"Ayo, Sayang!" Ved memberi penekanan di panggilan yang seharusnya terdengar manis. "Saya tahu, kamu ingin marah," lanjutnya tanpa menoleh. Ved tetaplah Ved yang kaku seperti baju dijemur seharian.
"Enggak kok, Pak." Aruna membuang napas lalu menyusul langkah panjang Ved. Saat hendak menuruni tangga, dia terdiam menatap heels dua belas centi berwarna silver yang juga pemberian Ved. "Katanya pacar, gandeng aja enggak."
Ved yang telah menuruni lima anak tangga seketika menghentikan langkah. Dia mendongak melihat Aruna yang tersentak kaget seperti siswa yang ketahuan mencontak saat ujian. Dia kembali menaiki tangga kemudian tangan kirinya berada di pinggang. "Cepat!" ujarnya agak berat hati. Tindakan seperti ini tidak ada dalam kamus hidupnya.
Tindakan itu sama sekali tidak dimengerti Aruna. Dia hanya menatap lengan kekar itu lalu menatap Ved penuh tanya. "Bapak kenapa malah naik lagi?"
"Katanya mau digandeng?" Ved kian dongkol. Tidakkah Aruna mengerti bahwa ini pertama kalinya dia mengizinkan lengannya digandeng wanita? Di luar sana banyak wanita yang kecewa karena tidak berhasil menggandeng Ved.
Pipi Aruna bersemu, tidak menyangka gerutuannya didengar Ved. Sebenarnya ini momen manis, hanya saja diucapkan dengan ketus. Ragu, Aruna melingkarkan tangan ke lengan kokoh Ved.
"Apa kita terlihat seperti orang berpacaran?" tanya Ved sambil menuruni tangga dengan Aruna di sampingnya.
Aruna mengangguk, meski wajah Ved sama sekali tidak menunjukkan mereka berpacaran. Mana ada orang yang berpacaran memiliki raut kaku seperti kalah tender? "Senyum sedikit," pintanya.
Ved melirik sekilas kemudian fokus menatap depan. Untuk yang satu itu dia tidak ingin menurut. Dia tetap mempertahankan wajah kaku khasnya.
"Kita jadi ketemu mami, Bapak?" tanya Aruna yang tidak bisa berdiam diri.
Seketika Ved menghentikan langkah, memutar kepala menghadap Aruna, membuat wanita itu terkesiap. "Jangan panggil saya seperti itu!"
"Jadi, saya harus manggil apa?"
"Ved."
Apa harus memanggil seperti itu? Bagaimanapun Ved adalah bos Aruna, yah, meski sekarang menjadi pacarnya tiba-tiba. Rahang Aruna terasa kaku. Dia membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar. Entahlah, rasanya aneh memanggil Ved tanpa embel-embel "Pak" atau "Bapak".
"Kenapa perusahaan memperkerjakan cewek bodoh seperti kamu?" geram Ved setelah itu melanjutkan langkah. "Latihan yang bener jangan sampai salah. Saya nggak suka rencana saya gagal."
Tangan Aruna tertarik, beruntung tidak sampai jatuh karena langkah Ved yang tiba-tiba. Lalu apa Ved bilang? Aruna bodoh? Sungguh, Pak Ved bermulut tajam. Aruna menunduk, sambil mengulang nama Ved dalam hati. Ved. Ved. Ved. F*ck!
"Oke, Ved!" ucap wanita itu setelah sampai luar.
Ved membuka pintu mobil. "Selama di sana kamu nggak boleh bicara tanpa persetujuan saya."
"Baik, Pak. Ehh, Ved," ralat Aruna cepat.
"Kedua, jangan mempermalukan saya."
"Siap, Ved."
"Ketiga, bersikap menjadi pacar yang membanggakan," tekan Ved lalu mendorong Aruna masuk mobil.
"Pacar yang membanggakan?" Aruna meragukan permintaan itu. Dia saja tidak membanggakan untuk dirinya sendiri, apalagi membanggakan pacar seperti Ved? Dia menepuk kening. Kenapa terjebak di situasi seperti ini, sih?
"Nggak akan nyesel jadi pacar saya," ucap Ved setelah masuk mobil.
Respons Aruna hanya kekehan pelan. Untuk urusan tampan dan mapan jelas tidak menyesal. Namun, untuk urusan lain dia menyesal. Ditambah lidah Ved yang setajam golok. "Ved, mami kamu nggak jahat, kan?" tanyanya mulai penasaran. Ved saja tidak ada ramah-ramahnya, bisa jadi maminya juga memiliki karakter yang sama.
"Berani kamu ngejek mami saya?"
Seketika Aruna menutup mulut dengan kedua tangan. Dia salah lagi, entahlah setiap berbicara, selalu tidak ada benarnya. Wanita itu kemudian duduk bersandar, mendadak ketakutan sendiri. "Apa yang bakal dibahas?"
Ved melihat Aruna yang mulai gugup. "Lihat saja nanti." Dia justru membuat Aruna kian gugup. Dalam hati sebenarnya dia ingin berterima kasih karena Aruna datang di saat yang tepat. Namun, seorang Ved berterima kasih? Ah, rasanya tak mungkin.
Aruna melirik Ved tajam, sungguh sial. Bagaimana mungkin dia mengalami kejadian ini? Belum lagi kejadian di depannya pasti akan semakin mengagetkan.
Gimana kalau mami Ved kayak nenek lampir? Gimana kalau gue dipermaluin? Aduhhh! Bisa nggak sih gue ngilang aja?
"Keputusanmu sudah nggak bisa diubah Aruna."
Bulu kuduk Aruna mendadak meremang. Dia menatap Ved yang entah kenapa auranya tiba-tiba berubah seperti vampir. Vampir yang tampan.