Milan berjalan tanpa adanya perlawanan karena dia tau kalau nantinya hanya akan menjadi usaha yang sia sia karena yaa ntar kalo kabur pasti ketangkep lagi, kaum rebahan lari sebentar aja udah ngos ngosan, apalagi kalo dikejar duo bodem yak auto ketangkep gitu lho.
Diluar sudah disiapkan dua mobil, Walren berdiri disamping salah satu mobil yang ada disana lalu membukakan pintu untuk Milan dan Reyhan masuk. Milan masih berjalan mengukuti Reyhan yang ada didepannya.
“Mama dan papa dimana?” Tanya Milan sambil menoleh kekiri dan kekanan namun tidak menemukan kedua orang tuanya.
“Sudah berangkat.” Jawab Reyhan singkat.
Anak ini, masih kecil dinginnya udah kek antartika, kalo dewasa dinginnya kek apaan tuh, kalo aku berdiri disampingnya yang sudah dewasa udah jadi es batu kali ya.
Reyhan masuk kedalam mobil yang berbeda dengan mobil yang akan dinaiki Milan. Melihat Reyhan yang pergi ke mobil satunya membuatnya bertanya tanya, apakah segitunya dia ga mau sama aku? aku tadi udah mandi sebelum kesini, udah ngegunain power of parfume juga jadi ga mungkin aku bau kan.
Sebelum masuk kedalam mobil, Milan menghentikan langkahnya dan menatap Walren.
“Walren, kau ikut kesana kan?” Tanya Milan dengan wajah yang sok mengancam padahal kagak nyeremin.
“Tentu saja saya ikut kesana, saya akan masuk mobil tepat setelah anda masuk.” Jawab Walren dengan lembut sambil tersenyum.
Wajah sok garang yang ditunjukkan Milan tadi langsung menghilang berubah menjadi wajah yang ceria dengan cepat.
“Bagus.” Ujarnya lalu masuk ke dalam mobil.
Setelah Milan masuk kedalam mobil, Walren juga masuk kedalam mobil dan duduk disamping sopir.
Tentu saja Walren ikut karena mama Milan yang menyuruhnya, seandainya jika mama Milan menyuruh Walren untuk tidak ikut maka Walren akan menuruti perintahnya untuk tidak ikut pergi kesana.
Sampai dilokasi, Milan cukup terkesan dengan bangunan yang akan dia masuki, bangunan itu begitu indah dan megah, sangat jarang dia melihat hal hal yang seperti itu karena yahhh… anak rumahan.
Mobil mereka memasuki basement, saat Milan hendak turun tiba tiba Walren menghentikannya.
“Tunggu nona jangan turun dulu, pertama tama yang turun dahulu adalah tuan muda Reyhan saat tuan muda sampai didepan pintu ruangan yang akan digunakan untuk pertemuan maka tuan muda akan menghubungi kita sehingga saat itu nona Milan bisa turun dan pergi kesana.” Ujar Walren menjelaskan rencana yang sudah dia diskusikan dengan mama dan papa Milan ketika Milan sedang dirias.
“Tapi kenapa begitu?” Tanya Milan.
“Untuk alasan keamanan.”
Karena mereka memparkirkan kedua mobil itu secara terpisah sehingga Milan hanya bisa menunggu aba aba yang diberikan baru keluar.
Seraya menunggu info dari Reyhan, Walren melihat kekursi belakang menggunakan kaca, wajah Milan terlihat cemberut dan tidak menunjukkan keceriaannya yang tadi.
“Apakah ada sesuatu yang sedang anda pikirkan?” Tanya Walren.
Milan yang tadi hanya melamun dan cemberut saja tersentak oleh kata kata Walren dan balik melihat Walren dari cermin di mobil.
“Aku hanya bingung, padahal selama ini mereka terlihat tidak ingin berhubungan denganku tapi sekarang malah menjodohkanku, aku hanya tidak paham apa yang sebenarnya mereka inginkan dariku.” Jawab Milan atas pertanyaan Walren tadi.
Sudah sangat jelas bahwa Milan akan berpikiran seperti itu setelah semua yang terjadi di hidupnya. Saat mendengar bahwa Milan akan dijodohkan sejujurnya dia juga kaget, apa yang sebenarnya mereka inginkan.
Tapi saat Milan dibawa ke ruangan lain untuk dirias, Walren mendapatkan jawaban itu langsung dari orang tua Milan. Alasan orang tua Milan melakukan semua hal ini dari awal sangatlah sederhana namun dia tidak bisa mengatakannya pada Milan.
“Sebenarnya nona, terkadang orang tua itu bisa melakukan apapun untuk kebaikan anak mereka, bahkan jika hal yang mereka lakukan itu akan menyakiti diri mereka sendiri atau anaknya, itulah yang hanya bisa dilakukan orang tua di era yang penuh mafia ini. Jadi nona, tolong percayalah bahwa semua yang dilakukan oleh nyonya dan tuan itu sesungguhnya demi kebaikan nona sendiri.” Ujar Walren untuk menenangkan hatinya Milan bahwa mama dan papanya sama sekali tidak ada niatan buruk.
Karena kalau mama dan papa Milan menjodohkan Milan dengan niatan ingin memperoleh uang dari menantunya yah buat apa orang mereka udah kaya, Milan juga tidak mungkin dinikahkan demi kemajuan perusahaan orang tuanya karena bisa dibilang Milan tidak pernah ditampilkan di publik ataupun depan kamera sehingga tidak ada seorangpun yang tau bahwa Milan sebenarnya anak dari keluarga Liander.
“Kalau Walren mengatakan itu, ya sudah aku akan percaya, tapi tetap saja aku tidak menerima perjodohan ini.” Ujarnya sambil melipat kedua tangannya didepan d**a dan mengembungkan pipinya.
Tak lama kemudian, Walren mendapatkan pesan dari Reyhan bahwa dia sudah sampai didepan pintu.
“Nona, ini saatnya nona pergi kesana, ruangannya di nomor 2550 di lantai 15, hati hati dijalan.”
“Kenapa kau mengucapkan hati hati? Bukankah kau akan menemaniku kesana?”
“Maaf, tapi anda akan pergi ke ruangan tersebut sendiri.”
“Lah.”
Milan masih duduk didalam mobil dengan mulut menganga karena kaget dengan perkataan Walren. Beberapa detik setelah keheningan berlalu, Milan tiba tiba mengajukan rasa protesnya pada Walren.
“Katanya tadi untuk alasan keamanan, kok ya sekarang aku malah dibiararin jalan sendirian kesana ini maksudnya kek gimana!? Aku ini sudah tampil cantik nanti kalo aku kesana sendiri tiba tiba ketemu om om mafia terus aku diculik gimana!? katanya ini di era mafialah, orang tua hanya bisa inilah dan bla bla bla, emang dikiranya om om mafia tuh ga doyan sama cewek secantik dan semuda aku!” Ujar Milan panjang lebar.
Karena Milan sudah mulai mengoceh seperti itu akhirnya daripada harus mendengarkan ocehannya lagi dan pada akhirnya malah hanya mengulur ngulur waktu jadi Walren mencoba menelpon nyonya Liander.
Telepon pun terhubung dan mereka berkomunikasi untuk sesaat, tak lama kemudian, Walren mematikan teleponnya.
“Bagaimana?” Tanya Milan dengan penasaran.
“Nyonya bilang anda harus tetap jalan sendiri, jika anda kesana sendiri maka nyonya akan memberikan anda uang jajan lebih setiap bulannya dan memperbolehkan anda pergi berlibur kemanapun anda suka.” Ujar Walren kepada Milan.
“Bohong, pasti saat aku sampe sana, semuanya akan dibatalkan.”
“Kali ini nyonya serius, saya menjaminnya.”
“Oke gasss.”
Tanpa berlama lama Milan keluar dari mobil dan berjalan menuju ruangan yang tadi diberitahukan oleh Walren sendiri. Sopir yang daritadi mendengarkan percakapan Walren dan Milan mulai bertanya.
“Nyonya sungguh sungguh memberikan tawaran itu kepada nona Milan?” Tanya pak sopir itu menoleh kearah Walren.
“Saya sangat yakin bahwa nyonya serius dengan tawarannya itu tapi sepertinya nyonya akan menambahkan sesuatu diakhir yang membuat nona Milan merasa kesal.” Jawab Walren dengan muka pasrah pada ibu dan anak ini.
“Bagaimana anda bisa tau?” Tanya pak sopir itu lagi.
“Karena itu yang selama ini nyonya lakukan.” Jawaban Walren ini berdasarkan pengalaman yang dia dapatkan saat bersama dengan Milan.