Gus Singa?

1379 Words
"Jangan tidur, Senja!” Aku menggeram kesal karena Senja sudah mengantuk padahal baru masuk waktu maghrib. Bahkan istri kecilku ini sudah naik ke atas ranjang, memakai selimut dan memeluk guling, sangat siap untuk tidur dengan nyaman. “Ngantuk, Gus.” Dia merengek dengan bibir mengerucut. Sebenarnya sangat menggemaskan, apalagi tatapan sayunya itu … ah, tidak! Aku tidak boleh lengah saat ini. “Makanya kalau siang tuh jangan main terus. Baru masuk waktu maghrib sudah ngantuk,” celotehku panjang lebar sambil menarik gulik serta selimutnya. “Galak banget sih!” dengus Senja melompat dari ranjang. “Padahal katanya seorang Gus itu kalem, lemah lembut, berwibawa. Yang ini apaan? Kayak preman pasar." Aku terperangah mendengar hinaan yang keluar dari bibir mungil istri kecilku ini. Oh Tuhan, Engkau menganugerahi Senja dengan wajah cantik bak bidadari tapi kenapa Engkau memberikan lidah yang tajam dan pahit padanya? Selama aku hidup di dunia ini, ini kali pertama ada yang mengatakan aku seperti preman pasar. “Sabar, Maher. Sabar!” Hanya kalimat itu yang selalu menjadi penguat mentalku. “Ini malam jum'at, Senja. Semua orang wajib berkumpul di musalla untuk membaca Yasin dan Al-kahf, tanpa terkecuali. Ummi, abi dan yang lainnya juga berkumpul semua di sana," paparku. “Boleh absen sekali?” Sejak mengangkat satu jari telunjuknya. “Hanya satu, Gus Maher. Beneran, cuma satu kali,” rayunya seraya melemparkan senyum yang sangat manis, senyum yang membuat jantungku berdegup kencang seperti saat pertama kali aku melihat fotonya. “Tidak!” Aku langsung menggeleng. Sekali lagi aku menguatkan diri, agar tidak terlena oleh rayuannya. “Kalau kamu nggak ke musalla sekarang juga, aku akan_” “Akan apa lagi?” Senja berkacak pinggang, netra cokelatnya menatapku dengan tajam. Ya Tuhan, kenapa sekarang dia lebih galak dariku? “Mau ngancam apa lagi huh, Gus Singa?” “Gus singa?” ulangku mengerutkan dahi. “Iya.” Senja mengangkat dagunya dengan angkuh. Bahkan dia berjinjit sehingga jarak antara wajah kami cukup dekat. “Abi bilang Asad itu artinya singa dan namamu Maher Asadullah, kan? Jadi kamu itu lebih cocok dipanggil Gus singa dari pada Gus Maher. Dasar gus singa! Ganas! Galak! Pemaksa! Kejam! Tukang ngancam!” hardiknya yang seketika membuatku melongo. “Aku benci Gus Singa!” desisnya tepat di depan wajahku bahkan hembusan napas hangatnya sampai menerpa wajahku. “Nanti aku cekik kalau sudah tidur!” gertaknya yang membuatku semakin melongo bahkan sampai menahan napas, apalagi tangan mungilnya itu diarahkan ke leherku. Setelah mengancam akan mencekikku, Senja keluar dari kamar dengan menghentakkan kaki. “la haula wala quwwata illa billah. la haula wala quwwata illa billah. la haula wala quwwata illa billah. la haula wala quwwata illa billah” Segera aku berdzikir sambil mengelus d**a. “Ya Allah, katanya jodoh cerminan diri. Apa aku … aku gila seperti Senja?” lirihku. “Kenapa kau menjodohkanku dengannya, ya Allah? Dia bahkan berani mengancam akan mencekikku.” “Dia sangat indah.” Aku terkesiap saat mendengar suara itu, suara yang berasal dari mulutku sendiri saat pertama kali melihat foto Senja. Ah, benar sekali. Yang membuatku berjodoh dengan Senja adalah diriku sendiri yang terpana hanya karena satu foto yang ditunjukkan oleh ummi padaku sebulan yang lalu. Saat itu, Ummi mengatakan sahabatnya memiliki putri yang sangat cantik, memiliki hati yang tulus dan juga polos. Ummi ingin aku menikahinya jika mau, lalu Ummi memberikan selembar foto padaku. Foto seorang gadis yang tersenyum sangat lebar, matanya berbinar terang dan detik itu juga jantungku berdegup kencang untuk pertama kalinya. Aku tidak tahu mendapatkan keyakinan dari mana, tetapi aku setuju untuk menikahinya apalagi Ummi bilang dia adalah putri sahabat baik Ummi. Selain itu, Ummi sendiri memujinya sebagai seorang gadis yang memiliki hati yang tulus. Aku percaya Ummi tidak akan memilih gadis yang salah untukku. Saat Ummi menyebutkan namanya-Senja Asyifa-dadaku langsung berdebar, seolah aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama sehingga aku semakin yakin untuk menikahinya. Namun, sebelum itu Ummi memberi tahuku sebuah fakta yang membuatku bersimpati padanya. Senja hanya hidup berdua dengan ibunya sedangkan ayahnya meninggal saat dia masih berusia lima tahun. Itu sudah sangat menyedihkan, tetapi ternyata ada yang lebih menyedihkan lagi. Senja memiliki masalah jantung bahkan sejak dalam kandungan, jadi saat usianya delapan tahun ibunya membawa Senja pindah ke Singapore, menjalani berbagai macam pengobatan di sana. Penyakit yang di derita Senja membuatnya tumbuh sedikit berbeda dari anak-anak sebayanya. Senja tidak bisa bermain sepuasnya seperti anak-anak yang lain. Senja tidak boleh tertekan, juga tidak boleh terlalu bahagia karena itu akan memacu detak jantungnya menjadi lebih cepat. Bukankah itu sangat tidak adil? Bagaimana bisa seseorang tidak boleh terlalu bahagia? Selain itu, Senja juga tidak pergi ke sekolah umum. Dia belajar di rumahnya dengan guru privat dan dia sering pingsan, hidupnya terisolasi padahal tidak melakukan kesalahan apa pun. Senja dijauhkan dari dunia luar, yang dia kenal hanya ibunya, guru privat dan dokternya. Hingga akhirnya Senja mendapatkan donor jantung yang cocok saat usianya enam belas tahun dan sekarang dia sudah baik-baik saja. Aku harap dia selalu baik-baik saja. ***** Aku menyusul ke musolla setelah memeriksa setiap kamar santri, memastikan tak ada yang bolos karena kegiatan ini di wajibkan di pesantren kami setiap malam Jum'at. “Dari mana? Kamu telat lebih dari dua puluh menit. Aku mengembuskan napas kasar sambil duduk bersila di dekat sepupuku-Izzaat Mubarak-atau yang biasa para santri kenal sebagai Gus Izzat. “Memeriksa santri, takutnya ada yang bolos,” sahutku. Aku pun ikut melantunkan ayat suci Al-Qur'an bersama yang lain, menikmati setiap ayat yang kuucap dengan bibirku dan kudengar dengan telingaku. Suasana seperti ini adalah suasana favoritku, di mana aku merasa begitu tentram, seakan aku berada di tengah taman dengan banyak bunga yang indah, juga ada sungai mengalir dengan air yang begitu bersih, sejuk dan suaranya bergema dengan tenang. Di saat seperti ini, aku tidak memikirkan apa pun kecuali firman-firman-Nya yang indah. Aku tidak merasakan apa pun kecuali perasaan damai yang melanda. Oleh sebab itu, kegiatan ini diwajibkan oleh Abi. Agar kami semua bisa sama-sama merasakan kedamaian serta ketentraman dan bisa terlepas dari lelah karena urusan yang lain. Setelah kegiatan rutin ini selesai, kami melaksanakan sholat Isya berjemaah. Kali ini giliran Izzat menjadi imam sholat. Setelah sholat dan berdzikir, tak ada kegiatan apa-apa lagi. Santri dibebaskan untuk belajar atau melakukan sesuatu yang lain karena di malam-malam yang lain setelah sholat Isya ada kegiatan mengkaji kitab bersama. “Maher, istrimu di mana?” tanya Ummi saat aku keluar dari musholla. “Apa tidak bersamamu, Ummi?” Aku balik bertanya. “Tadi aku sudah memintanya ke Musalla lebih dulu.” “Tadi sama Ummi, tapi pas selesai sholat, dia menghilang.” “Astaghfirullah.” Aku menghela napas panjang. “Mungkin dia pergi tidur, Ummi. Katanya tadi dia mengantuk.” “Baiklah kalau begitu.” Ummi mengangguk mengerti, kemudian beliau pergi kembali ke rumah. Sedangkan aku bergegas ke kediaman para guru untuk membahas program yang sedang kami rencanakan untuk para santri. Namun, langkahku terhenti saat melihat Senja dan Izzat sedang berbincang. Bahkan, Senja senyum-senyum dan terus menatap wajah Izzat, membuat dadaku bergejolak. Segera aku melangkah lebar mendekati kedua insan itu. “Kenapa kamu di sini, Senja?” tanyaku sambil merangkul pundaknya. Senja meronta, tetapi tak kuhiraukan. “Ummi mencarimu tadi.” “Aku cuma ngobrol sebentar sama Gus Izzat,” sahutnya dengan senyum yang mengembang sempurna di bibirnya. “Tadi Senja nanya kenapa aku nggak pernah mengajar di kelas dia, Maher,” kata Izzat tapi tak kupedulikan. “Ayo pulang!” Aku segera memaksa istriku ini menjauh dari Izzat, bisa bahaya jika ada orang lain yang melihat, takutnya nanti timbul fitnah. “Sepertinya jodohku tertukar," celetuk Senja. “Aku lebih suka Gus Izzat dari pada Gus singa, dia tampan, lembut, bicaranya pelan. Ah, seperti nada melodi yang indah.” Dadaku panas sekali, seakan dipanggang di atas bara api setelah mendengar apa yang Senja katakan. Ini bukan kali pertama dia memuji Izzat selangit, bahkan hampir setiap hari dia membandingkanku dengan sepupuku itu. “Sabar, Maher. Sabar!” “Jaga matamu itu, wahai istrinya Gus singa!” bisikku. “Matamu hanya boleh menatap wajahku, bibirmu hanya boleh memujiku dan telingamu hanya boleh mendengar suaraku. Oke?” “Nggak mau!” tolak Senja detik itu juga, seakan menyahut tanpa berpikir. “Suara galakmu membuat telingaku panas, Gus singa. Wajah galakmu membuat mataku sakit. Jadi kalau mau aku pandang, wajahnya ademin dikit.” “Senjaaaa!” “Iya, Gus singa yang ganas?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD