"Jadi pacar saya, baru saya maafkan."
Sontak Aruna mengangkat wajah, matanya melotot dan bibirnya sedikit terbuka. Dia mengerjab, merasa salah dengar. Sudah pasti bisikan gila itu dari otaknya yang gagal fokus karena otot perut Ved. Dia menggeleng, lalu menatap Ved yang tersenyum. Wait? Ini beneran?
"Gimana? Dapet SP satu atau jadi pacar saya?"
Gila! Gue ditembak! jerit hati Aruna. Wajah pucatnya mendadak berubah memerah dengan senyum merekah seperti bunga sakura di musim semi. Dia menarik bibir ke dalam, entah ini nyata atau mimpi dia mencoba menikmati momen yang dia rasakan tanpa pikir panjang. "Jadi pacar Pak Ved." jawabnya agak pelan. Orang gila juga tahu, jadi pacar Pak Ved lebih baik daripada mendapat SP satu.
Ved lagi-lagi terkekeh, Aruna terlihat lucu. Terlebih selalu menyuarakan apa yang ada di pikirannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata, dia berbalik menuju kamar mandi. Aruna yang melihat, memberenggut kesal. "Barusan gue di alam apa, ya?" Dia menggaruk kepala, mulai bingung sendiri.
Selang beberapa menit Ved keluar dengan kaus putih dan celana hitam selutut. Dia mendekati Aruna yang sepertinya sedang melamun lalu menepuk pundaknya hingga menoleh. "Jadi pacar saya, sebagai balasan atas sikap kamu!" Setelah mengucapkan itu dia mendekat dan mencuri satu kecupan di bibir Aruna yang terasa hangat.
Wanita itu terdiam, jika seperti ini dia tidak bahagia menjadi pacar Pak Ved. Sungguh! PAK GUE NGGAK MAU JADI PACAR LO!
"Apa nggak ada cara lain, Pak?" Akhirnya Aruna kembali menemukan otaknya.
"Jadi istri saya, mau?" tanya Ved ringan, seperti secuil kapas. Sedetik kemudian dia melihat wajah Aruna berubah kaget. Lelaki itu tersenyum miring lalu menepuk kepala di depannya. "Nggak akan nyesel jadi pacar saya."
"Pak maafkan saya!" ucap Aruna memohon dengan kedua tangan menyatu di atas kening. "Apa tidak ada cara lain?"
"Mau langsung nikah?"
Aruna melotot. Mengajak nikah seperti mengajak makan, gampang sekali. Apa lelaki itu tidak punya otak tiba-tiba mengajak Aruna menikah? Atau, Ved memiliki rencana lain? Sungguh, dia seperti terjebak dalam permainan Ved. "Pak, jangan kayak gitu."
"Ya udah, ikuti cara saya." Ved geleng-geleng melihat raut Aruna yang semakin kacau. "Sekarang kamu mandi, setelah itu ketemu mami saya."
"Mami Bapak?" tanya Aruna syok. "Ngapain?"
"Pamer pacar baru."
Demi apa? Aruna seperti kejatuhan bumi dan segala benda-benda angkasa lainnya. Dia memang pernah menghayal menjadi pacar Pak Ved, tapi nggak gini juga.
NGGAK MAU!
***
Aruna memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Gaun soft blue polos dengan kerah V berbahan satin yang dilapisi tulle terasa begitu melekat di tubuhnya. Membentuk lekuk tubuh hourglass yang cukup berisi. Potongan krah yang cukup panjang memperlihatkan lekuk dadanya yang memang bisa sedikit dipamerkan. Belum lagi dengan pinggang ramping yang tampak molek. Dia tipe perempuan yang mudah mendapatkan pakaian yang pas di tubuhnya, tapi gaun pemberian Ved kali ini benar-benar terasa pas. Seolah dijahit khusus untuknya. Seumur hidup, Aruna baru merasakan memakai dress yang seindah ini.
"Kalau mahal, boleh nih, dijual lagi," gumam Aruna penuh muslihat.
Wanita itu kemudian memperhatikan wajahnya yang terlihat putih mulus, tidak terlihat bekas noda jerawat yang sering menghiasi, untungnya. Pipinya yang sedikit tembam terlihat sedikit tirus karena efek frustrasi mencari pacar. Lalu bibirnya yang berwarna pink pucat kini sedikit merona. Secara keseluruhan Aruna tidak percaya jika pantulan di cermin itu adalah dirinya. Padahal, dia hanya makeup seadanya.
Di depan pintu, Ved memperhatikan Aruna yang terlihat berbeda, sedikit lebih cantik. Ya, hanya sedikit. Banyak wanita yang lebih cantik dari Aruna dan silih berganti mampir di hidupnya. Namun, Aruna terlihat aneh. Ada sisi bodoh, polos dan lucu yang terpancar.
Lelaki itu membuang napas panjang kemudian masuk ke ruangan. "Sudah?"
Suara itu mengejutkan Aruna. Dia buru-buru menoleh dan mendapati bosnya yang memakai jas hitam, seperti penampilan saat di kantor. Meski bukan penampilan baru, dia tetap merasa Ved begitu tampan. Ah, bosnya itu tidak pernah jelek. Kasihan sekali.
"Kamu yakin mau jual baju itu?" Dari sekian banyak pertanyaan yang harus ditanyakan, Ved justru mempertanyakan itu. Yah, pertanyaan bodoh untuk kalimat bodoh yang tanpa sengaja dia dengar.
Aruna terkesiap. Dia sambil memegang anting berbentuk bunga di telinga untuk menutupi rasa gugup. "Mana mungkin, Pak."
"Ciri-ciri orang bohong, jika berbicara memegang anggota tubuh lainnya."
Buru-buru Aruna menjauhkan tangan. Dia menggeleng tegas, tapi yakin Ved tidak akan percaya begitu saja. "Saya sudah siap, Pak," jawabnya daripada kebohongannya terus dikulik.
"Ayo!" Ved berbalik dan berjalan lebih dulu, tidak lagi membahas masalah baju yang menurutnya tidak seberapa.
Di belakang, Aruna menghentakkan kaki. Kenapa Ved selalu membuatnya tidak bisa berkata-kata? Selain itu juga tidak ada manis-manisnya. Heran! Dia menarik napas panjang, rasanya dia akan mengalami hal buruk lain.
"Sayang!"
Tiba-tiba ada sebuah panggilan yang membuat Aruna terkesiap dan mendadak tubuhnya seringan bulu dan hampir tertitup angin. "Sa.. Sayang?" Dan untuk pertama kalinya, dia tidak suka dipanggil sayang. Bulu kuduknya tiba-tiba meremang.
"Ayo, Sayang!" Ved memberi penekanan di panggilan yang seharusnya terdengar manis.