Aku menoleh pada Rheef. "Kau tidak makan?" tanyaku singkat, yah, sekadar basa basi saja sih. Dia menggeleng pelan. "Tidak. Aku masih kenyang. Di rumahmu tadi aku makan banyak," jawabnya. Aku hanya mengangguk dan mulai mengambil sendok lalu mengarahkannya ke salah satu piring. Makanannya enak begitu lidahku mengecapnya, seketika aku lupa dengan semua hal yang terjadi hari ini. Aku sibuk makan tanpa peduli dengan keberadaan Rheef yang aku rasakan tatapannya sama sekali tidak beralih dariku. Di depannya, aku tidak perlu berpura-pura menjadi anggun. Sejak dulu dia tahu bagaimana caraku, bagaimana duriku, dan meskipun kami berpisah cukup lama, kebiasaanku tidak berubah. Aku suka makan, tidak anggun, tidak juga buru-buru, tidak pula peduli dengan penilaian. Aku adalah aku, Zenata Leviana y

