bc

Istri Tengil Gus Maher

book_age16+
301
FOLLOW
2.9K
READ
family
HE
love after marriage
age gap
bxg
kicking
bold
teacher
like
intro-logo
Blurb

Aku menerima perjodohan dengan putri sahabat Ummi tanpa melakukan taaruf, yakin Ummi pasti memilih gadis sesuai kriteria yang telah kutetapkan, yaitu anggun, pintar da sopan. Akan tetapi, ternyata gadis itu sangat tengil, bar-bar, susah diatur dan setiap tingkahnya hanya bisa membuatku beristigfar. Walau begitu, dia juga tak pernah gagal membuat jantungku berdebar kencang.

chap-preview
Free preview
Istri Tengilku
"Dasar bocah tengil!" Aku mendesis kesal melihat santriwati tengil yang asyik bermain kelereng dengan anak-anak tetangga, padahal bel sudah berbunyi sejak setengah jam yang lalu. Murid-murid yang lain sudah masuk ke kelas, bahkan para ustadz juga ustazdah yang bertugas sudah ada di kelas masing-masing. Aku meringis saat melihat kerudung yang seharusnya menutupi dadanya itu justri dia singkap, mungkin dia kesulitan untuk membidik sasaran. "Cepat masuk!" titahku dengan mata melotot tajam padanya, tetapi perintahku tak diindahkan bahkan dia mengangkat roknya untuk mempermudah posisi saat menembek kelereng. "SENJA!" teriakku yang sudah kehabisan kesabaran menghadapi Senja. Teriakanku sanggup membuat anak-anak itu lari terbirit-b***t tapi tidak dengan Senja yang justru membalas tatapanku dengan berani. "Apa sih, Gus?" ketusnya. "Nggak liat apa orang lagi main kelereng? Ganggu aja deh." Aku menghela napas berat, santriwati yang sekaligus merupakan istriku ini memang tidak pernah gagal memancing emosiku. Yeah, aku sudah menikah di usia yang ke 29 tahun ini. Jika saja aku dinikahkan dengan seorang wanita muslimah yang anggun, lemah lembut dan pintar, aku pasti akan bersyukur setiap saat. Aku akan sangat bahagia dan pasti hatiku berbunga-bunga setiap melihat wajahnya. Masalahnya, aku dijodohkan dengan bocah tengil yang usianya baru 19 tahun. Namanya Senja Asyifa, nama yang cantik tapi sangat tidak cocok dengan kepribadiannya yang bar-bar, menyebalkan, tengil, susah sekali diatur. "Turunkan rokmu!" Aku langsung menarik rok Senja dan merapikannya. Senja berdecak kesal tapi aku tidak peduli. Lebih baik aku dibenci Senja sekarang dari pada dibenci Allah karena tidak bisa menjaga istriku yang memamerkan auratnya. "Kamu nggak dengar bel? Dari tadi sudah masuk, lihat di sekitarmu! Apa masih ada yang bermain?" Aku berkacak pinggang, menatapnya dengan galak, berharap dia takut dan pada akhirnya patuh padaku. Usia Senja memang sudah 19 tahun, tetapi aku memasukkannya ke kelas satu Madrasah karena ilmu agamanya sangat kurang, dia bahkan tidak bisa membaca Qur'an dengan benar. Setiap kali aku mengajarinya, dia tertidur. Bukankah itu sangat menyebalkan? Senja menatap ke sekeliling dengan wajah yang ditekuk. "Sudah lihat?" ketusku. Senja hanya mengangguk. "Sekarang masuk ke kelasmu!" "Padahal tadi aku niat mau bolos," gerutu Senja dalam gumaman, aku yang memiliki pendengeran sangat baik tentu mendengarnya. "Mau apa?" tanyaku menyipitkan mata. "Mau bolos?" Lagi-lagi Senja mengangguk sambil memamerkan senyum tengilnya, membuatku langsung mengelus d**a. "Sabar, Maher. Sabar! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar dan hadiah orang sabar adalah surga." Aku menguatkan diriku sendiri. Sejak menikah dengan bocah tengil ini dua minggu yang lalu, aku mengalami banyak perubahan, salah satunya adalah tekanan darahku yang pasti selalu tinggi. Emosi yang melonjak tak karuan bahkan aku merasa menjadi lebih galak. Padahal sebelumnya aku adalah tipe orang yang santai, hampir tak pernah marah meski pada santri yang susah diatur. Akan tetapi, Senja berada di level yang berbeda. "Kenapa mau bolos, hem?" Aku melangkah maju, kutatap netra cokelat Senja dengan intens. "Apa karena kita masih pengantin baru jadi kamu ingin bolos sekolah dan ... menghabiskan waktu bersama suami tampanmu ini?" Aku berbisik di akhir kalimat sambil berseringai, menakutinya. Wajah Senja merah padam, tatapannya tak fokus dan kulihat dia tampak gugup. Jujur saja, dia sangat cantik dan manis terutama saat tertawa dan tersenyum, matanya lebar dengan netra cokelat yang lembut, hidungnya mancung dan ia memiliki kulit berwarna putih s**u. "Ayo!" Aku langsung menangkap tangan mungil Senja, membuat gadis itu tersentak kaget. "Sebagai lelaki sejati yang sudah menikah, punya istri cantik meskipun masih bocah tapi sudah baligh, tentu aku juga ingin_" "AKU NGGAK JADI BOLOS!" teriak Senja dengan lantang sambil melangkah mundur, aku sangat terkejut mendengar suara lantangnya yang hampir mengalahkan toa masjid. "Nggak apa-apa, istri kecilku," godaku mengulas senyum manis. "Aku juga akan meminta ustadz lain untuk menggantikan jadwalku hari ini. Selain itu, malam ini adalah malam Jum'at, malam yang baik untuk suami istri memadu kasih. Aku juga sudah berjanji akan memberikan cucu yang lucu-lucu untuk ummi dan abi. Jadi, semakin cepat sema_" "HUAAA ...! MAMA ...!" Sontak aku terdiam saat Senja justru menangis, bahkan air mata gadis itu mengalir dengan deras di pipinya, membuatku panik dan secara spontan membekap mulutnya yang selama ini sangat cerewet. "Jangan nangis di sini, Senja!" desisku sambil melirik ke sekeliling. Senja mencoba menyingkirkan tanganku tapi tak aku hiraukan. Aku melihat ada seorang ustadz yang mengintip dari pintu, beberapa santri juga menampakkan wajah mereka di jendela. Senja selalu saja membuatku malu. Entah apa yang ada di dalam pikiran mereka sekarang tentang diriku karena membuat Senja menangis di halaman sekolah. Hilang sudah wibawaku sebagai seoranag Gus sekaligus ustadz di pesantren Nurul Anwar ini karena kelakuan Senja. "Diam, Senja. Di_akh!" Aku memekik saat Senja menggigit tanganku. "Maher?" Aku langsung menoleh saat mendengar suara parau itu. "Abi?" gumamku melihat Abi yang entah muncul dari mana. "Kamu apain istri kamu?" Abi melangkah cepat mendekati kami sedangkan aku hanya bisa meringis. "Kenapa kamu nangis, Nak?" tanyanya pada Senja yang menangis tersedu-sedu. "Abi ...." Senja langsung berhambur ke pelukan Abi, memeluknya dengan sangat manja padahal aku yang putranya tak pernah seperti itu. "Gus ... Gus jahat, Bi," adunya terbata-bata. "Dia ngancam Senja." "Fitnah itu, Bi!" sangkalku dengan cepat. "Astaghfirullah, mana mungkin aku mengancam orang, tidak mungkin!" Aku yakin Abi tahu aku tidak mungkin mengancam Senja, dia sendiri yang mendidikku dengan sangat baik selama ini. Abi bahkan melarangku berkata kasar atau bernada tinggi pada perempuan. Akan tetapi, tatapan Abi mengisyaratkan bahwa dia memihak Senja. Kenapa bisa seperti itu padahal aku adalah putra kesayangannya? "Kapan aku fitnah?" tantang Senja percaya diri. "Tadi Gus Maher memang ngancam, Gus mau membuat cucu untuk Abi dan Ummi siang-siang begini." "APA?" pekik Abi dengan kedua bola mata yang melotot sempurna, aku hanya bisa menepuk jidat mendengar pengaduan jujurnya itu. Entah dosa apa yang aku lakukan hingga mendapatkan istri tengil seperti Senja Asyifa ini. "Bi?" lirihku sambil menggeleng, menolak tuduhan Senja karena tadi aku hanya bercanda. Meskipun kami sudah menjadi suami istri, kami belum melakukan apa pun karena sama-sama belum siap menerima satu sama lain. Apalagi dengan sikap Senja yang seperti kucing nakal, bahkan hampir setiap hari kami bertengkar karena ulahnya. "Abi ngerti, Nak," ucap Abi yang kini mengulum senyum penuh arti. "Setiap pasangan pengantin baru memang tidak akan mengingat waktu. Mereka selalu ingin bersama siang dan malam, Abi juga pernah muda jadi Abi tahu itu" "Tidak, Bi. Bukan begitu," bantahku tapi tampaknya itu percuma. "Ya sudah, sebaiknya sekarang kalian pulang dan ekhem ... lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan. Tapi tolong hati-hati, jangan bersuara keras karena hari ini di rumah ada tamu." "Bi?" rengekku yang tak dipedulikan oleh Abi. "Maksudnya apa, Bi?" tanya Senja seraya menyeka air mata serta ingusnya dengan jilbabnya. "Memangnya siapa yang bertamu ke rumah, Bi?" "Teman ummi," jawab Abi. "Cepat pulang gih, biar Abi minta ustaz Hamdan menggantikan suamimu mengajar." Pria paruh baya yang merupakan panutanku itu menggerling padaku, bahkan juga mengacungkan dua jempol. Senjata makan tuan, mungkin pepatah ini cocok untukku karena gertakanku justru mendapatkan dukungan dari Abi, sedangkan Senja tak terpengaruh sama sekali.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Kali kedua

read
221.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.3K
bc

TERNODA

read
201.6K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.7K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook