Mobilku melaju cepat, terlalu cepat malah, jauh di atas batas yang seharusnya. Jalanan malam lenggang, membentang seperti ak berujung. Lampu kota berpendar buram di balik kaca yang basah karena air mata di pelukku. Amarah dan kebencian bercampur menjadi satu, membuat dadaku sesak, napasku terengah. Aku mencengkeram stir mobil erat l, sebagai pegangan untuk bertahan walau mataku tak kuasa menahan desakan air lalu terjun begitu saja. Saat di lampu merah memaksaku berhenti. Itu cukup memberiku waktu untuk mengatur napas walah kesulitan. Aku menunduk, kedua tanganku masih mencengkram erat stir mobil, lebih erat dari sebelumnya. Dadaku bergetar, dan aku menangis tanpa peduli jika orang lain melihatku aneh. Aku terlalu lelah untuk berpura-pura kuat, untuk mengalah dan menerima semua yang telah

