7-Saya Butuh Kamu

800 Words
Sesuai janji, Ved telah berdiri di taman samping tepat pukul empat sore. Dia menatap rerumputan yang tumbuh subur dengan beberapa bunga yang bermekaran. Jarang sekali dia menikmati waktu sore di rumah. Ah, bahkan dia saja jarang pulang. "Silakan, Tuan." Perhatian Ved teralih. Dia mendapati lelaki berambut putih berdiri dengan nampan di tangan. Ved mengambil segelas jus jeruk kemudian menyeruputnya pelan. "Kau makin tua." Pak Ihsan—ketua pelayan di rumah Ved—terkekeh. "Bagaimana tidak makin tua, Tuan semakin tumbuh dewasa. Makin tampan." Ved tampak tidak tertarik dengan sanjungan itu. Dia meletakkan minuman ke meja sampingnya setelah itu menepuk pundak Pak Ihsan. "Harusnya Bapak udah pensiun." Respons Pak Ihsan hanya anggukan pelan. Berkali-kali dia diminta pensiun, tapi tidak ingin meninggalkan rumah begitu saja. Dari muda dia bekerja dan melihat setiap tumbuh kembang Ved, hingga tuannya itu memilih keluar rumah. "Apa Mami masih sering nyuruh ini itu?" tanya Ved ingin tahu. "Namanya juga atasan, Tuan." Ved geleng-geleng, maminya masih saja seperti itu, selalu menjadi ratu. "Kalau nyuruh yang aneh-aneh, nggak usah dituruti. Kau makin tua." "Terus ejek saja." Senyum Ved kembali mengembang. Dia berdiri tegak dan menatap tumbuhan di depannya dengan pandangan menerawang. Teringat kesehariannya dulu. Di antara karyawan di rumah, hanya Pak Ihsan yang dekat dengan Ved. Selain itu Ved hanya nyaman dengan lelaki bertubuh kurus itu, berbeda dengan karyawan lain yang selalu ada dipihak sang mami. "Jadi, Nona tadi itu calon pendamping?" Lamunan singkat Ved terputus. "Bukan." "Lalu?" Ved memutar tubuh lalu menggeleng pelan. "Kapan-kapan saya beri tahu. Oh, ya, panggil Aruna sekarang." Pak Ihsan mengangguk lantas melaksanakan perintah bosnya. Sambil menunggu Aruna, Ved mengambil minuman dan menegaknya pelan. Calon pendamping? Dia geli jika ada yang menanyakan itu. Dia masih ingin terus mengembangkan bisnis, bukan diribetkan dengan urusan asmara. Sedangkan di tempat lain, Aruna masih terlelap. Ranjang yang empuk ditambah habis melawan nenek lampir, membuat tidurnya semakin terbuai. Namun, itu tidak berlangsung lama, saat tiba-tiba merasakan guncangan pelan di pundak. "Nona. Tuan Ved menunggu Anda." Aruna membuka mata pelan. "Bilang, saya masih mengantuk." "Tapi Nona, Tuan Ved akan marah jika perintahnya tidak dituruti." Seketika Aruna terduduk, hampir saja melupakan jika Ved masihlah bosnya. Dia berdecak lalu turun dari ranjang. Dia berjalan keluar mengikuti salah seorang pelayan sambil menyisir rambut dengan tangan. Ah, baru saja menikmati hidup seperti orang kaya, sudah disadarkan dia hanya karyawan biasa. "Ada apa?" tanya Aruna sesampainya di taman samping. Ved yang setengah melamun seketika menoleh. Dia mengernyit melihat mata Aruna yang memerah dan rambut seperti singa. "Nyenyak tidurnya?" Aruna menguap pelan sambil mengangkat kedua tangan ke atas. "Banget." "Tapi, saya harus bicara." Setelah mengucapkan itu Ved berjalan meninggalkan Aruna. Dia memilih duduk di gazebo dan Aruna mengikuti dengan harap-harap cemas. "Ngomong soal apa, ya?" tanya Aruna setelah di samping Ved. "Mulai sekarang kamu pacar saya. Suka tidak suka kamu harus terima." Aruna menggaruk kepala yang tak gatal. Dia ingat dengan statusnya sekarang, tidak perlu lagi Ved memperjelas seperti itu. "Kedua, kita harus bersikap biasa saja saat di kantor. Ingat, kamu hanya menjadikan saya pelampiasan. Saya nggak terima ada karyawan lain yang mentertawakan saya karena ulahmu." Nih, orang mikirnya kejauhan, batin Aruna. Dia merasa Ved terlalu menjaga image. "Ketiga, kalau saya butuh apa-apa, kamu nggak boleh protes." "Tunggu! Apaan, tuh?" tanya Aruna tak mengerti. Ved membuang pandang. Dia yakin maminya suatu saat nanti pasti akan merecokinya, mengajak Aruna jalan atau apapun. "Jangan mikir aneh. Saya akan hubungin kalau mami ngajak keluar dan kamu perlu ikut juga." Penjelasan itu membuat Aruna menghela napas lega. Dia kira, akan menjadi pembantu yang harus siap jika bosnya butuh apa-apa. "Baik, Ved," jawabnya kemudian. "Keempat, sebagai balasan atas ulah kamu semalam, jika sewaktu-waktu saya nyuruh kamu harus sigap." Seketika Aruna berdiri. Ini yang paling ditakuti, dia akan menjadi b***k Ved. "Aku bukan pembantumu!" "Kamu pacar saya." "Tapi, nggak ada pacar yang kayak gitu!" jawab Aruna tak terima. Melihat Aruna yang mulai emosi, Ved langsung menarik mendekat, tidak ingin ada pelayan yang curiga. Dia memeluk Aruna dan berbisik pelan. "Selain pacar, saya juga bos kamu. Jadi, nurut!" Tubuh Aruna menegang mendapat pelukan dan bisikan itu. "Ya udah, lepas." "Jawab dulu." Bola mata Aruna berputar. "Iya, Pak Ved." "Bilang kamu sanggup dengan syarat yang saya ajukan," bisik Ved sambil menatap sekitar. Dia yakin ada seorang pelayan yang bersiap melapor ke maminya. Aruna menghela napas panjang. "Iya, saya siap." "Bagus!" Ved perlahan mengurai pelukan lalu menatap Aruna yang mendengus dengan wajah memerah. Tanpa sadar dia tersenyum. Ah, dia bahkan banyak tersenyum sejak semalam. "Jelek!" "Baru sadar saja jelek?" "Sudah dari tadi." "Terus, kenapa dianggep pacar?" tanya Aruna tanpa sadar dengan suara kencang. Ved kembali menarik Aruna ke dalam pelukan. Dia melihat beberapa pegawai menatap dan berusaha mencari tahu. "Jaga sikap kalau tetep pengen aman." Aruna hanya mampu mengangguk. "Iya!" "Ingat saya butuh kamu sebagai pacar," bisik Ved sambil melepas pelukan. "Inget itu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD