Harus Bercerai

951 Words
"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar ayat 10). Siang itu Yusuf sedang mengecek kendaraan yang sudah selesai diservis oleh karyawannya. Hal yang biasa ia lakukan, memastikan semua pekerjaan karyawannya bagus dan sesuai permintaan pelanggannya. "Nu, ini punya Mr. Wu sudah saya cek ya. Kamu tolong bilang Nina untuk mengabari pemiliknya kalau mobil sudah selesai," ucap Yusuf memberi instruksi. "Yang ini milik siapa, Don? keluhannya kemarin apa?" tanya Yusuf menunjuk mobil yang selesai di kerjakan oleh Doni. "Itu atas nama Salim, Pak. Kerusakannya kaca jendela susah untuk dibuka dan ditutup dan akinya agak tekor, Pak," jelas Doni. "Oke, saya cek dulu Don." "Hemm, bilang ke Nina mobil sudah oke, suruh Nina untuk memberikan garansi satu minggu jika ada keluhan aki." Yusuf kembali memberi intruksi. "Baik, Pak." Suasana bengkel terbilang cukup ramai saat itu. Yusuf sibuk mengecek kendaraan serta melayani pelanggannya. Tiba-tiba seseorang datang dan memakinya. Tak berhenti disitu saja dua orang polisi juga datang untuk membawa Yusuf. "Yusuf!" seru Adam yang baru saja datang. "Ada apa ini?" tanya Adam. "Pak tunggu dulu, sepupu saya mau dibawa kemana? Tunggu, Pak! Ijinkan saya berbicara dengan sepupu saya dulu," ucap Adam menghentikan langkah polisi yang hendak membawa Adam masuk ke dalam mobil. "Entahlah Bang, aku pun juga kurang tahu tiba ada pelanggan datang memarahi aku dan menudihku mengambil uangnya. Dan sekarang aku disuruh untuk memberikan penjelasan di kantor polisi. Tolong kasih kabar ke Fira ya, Bang." "Baiklah, kamu yang sabar ya. Insyaallah semua akan baik-baik saja," ucap Adam. "Iya, Bang. Terimakasih ya. Yusuf pergi dulu," ucap Yusuf berlalu pergi. Adam yang baru saja datang pun kembali pergi dari bengkel. Kali ini ia mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya kalang kabut memikirkan musibah yang terjadi kepada suami sepupunya itu. Ia sangat yakin jika suami sepupunya itu adalah orang yang baik dan tidak mungkin melakukan hal seburuk itu. "Aku yakin Yusuf tidak mungkin melakukan hal itu. Aku harus membantunya," ucap Adam lirih. "Semoga tidak terjadi apa-apa," batin Adam sembari menambah kecepatan motornya. Adam menghentikan motornya tepat di depan rumah Yusuf. Ia mengetuk pintu dengan tidak sabaran agar Fira segera membuka pintunya. Fira yang baru saja selesai sholat segera berlari membukakan pintu begitu ia mendengar pintu rumahnya diketuk dengan tidak sabaran. "Siapa sih," batin Fira. "Assalamualaiku Fir," sapa Adam begitu pintu terbuka. "Walaikum salam. Bang, Adam. Ayo masuk Bang," ucap Fira mempersilahkan Adam masuk ke dalam rumah. Adam masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu begitu juga dengan Fira. "Oh iya sampai lupa, sebentar ya Bang, aku suruh bibi bikinkan minum dulu," ucap Fira hendak bangkit dari tempat duduknya namun buru-buru dicegah oleh Adam. "Tidak usah Fir, Abang cuma sebentar kok." "Begini, Abang kemari disuruh sama Yusuf untuk memberitahu kamu jika dia dibawa ke kantor polisi tadi," ucap Adam hati-hati. "Astagfirullah, kok bisa? Memangnya ada apa, Bang?" tanya Fira dengan wajah sedih. "Dia dituduh mengambil uang pelanggannya Fir," jelas Adam. "Ya Allah, Bang kok bisa sampai begitu? Fira gak percaya kalau mas Yusuf sampai melakukannya." "Abang pun demikian. Abang juga gak percaya jika Yusuf pelakunya." "Fira takut Bang, takut mas Yusuf kenapa-napa disana." "Tenanglah, insyaallah semua baik-baik saja. Sebaiknya kamu kabari ayah dan ibumu dulu Fir." "Iya Bang," ucap Fira sembari meraih ponsel yang berada di meja. Fira mendial nomor telepon sang ayah, dengan air mata yang sudah tak bisa di bendung lagi Fira terlihat tak sabar menunggu teleponnya diangkat. "Ayah, ayo angkat telepon Fira," ucap Fira sembari menggigiti unung kukunya. Dilain tempat sepasang suami istri sedang duduk berdampingan menjaga toko sembako mereka. Mereka mengobrol santai sembari betgurau. Atensi keduanya tertuju pada sebuah benda pipih yang tergeletak di meja depannya. "Pak, sepertinya ada telepon di ponsel bapak," ucap Mila menunjuk ponsel Ilham. "Iya Bu," jawab Ilham. Ilham langsung mengangkat telepon begitu nama sang putri yang terpampang di layar ponsel. "Fira Bu yang telpon," ucap Ilham kepada Mila. "Angkat Pak, barang kali penting." "Assalamu'alaikum, nak," sapa Ilham lembut. "Walaikum salam." "Ada apa, Nak?" "Ayah, Mas Yusuf dibawa ke kantor polisi. Fira takut yah," ucap Fira menangis sesenggukan. "APA?" ucap Ilham terkejut yang membuat Mila mendekat ke arahnya dan bertanya apa yang terjadi namun Ilham mengintruksi Mila untuk diam. "Bagaimana bisa nak? Memang ada masalah apa?" tanya Ilham. "Mas Yusuf dituduh mengambil uang pelanggannya, Yah." "Astagfirullah, baiklah kamu tenang dulu ya nak, Ayah dan Ibu akan segera ke sana." "Iya Yah." "Assalamualaikum." "Walaikum salam." Ilham menutup teleponnya dan langsung mengajak Mila untuk ke rumah sang putri. "Ayo kita ke rumah Fira Bu," ajak Mila. "Ada apa Pak?" "Yusuf dibawa ke kantor polisi, Bu." "Astagfirullah. Ya sudah ayo kita ke sana segera Pak." "Gus, kamu jaga toko sebentar ya. Saya sama Ibu mau ke rumah Fira." Ilham meminta seorang karyawannya menunggu toko. "Baik, Pak." Ilham membonceng sang istri perg ke rumah Fira yang tidaj jauh dari toko mereka. Sepanjang perjalanan Ilham mewanti-wanti sang istri untuk tidak berkata yang macam-macam dengan putrinya karena sang putri sedang sedih. Namun bukan Mila namanya jika ia tak berkata pedas. "Assalamualaikum," ucap Ilham memberi salam. "Walaikum salam. Ayah...." "Masuk, Yah Bu." Mereka duduk dengan tenang di ruang tamu. Lalu bertanya kepada Fira tentang bagaimana kronologi kejadiannya. "Begini Yah...." mengalirlah cerita Fira kepada kedua orang tuanya. Ilham menganggukkan kepala paham. "Ya sudah nanti ayah bantu kamu ya, nak. Kamu yang sabar." "Iya, Yah" "Tapi Yah ... Ibu gak bakal terima kalau sampek terbyata Yusuf masuk penjaraa dan terbukti bersalah." "Bu," ucap Ilham mencoba mengingatkan sang istri. "Biar... biar Fira tau. Ibu akan menyuruh Yusuf pergi dan menceraikan Fira jika Yusuf terbukti bersalah. Ibu gak mau nama kita tercemar Yah." "Ingat itu Fir!" ancam Mila. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD