CHAPTER 2

1293 Words
Sejujurnya Milan selalu saja kalah jika bertanding menggunakan fisik dengan Monica. Sehingga perebutan makanan antar makhluk hutan ini dimenangkan oleh Monica. Tanpa berlama lama Monica langsung memasukkan semua roti yang dia dapatkan ke dalam mulutnya dan langsung mengunyahnya. “Yah yah, rotiku… Walrennn.” Milan menatap Walren dengan wajah yang memelas. Walren yang berdiri didekat telpon mendekati kedua makhluk yang baru saja bertanding demi makanan itu. Walren hanya bisa menghela napas melihat kelakuan kedua gadis itu. “Huhhh, ternyata hanya tubuhnya saja yang tumbuh tapi kelakuan kalian masih sama seperti dulu, sejujurnya saya tidak tau apakah saya harus senang atau sedih untuk ini, terkadang saya juga berharap bahwa kalian bisa akur setidaknya untuk sehari saja.” Walren mengelus elus kepala Milan dan memberikan kotak makannya pada Milan. “Nona makan ini saja, bagaimana?” Tawar Walren. “Tapi inikan untuk makan nanti siang.” “Nona makan ini saja untuk sekarang.” Milan memandang kotak makan itu dengan tatapan yang memelas, tapi sedetik kemudian dia memandang Monica dengan garang. “Dasar tamu tidak tau diri! Humh.” Ujar Milan dan langsung membuang wajahnya. Monica hanya tersenyum saja sambil terus mengunyah rotinya. Setelah itu, Monica mengambil tasnya dan berjalan kearah pintu. “Tungguin gue jamal, dah ngabisin sarapan orang juga sekarang malah mau kabur, j*****m memang!” Ujar Milan penuh emosi. Monica segera menelan makanan yang ada dimulutnya. “Tanya aja sama Walren, udah ya, bye ogeb.” Monica langsung kabur setelah mengatakannya. “Woi anak setan! j*****m lu ya!” “Pfft.” “Jangan ketawa!!” Walren benar benar tidak bisa menahan tawa karena kelakuan mereka berdua. Ini adalah pemandangan yang selalu di lihat oleh Walren hampir tiap pagi tapi anehnya dia tidak pernah bosan dengan hal hal konyol yang dilakukan oleh kedua gadis itu. Yah, mungkin karena hal hal konyol itu tidak menyusahkan dia dan lebih terlihat seperti mood booster baginya. “Apa maksud dari perkataan Monica tadi?” Ujar Milan yang masih marah sambil memakan sarapannya. Sebenarnya Walren tidak ingin memberitaukan itu kepada Milan dan tentu saja tidak ingin mengajaknya pergi ke rumah itu. Tapi ini adalah perintah dan Walren sendiri juga sadar, meskipun dia sudah merawat Milan selama 12 tahun tapi tetap saja tidak akan mengubah kenyataan bahwa Milan dan Walren tidak lebih dan tidak kurang hanya sebatas pelayan dan majikan. Walren yang tadinya tersenyum malah murung karena memikirkan hal itu. “Saya akan mengatakannya nanti setelah anda selesai makan, silahkan menikmati makanannya.” Walren langsung membalikkan diri dan pergi dari sana menuju ke dapur. Mendengar nada bicara Walren yang agak berubah dari yang tadi membuatnya menoleh kearah Walren dan melihat punggungnya yang lebar dan besar berjalan menjauh dari dirinya. Ada apa dengannya? Apakah hal itu segitu buruknya sampai dia seperti itu? Ntahlah, yang harus kulakukan sekarang adalah makan dengan cepat lalu pergi ke sekolah. Berani beraninya Monica, setelah ngabisin sarapanku lalu pergi seenaknya kek gitu. Setelah menghabiskan sarapannya dengan cepat, Milan langsung menghampiri Walren yang ada didapur. Walren saat itu masih mencuci peralatan yang dia gunakan memasak tadi. “Walren, aku sudah selesai makan, jadi apa yang dimaksud oleh Monica tadi?” Tanya Milan sambil menatap wajah Walren. Walren membalas tatapan Milan dan hanya menatapnya saja tanpa mengatakan apapun. “Jangan menatapku saja, cepat katakan ada apa, kalau tidak nanti aku keburu telat, pagi ini guru yang mengajar galak, kalau aku sampai telat di jam pelajarannya aku bisa mampus dihukum, kalau tidak mau mengatakannya ya sudah aku berangkat dulu.” Karena tidak mendapat jawaban apapun dari Walren, Milan berlari menjauh dari Walren dan mengambil tasnya, saat Milan baru membuka pintu dan hendak keluar dari rumah barulah Walren menghentikannya. “Tunggu nona.” “Apa lagi!? Kau biasanya tidak pernah semenjengkelkan ini loh. Kalau ada yang mau dikatakan cepat katakan, kalau tidak aku akan pergi.” Ujar Milan yang mulai kesal karena perilaku Walren yang dari tadi mengulur ulur waktunya. “Sebenarnya saya tadi sedikit bimbang karena nona mungkin tidak menyukai apa yang akan saya katakan ini.” “Berhenti basa basi dan cepat katakan apa itu!” “Nyonya menyuruh anda untuk pulang sekarang.” Mendengar perkataan Walren, Milan membeku sejenak, setelah itu dia menutup pintu itu kembali. Dia berjalan menuju telepon rumah dan menekan nomor. Perilaku Milan yang tiba tiba itu membuat Walren terkejut sekaligus penasaran. “Nona, siapa yang anda telepon?” “Mama.” Jawaban Milan begitu dingin dan lempeng. Tak lama kemudian, telepon pun terjawab. “Ha-“ Bahkan mama Milan belum sempat menyelesaikan satu katanya sudah dipotong oleh Milan. “Aku tidak akan pergi kesana.” Ujar Milan yang langsung maen nyrocos aja. Telepon hening untuk beberapa detik karena perkataan spontan dari Milan. “Hemh, kau yakin dengan perkataanmu itu?” Jika jawabannya seperti itu, dia pasti sudah menyiapkan kata kata untuk mengancamku, bermimpilah dasar wanita gila, apapun yang kau katakan padaku aku tetap tidak akan pergi kesana. “Tentu saja, tidak peduli apapun yang kau katakan aku te-“ “Kalau begitu Walren akan kusuruh kembali kemari.” “Apa maksudmu!?” Ungkap Milan yang sudah sangat kesal hingga mengerutkan dahinya. “Walren akan kusuruh kembali dan kau akan hidup sendirian dirumah besar itu, aku ingat kau tidak suka sendirian kan, pasti akan sulit menjalani hidup dirumah sebesar itu sendirian.” Dari nadanya berbicara, dia terlihat seperti mengejek Milan dan itu semakin membuat Milan kesal. “Jika kau mengerti posisimu, berhenti merengek dan cepat pulang.” Perkataannya yang begitu dingin membuat Milan gemetar dan tidak bisa berkata kata, tepat setelah itu teleponnya ditutup secara sepihak. Melihat Milan yang tadi gemetaran dan tidak mengeluarkan sepatah katapun membuat Walren khawatir padanya. “Nona, anda baik baik saja?” Milan tidak menjawab sama sekali, keheningan terjadi beberapa saat. Tiba tiba saja Milan melempar telepon rumah itu ke dinding, membuat Walren terkejut karena perilaku Milan yang tidak seperti biasanya. Biasanya barang seperti apapun tidak akan pernah dilempar seperti itu karena dari dulu Walren mengajarinya untuk lebih menjaga barang barang disekitarnya walaupun pada akhirnya memang tidak dijaga. “Dasar mak lampir! Beraninya cuman mengancam saja, mengurusku dengan tangannya sendiri saja tidak mau sekarang malah menyuruhku seenak jidatnya, dia pikir aku ini apa!” “No-nona, anda-“ “Ayo pergi... kerumah terkutuk itu!” Ungkap Milan yang sudah sangat kesal dan berjalan duluan ke mobil. Mereka langsung berangkat menuju rumah utama keluarga Liander, sesampainya disana Milan disambut oleh banyak sekali pelayan. Milan keluar dari mobil dan masuk ke dalam dengan wajah yang marah seolah olah ingin membunuh seseorang. “Dimana mama?” Tanya nya pada salah satu pelayan yang berdiri disana dengan dingin. “Nyonya beserta anggota keluarga yang lain sedang berada di ruang makan.” Jawab pelayan itu sambil membungkuk. Tanpa basa basi Milan langsung menuju ruang makan diikuti oleh Walren dibelakangnya. Saat sampai di ruang makan, tanpa aba aba mamanya langsung melompat kearahnya dan memeluknya, mama Milan saat ini terlihat seperti seorang anak yang memeluk ibunya karena sudah lama tidak bertemu. Sehingga saat ini, mama Milan malah terlihat seperti anaknya Milan daripada mamanya. “Ma, lepaskan! Ingat umur dan berhenti berkelakuan seperti anak kecil!” Ujar Milan sambil berusaha melepaskan pelukan mamanya. “diamlah anak biadab, jika tak kusuruh pulang maka kau tidak akan pulang, kalau tidak sekarang kapan lagi aku bisa memelukmu seperti ini lagi.” Balas mama Milan sambil memukul punggung Milan. Keheningan terjadi beberapa detik, Milan memegang lengan mamanya yang berada di lehernya, pandangan matanya berubah menjadi sepi seolah semuanya itu kosong setelah memikirkan sesuatu hal dikepalanya. “Hemh, hahahaha… baiklah, sekarang katakan apa yang kau inginkan, dari perkataanmu di telepon tadi pasti itu bukan suatu keinginan yang biasa kan.” Walaupun ini baru terjadi untuk pertama kalinya tapi pada saat itu juga Milan memiliki sesuatu yang tidak bisa dia katakan bahkan pada Walren sekalipun. Karena pemikirannya itu dia hanya tertawa saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD