Semalam.
Di antara dua belas bulan, Aruna sangat benci bulan Februari. Kenapa? Karena dia putus cinta di bulan itu. Dari jumlah 28 hari di bulan Februari, Aruna sangat benci tanggal empat belas. Karena di hari itu dia ditinggal pacarnya yang begitu dicintai. Tanggal empat belas Febuari, hari yang paling dia benci di setiap tahunnya. Karena dia harus melihat orang-orang mengucapkan selamat hari valentine sedangkan dia selalu terbayang hal menyakitkan.
Sekarang, Aruna tidak ingin kejadian selama dua tahun itu terulang. Dia ingin tanggal empat belas Februari nanti memiliki pasangan, setidaknya gebetan. Karena keinginannya itu, Aruna mulai mencari lelaki yang bisa didekati dan bisa dipacari tanpa ba-bi-bu. Kandidat pertama adalah Aldi, teman sekantornya. Namun, dia ragu karena Aldi tipe lelaki yang kaku, berbeda dengannya yang selengekan. Kandidat kedua adalah Bino, teman SMA-nya yang sering mendekatinya, tapi dia agak anti pacaran dengan teman sendiri. Kandidat ketiga adalah Feri, senior Aruna yang dulu pernah mengungkapkan cinta kepadanya, tapi sayang saat itu dia masih berpacaran dengan Firo.
"Jadi, lo bakal deketin siapa?"
Pertanyaan itu membuat wanita yang menelungkupkan kepala di atas meja itu sontak mengangkat wajah. Dia mengerjab lalu menggeleng dengan wajah suntuk. "Bingung."
"Ya udah, sih, Feri aja," jawab Lesy-teman sekantor sekaligus sahabat Aruna.
"Serius?"
Lesy menggerakkan jari telunjuk ke kiri dan ke kanan, menganggap itu bukan persoalan. Dia mengangkat gelas bening yang isinya masih penuh, menegaknya pelan lalu mengernyit merasakan sensasi hangat melewati tenggorokan. "Why not? Ada larangan?"
"Ya tapi, kan, ini Feri, loh! Senior kita!"
"Nggak ada yang salah."
Aruna mendengus, padahal butuh penjelasan yang jauh lebih masuk akal. Dia kembali menelungkupkan kepala, memikirkan rencananya untuk mendapat gebetan baru. Ini semua salah Firo, mantannya yang memutuskannya di tanggal dan bulan yang menurut banyak orang begitu spesial. Awal berkenalan setelah dia wawancara kerja dan memutuskan ke kafe seberang yang ternyata milik Firo. Kebetulan, lelaki itu sendiri yang mengantar pesanannya. Dari situ mereka saling berkenalan dan bertukar kabar. Hingga dua tahun lamanya mereka menjalin hubungan. Sayangnya, lelaki itu tiba-tiba memutuskannya dengan alasan "kamu terlalu baik buat aku".
Hah bullshit!
Menurut Aruna alasan itu diucapkan karena tidak pandai memilih alasan untuk meminta putus. Benar, kan? Orang b******k sekalipun pasti berharap mendapat pasangan yang baik. Di saat mendapat yang terbaik kenapa dilepas?
Sekarang jadinya, Aruna jomlo di usia 27 tahun. Sial! Di saat teman-temannya mulai merencanakan hidup baru, dia justru jomlo. Ah, bahkan ada temannya sudah memiliki anak dua. Ini nggak boleh dibiarin.
"Oke! Gue bakal deketin Pak Feri!" ucap Aruna berapi-api.
Perkataan itu membuat Lesy tersenyum senang lalu mengambil gelas Aruna dan menyerahkannya. Tak.... Dua orang itu lalu bersulang.
"Demi rencana Aruna," ucap Lesy lalu menegak minumannya.
"Demi kelancaran percintaan gue!" gumam Aruna lalu menegak minuman itu dengan sekali tegukan. Setelah itu dia mengisi gelas yang telah kosong dan kembali menegaknya. Lesy yang melihat itu geleng-geleng, kasihan ke sahabatnya yang frustrasi karena diputuskan sepihak.
"Run! Balik, yuk!" ajak Lesy kemudian, khawatir temannya terlalu banyak minum.
Kedua tangan Aruna terangkat beberapa detik lalu menatap Lesy sambil menggeleng tegas. "Gue butuh minum lagi." Setelah itu dia berdiri dan hampir kehilangan keseimbangan. Gadis itu terkekeh pelan lalu berjalan menuju meja bartender. "Pesen minum!" kata Aruna lalu menelungkupkan kepala di atas meja. Sejujurnya dia sudah tidak bisa menyangga kepalanya sendiri.
"Kelihatannya udah nggak kuat." Tiba-tiba ada yang merespons.
"Belum!" Seketika Aruna menegakkan tubuh. Dia mengernyit, mendapati lelaki tampan yang sangat tidak asing. Aruna terkekeh pelan lalu menyentuh pipi lelaki di sampingnya. "Mirip Pak Ved. Bos gue yang ganteng banget."
"Kalau saya beneran bosmu?"
Aruna menggeleng tak suka. Dia menepuk pipi tirus di depannya itu lalu menggeleng pelan. "Lo bukan bos gue. Bos gue gila kerja."
"Lalu?"
"Ganteng...." Aruna terkekeh pelan lalu kembali menelungkupkan kepala. "Bos gue tajir, tapi galaknya minta ampun!" Aruna mulai meracau. "Tapi, banyak yang suka. Body-nya itu, loh, sexy banget. Jadi, pengen pegang!" Dia terkekeh geli membayangkan tubuh bosnya yang berotot, meski tersembunyi di balik kemeja berlapis jas.
"Mau?"
"Banget!" Kembali Aruna menegakkan tubuh dan melihat lelaki itu tersenyum miring. Dia mendekat, menyandarkan kepalanya yang berat ke pundak lelaki itu tanpa pikir panjang. "Pak Ved, mau jadi pacar gue nggak?"
Setelah itu semuanya gelap.