Galang masih duduk menunggu cemas, mengatupkan kedua tangan dengan memukul-mukul pelan keningnya sendiri. Setelah ledakan laboratorium terjadi, pemuda itu memutuskan untuk bergegas pergi dengan langkah berat bersama Jesya yang dipapahnya. Hatinya masih terasa sesak melihat laboratorium tempat Elma berada meledak dan membuat bangunan berdominan warna putih itu dilahap kobaran api dalam sepersekian detik. Galang menyalahi diri sendiri karena tidak bisa sesegera mungkin untuk mengeluarkan Elma dari dalam sana. Jesya bergerak kecil, mengerang lirih sembari perlahan membuka matanya membuat Galang di dekatnya langsung mendekat. "Jesya, kau tidak apa-apa?" Pemuda itu mendekat sembari membantu Jesya bersandar pada belakang pohon di tanjakan gunung dekat tempat mereka berdua pergi. Jesya men

