18. Yang Tersayang

1123 Words

“Kak Emily!” seruku hampir terlalu keras. Mataku membulat sempurna saat kepingan ingatan itu menyatu, senyum ramah, sorot mata yang hangat. Dia adalah kakak perempuan Rheef. Kakak kedua yang dulu beberapa kali kutemui, tapi tak pernah benar-benar dekat. Bertahun-tahun berlalu, aku sibuk dengan duniaku sendiri, dan wajah itu perlahan memudar dari ingatan. Aku bangkit refleks dan berpindah ke kursi di sampingnya, meninggalkan Rheef yang langsung mendesah panjang, jelas tidak suka. Emily hanya tertawa riang, tawa yang lepas dan jujur, lalu dia menarikku ke pelukan singkat. “Ya ampun, Zenata. Kamu hampir tidak berubah,” katanya sambil menatapku dari atas hingga ke bawah kaki. “Atau mungkin aku yang menua?” lanjut sambil tertawa. Aku ikut tertawa kecil, rasa canggungku luruh sedikit demi

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD