Bab 8.

860 Words
“Nona SU, bangunlah. Apa yang terjadi.” Bibi Surti mengguncang-ngguncangkan tubuh kurus milik Sundari. Dia sangat kuatir dengan anak majikannya itu yang terus-terusan menggigau, menyebut satu nama. Keringat dingin bercucuran di wajahnya. Bajunya yang tipis itu telah basah oleh keringat juga. Kala Sundari tak kunjung membuka matanya, bibi Surti menangis keras. “Nona SU, maafkan bibi…bibi berjanji tidak akan pergi ke pasar lagi. Biarlah kita makan hasil kebun saja…seadanya.” Lolongan tangisan bibi Surti sangatlah keras, hingga tetangga sekitarnya terbangun. Berbondong-bondong, mereka mendobrak pintu rumah bibi Surti yang terkunci. “Siapa yang meninggal,” tanya mereka. “Hush, ngawur saja. Bukan meninggal, tapi anak Surti yang dari kota itu sedang sakit.” “Weleh, apa yang aku bilang. Anak kota tidak cocok hidup di desa. Balikin saja dia ke kota. Suruh ikut bapaknya.” “Bapaknya…memang suaminya Surti masih hidup. Dasar tolol.” “Bawa saja ke rumah sakit, beres kan. Biar dokter yang menanganinya.” Tangisan bibi Surti kembali terdengar, semakin keras. “Haiya, kau itu semakin bodoh saja. Lihat, di mana kita tinggal. Jauh dari pelayanan Kesehatan. Kalau pun kita bisa ke sana, sudah tidak terburu. Anak Surti sudah meninggal di jalan.” “Hiks….hiks, tolong anakku. Kalian bisa, kan,” tatapnya pada semua orang yang ada di sana. Mereka juga sama bingungnya dengan Surti. Tiba-tiba si Tongos maju ke depan. Dia yang sedari tadi diam di pojokan sambil memegang pelipisnya, mulai angkat bicara. “Panggilkan kakek Wongso saja!” lalu dia menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kakek Wongso…itu siapa?” Semua orang menjadi panik kembali. Tongos memang terkenal aneh, kadang normal kadang seperti orang bingung. Bibi Surti pun meraung-raung,”ayolah bantu aku sekali ini saja. Apa kalian tidak kasihan padaku. Aku hanya punya Sundari, satu-satunya keluargaku.” “Eh,” paman berkumis tebal tersadarkan akan sesuatu. “Iya…kakek Wongso yang hidup di sudut desa. Dia kan, tabib di kampung ini.” “Ouh iya-iya.” Serentak para lelaki yang ada di ruangan itu berhamburan keluar, menjemput kakek Wongso. “Sundari sayang, kenapa kamu demam, Nak,” tanya bibi Surti saat anak itu sudah tersadar. Kakek wongso duduk di sisi kasur yang berlawanan dengan wanita itu. Lelaki tua itu melihat lekat-lekat ke wajah Sundari, menaksir. Gadis kecil itu, mengedipkan matanya. “Bibi…hiks-hiks,” memeluk bibinya erat-erat. “Aku melihat mama dibunuh…sama tante Selly.” Ketakutan kembali menyeruak di wajah mungil itu. Bibi Surti ketakutan, dia menoleh ke seluruh penjuru ruangan. Tidak ada satu orang pun di sana selain dirinya, Sundari dan kakek Wongso. “Lelaki tua ini bukan bagian dari keluarga SU,” pikirnya. “Sudah-sudah, jangan takut. Ada bibi Surti di sini.” “Tolong aku, Bi. Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Aku tidak mau dibunuh sama Selly…wanita jahat itu.” Sundari berteriak kencang, membuat para tetangga yang masih ada di ruang tamu, berhamburan ke kamar. “Ada apa….ada apa.” Surti berusaha menenangkan Sundari, sementara sudut matanya memohon pada kakek Wongso. “Tidak apa-apa, ini semua proses dari demamnya yang mulai turun. Tunggulah di luar,” usirnya pada semua orang. “Oh, ya sudah. Kalau sudah baikan, kami pulang saja. Urusan di sini biar kakek Wongso yang urus.” “Heem,” jawabnya. “Ha…ha…ha. Nanti kalau kakek pulang, aku yang antar, ya.” Tongos maju, tersenyum-senyum pada kakek Wongso. “Iya…iya. Sekarang tunggulah di luar, nanti kukabari kalau mau pulang.” “Janji ya,” menunjukan kaitan kelingkingnya. “Janji.” Wongso mengaitkan kelingkingnya pada Tongos. Pemuda itu langsung meloncat kesenangan. Melintasi ruang tamu dengan cepat, lalu duduk di sudut teras rumah. Diam, menunggu sembari melihat langit pekat di atas sana. Entah apa yang dipikirkannya. Kakek tua itu menghela napas, duduk, mendekati Sundari yang tampak masih sesenggukan. Wajah mungil itu diusapnya,”kamu mau menjadi murid kakek?” “Mu…murid. Apa kakek punya sekolah?” Pertanyaan polos itu membuat Wongso terbahak. “Bukan sekolah. Kakek akan mengajarimu ilmu pengobatan. Kelak kamu bisa membalaskan dendam ibumu. Apa kamu tertarik?” “Benarkah. Lalu apa hubungannya ilmu pengobatan dengan balas dendam.” “Haish, dasar anak t***l,” mengusap rambut Sundari dengan sayang. “Kalau kamu bisa menguasai ilmu pengobatan, maka dunia akan menjadi milikmu.” Gadis kecil itu kebingungan, dia hanya bisa menggaruk-nggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Kamu mau belajar, tidak?” tanya Wongso kembali. Surti menganggukan kepalanya, membuat Sundari juga ikut mengangguk. “Baiklah, aku mau belajar.” Akhirnya Sundari bisa mendirikan kerajaan bisnisnya sendiri di bidang pengobatan, dibantu oleh Tongos yang sudah normal kembali. Laki-laki itu menjadi tangan kanan Sundari, orang kepercayaannya, yang dikenal di lingkaran bisnis sebagai Tuan Tano, CEO Farma corporate. Pria dingin dan berhati kejam. Tidak ada yang tahu kalau Farma Corporate sebenarnya milik Sundari. Sebelum kematian Sundari, Selly selalu mengancam akan menghentikan pengobatan bibi Surti, jika dia tidak menuruti keinginannya, untuk menikah ke keluarga Hartoyo. Meskipun Sundari punya kemampuan untuk mengobati tapi penyakit bibi Surti termasuk langka, hanya kakek Wongso yang bisa menyembuhkannya. Dia pasrah saja, saat Surti di bawa ke kota. Dimasukan rumah sakit milik keluarga SU. Dan dibuat mengancamnya untuk menuruti semua kemauan mama dan adik tirinya itu. “Kemana kakek tua itu. Dia menghilang begitu saja setelah memberikan semua ilmunya padaku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD