu.
Hangat.
Masih hidup.
Vivian buru-buru memanggil pelayan dan pengawal mansion yang berjaga tidak jauh dari area belakang rumah.
Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya pria asing itu berhasil dibawa diam-diam masuk ke mansion tanpa diketahui siapa pun selain keluarga Elthorne.
Dan tepat satu jam kemudian ruang kerja Duke Elthorne berubah menjadi sangat tegang.
“Ayah, kita tidak bisa membiarkannya mati.”
Vivian berdiri di depan meja ayahnya dengan wajah serius untuk pertama kalinya hari itu.
Duke Elthorne memijat pelipisnya pelan.
“Vivian, kita tidak tahu siapa pria itu.”
“Tapi dia terluka parah.”
“Itulah masalahnya.”
Ibunya yang duduk di sofa sejak tadi terlihat cemas.
“Tubuhnya penuh luka pedang,” ucap sang Duchess pelan. “Dia bukan orang biasa.”
Vivian terdiam.
Ia tahu itu.
Bahkan terlalu jelas.
Telapak tangan pria itu kasar seperti seseorang yang memegang pedang bertahun-tahun lamanya, dan ada bekas luka lama di beberapa bagian tubuhnya.
Namun entah kenapa…
Vivian tidak merasa takut.
“Ayah,” katanya pelan, “kalau dia memang berbahaya, dia tidak mungkin berada di ambang kematian di sungai belakang rumah kita.”
Ruangan hening beberapa saat.
Duke Elthorne akhirnya menghela napas panjang menyerah.
“Kita rawat dia sampai sadar. Setelah itu dia harus pergi.”
Wajah Vivian langsung sedikit cerah.
“Terima kasih, Ayah.”
Ibunya hanya menggeleng kecil sambil tersenyum tipis.
“Kau terlalu lembut, Vivian.”
Malam itu hujan kembali turun.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Vivian tidak bisa tidur tenang.
Pikirannya terus memikirkan pria asing itu.
Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia terluka? Dan kenapa… bahkan dalam keadaan setengah mati, pria itu masih terlihat seperti seseorang yang terbiasa memberi perintah, bukan menerimanya?
Vivian akhirnya menyerah dan keluar dari kamarnya diam-diam.
Lorong mansion sudah sepi saat ia berjalan menuju kamar tamu tempat pria itu dirawat.
Cahaya lampu redup menerangi ruangan saat Vivian membuka pintu perlahan.
Pria itu masih belum sadar.
Perban membungkus sebagian dadanya, sementara luka di lengannya terlihat cukup dalam.
Vivian duduk pelan di kursi dekat tempat tidur.
Matanya tanpa sadar memperhatikan wajah pria itu lebih jelas sekarang.
Terlalu tampan untuk ukuran orang biasa.
Garis wajah tajam. Bulu mata gelap. Dan ekspresi dingin bahkan saat tertidur.
Vivian terkesiap pelan saat pria itu tiba-tiba bergerak.
Mata hitamnya terbuka perlahan.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Dan entah kenapa Vivian merasa suasana ruangan mendadak berubah menegangkan.
Pria itu menatapnya beberapa detik tanpa bicara sebelum akhirnya membuka suara dengan suara rendah dan serak.
“…Siapa kau?”
Vivian membeku sesaat.
Lalu menjawab pelan,
“Vivian Elthorne.”
Pria itu diam.
Namun tatapannya berubah samar.
Seolah ia mengenali nama itu.