Bab 4

988 Words
Fadel, pengawal pribadi kepercayaan Daniel, sedang membukakan pintu lift buat Sundari. Begitu kaki jenjang wanita itu menginjak lantai lift, berita online yang menyudutkan Sundari langsung lenyap tak bersisa. Wajah Fadel yang bak kanebo kering itu, hanya bisa mengangguk ramah saat sang nona mencebik gegara tidak bisa menemukan berita online yang baru saja dilakukan oleh pelanggan yang tidak puas atas layanan prioritas yang diterimanya. “Mengapa cepat sekali hilangnya. Apa ini ulah Daniel.” Dia menggelengkan kepalanya pelan. “Ah, tidak mungkin. Dia kan sedang rapat internal dengan perusahaan bos-nya.” “Kamu yang melakukan semua ini?” Sundari mendekatkan wajah cantiknya ke muka Fadel. Perbedaan tinggi tubuh mereka yang terlalu jauh, membuat Sundari harus berjinjit. Fadel menjadi merah padam, dia tidak berani menggerakan tubuhnya. Dirinya mematung dengan d**a berdegup kencang. Dia berpikir, lebih baik bertarung dengan tangan kosong daripada harus berhadapan dengan calon bos-nya. Fadel tidak ingin kehilangan anggota tubuhnya nanti, saat dia kembali ke markas. “Cih.” Sundari membuang muka. “Ternyata kau bisa takut juga, ya,” nadanya penuh ejekan. “Bilang padaku, siapa yang menyuruhmu menghapus berita itu.” “Eh, si…si bos besar, Nona.” “Si Daniel, kan,” kekeuhnya. Hampir saja Fadel mengangguk, namun dia teringat dengan kata-kata tegas sang bos. “Aku tidak mau dipecat dengan tidak hormat,” pikirnya. “Bu-bukan, Nona. Bukankah mas Daniel hanya asisten sang bos besar. Kami orang-orang si bos besar. Pegawai biasa seperti mas Daniel, tidak mungkin bisa memerintah kami.” “Ouh, ya. Bos besar kalian sangat royal, ya. Dia begitu menyayangi Daniel, hingga rela meminjamkan pengawal pribadinya,” ucapnya sinis. “Maaf nona, untuk masalah itu silahkan tanyakan sendiri pada mas Daniel.” “Tsk.” Meskipun rasa ingin tahunya masih membuncah, Sundari sudah tidak ingin berdebat lagi dengan Fadel. Vera hypermall, tengah kota. Di butik Jaya, tempat yang terkenal dengan pakaian ter-update dan termahalnya. Butik langganan pebisnis kelas atas dan artis-artis ibu kota. Sundari tengah memilah milih gaun-gaun yang ada di sana. Salah satu pelayan toko dengan senang hati melayani semua keinginan Sundari, tatkala dia tahu kalau wanita cantik itu datang dengan banyak pengawal. Apalagi Fadel, sangat terkenal di kalangan pelayan toko itu, pengawal elit yang selalu menemani sang bos besar, pemilik Vera hypermall. Dengan membayangkan bonus penjualan yang akan diterimanya nanti, pelayan toko yang bernama Susi itu, memperlihatkan koleksi musim panas limited edition milik butik Jaya. Senyumnya yang cerah tiba-tiba berubah sinis, ketika salah satu pelanggan VIP butik datang dengan sang tunangan. “Haiyo, kakakku yang cantik, sedang belanja juga rupanya. Dapat uang dari mana. Aku yakin kakakku ini tidak akan mampu membeli barang-barang mahal di butik ini,” kata Liliana, merebut gaun malam yang dipegang Sundari. Susi langsung terkejut, melihat Liliana dan Sundari secara bergantian. “Lihat apa kamu. Apakah kamu melupakan pelanggan VIP mu ini,” hardik Liliana. “Nona kenal dengan wanita ini.” “Tentu saja bodoh. Dia Sundari, kakakku yang baru saja datang dari desa.” “Alamak…, alamat hilang bonusku hari ini.” Susi menepuk jidatnya sendiri. Sundari melipat keningnya,”apa maksudnya dengan kehilangan bonus penjualan.” “Nona, saya yakin anda tidak bisa membeli gaun-gaun yang telah anda pilih tadi,” ejeknya, melihat penampilan Sundari dari atas hingga bawah. “Kalau nona tidak punya uang, lebih baik belanja di toko sebelah saja. Di sana lagi banyak diskon.” “Kamu pikir, aku tidak bisa membeli barang-barang di tokomu ini.” Susi tampak ragu-ragu. “Haish, nggak usah ragu Nona. Kamu sudah benar, dengan tidak memperbolehkan kakakku untuk belanja di sini. Dia tidak punya uang. Papa belum memberinya uang, sebelum dia menikah dengan Daniel, si pria miskin dari desa itu. Orang udik memang cocoknya dapat yang dari udik juga,” sergah Liliana. “Pria miskin dan wanita miskin, aku yakin kalian nanti akan melahirkan keturunan gelandangan.” Tawa membahana di butik Jaya. Bahkan Susi sampai memegang perutnya, kegelian. Sundari memerah wajahnya, menahan amarah. Cepat sekali dunia berbalik, sikap ramah dari sang pelayan toko langsung berubah menjadi ejekan yang melukai hatinya. Bahkan semua pengunjung yang ada di sana pun ikut menertawakannya. “Apakah salah menjadi orang miskin?” pikirnya. “Tapi Nona Liliana, apa benar kakak anda ini miskin dan datang dari desa. Lihatlah di luar butik, banyak pengawal pribadi yang tengah menunggunya. Fadel adalah salah satu pengawal kepercayaan si Bos besar, pemilik Vera Hypermall.” “Susi…Susi. Bodoh sekali kamu, ya. Mereka-mereka itu,” tunjuknya pada para pengawal di luar toko,”adalah orang-orang sewaan. Yang disewa mahal oleh kakakku yang cantik ini.” “Lalu…Fadel.” “Ha, bodoh sekali kau ini. Fadel-lah yang merekrut mereka semua untuk menjadi pengawal bohongan.” “Ah, tidak mungkin. Dia kan miliknya si bos besar.” “Ais, sialan. Dasar pelayan toko tolol.” Liliana memutar otaknya. Dia tidak mau malu dan mengakui kesalahannya. “Ah, iya. Kakakku itu pasti telah menjadi sugar baby-nya bos besar kamu.” “Hah.” Bisikan-bisikan mencemooh terdengar dari butik Jaya. Pelanggan-pelanggan toko yang sedang berbelanja langsung melihat Sundari dengan tatapan merendahkan. “Jadi benar, dia perempuan yang tidak benar.” “Iya-iya, jangan perlihatkan suami kalian. Nanti direbut olehnya.” Mereka pun sibuk menelepon suami masing-masing dengan mengatakan, tidak usah dijemput di butik. Jemput saja di lobi. Malah ada yang mengatakan minta dijemput di parkiran. “Hei, apa maksudnya itu?” selah Sundari. “Aku bukan pelakor. Uang yang akan kubelanjakan hari ini dari calon suamiku.” “Ya, calon suami yang tidak pernah muncul di hadapan keluargamu. Jangan-jangan dia memang suami orang.” Tuduhan itu semakin gencar, keluar dari mulut Liliana. Dia tidak memperdulikan wajah kakaknya yang sudah merah padam menahan malu. Baginya, semakin malu Sundari maka semakin bahagialah dia. Liliana ingin mengusir Sundari dari butik langganannya ini. Dia ingin menunjukan kesemua orang, kalau Sundari bukanlah siapa-siapa. Calon suaminya hanyalah pria miskin dari desa. Yang tidak mungkin bisa membelikan gaun-gaun mewah di butik Jaya. “Tempat ini langganan para pebisnis dan artis ibu kota, kamu siapa?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD