8-Haus Perhatian

823 Words
Mobil putih itu berhenti tepat di depan lobi sebuah bangunan dengan tinggi menjulang. Wanita dengan setelan kantor serba abu-abu keluar dengan wajah sangar. Sebenarnya ini pertama kalinya dia ke kantor naik mobil pribadi, biasanya selalu dengan angkutan umum. Namun, bukannya tersenyum justru dia menunjukkan wajah beringasnya. Bagaimana tidak, Aruna sebal dengan Ved yang sok ngatur. Pagi hari dihabiskan dengan memilih pakaian yang hampir tidak ada ujungnya. Ved tidak setuju dengan pilihan setelan kantor Aruna yang kebanyakan memperlihatkan lekuk tubuh. Lalu lelaki itu meminta pelayan untuk membelikan setelan kantor yang sedikit longgar yang dia saja tidak ada minat untuk memakai. Sekarang dia merasa seperti wanita hamil yang selalu memakai baju kedodoran. "Run!" Teriakan itu membuat langkah Aruna terhenti. Dia menoleh dan mendapati Lesy yang berlari ke arahnya. Aruna memberenggut lalu memeluk sahabatnya itu. "Lo ke mana aja, sih?" Suara Lesy terdengar begitu frustrasi. Aruna melepas pelukan lalu matanya mulai berkaca-kaca. "Ini di luar prediksi." "Apanya?" Lesy sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Hari Sabtu kemarin Aruna pamit ingin memesan minuman, tapi tidak kunjung kembali. Lesy sudah mencari di sekitar kelab, tapi tidak ketemu. Saat itu Lesy kira, Aruna meninggalkannya. Namun, sampai di indekos, Aruna tidak ada. Bahkan sampai hari Minggu gadis itu tidak mengabarinya. "Lo juga nggak bisa ditelepon." Lesy ingat hari liburnya dihabiskan dengan menghubungi Aruna. Aruna membuang napas panjang, ingat kejadian kemarin yang begitu menyiksanya. "Lo tahu nggak gue...," kalimatnya tiba-tiba menggantung. "Selamat pagi, Pak!" Suara dari beberapa karyawan membuat Aruna dan Lesy refleks menegakkan tubuh. Mereka membungkuk begitu melihat Ved berjalan dengan langkah cepat. Aruna sempat mencuri pandang ke pacar barunya itu, tapi Ved sama sekali tak menoleh. "Sombong banget!" Lesy menoleh, tidak biasanya Aruna menggerutu seperti itu. Meski Ved terkesan dingin, banyak karyawan yang kagum dengan ketampanannya. Termasuk Aruna, bahkan wanita itu sering jingkrak-jingkrak nggak keruan hanya melihat Ved. "Lo kok kelihatan benci gitu?" Aruna sontak menutup mulut, tidak sadar telah menyuarakan isi hatinya. Dia lalu menarik Lesy menjauh. "Gue mau ngasih tahu satu hal," ujarnya penuh pertimbangan. "Gue sama Pak Ved pacaran!" Akhirnya dia memilih mengaku alih-alih menyimpannya sendiri dan membuat frustrasi. "Haaa?" Mata Lesy membulat sedangkan bibirnya terbuka. Dia mengerjab, belum bisa menemukan kata-kata yang pas untuk menanggapi ucapan Aruna. Dia menatap sahabatnya, mencari kilat jail seperti yang sering dilakukan Aruna. Namun, sorot mata sahabatnya tampak menyakinkan. "Kok bisa?" Bahu Aruna merosot, lalu keningnya disandarkan ke lengan Lesy. "Dia denger kehaluan kita." "Serius lo?" tanya Lesy tak percaya sekaligus bahagia. "Terus, gimana? Dia marah? Tapi nggak masalah, kan, akhirnya kalian jadian." "Justru itu masalahnya!" Aruna menghentakkan kaki. Kedua tangannya terlipat di depan d**a, terbayang syarat yang diajukan Ved. Dia juga mulai terbayang bagaimana menyiksanya hari-hari berikutnya. "Lo nggak tahu aja, dia nyuruh gue ini itu." "Ini itu gimana?" Melihat sahabatnya yang senyum-senyum sendiri, Aruna langsung menepuk kening Lesy. "Pikiran lo ngeres, pasti." Lesy mengusap kening yang mulai memanas. "Habis mau gimana? Kalian pacaran dan sama-sama dewasa, pasti pikirannya udah ke arah sana. Apalagi, Pak Ved lelaki dewasa." Aruna geleng-geleng, dosa apa dia punya sahabat m***m seperti Lesy? "Maksud gue nggak gitu," geramnya. "Intinya gue harus nurut setiap perintah dia. Sebagai balasan karena ulah gue itu." "Sampai kapan?" Tubuh Aruna seketika menegang, lupa menanyakan hal itu. Seketika dia merengek. "Itu masalahnya gue nggak tahu sampai kapan. Gimana kalau ternyata seumur hidup? Gue nggak mau punya pacar dingin dan bermulut tajam kayak gitu!" Melihat Aruna yang mulai frustrasi, Lesy jadi kasihan. Rasa bahagia mendengar Aruna dan Ved jadian seketika lenyap begitu saja. Memang paling benar hanya berimajinasi menjadi pacar Ved daripada sungguhan. Hidup mereka terlalu berbeda dengan perbedaan ekonomi seperti dataran rendah dengan puncak jaya wijaya. "Lo nggak tahu keluarga dia nyeremin. Apalagi, maminya kayak nenek lampir." Aruna bergidik kala teringat Mami Ved yang sebenarnya cantik, tapi tertutup oleh raut jutek. "Lo udah ketemu maminya?" Aruna manggut-manggut, membuat Lesy langsung menutup mulut. Lesy tidak menyangka Ved bertindak sejauh itu. Bisa jadi lelaki itu begitu dendam ke Aruna dan ingin menyiksa. "Run, lo harus hati-hati." "Pengen mati rasanya," keluh Aruna lalu bibirnya tertarik ke bawah. "Ehm....." Tiba-tiba ada yang berdeham. Aruna dan Lesy menoleh ke sumber suara dan dibuat kaget kala melihat Ved berdiri dengan kedua tangan dimasukkan ke saku celana. Seketika dua orang itu membungkuk memberi hormat dengan ekspresi menahan takut. "Apa perusahaan membayar kalian untuk bergosip?" Aruna dan Lesy serempak menggeleng. Tamatlah riwayat mereka. "Kalau gitu kenapa masih di sini?" "Baik, Pak." Dua perempuan itu saling menyikut, lalu Aruna berjalan lebih dulu. Dia menyempatkan diri melirik, tapi lelaki itu hanya menatap dengan sorot mata tajam. "Serius dia nggak ada ramah-ramahnya. Padahal, kan, udah jadi pacar lo," omel Lesy setelah agak jauh. Seketika Aruna membekap mulut Lesy. "Ini rahasia. Jangan ngomong gitu di sembarang tempat." Lesy manggut-manggut lalu menarik tangan Aruna. "Iya. Tapi gue sebel, kenapa dia nggak ada ramah-ramahnya sama lo?" "Lo tahu, tuh, orang nggak pernah senyum!" "Kenapa kalian masih di sana?" Lesy dan Aruna bergegas menjauh mendengar peringatan itu. Dari posisinya Ved geleng-geleng. "Cewek-cewek haus perhatian."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD