Liliana dan Selly berjalan dengan santun dan penuh keanggunan, menuju ruang makan. Hartoyo yang sempat melihat saat calon istrinya itu membuli Sundari, seolah menutup mata. Baginya asal dia bisa menguasai harta keluarga SU, tak masalah kalau Liliana memukuli kakak tirinya itu setiap hari. Toh, yang penting dia bisa menyelamatkan bisnis keluarganya yang diambang kehancuran.
Hartoyo pun ikut bergabung dengan keluarga besarnya, memuji-muji penampilan Liliana, yang membuat wanita itu semakin besar kepala.
Saat Liliana menoleh ke ruang tamu sambil berkata,”Lihatlah pendukungku!” dia terkejut ternyata Sundari sudah tidak ada di sana. “Sial!” lirihnya sambil menghentakan kaki.
Di kamar lantai dua, Sundari merasa terasing. Ruangan itu menjadi miliknya dulu, saat dia masih kecil. “Mengapa hari ini ibu tiriku itu menjadi baik, ya? Aku tiba-tiba ditempatkan di kamarku ini. Biasanya aku tidak tidur di sini. Apa karena ada keluarga Hartoyo ataukah karena keluarga Daniel?” dia tertawa kecut, melambaikan tangannya ke bawah,”Daniel…tidak mungkin.”
Kembali pikirannya ke mengenang peristiwa tadi, adik tirinya itu sangat penasaran sekali dengan mas kawin yang diberikan oleh orang suruhan Daniel. Dan dengan bodohnya si Liliana itu membanting barang yang sangat berharga ini. Apa dia tidak tahu kalau cara membukanya sangat mudah sekali.
Sundari meniup debu yang menempel di permukaan kotak kayu itu. Tiba-tiba munculah gambar naga emas yang sedang bergelung di sebuah ranting pohon kering. Dia menekan kepala naga itu dan,”plup!” munculah selot dari sana, terbuka dengan isi di dalamnya…kunci yang terbuat dari emas dan gulungan kertas.
Sambil tertawa kecil Sundari berkata,”heum…ternyata kebiasaannya sama dengan dulu.”
HAI CALON ISTRIKU
Maaf ya, aku tidak bisa menemuimu, ada rapat mendadak di kantor…
Sebagai kompensasi, kamu bisa menggunakan kunci ini.
Pergilah ke BANK CENTRAL…di sana ada mahar pernikahan dariku.
Kamu boleh melampiaskan marahmu, habiskan semua maharmu dalam sehari.
Dari DANIEL, calon suamimu.
N.B: kalau marah jangan lama-lama ya, please. Call me di 303050.
Sundari tertawa melihat tanda emotikon lucu yang tertera di sana. Lupalah dia akan sakit hati yang diterimanya hari ini.
“Haish dasar. Lihat saja pembalasanku…baiklah aku akan menghabiskan semua hartamu. Bank central ya…” pikirnya sambil mengangguk-angguk puas.
Siapa yang tidak tahu BANK CENTRAL. Konon kabarnya bank ini milik pribadi. Milik keluarga terkaya di kota Bay. Semua pebisnis rata-rata meminjam modal dari sana, termasuk Hartoyo. Keluarga calon iparnya ini adalah pelanggan terpercaya. Bank Central memberikannya modal trilyunan. Tapi begitu mencapai generasi ketujuh, si Hartoyo sendiri, pihak bank mulai menarik investasinya, gegara dia sering menghabiskan hari-harinya di rumah judi. Jadilah Hartoyo menempel pada keluarga SU, hanya demi mendapatkan kembali kepercayaan Bank Central dan mendapatkan modal secara gratis dari mertuanya.
Tidak ada yang tahu, CEO sekaligus pemilik Bank Central itu karena setiap pelanggan yang datang hanya ditemui sang asisten. Yang public ketahui hanyalah lambang perusahaan ‘DS’. Ada desiran aneh di benak Sundari saat melihat logo perusahaan itu. “Andai itu inisial nama kami. Daniel dan Sundari. Wouh, betapa senangnya.”
Dia mengetuk kepalanya sendiri,”aish menghalu kau. Kalau menghayal jangan terlalu tinggi, nanti sakit pas jatuhnya,” gumamnya pelan.
“Meskipun Daniel punya simpanan yang banyak, kalau dilihat dari penampilannya sih tidak mungkin dia CEO bank itu.”
Iseng-iseng, Sundari mengetikan sesuatu di nomor cantik yang tertera di kertas. Dia tidak terlalu berharap akan segera dibalas, karena ini jam sibuk. Baru saja dia mengistirahatkan jemarinya, bunyi balasan terdengar.
“Baik. Aku akan kirim orang-orangku untuk menjemputmu sekarang.”
“Ah dasar, dia memang sangat manis,” pikirnya. Sundari bergegas berganti pakaian, memoles wajahnya dengan make-up tipis, yang membuatnya semakin cantik. Memasukan kunci emas di saku dress-nya, dia pun bergegas turun ke lantai satu.
“Sepi, kemana semua orang. Di halaman juga sudah tidak ada mobil keluarga Hartoyo…ah bodoh amat.” Dia pun berlari kecil keluar dari mansion.
Baru saja Sundari keluar halaman mansion, enam mobil Bentley hitam telah menunggunya. Di setiap sisi kendaraan berdiri dua orang pengawal pribadi, berpakaian serba hitam. Sundari sampai terkejut melihatnya.
“Silahkan nona!” serentak mereka mengucapkan kalimat itu.
“Apa kalian tidak salah orang?” katanya dengan tersipu. “Nona kalian ada di dalam,” pikiran Sundari mengarah ke Liliana.
“Tidak Nona, kami tidak salah orang!”
Dengan ragu-ragu, Sundari naik ke salah satu mobil itu. “Daniel, kamu membuatku terkejut,” ketiknya saat sudah di dalam mobil.
“Kenapa, apakah kau tidak suka.”
“Suka sekali. Tapi aku tidak berpikir kalau orang suruhanmu sebanyak ini.”
“Nikmatilah, fasilitas dari calon suamimu ini. Kamu bebas menyuruh mereka apa saja.”
“Apa saja….”
“APA SAJA,” tegasnya di pesan singkat yang dia buat.
“Baiklah. Jangan marah ya, kalau aku menyuruh mereka mereka ‘apa saja.”
“Hei…jangan macam-macam nona,” balas Daniel.
Sundari tersenyum simpul,”ada yang cemburu nieh,” pikirnya.
“Katakan padaku, apa yang kau maksudkan dengan ‘apa saja itu’.
“Kita sudah sampai Nona,” sela si pengawal saat Sundari hendak membalas chattingan Daniel.
“Heem, baiklah.”
Sengaja Sundari membiarkan ponselnya yang bergetar berulangkali saat dia menaiki lift menuju kantor pelanggan prioritas di Bank Central itu. “Nanti juga berhenti sendiri, kalau di capek.”
Rombongan Sundari langsung diarahkan ke kantor customer service, membuat nasabah lain menjadi iri.
“Hei, kami sudah antri sedari tadi. Mengapa mereka bisa langsung dilayani, sedangkan kami tidak.”
“Ya…ya. Ini tidak adil,” sahut yang lainnya sambil merekam di ponselnya.
“Ayo, kita viralkan. Biar mereka memberikan kompensasi pada kita.”
Dalam sekejap, berita itu menjadi topik trending di media masa online. Banyak komentar negative dari para netizen. Mereka menghujat pihak bank dan menuduh Sundari sebagai simpanan laki-laki kaya dengan hanya mengandalkan tubuhnya saja.
“Tidak tahu etika!”
“Wanita udik yang belum mengenal peradaban!”
“Pengawal dari mana itu. Jangan-jangan orang sewaan. Hanya untuk gaya-gayaan, biar tenar di kota!”
“Iya…iya.”
Daniel yang sedang memimpin rapat internal di salah satu perusahaannya, menjadi marah. Saat sekretarisnya memberitahukan berita tersebut. Dia tahu siapa dalang dari ujaran kebencian yang ditujukan pada calon istrinya itu.
“Hapus segera!” kalimat pendek itu membuat divisi pemasaran yang sedang presentasi di layar depan, terkejut.
“Baik tuan Daniel, kami akan memperbaikinya segera.”
Melihat semua orang yang ada di ruang rapat, ketakutan dan menundukan kepala, Daniel langsung berdehem dengan keras. “Bukan kalian,” katanya dengan nada santai, membuat mereka menjadi lega.
“Aku pikir…” kata mereka dengan bahasa isyarat.
Sang sekretaris pun paham. Dia langsung keluar dari ruang rapat menuju bagian IT perusahaan yang ada di lantai yang sama.
“Bos besar memerintahkan menghapus berita, SEKARANG!”
“Sekarang!” empat pemuda yang ada di sana langsung menggerakan jemarinya di atas keyboard computer. Dalam sekejap berita itu lenyap tak bersisa.