Adam melangkahkan kaki mendekat, ia sengaja berdeham agar sang bibi menyadari kehadirannya.
"Ehemm," deham Adam sengaja.
"A-adam," ucap Mila terkejut.
"Kenapa Bibi sampai memarahi Ibu?" tanya Adam kepada Mila.
"Apa Ibu melakukan kesalahan?" tanya Adam lagi.
"Tanya saja sama Ibumu," jawab Mila dengan culas.
"Saya bertanya sama Bibi bukan sama Ibu jadi tolong jelaskan kepada saya apa alasan Bibi memarahi Ibu saya, atau...." ucap Adam menggantung.
"Saya apa? Kamu ingin mengancamku? Cihh, berani sekali kamu denganku yang bahkan rumah pun kalian masih menumpang dengan keluargaku," cibir Mila.
Adam benar-benar kesal, tangannya mengepal kuat. Rasanya ia ingin sekali memaki orang yang sudah bertidak tidak baik dengan ibunya saat ini namun sang ibu melarangnya dan meminta ia untuk mengalah.
"Sudah-sudah, tidak enak kalau ada yang sampai mendengar nanti. Maafkan Adam yang berkata kurang sopan mbak," ucap Siti melerai Adam dan Mila.
"Adam, ayo ke dalam dulu nak." Siti menggandeng Adam masuk ke dalam.
Siti menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar Adam. Ia membalikkan tubuhnya, mengusap lembut kedua pipi putranya itu.
"Segeralah mandi nak, sebentar lagi magrib."
"Iya bu," jawab Adam masuk ke dalam kamarnya.
Seperti biasa, setelah mandi Adam langsung menuju ke meja makan untuk berbuka puasa bersama. Semua memulai makan setelah sang paman selesai memimpin doa. Semua makan dengan lahap, kecuali Siti yang menatap dengan sendu makanan di atas piringnya.
Adam melirik ke arah ibu, ia memerhatikan wajah sendu sang ibu. Ia melihat ayam kecap di piring sang ibu. Ia kini paham mengapa sang ibu terlihat sedih. Ia sudah bisa menebak jika sang ibu pasti sedang merindukan ayahnya. Ya ... Ayam kecap buatan ibu adalah makanan favorit bagi sang ayah. Tak heran jika ibu mengingat sang ayah ketika melihat ayam kecap di depannya.
Adam meletakkan sendoknya, ia mengusap lembut lengan ibunya. "Bu, kenapa nasinya tidak dimakan?" tanya Adam lembut.
Siti yang melamun pun gelapan. "Ahh, ma-maaf nak, Ibu melamun."
Adam tersenyum lalu menganggukkan keplanya. "Adam mengerti kok bu."
"Maafkan Ibu, Ibu hanya rindu dengan ayahmu nak."
"Hemm, tak apa bu."
***
Keesokan harinya Siti menyuruh Adam segera sarapan dan berangkat ke kampus.
Tok tok tok
"Dam," panggail Siti.
"Iya Bu, sebentar," sahut Adam dari dalam kamar.
"Segera sarapan, ibu sudah menyiapkan sarapanmu di meja," ucap Siti sebelum pergi.
"Iya Bu."
Siti kembali ke dapur untuk mencuci piring dan beberes dapur. Tak lama setelahnya Adam keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
"Pagi Bu," sapa Adam.
"Pagi Nak," jawab sang ibu sembari tersenyum.
"Cepat makan sarapanmu dan lekas berangkat. Nanti kamu terlambat."
"Iya bu," ucap Adam sembari mulai menyendok makanan di piringnya.
Usai makan Adam menghampiri sang ibu untuk berpamitan. "Bu, Adam berangkat dulu ya."
"Iya nak, hati-hati di jalan ya."
"Iya bu, ibu jangan terlalu menurut ya dengan bibi. Adam kurang suka kalau bibi memerintah ibu sesuka hatinya seperti kemarin. Adam sangat kesal bu."
Siti mengusap lembut lengan putranya sembari tersenyum. "Tak apa sayang, jangan khawatirkan ibu. Anggap saja ibu balas budi karena mereka telah memberikan tumpangan kepada kita di sini. Kamu tak perlu kesal lagi ya."
"Ya tapi bu...."
Siti memotong ucapan Adam karena tak ingin pembicaraannya dengan sang putra semakin melebar. "Sudah, ayo cepat berangkat. Nanti kamu telat. Kamu tenang saja, ibu akan baik-baik saja."
"Baiklah, Adam berangkat ya bu."
Adam melajukan motornya menuju kampus, ia agak tergesa-gesa karena ia ditunjuk menjadi juri lomba tilawah hari ini.
**"
Alisha turun dari mobil dan berjalan cepat menyusuri koridor hendak ke kelasnya. Ia memutar bola matanya malas mendengar beberapa mahasiswi membicarakan tentang Adam dan kekaguman mereka terhadap Adam di sepanjang perjalanan menuju kelasnya.
"Ishh, apa hebatnya sih," ucap Alisha di dalam hati.
Alisha melanjutkan langkahnya, ia melihat rame-rame di depannya. Ia mengernyitkan dahi, penasaran dengan apa yang sedang dilihat oleh para mahasiswa.
"Ada apa sih? Kok rame banget," batin Alisha.
Alisha berjalan mendekat ke arah kerumunan. Ia lantas melihat apa yang sedang dikerumuni oleh para mahasiswa. Begitu ia melihat ada beberapa orang yang sedang membaca Al-Qur'an ia pun memilih pergi dari kerumunan.
Baru beberapa langkah saja, Alisha mendengar seseorang memanggilnya dari arah belakang.
"Alisha."
"Alisha tunggu!" teriak Fira.
Alisha membalikkan badan, dan melihat ke belakang. Ia melihat Fira berjalan cepat ke arahnya.
"Sha, mau kemana sekarang?" tanya Fira yang baru datang.
"Mau ke kelas Fir," jawab Alisha.
"Enggak lihat itu dulu," ucap Fira menunjuk kerumunan mahasiswa.
"Enggak, males Fir. Aku mau ke kelas saja."
"Oh ya sudah kita barengan aja."
"Eh tadi yang rame-rame ada acara apa sih memangnya Sha?" tanya Fira penasaran.
"Aku enggak tau namanya Fir, tapi yang aku lihat-lihat sih kayak baca Al-Qur'an gitu."
"Oh lomba baca Al-Quran mungkin Sha."
Alisha menggidikkan bahunya. "Ya, mungkin gitu."
Alisha sampai di kelas lebih dulu sedangkan Fira berbelok ke toilet untuk buang air kecil. Alisha duduk dengan tenang di tempat duduknya. Samar-samar seorang mahasiswi memutar video youtube Adam ketika membaca Al - Qur'an, karena Alisha penasaran suaranya sama dengan suara mp3 di ponselnya Alisha pun mengintip apa yang sedang mereka lihat.
"Pada lihat apa sih? kok seru banget keliatannya," ucap Alisha kepada salah seorang temannya.
"Oh ini gue lagi lihat Bang Adam lagi lomba baca Al-Qur'an," ucap salah seorang diantara mereka.
"Adam?" ulang Alisha.
"Iya itu Bang Adam yang sekarang jadi juri lomba tilawah."
Alisha yang penasaran pun bergerak lebih mendekat. Ia kaget sekaligus senang karena akhirnya ia tahu siapa pemilik suara pembaca ayat suci Al-Quran yang selalu ia dengar.
"Jadi ...." ucap Alisha lirih.
"Ternyata itu kamu," ucap Alisha di dalam hati.
Alisha tersenyum melihat video Adam. Fira yang melihatnya pun merasa aneh dan penasaran.
"Kamu kenapa Sha? senyum-senyum sendiri," tegur Fira yang baru saja datang menghampirinya.
"Ahh, i-itu apa ... A-anu," ucap Alisha gugup karena ketahuan senyum-senyum melihat video Adam.
"Itu, anu apa sih Sha?" tanya Fira tak mengerti.
Bersambung....