Bab 2

1071 Words
Suwandono menelengkan kepala, mendekat pada Liliana. Menjentikan ujung jemarinya sambil mengedipkan matanya berulangkali. Liliana masih saja berbicara tanpa sadar dengan kode-kode yang diberikan ayahnya. Hingga kesabaran Suwandono habis, dia pun menoyor jidat Liliana dengan pelan. “Kau…lihatlah kakakmu itu.” “Heh.” Liliana baru ngeh dengan kelakuan Sundari, yang sedari menguping percakapan mereka. “Pa, memangnya kakak punya telinga kelelawar, kah. Bisa mendengarkan dari jarak jauh.” “Aish, kamu itu bodoh atau apa. Dalam ruangan sesunyi ini…yang kau harapkan apa?” Mendengar hardikan sang ayah, Liliana tersenyum malu. “Maaf,” ucapnya lirih. “Kau masih pahamkah, dengan rencana papa tadi malam.” “Paham…aku paham,” sontak Liliana mengangguk-angguk bak burung beo. “Lalu, kau setuju dengan rencana kakakmu itu,” katanya sambil menatap mata sipit Liliana lekat-lekat. Liliana menghela napas, mengepalkan kedua tangannya sebentar. Lalu menepuk-nepuk lengan papanya dengan sayang. “Coba papa pikir,” suaranya hampir seperti bisikan. Dia tidak ingin rencana busuknya terdengar sang kakak. “Apa untungnya bagi kita, tanah sejengkal milik Daniel itu. Warisan keluarga lagi. Aku dengar dari orang-orang kepercayaanku, kalau Daniel masih harus menghidupi ibunya.” Menggeleng-nggelengkan kepalanya. “Apa papa tahu?” Liliana tampak menaikan kedua alisnya dengan tatapan penuh keyakinan. “Mereka masih harus ngutang sana-sini untuk menutupi kebutuhan hariannya.” “Apa, sial!” umpat Suwandono, menumbukan tangannya. “Jadi…bagaimana. Apa kita masih perlu melanjutkan rencana bodoh itu.” Liliana mengusap-usapkan kepalanya pada sang papa. Hati Suwandono pun menjadi luluh. “Haish, baiklah-baiklah,” ujarnya pasrah. “Oke.” Liliana berjingkat kesenangan. Rencana sudah tersusun rapi, tinggal mengeksekusi. Sundari pun menjadi puas. “Dalam kehidupan ini akan kuraih kebahagiaanku sendiri. Aku tak peduli walau Daniel sangat miskin, aku masih bisa membantunya diam-diam. Seperti yang aku lakukan pada Hartoyo dulu. Saat perusahaannya bangkrut,” tekadnya dalam hati. Rupanya Suwandono tidak tahu kalau Sundari punya rencana lain. Hari lamaran telah, Liliana menerima kedatangan keluarga besar Hartoyo dengan suka cita. Satu mobil Bentley hitam dengan nomer plat istimewa, dua buah villa mewah di puncak matahari, perhiasan seharga 1 milyar dan gaun-gaun mewah telah diberikan, membuat senyum Liliana semakin lebar. Dia mendongakan kepala dengan dagu sedikit terangkat, dia berjalan pelan-pelan mendekati Sundari yang saat itu tengah berdiri sendirian di ruang tamu, mansion Suwandono. Liliana tertawa mengejek,”haiyo, kakakku yang cantik. Mana mahar yang diberikan calon suamimu itu?” diambilnya kotak kecil yang ada di meja. Dibukanya kotak kayu yang terlihat using dan sedikit berdebu itu. Tautan kunci dari benda itu tampak berkarat, perlu sedikit usaha bagi Liliana untuk membukanya dengan paksa. Dengan jijik Liliana membanting kotak itu ke tanah sambil menutupi hidungnya. Begitu terbuka, tidak ada apapun di dalamnya. Liliana kembali tergelak,”haish! Orang miskin memang tidak bisa diharapkan. Memberikan mahar pernikahan yang layak saja tidak bisa. Bagaimana nanti menghidupi istrinya,” menyorotkan mata penuh ejekan. Sundari hanya tersenyum kecil. “Kakak lihat,” tunjuknya pada barang-barang mahar yang ada di meja besar di ruang tamu. “Itu baru namanya mahar. Orang kaya memang beda loh, dalam memperlakukan calon istrinya. Hartoyo datang dengan keluarga besarnya, bawa pengawal seratus orang. Sedangkan Daniel…dia hanya mengirimkan satu orang suruhannya…tidak ada ikatan keluarga lagi. Jelas sekali kan, kalau calon suami pilihanmu itu hanyalah seorang pecundang!” ditendangnya kotak kayu itu menjauh, hingga mendarat di bawah sofa. Sundari hendak membuka mulutnya, membela diri, namun kedatangan ibu tirinya membuatnya terdiam. Itu lebih baik daripada menimbulkan kerusuhan di saat banyak tamu di rumah. “Sayang, apa yang kau lakukan,” ucap Selly, mamanya Liliana. “Jangan bikin keributan,” dibisikinya sang anak, sambil memberikan kode kalau keluarga Hartoyo tengah memperhatikan mereka dari balik kaca pembatas ruang makan dan ruang tamu. “Aku hanya sedikit memberinya pelajaran, Ma. Agar dia tahu diri…laki-laki miskin dan perempuan miskin seperti dia…sangatlah cocok.” Liliana menginjak tangan Sundari yang tengah berusaha meraih kotak maharnya dari bawah meja. “Mama tahu, sayang. Tapi tahanlah keinginanmu itu sampai keluarga calon suamimu pulang,” dielusnya lengan sang anak dengan sayang. “Heumm?” “Baiklah.” Keduanya meninggalkan Sundari sendirian. Sundari mengelus-elus tangannya yang sakit. Tubuhnya bergetar, menahan tangis. “Tidak…tidak. Aku tidak boleh menangis. Dasar Liliana sialan. Tunggu saja pembalasanku,” geramnya. Dia mengenggam kotak itu sambil berlari menuju kamarnya di ruangan belakang. Kamar yang dikhususkan bagi pelayan di mansion SU. Semenjak penjemputannya dari desa beberapa bulan yang lalu, Sundari selalu diperlakukan bak pembantu. Mengerjakan pekerjaan pelayan dan ditempatkan di kamar sempit berukuran 2 x 3 meter itu. Bahkan menu makanan yang dia makan sehari-hari, hanyalah nasi putih dengan lauk sisa keluarganya. Sungguh sangat tidak layak! Sebagai pewaris asli keluarga SU, Sundari seharusnya yang paling berhak di mansion besar itu. Pernah suatu hari, saat dia menikmati makan siangnya yang terlambat sembari duduk di salah satu sudut dapur, tiba-tiba Selly menendang piringnya. “Bersihkan meja makan sekarang, dasar pemalas!” Sundari terkejut, dia tertegun, mendongak ke atas,”aku masih lapar, Ma. Sudah berhari-hari aku belum makan,” protesnya. Tapi belum sempat kata-kata itu keluar dari mulutnya. “Apa melotot, dasar perempuan udik!” suara tamparan terdengar. Pipi Sundari pun memerah. “Wei, mau menangis. Perempuan cengeng.” Dijewernya telinga Sundari. “Menyesal dilahirkan ke dunia ini, heum. Tangisanmu, tidak akan bisa mengembalikan ibumu yang bodoh itu. Wanita bodoh memang melahirkan anak bodoh seperti kamu!” Sundari berdiri, mengayunkan tangan kanannya. Kalau dia yang dihina, dirinya akan tahan meskipun itu terasa sakit tapi ini ibunya. IBUNYA…orang yang paling dia sayangi di muka bumi ini. Siapa Selly… dia hanya pelakor dalam rumah tangga Suwandono dengan Merry. Tiba-tiba Selly terjatuh sambil memegangi tangan Sundari yang telah ia pukulkan pada pipinya. Lalu dia menangis tersedu-sedu, seolah wanita paling teraniaya di siang itu. Gerakan itu membuat Sundari terkejut. “SUNDARI…apa yang kau lakukan!” hardik Suwandono dari balik punggung Sundari. “Ak…aku tidak memukulnya, Pa. Dia yang memukuli dirinya sendiri.” “Tidak memukulnya, ha. Lihatlah ini,” tunjuknya pada pipi sang istri. “Apa kamu pikir Selly menyakiti dirinya sendiri!” muka Suwandono memerah, tangannya pun diayunkan, menampar pipi Sundari. “Dasar anak sial! Anak durhaka! Seharusnya kau menghargai ibumu, meskipun dia bukan ibu kandungmu! Dia itu istri papa…ingat ISTRI PAPA!” Dengan sekuat tenaga Suwandono mendorong tubuh Sundari hingga menabrak meja dapur. Lalu dia menggendong istrinya keluar dari sana. Selly yang berpura-pura kesakitan, tersenyum puas. Sudut bibirnya terangkat saat melihat Sundari yang seperti orang linglung, menahan sakit di kepalanya. “Heh, siapa suruh cari gara-gara denganku. Bagaimanapun juga, aku tetaplah nyonya di rumah ini. BUKAN IBUMU!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD