Komandan Rendy berdiri di dekat jendela, mengintip di balik hordeng dan melihat keadaan di halaman istana negara. Tidak ada lagi suara teriakan ketakutan dan juga suara-suara menakutkan yang membayang-bayangi mereka sejak terakhir kali. Allen sendiri sudah lebih dulu menarik diri pergi setelah beradu argumen dengan Komandan Rendy dan juga presiden. Presiden Arya berdiri di samping meja kerjanya dengan raut masam, berulangkali mengusap wajahnya kasar. Ia masih merasa shock dengan kejadian yang menimpa negara dan juga pada rakyatnya. Walau berapa kali pun, ia mencoba memejamkan mata, berharap semua yang terjadi adalah mimpi buruk, tetap saja tidak artinya. Karena semuanya memanglah kenyataan yang tidak bisa ia hindari. ”Bagaimana kabar dari tim pasukan khusus, apa mereka belum juga

