5-Bertemu Mami Ved

793 Words
Bolehkah Aruna sedikit alay? Rasanya dia ingin membuka mulut, serta ingin membuka mata dengan lebar. Dia tidak percaya sekarang berada di depan rumah yang mirip dengan istana. Rumah itu terdapat enam pilar kokoh yang menopang. Pada bagian atas terdapat balkon berpagar yang mirip dengan istana di dunia fantasi. Terlihat jendela besar yang tertutup gorden berwarna emas, tentu bukan gorden sembarangan karena terlihat glamor. Lalu bagian pintu utama tampak tinggi dan kokoh, dengan gagang berwarna emas serta detail ukiran yang bisa terlihat dari kejauhan. Tak lupa pot-pot besar yang diletakkan di samping kanan kiri pintu. Aruna yakin itu bukan pot berbahan dari semen. Wanita itu menelan ludah. Keluarga Ved ini setajir apa sampai bisa membuat rumah sebagus seperti negeri dongeng? Bahkan Aruna melihat banyak pegawai dengan pakaian serba hitam berdiri menyambut. Mereka memiliki postur tinggi dan gagah. Andai salah satu kabur dan bertemu dengan sutradara pasti langsung ditawari main film. Dia seperti di negeri dongeng dengan visual yang memanjakan mata. "Sudah selesai bengongnya?" Ved yang berdiri di samping Aruna mulai bosan. Dia heran mengapa wanita itu memberi reaksi yang berlebihan, padahal dia sudah mewanti-wanti untuk menjaga sikap. Tidak ingin terus menemani wanita yang terbengong itu, Ved langsung menarik pinggangnya. "Ingat apa yang saya ucapkan." "Ehh. Ini rumah kamu?" tanya Aruna setelah sadar dari keterpanaannya alih-alih menjawab. "Waw." "Rumah orangtuaku." "Tetep aja rumah kamu juga." Aruna mulai berjalan melewati pegawai yang berjumlah lebih dari sepuluh. Tercium aroma wangi dari tubuh mereka. Dia tersenyum dan seluruh pegawai langsung membungkuk. Kenapa dia tidak tahu ada lowongan menjadi pegawai Ved? Mereka terlihat lebih berkelas daripada dirinya. "Nggak usah senyum." Pandangan Aruna teralih. "Emang kenapa?" "Nggak akan dibalas." Benar juga, selama Aruna tersenyum tidak ada pegawai yang tersenyum balik. Justru memperlihatkan wajah tanpa ekspresi. Aruna semakin bingung, memang aturannya seperti itu? "Ved!" Kemudian terdengar panggilan yang terkesan begitu lembut, tapi juga dingin. Membuyarkan keterpanaan Aruna. Ved menghentikan langkah, pun Aruna. Lelaki itu melihat wanita dengan terusan tosca berdiri sepuluh langkah darinya. Tak ada senyum sedikitpun, seperti biasa. Aruna yang tidak tahu wanita itu siapa memilih diam. Dia merasa aura yang terpancar cukup menyeramkan. Lihat, wanita itu sama sekali tidak tersenyum membuat otot wajahnya mengencang. Mungkin itu trik agar kerutan di wajahnya tidak terlihat. Aruna menelan ludah saat otak lemotnya kembali bekerja. Apa itu mami Ved? Gawat! Beneran nenek lampir! "Kenapa malah diam dan nggak nyambut mami?" tanya Mami Ved. Seketika Ved mendekat. Tangannya semakin mengerat di pinggang Aruna. Sementara Aruna rasanya ingin menyentak tangan Ved lalu kabur. Ternyata rumah itu hanya mirip istana, tapi di dalamnya seperti rumah penyihir. "Lama sekali kamu nggak pulang," ucap Mami Ved sambil memeluk anaknya. Ved membalasnya lalu buru-buru melepas. "Sibuk." "Kamu bos, Ved. Kamu bisa lakukan apa aja." "Kalau bosnya nggak disiplin, gimana karyawannya?" Aruna mengernyit. Ini perbincangan apa? Kaku sekali tidak ada bercanda-bercandanya. Apa seorang ibu dan anak justru membahas pekerjaan? Ini meeting atau pertemuan keluarga, sih? Rasanya Aruna ingin menjerit. Perhatian Mami Ved mulai tertuju ke wanita dengan tinggi yang lebih pendek darinya. Dia memperhatikan dengan saksama, merasa jika wanita itu masih cukup belia. Tubuhnya kecil, tidak semampai seperti wanita yang mendekati Ved sebelumnya. "Ini siapa?" Aruna tersenyum manis. "Perkenalkan, saya Aruna." "Pacar Ved," lanjut Ved cepat. "Sudah berapa lama pacaran?" Mami Ved tahu anaknya seperti apa, gila kerja dan susah untuk berdekatan dengan wanita. "Se..," "...setahun," potong Ved sambil menekan pinggang Aruna. Aruna tersenyum kecut. Bagaimana mungkin menjawab setahun? Sehari saja belum. Namun, Ved tidak ingin dibantah. "Ayo masuk," ajak Mami Ved lalu berjalan terlebih dahulu. Setelah kepergian wanita itu, Aruna langsung berjongkok. Kakinya tidak bisa lagi menopang. Hawa sekitar berubah dingin hingga dia bergidik. "Ini rumah Anna sama Elsa, sih." Ved ingin tertawa. Selama ini tidak ada wanita manapun yang betah dekat dengan maminya. Aruna termasuk ke golongan itu. "Berdiri! Jangan tunjukkan kebodohanmu!" Sontak Aruna mengangkat wajah. Dia sama sekali tidak menunjukkan kebodohan, hanya menunjukkan kelemahannya. "Kamu mending diem, deh. Nggak usah sok tahu!" "Coba kamu noleh." Aruna menurut dengan menoleh ke kiri, mendapati seluruh pegawai Ved menatapnya, tapi herannya, semua berekspresi datar. Seketika Aruna berdiri, sadar ucapan Ved benar. Dia mencoba tersenyum, menghilangkan rasa malunya. Setelah itu menatap Ved. "Kapan pulang?" Ved tidak langsung menjawab, justru menarik pinggang Aruna mendekat. Mereka berjalan masuk dan beberapa pegawai mulai mengikuti. "Besok pagi," jawabnya membuat bibir Aruna mengerucut. "Kamu harus jadi pacar yang membanggakan," ingatnya sebelum masuk ruang makan. Aruna berjalan lesu. Setiap melangkah kakinya terasa lemas. Beruntung Ved melingkarkan tangan ke pinggang dan menjadi penopangnya. Sesampainya di ruang makan, Aruna melihat Mami Ved telah duduk di ujung meja. Dia berusaha tersenyum, tapi tidak ada respons. Akhirnya dia menarik bibir ke dalam. "Kita mulai makan siangnya," kata Mami Ved tanpa beramah-tamah. Ved berbisik. "Bukan makan siang dalam arti sebenarnya." Napas Aruna seketika tercekat. Mungkinkah ini sesi interogasi? Aruna ingin mati saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD