“HERMAN, KURANG AJAR KAU YA!”
Makian panjang pendek keluar dari mulut Suwandono. Niatan untuk memberi pelajaran pada Sundari musnah sudah. Dia hanya ingin memukul dan memarahi Herman, si pemilik butik Jaya. Laki-laki paruh baya yang juga sahabatnya.
“Sudah-sudah, duduklah dulu. Ingat jantungmu.” Herman memberikan air putih pada Suwandono. Setelah laki-laki itu tenang, Herman menduduki kursi yang berada tepat di depan sahabat lamanya itu.
“Kemana mereka?” tanya Suwandono, celingukan ke seluruh ruangan.
“Mereka siapa?”
“Daniel sama anakku yang tidak tahu diuntung itu,” geramnya.
“Oh, Tuan Su…Tuan Su,” menggeleng-nggelengkan kepalanya. “Kita ini sudah tua, tak layak mengikuti urusan anak muda.”
“Apa maksudmu Herman. Mereka bukan orang lain. Sebagai ayahnya, aku berhak mengajarinya sopan santun.”
“Sopan santun, ya,” mengusap-usap dagunya yang licin, lalu mengedip-ngedipkan matanya. “Aku mau bicara, tapi Liliana suruh pergi dulu.”
“Tidak ada rahasia diantara kami. Kau bebas berbicara sekarang.”
“Oh, tidak. Pembicaraan ini antar lelaki paruh baya. Anak muda macam Liliana tidak boleh mendengarkannya apalagi ikut nimbrung di dalamnya, tabu,” kekeuhnya.
Suwandono sangat paham dengan sifat Herman yang keras kepala. Seberapa besar dia bersikukuh maka semakin bertahan pula si Herman dengan keinginannya. Akhirnya Suwandono mengalah, dia menyuruh anak kesayangannya itu pergi, pulang duluan.
“Sekarang bicaralah. Aku sudah suruh Liliana pulang.”
“Kau mau aku bicara sebagai sahabat atau sebagai pemilik butik Jaya.”
“Haiya, sangat berbelit-belit. Terserah kamulah, di mana kau mau berperan,” mulutnya mencebik dengan kedua tangan dilipat di d**a. Tingkahnya sangat mirip dengan seorang istri yang minta jatah bulanan, tapi sang suami sangat-sangat tidak peka.
“Awas saja kau nanti malam…kalau tidak ada uang belanja maka jangan harap dapat jatah harian dariku,” pikir para istri.
“Heeem.” Herman merubah posisi duduknya, lebih rileks, menatap tajam pada wajah sang sahabat yang sangat jauh berubah.
Wajah itu, dulu menjadi pujaan para gadis di manapun mereka berada. Suwandono selalu menjadi target para ciwi-ciwi cantik dan berkelas, saat di sekolah maupun di lingkungan sosial mereka.
Bintang kampus, Meril, ibunda Sundari langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Meskipun keturunan Cina, Suwandono bukanlah berasal dari keluarga kaya. Ayahnya hanyalah pedagang kelontong di pasar rakyat dan ibunya berdiam di rumah, sebagai ibu rumah tangga yang baik.
Herman dan Suwandono bersaing memperebutkan cinta Meril. Mereka pikir dengan medapatkan gadis pewaris kekayaan keluarga SU itu, hidup mereka akan terjamin. Tak perlu kerja keras untuk mendapatkan nama di dunia bisnis, yang perlu mereka lakukan hanya meneruskan bisnis keluarga SU, yang tidak habis dimakan tujuh turunan.
Herman sangat mencintai Meril, tapi tampilannya yang cenderung kemayu, membuatnya tersingkir sebelum berjuang. Gadis itu lebih suka lelaki macho dan berbadan kekar macam Suwandono.
Sedangkan dirinya sangat gemulai, banyak teman-teman di lingkungan mereka mencurigai kalau Herman sangat mencintai Suwandono.
Dia sudah berusaha sangat keras untuk meyakinkan teman-teman pergaulan mereka, tapi tuduhan tetap saja bergulir. “Herman penyuka sesama jenis. Lihat saja penampilannya itu. Sangat cantik. Kecantikannya melebihi Meril. Kalau mereka menikah, kita tidak bisa membedakan mana yang laki-laki dan yang perempuan.”
“Iiih, iya. Apa dia juga suka sama Suwandono. Lihat saja caranya memperlakukan sahabatnya itu. Kayak orang pacaran, ya.”
“Jangan-jangan dia ‘Bi’, deh.”
“Idih amit-amit.”
Kata-kata itu menggelinding begitu saja di lingkungan pertemanan mereka. Meskipun Herman anak orang kaya, mampu menutupi kabar-kabar buruk itu, namun dia tidak melakukannya. Di ingin melihat ketulusan hati Meril.
Harapan tinggalah harapan. Kebahagiaan yang di inginkan tapi kekecewaan yang dia dapat. Ekpektasinya, Meril bukanlah tipe wanita yang suka termakan hasutan, ternyata dia salah.
Gadis itu malah menjauhinya, memilih Suwandono sebagai pasangan hidupnya. Jadilah, Herman sakit hati. Meskipun dia tetap datang di pernikahan mereka. Malah dia menjadi pendamping pria, gegara seluruh keluarganya malu datang ke pernikahan anak semata wayangnya.
“Hems, keluarga miskin yang memanjat tangga sosial terlalu tinggi.”
“Benar, keluarga seperti itu tidak layak menjadi menantu keluarga SU yang terpandang. Seharusnya Herman yang dipilih oleh Meril. Tapi kenapa justru pemuda yang mengandalkan tampang doang yang menjadi suaminya.”
Gossip merebak diantara para tamu undangan. Keluarga SU sebenarnya tidak suka mendengarnya. Tapi mau gimana lagi, Meril sangat mencintai laki-laki MOKONDO itu.
Setelah bulan madu, Meril malah memberikan posisi CEO pada Suwandono, dengan kekuasaan mutlak. Dia pun mulai berbuat seenaknya.
Memecat karyawan kepercayaan Tuan SU, membuat para pekerja menjadi pegawai kontrak tanpa perlindungan asuransi pekerja.
Lalu tiba-tiba dia memperkenalkan Selly sebagai asisten pribadinya, tepat di ulang tahun perusahaan yang sekaligus ulang tahun Tuan SU.
“Siapa wanita itu. Mengapa tiba-tiba menjadi asisten Suwandono.”
“Iya. Anakku kemarin mendaftar sebagai asisten pribadinya tapi langsung ditolak. Padahal kalau cantik masih lebih cantik anakku. Dia juga lulusan Harvard, loh.”
“Dengar-dengar, wanita itu selingkuhannya Suwandono. Bahkan sudah punya anak satu, perempuan.”
“Yang benar kau. Jangan sampai Tuan Su tahu. Bisa-bisa jantungnya kumat.”
Percakapan itu di toilet wanita. Tapi dindingnya terlalu tipis untuk menghalangi suara mereka. Hingga sampailah ke telinga Tuan SU. Laki-laki paruh baya itupun pingsan. Ambulan yang membawanya belum sampai di rumah sakit, orangnya sudah meninggal di jalan.
Pesta ulang tahun yang seharusnya penuh kebahagiaan berubah menjadi bencana. Upacara duka pun di gelar. Meninggalkan penyesalan di batin Meril.
Hidupnya mulai berubah semenjak kematian ayahnya. Suwandono semakin semena-mena. Dia melarang istrinya untuk datang ke kantor, menyuruhnya menjaga kandungan anak pertama mereka.
Kalau Meril memaksa, Suwandono selalu membujuknya dengan mengatakan,”tunggu sampai bayi itu lahir. Barulah kau boleh kembali ke perusahaan.”
Janji tinggalah janji, hingga Sundari berumur lima tahun, Suwandono tetap tidak memperbolehkan istrinya bekerja. Bukannya sayang pada Meril, tapi cenderung ingin menyembunyikan skandal perselingkuhannya.
Selly adalah kekasih pertama Suwandono. Tepat dua tahun setelah Sundari lahir, Selly melahirkan Liliana. Dan laki-laki tidak tahu berterimakasih itu justru lebih menyayangi anak selingkuhannya dari pada anak dari istri syahnya.
“Papa, mengapa mama meninggal. Tadi pagi dia masih baik-baik saja.” Tangisan Sundari terdengar di sore hari.
Di ruang tamu itu sudah terbujur kaku mayat ibunya.
“Mama terkena serangan jantung.”
“Papa bohong. Mama baik-baik saja, kan. Hiks…hiks.” Rengekan itu terus terdengar. Suwandono merasa jengah. Satu hari setelah pemakaman istrinya, dia mengirimkan Sundari ke desa. Menyuruh salah satu pelayan setia keluarga SU untuk membesarkan anak itu di kampung. Dan hampir setiap malam Sundari mengalami mimpi buruk tentang malam sebelum kematian ibunya.