“Hai, adikku sayang. Kalau dulu, kau menghalangiku untuk bertemu dengan pemilik butik Jaya dan kamu berhasil mempermalukanku, sayangnya kali ini tidak. Dengan kehadiran Daniel di sisiku, aku bisa membalaskan dendam itu.”
Di kehidupan yang lalu, Sundari juga datang ke butik ini, sendirian. Hanya demi menghormati kesibukan Hartoyo, yang saat itu sedang rapat internal dengan para manajemen perusahaannya. Sama seperti hari ini, Liliana tiba-tiba muncul, menghinanya sebagai perempuan yang berasal dari desa. Istri yang tidak dianggap, sang nyonya Hartoyo yang menumpang hidup pada suaminya.
Istri yang hanya bisa menghabiskan uang suaminya, hingga perusahaan Hartoyo hampir bangkrut. Dan pemilik butik Jaya pun, tidak mau menemuinya. Bagi pemilik butik, skandal para pelanggan bisa mempengaruhi fengsui tokonya.
Siapa tahu kenyataannya, kalau Liliana baru saja datang dari Gedung sebelah, hotel Vera, menghabiskan malam bersama Hartoyo suaminya. Begitu mendengar Sundari berbelanja di butik langganannya ini, dia terburu-buru ikut berbelanja, hanya demi melampiaskan amarahnya.
Liliana yang membuat Hartoyo senang, tapi mengapa justru Sundari yang menerima hadiahnya. “Dunia sungguh tidak adil!”
Sebagai seorang vlogger dengan jutaan pengikut, membuat Liliana cepat mendapatkan simpati. Dia menangis, mengumbar cerita sedihnya di media masa dan pemilik butik Jaya pun dengan tegas menolak Sundari dengan mengatakan,”mulai hari ini, semua cabang bisnis butik Jaya, tidak menerima pelanggan macam anda. Sebagai kakak, anda seharusnya bisa melindungi adiknya, tapi mengapa justru anda memperlakukannya dengan kejam. Walau kalian bukan saudara satu ibu, tapi darah yang mengalir dalam tubuh kalian tetaplah sama. Karena kalian satu ayah….cepat pergi dari toko kami!” usirnya pada Sundari.
Kata-kata kejam itu keluar dari sang pemilik butik, hanya gegara gaun yang dipilih Sundari juga menjadi pilihan Liliana. Keduanya berebut, saling Tarik menarik hingga baju itu robek menjadi dua bagian.
Tenaga Sundari tidaklah kuat, hanya saja Liliana langsung berpura-pura jatuh hingga kepalanya kejedot ujung meja. Darah yang mengalir sedikit itu menjadi senjata Liliana untuk mencari simpati semua orang.
Bahkan fans-nya juga ikut menghujat Sundari, mengatainya sebagai kakak tiri yang kejam. Wanita desa yang tidak tahu aturan. “Kirimkan kembali ke desa. Merusak pemandangan saja. Jangan sampai bidadari kesayangan kita terluka lagi.”
Para pengunjung Vera hypermall yang kebetulan dekat dengan Jaya Butik, mendorong-dorong tubuh Sundari hingga jatuh di lantai mall yang licin. Tak ada kata kasihan yang terlihat di mata mereka. Yang jelas kebencian yang terungkap saat itu, hasil rekayasa sandiwara Liliana di video life-nya.
Sekarang pun sama, Liliana menangis sambil life di vlog-nya. “Kakak, mengapa kamu membuliku. Aku tahu, aku salah. Tapi sebagai saudara, tidakkah kamu punya belas kasih. Hiks…hiks.”
Sundari membungkukan tubuhnya, memegang bahu Liliana yang sedang duduk di lantai itu. “Adiku sayang. Apakah kamu yakin…kalau aku harus minta maaf padamu sekarang.” Dia melihat ke layar ponsel milik Liliana, yang sedang tayang, memperlihatkan jutaan tanda love yang melayan-layang di sana.
“Iya, kakak harus minta maaf padaku,” jawabnya dengan suara manja.
“Baiklah, kalau kamu memaksa.” Sundari menegakan tubuhnya, lalu memperlihatkan rekaman peristiwa yang baru saja terjadi. Di sana Liliana tampak memukul wajahnya sendiri lalu merebut gaun yang dipegang Sundari. Dan dengan kerasnya, tubuh Liliana terjatuh di lantai, dengan masih memegang bagian gaun mahal di tangannya.
“Wah, ternyata di penipu.”
“Iya, licik sekali.”
“Betul-betul. Dia menyakiti dirinya sendiri…eh malah menyalahkan orang lain.”
“Apa kalian masih mau menjadi penggemar beratnya. Aku sih ogah, mending cari vlogger yang lain saja, yang lebih inspiratif tayangannya.”
Dalam sekejap, penggemar Liliana berubah haluan. Folllowernya langsung berkurang Sebagian. Layar ponsel itu menampilkan tujuh orang saja yang masih online.
“Aaaah, Sundari sialan!” Liliana membanting ponselnya ke lantai dan meninggalkan butik itu.
Di kantor butik Jaya,"silahkan tuan Daniel...Nona Su. Apa yang bisa saya bantu?"
"Tuan Herman, apa kabar?" Daniel menyalami sang pemilik Butik. Keduanya saling menepuk punggung.
"Baik-baik Tuan Daniel," tatapannya beralih ke Sundari. "Jadi...ini calon istri anda?"
"Betul Tuan Herman. Kedatangan kami kesini ingin dibuatkan baju pengantin rancangan khusus anda. Kami maunya yang limited edition, yang belum pernah anda pasarkan dimanapun."
"Oke, Tuan Daniel. Saya paham maksud anda. Silahkan lihat, saya punya banyak koleksi rancangan di sini." Herman memberikan buku sketsanya pada Daniel dan Sundari. Sang calon pengantin itu sibuk melihat-lihat gambar yang ada di sana.
"Papa itu mereka!" kata Liliana dengan suara keras. Daniel dan Sundari pun terkejut.
"Ouh, dia tidak mau kalah rupanya. Setelah perbuatannya terekspos, Sekarang malah membawa Tuan Suwandono yang terhormat itu, untuk membantu dirinya. Aku jadi penasaran, apa yang akan dikatakannya padaku," pikir Sundari.
"Selamat datang di toko kami, Tuan Su. Ada yang bisa kami bantu," sambut Herman dengan ramah. Kedua tangannya terentang, seolah menyambut sahabat lama, yang tidak pernah berjumpa.
Suwandono mencebik,"singkirkan basa-basimu itu. Kau tidak ada urusannya dengan hal ini."
"Benarkah. Apakah aku berlebihan. Orang yang datang ke kantorku ini kuanggap sebagai pelanggan, dan mereka adalah raja."
"Cih, siapa yang mau menjadi pelanggan di tokomu yang kotor ini."
"Loh...loh, Tuan Su. Bagian mana dari tokoku yang kotor. Aku akan suruh anak-anak untuk membersihkannya."
Suwandono semakin marah, merasa terhalangi. Dia ingin memberi pelajaran pada Sundari, itu tujuan utamanya ke toko baju ini. Mulutnya terbuka-tertutup hendak melancarkan makian.