CHAPTER 3

1323 Words
Dalam pikirannya Milan berkata, yang membuat peraturan bahwa aku tidak boleh pulang kecuali hari hari penting itu kan kau sendiri. Dia kira aku tidak mau berada dirumah ini bersama dengan mereka dan menjalani kehidupan yang bahagia. Yahh, meskipun aku tidak bisa berada dirumah ini pun setidaknya aku masih memiliki Walren, dia juga sangat baik padaku dan merawatku seperti anaknya sendiri, bisa bersama dengan Walren dan hidup selayaknya keluarga yang bahagia saja sudah cukup. Mama Milan melepaskan pelukannya dan duduk di kursi dekat suaminya diikuti oleh Milan yang duduk disamping adik laki laki dan Walren yang berdiri dibelakang Milan. “Ternyata kau cukup paham bahwa ini bukanlah permintaan biasa ya.” Sifat mama Milan langsung berubah 180 derajat dari yang tadi, dia menjadi sangat serius dan inilah sifatnya yang sebenarnya. Saat kedua wanita itu berbicara, anggota keluarga yang lain hanya diam dan mendengarkan sambil makan. Keluarga Liander memang seperti ini, terkadang bisa menjadi keluarga yang hangat tapi terkadang bisa menjadi sangat dingin. “Kau akan kujodohkan.” Seketika orang yang tadinya makan dengan tenang sambil mendengarkan langsung tersedak. Semua orang yang ada di ruang makan itu terkejut. “Kau tidak pernah bilang padaku kalau kau akan menjodohkan Milan, Milan kan juga anakku, bagaimana bisa kau menjodohkan dia tanpa persetujuanku, lagipula kita juga tidak tau bagaimana laki lakinya kan, Milan pasti juga tidak suka, aku tidak akan pernah menyerahkan anakku padanya!” Ujar papa Milan protes. Milan tiba tiba berdiri dan berjalan kebelakang papanya lalu memegang pundak papanya. “Benar, aku setuju dengan papa, kenapa aku harus dijodohkan!? Aku tidak mau! Lagipula aku juga masih kelas 11.” Tambah Milan mendukung penolakan papanya pada perjodohannya. Tentu saja hal seperti ini tidak akan membuat rencana mama Milan hancur begitu saja. “Tenanglah, aku tidak menjodohkan Milan dengan laki laki sembarang, aku menjodohkannya dengan anaknya Lydia yang kedua.” Ujar mama Milan sambil tersenyum. “Lydia? Siapa itu Lydia?” Milan hanya bisa menatap mamanya dengan kebingungan. “Baiklah aku setuju.” Jawab papa Milan sangat cepat tanpa ada penolakan lagi. “Loh papa! Kok berkhianat!?“ Milan hanya bisa kebingungan dengan apa yang terjadi disini. "Untuk saat ini aku setuju tapi ntah dipertemuan nanti, anak itu sifatnya kadang bisa berubah ubah dan aneh tapi tampangnya sangat oke, sulit untuk mengatakan ya dengan presentase 100% jadi aku ingin melihatnya langsung sekali lagi." Menurut papa Milan. Dih, orang situ juga sama kok malah menghina sesama kaum peranehannya, rumah udah segede ini, duit juga numpuk segudang, kok yah ga mampu beli kaca, kata Milan dalam hatinya. Walren dan adiknya hanya diam saja tanpa komentar, jika Walren mungkin memang tidak berhak berkomentar tapi adiknya, seharusnya dia juga ikut komentar lah, adiknya ini memang sangat dingin bahkan jika situasi dikeluarganya sedang hangat. Kek aku bisa heran gitu lho, mama ngidam apa pas hamil ni bocah, es batukah? “Baiklah karena papa juga sudah setuju, maka perjodohannya akan lanjut, sekarang sekitar jam 7 pagi, jam 8 pagi kita ada temu janji dengan keluarga mereka, jadi Milan kau harus berdandan yang cantik sekarang.” Ujar mama Milan dengan wajah yang berseri. “Apa? Tapi aku belum se-“ “Pelayan!” Tanpa basa basi lagi, para pelayan langsung datang dengan jumlah yang banyak dan memegangi lengan Milan. “A-apa apaan ini! Lepaskan aku! Ma, aku tidak bilang bahwa aku setuju untuk ikut perjodohan itu!” “Dandani dia cepat.” Ujar mama Milan dan mengabaikan perkataan Milan. “Baik nyonya.” Milan langsung dibawa keruangan yang berbeda, dalam perjalanannya Milan meronta ronta agar dilepaskan tapi semua itu percuma, entah kenapa saat ada masalah yang harus menggunakan fisik dia selalu kalah, mungkin karena efek dari menjadi seorang kaum rebahan yak. Tidak hanya satu atau dua orang saja, tapi dia kalah dari semua orang yang ada dirumah ini. Meskipun dia melawan adiknya yang fisiknya jelas lebih besar dia saja dia tetap kalah. Para pelayan itu mendandani Milan dengan profesional bahkan ketika Milan terus bergerak dan tidak mau diam pun hasil make upnya tetap bagus, make up Milan terlihat natural dan elegan membuat wajahnya terlihat seperti seorang bidadari walaupun saat ini kelakuannya tidak mencerminkan hal itu. Semuanya ditata sangat rapi, rambutnya yang panjang dan bergelombang, gaun sepanjang lutut yang berwarna biru terang dengan sepasang high heels dengan warna yang sama, tak lupa juga rambutnya dipasang sebuah hiasan rambut yang berwarna sama dengan gaun dan sepatunya. Kesibukan itu berakhir di jam 7.45 sehingga masih ada waktu 15 menit lagi sebelum mereka berangkat. “Bagaimana nona? Apakah anda menyukainya?” Tanya salah satu pelayan yang berdiri disampingnya sambil memandangi bayangan Milan yang ada dicermin. Milan terdiam sejenak saat melihat dirinya sendiri, dia menyentuh wajahnya seolah tak percaya. “Ini bagus, ternyata aku bisa terlihat cantik seperti ini ya kalau pakai make up.” “Anda memang dari awal sudah cantik meskipun tanpa make up, nona.” Pelayan yang berada disampingnya tersenyum puas begitu juga dengan pelayan yang lain. Milan masih tetap memandangi dirinya dicermin dan melupakan kegiatannya setelah ini. Tak lama kemudian, pintu ruangan yang digunakan untuk merias Milan terbuka begitu saja tanpa ada kata permisi. Semuanya langsung melihat kearah pintu, tak terkecuali Milan. “Kak, apa sudah selesai? Mama menyuruh untuk segera naik ke mobil.” Ujar adik Milan, Reyhan, yang masih berdiri dengan tegap di dekat pintu. “Kukira siapa ternyata Reyhan toh, seperti biasanya kau selalu dingin kek antartika, setidaknya saat melihat penampilan cantikku ini kau mengatakan ‘wahhh kakakku cantik’ atau ‘wahh kau cantik seperti bidadari’ seperti itu, jangan memasang muka tak beradabmu itu.” Protes Milan dan berdiri dari tempat duduknya. Tapi meskipun Milan berdiri tapi dia tidak menggerakan kakinya 1 inchi pun untuk berjalan, sudah sangat jelas bahwa Milan tidak akan pernah naik ke mobil itu. Lagipula yang datang juga hanya adiknya, dengan tubuh cebol seperti itu dia tidak akan bisa memaksa Milan untuk ke mobil. Milan melipat kedua tangannya di d**a dan tersenyum mengejek Reyhan karena dia tidak bisa membawanya ke mobil. Milan tersenyum dan berjalan untuk keluar dari ruangan itu dan kabur lewat pintu belakang. Saat dia berjalan melewati Reyhan, ada suatu adegan yang tidak dia pertimbangkan. Reyhan ternyata tidak datang sendiri, dia membawa dua bodyguard dengan tubuh yang kekar dan besar. Senyum sombong yang daritadi dia tampilkan perlahan lahan menghilang. Seharusnya aku sadar kalau nenek lampir itu tidak mungkin menyuruh anak kecil yang sudah jelas tidak bisa memaksaku untuk pergi ke mobil sendirian. Kok ya bodoh kali aku ini ga mikir sampe sana. “Tangkap.” Ujar Reyhan memerintah bodyguard itu. Kedua bodyguard itu langsung melihat kearah Milan bersamaan, membuat bulu kuduk Milan berdiri semua, Milan hanya bisa berdiri seperti batu saja disana dengan mulut yang menganga seolah tak percaya dengan keadaannya sekarang. Padahal tadi Milan keluar dengan muka sombongnya dan sekarang lihat apa yang terjadi, mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa orang tidak boleh sombong. Disaat kedua bodyguard itu hendak menangkap Milan bersamaan, Milang langsung mengangkat kedua tangannya dengan senyum dimukanya dan menengok kekanan dan kekiri. Bodyguard yang hendak menangkap tadi langsung terdiam dan tidak bergerak sama sekali. “Sebentar om, kalem, ga usah main tangkap tangkap, ntar jatohnya malah kek kriminal aku ni. Kita ambil jalan enaknya aja, saya jalan dengan tenang ga usah diapa apain nah terus kalian ngikut dari belakang, aman tuh pasti, gimana?” Ujar Milan berusaha nego sama om om bodyguard. “Tuan muda?” Tanya salah satu bodyguard untuk menunggu perintah selanjutnya. Reyhan hanya diam dan berjalan di depan Milan lalu menganggukkan kepalanya menyutujui usulan Milan. Milan langsung menghela napas panjang dan merasa dirinya terselamatkan lalu berjalan mengikuti Reyhan. Walaupun nih bocah ngeselinnya minta ampun tapi yang penting aku selamatlah, aku sangat yakin kalau aku tidak menghentikan kedua bodyguard itu pasti aku sudah hancur ditangkap oleh mereka. Dari wajahnya saja aku tau, mereka pasti ga ngukur dulu kekuatannya sebelum nangkep aku. Pasti si nenek lampir itu yang menyuruh mereka agar tidak perlu segan segan padaku, dasar nenek lampir s****n. Untung gue ga gobl0k gobl0k banget kalau masalah insting kek gini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD