6-Ditolak

949 Words
Tiga orang yang duduk di depan meja makan itu sama-sama tidak ada yang bersuara. Sibuk menyantap hidangan yang tersaji. Namun, salah seorang yang beberapa kali curi-curi pandang, tidak biasa makan tanpa ada topik obrolan. Memang, teppanyaki yang disajikan sangat lezat berbeda dengan yang pernah dia makan sebelumnya. Namun, hal itu tidak membuat dia duduk tenang dan fokus. Aruna terbiasa bercerita, mulai dari hal tidak penting sampai penting sekalipun. Menurutnya itu menambah suasana hangat. "Ehm...." Tanpa sadar dia berdeham, tak kuat lagi. Ved dan Maminya sontak mengangkat wajah. Di keluarga mereka saat ada yang berdeham, maka akan membicarakan sesuatu hal yang penting. Di satu sisi itu termasuk hal yang tidak sopan. Aruna menarik bibir ke dalam mulai sadar tindakannya. "Begini pacarmu?" tanya Mami Ved setelah menyudahi makan siangnya. Ved membuang napas panjang. Entah dehaman tadi sengaja atau tidak, tapi dia merasa Aruna mulai cari mati. Ved menyudahi makan siangnya sebelum akhirnya menjawab. "Dia nggak terbiasa." "Harusnya paham gimana etika di meja makan," kata Mami Ved sambil menatap Aruna. "Dia tidak terbiasa seperti kita." "Itu artinya pacarmu bukan dari kalangan kita?" Ved membuang napas panjang. Dia memang kaya, tapi tidak suka jika ada yang membanding-bandingkan. Dia lalu merangkul Aruna dan mengusap pundaknya dengan lembut. "Ini pilihanku." Tubuh Aruna terasa kaku. Dia memperhatikan wajah Ved, hingga mendapati bekas luka jahit di bawah dagu yang sebelumnya tidak terlihat. Bisa dibayangkan, kan, posisi mereka sedekat apa? "Kalian sebelumnya ketemu di mana?" tanya Mami Ved mulai menginterogasi. Ved menepuk pundak Aruna, seolah mempersilakan menjawab. Untungnya otak Aruna bisa diajak kerja sama. "Kami bertemu di kantor." "Urusan bisnis atau?" Mami Ved sengaja menggantungkan kalimatnya kala muncul ekspresi bingung di wajah Aruna. Kali ini Aruna tidak bisa menjawab. Urusan bisnis? Dia saja hanya karyawan pemasaran biasa. Lalu dia melirik Ved meminta bantuan. "Dia kerja di kantor." "Jadi, karyawanmu?" Mami Ved geleng-geleng, tidak menyangka dengan selera Ved. "Kamu nolak Lola aktifis itu dan milih karyawanmu? Kamu juga nolak Gia desainer kenamaan demi karyawan kayak gini?" Tanpa sadar tangan Aruna terkepal. Jika, dibandingkan dengan dua nama barusan, jelas dia tidak ada apa-apanya. Duh! Pengen gue cekik tuh nenek lampir. "Aruna punya sesuatu yang nggak dimiliki cewek lain," ungkap Ved meski sebenarnya sangat ragu. Aruna harap-harap cemas menanti kelanjutan kalimat Ved. "Aruna gadis periang nggak pernah iri sama apa yang dimiliki orang lain," ucap Ved setelah beberapa detik terdiam. "Dan kamu ngelihat Aruna hanya itu?" tanya Mami Ved dengan nada mengejek. "Papa sama mama kamu kerja apa?" Jantung Aruna mencelos. Rasa takut melingkupinya seperti selimut. Ved yang tahu kegundahan hati Aruna seketika menjawab. "Papa sama mama Aruna orang biasa." "Kamu nggak salah pilih, Ved?" Mami Ved heran karena anaknya begitu cinta buta. Padahal, dia tidak melihat ada sesuatu yang spesial dari wanita itu. Aruna membuang napas panjang. Dia sebenarnya ingin menjawab jika papa dan mamanya hanya memiliki bisnis katering kecil-kecilan. Namun, dia tak ingin salah bicara. Terlebih dia tidak ingin Mami Ved semakin mengejeknya. "Kamu masih punya waktu sebelum hubunganmu makin serius," ingat Mami Ved. "Ved nggak akan berubah pikiran." Setelah mengucapkan itu Ved memperhatikan Aruna yang wajahnya berubah memerah. Dia mendekat dan mencium pelipis Aruna. "Saya pilih kamu," ucapnya dengan sorot mata serius. Aruna tersenyum tipis, tapi hatinya sama sekali tidak tersentuh. Dia menyadari dunianya dan Ved sangat berbeda. Dia terlalu pemimpi untuk mendapat Ved. "Ehm...." Mami Ved sengaja berdeham kala dua manusia itu saling berpandangan. "Kegiatan sehari-harimu apa?" Aruna melirik Ved sekilas. "Saya bekerja di bagian pemasaran. Bukan profesi membanggakan memang, tapi saya selalu bekerja maksimal, demi pemasukan perusahaan. Jika tidak ada bagian pemasaran, bagaimana bisa perusahaan memasarkan produknya?" Ved tersenyum. Tumben sekali Aruna menjawab dengan jawaban berbobot. "Sudah selesai, Mi? Kayaknya Aruna butuh istirahat." Mami Ved mengangguk, meski sebenarnya belum puas mencari tahu. Dia seketika berdiri dan menggerakkan tangan ke arah pintu. "Silakan." Ved berdiri dan menarik tangan Aruna. Wanita itu menyempatkan diri memberi anggukan ke nenek lampir itu, meski sebenarnya gondok maksimal. Aruna lalu berjalan mengikuti Ved. "Kita ke mana?" tanyanya ingin tahu. "Tidur." "Aku mau pulang." Seketika Ved menghentikan langkah, kemudian menggeleng pelan. "Saya sudah bilang kita pulang besok." "Terus sekarang?" tanya Aruna ingin tahu. Ved tidak menjawab dan terus menarik tangan Aruna. Mereka menaiki tangga, dan Aruna kembali terpana. Tangga yang melingkar dilapisi dengan karpet berwarna merah tebal. Dia membayangkan suatu saat nanti menuruni tangga sambil melambaikan tangan ke para tamu undangan. Seperti di kartun yang sering ditonton saat kecil. "Ah, tapi ini rumah nenek lampir!" gerutu Aruna tanpa sadar. "Siapa yang kamu maksud?" Suara Ved terdengar agak menyeramkan. Aruna seketika sadar. "Bukan kok. Inget, film kartun yang pernah aku lihat waktu kecil." Kemudian dia mengedarkan pandang ke jendela besar yang tadi dilihat dari luar. Ved tidak bodoh. Dia tahu pasti yang dimaksud nenek lampir adalah maminya. Ved kemudian menggerakkan tangan, seketika dua wanita dengan rok selutut mendekat. "Bantu Aruna!" perintahnya. "Kamu istirahat. Jam empat saya tunggu di taman samping." Setelah mengucapkan itu Ved menuju ruangan paling pojok. "Silakan, Nona." Aruna yang sebelumnya memperhatikan Ved, seketika menoleh. Dia mendapati dua wanita yang kira-kira usianya empat tahun di atasnya, tapi terlihat berkelas. Tidak ada gurat sedih dan bahkan wajahnya tampak terawat. "Silakan, Nona," ulang wanita dengan tahi lalat di hidung itu. Perlahan Aruna masuk ke ruangan di depannya. Lagi-lagi dia dibuat melongo. Dia mendapati ranjang king size dengan seprei berwarna putih. Ranjang itu menghadap jendela besar dengan gorden yang terbuka setengah. Aruna berjalan masuk dan tercenang mendapati satu set sofa yang menghadap televisi berukuran besar. Kamar yang sekarang lima kali lipat dari kamar di indekosnya. "Apa Nona ingin disiapkan air hangat?" Aruna tersenyum, sepertinya boleh menikmati fasilitas lebih. "Boleh." Meski sempat sebal dengan nenek lampir, tapi dia mencoba melupakan. Dia segera berbaring di ranjang, tidak ada salahnya bersikap menjadi ratu. Enak juga jadi orang kaya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD