Aku baru saja melangkah menjauh dari pintu utama teater ketika sebuah suara menghentikan langkahku.
"Zenata?"
Langkahku refleks melambat. Aku mengenali suara itu. Sungguh sial sekali. Kejadian pagi tadi terulang? Bahkan sebelum aku menoleh, sosok itu sudah lebih dulu hadir di depanku. Ketukan tumit stiletto seperti mengejekku.
Seva.
Aku sempat menutup mata, menata hati untuk tidak mencak-mencak dengan wanita sialan itu. Yah, aku memang mengenalnya sebagai teman, tapi jika temenmu berkhianat dan bersikap layaknya korban padahal dia adalah pelaku, pasti ada rasa benci dan muak, bukan? Persis yang aku rasakan sekarang. Tapi, aku pandai menyembunyikan luka dengan senyum pura-pura.
Aku menarik napas. Bersiap untuk berakting. Aku menatapnya, menyambut dengan senyuman.
"Sudah kami duga kau akan datang ke sini. Pertunjukan ini kan ada di list travelingmu ketika berkunjung ke Engpile," tutur Seva dengan nada menyindir. "Aku tahu semuanya tentangmu," katanya.
Sialan sekali bukan? Tapi aku tetep diam, tersenyum walau sejujurnya aku sangat ingin sekali pergi. Tapi orang-orang di area gedung teater masih ramai, aku tidak bisa sembarangan bersikap.
"Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu lagi di sini walau aku tahu kau akan datang." Dia masih berkicau, mengulang hal yang baru saja dia katakan. Menyebalkan.
"Kebetulan yang sangat menyebalkan, dan menjijikan, bukan?" Aku membalas sarkas, bener bener jijik dengan sikap ceritanya yang penuh dusta, sok baik denganku padahal dia sendiri tampak waspada.
"Seva ---"
"Apaan, sih? Kau diam saja. Atau mau mau balikan ke dia, hah?"
Oh! Lihatlah, bukankah itu terlalu menjijikan? Aku hanya mengerutkan dahi, menggelengkan kepalaku samar. Sungguh tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan wanita itu.
Aku masih tetep tersenyum tulis, formal, dan menjaga jarak aman. Aku melirik ke belakang, mencari celah aman untuk kembali kabur. Saat aku menemukan celah untuk kabur, Seva dengan cepat meriah tanganku. Sial.
"Kau sudah makan malam, Ze?" tanyanya, seolah itu pertanyaan ringan.
"Belum. Tapi aku ---"
"Kami juga belum," potong Seva cepat. "Ayo makan bareng, Ze. Di sini banyak restoran bagus. Sudah lama juga aku tidak makan bersamamu." Nada suaranya tidak memberi ruang untuk aku menolaknya. Tangannya bahkan sudah mengapit lenganku erat, bulan keras tapi cukup untuk menahan langkahku yang berniat untuk kabur.
"Tidak. Tak perlu, Sev. Aku capek, mau istirahat. Hari ini panjang sekali," kataku berusaha untuk menolaknya.
Tapi Seva tertawa kecil, seakan keluhanku hanya candaan. "Ah, sebentar aja, Ze. Masa kita bertemu begini aja lalu pergi? Nggak bisa dong."
Aku menatap pria itu, Bram hanya diam saja, tidak punya nyali untuk menghentikan istrinya. Dia malah berkata, "Iya, Zenata, ikut aja. Anggap saja nostalgia."
Nostalgia katanya? Nostalgia apaan? Luka? Hal yang paling aku benci adalah nostalgia bertiga dengan mereka. Apa yang Bram katakan itu membuat dadaku mengeras.
Saat aku masih mendunel kesal, dan bersiap untuk menolak lagi, Seva sudah menarikku, berjalan menyusuri trotoar yang masih ditaburi daun yang berguguran.
Tiba di restoran mewah di dekat teater. Salah satu restoran yang sebenarnya masuk dalam list-ku, tapi hari ini aku tidak berniat untuk datang, tapi siapa yang menyangka kalau para mantan sialan itu yang menarikku ke sini, bahkan mendudukan aku paksa di salah satu kursi favorite di dekat jendela kaca.
"See, tidak sesulit itu, kan?"
Aku hanya memutar mata jengah. Berharap ini semua akan segera berakhir. Berharap ini saja cukup, jangan ada kebetulan lain lagi.
"Aku traktir ya, Ze. Sebagai tanda terima kasih karena udah lepasin suamiku." Senyum Seva mengembang, tapi aku tahu kalau itu adalah ejekan.
Aku mendengus.
"Kalau kau berisik, aku akan pergi saja," kataku.
"Ih, jangan. Ayo pesan saja. Aku yang traktir." Seva menahanku lagi, memanggil pelayan untuk memesan makanan.
Spaghetti dan segelas jus kiwi adalah pesananku walau Seva memesankan anggur merah yang puluhan tahun, aku tidak tertarik. Padahal dia tahu kalau aku tidak bisa minum.
"Santai saja, Ze. Nikmati makan malammu ya."
Sekali lagi aku hanya memutar mata. Nikmati makan malam dengan opera manis yang membuat perutku bergejolak maksudnya, saat mereka pamer kemesraan yang tidak tahu tempat. Cekikikan seakan hadirnya aku adalah kasat mata. Sialan.
Aku mengeluarkan ponsel, mencari kontak untuk meminta bantuan. Viona Rosalina, temanku yang ada di Morphile. Aku membuka room chat dengan Viona, kebetulan dia sedang online.
[Vi, bantuin aku.]
Aku mengetik pesan cepat. Viona tidak segera menjawab membuat aku menjadi resah.
"Zenata, ya?"
Sekali lagi aku memejamkan mata saat seseorang menyebut namaku. Suara kali ini asing, tapi aku tahu siapa yang datang menyapa.
"Ternyata benar, itu kamu."
Aurel, kekasihnya Faisal, cinta pertamaku. Kenapa pula dia ada di sini? Tolong jangan katakan kalau pria itu juga ikut.
Aku mengangkat wajah, menoleh ke asal suara. Senyum manis Aurel menyapa, dengan binar mata yang dibuat senang. Aku tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kalian kenal Zenata?" Seva bertanya, mengambil alih percakapan.
Aurel melirikku sekilas lantas mengangguk pada Seva.
"Wah. Senang bertemu. Kalian baru datang atau hendak pergi?" tanya Seva antusias.
Aurel melirik Faisal yang berdiri di sampingnya sambil menggenggam tangan.
"Kami baru saja datang. Tadi melihat pertunjukan," jawabnya.
Uh, kebetulan yang semakin menyebalkan saja.
"Kalau begitu, ayo silakan duduk di sini saja. Kita bisa berbagi kursi dan makan malam bersama. Iya, kan, Ze?" Seva menatapku, memberi kode agar aku mengiyakannya, seakan akulah yang memilih kursi ini, akulah tuan rumah meja ini.
Aku melihat pasangan itu, dalam hati ingin menolak tapi kepalaku mengangguk pelan. "Ya, silakan."
Pada akhirnya, aku hanya makan hati.
"Terima kasih Zenata." Aurel tersenyum.
Dia menempati kursi di dekat aku, yang duduk di kursi tunggal dekat jendela kaca besar yang menampilkan kelap kelip malam kota Ghalpi yang romantis. Mereka duduk berpasangan, saling berhadapan. Faisal dan Bram saling berkenalan. Yah, mereka tidak saling kenal pada awalnya, dan aku juga tidak berniat untuk mengungkit masa lalu di sini. Yang aku pikirkan adalah, bagaimana caranya aku pergi dari sini?
Restoran ini dipengaruhi cahaya hangat dan denting alat makan. Meja kami berada di sudut yang cukup strategis, terbuka tapi jugabtetap memberi ruang untuk pamer kecil-kecilan.
Aku melihat Seva dan Aurel yang duduk berhadapan. Keduanya tampak ceria, sama-sama anggun dengan gaun mahal, dan sama-sama seksi. Mereka tersenyum, tapi aku tahu kalau senyum itu perpaduan yang tak ingin kalah. Dua wanita itu rupa-rupa adu gaya, siapa yang paling terang malam ini. Padahal, aku hanya diam, tapi keduanya seakan tidak mau kalah. Entah perhatian siapa yang mereka tarik. Aku tidak peduli.
[Apa, Ze? Aku lagi kagok nih. Klimaksnya belum sampai. Cepatlah.]
Aku mendesis membaca pesan masuk dari Viona.
"Dasar gila. Siapa lagi yang diajak Viona untuk ngamar?" Aku membatin jengkel.
Tapi jariku bergerak lincah di layar ponsel.
[Pura-puralah telepon aku. Selamatkan aku, Vi. Aku muak. Nanti cerita. Telepon saja!]
Aku mengirimkan pesan itu cepat, sambil berharap Viona paham maksudku walau aku tahu dia pasti sedang mendesah di remangnya cahaya kamar.
"Aku suka tempat ini," kata Seva sambil menyilangkan kaki, sengaja memperlihatkan belahan gaunnya. "Cocok untuk diner romantis, ya?"
Aurel tersenyum, menyesap minumannya pelan. "Iya. Apalagi kalau datang berdua. Rasanya lengkap."
Tatapan mereka sesekali terarah padaku. Tidak lama, tidak terang-terangan tapi cukup jelas.
Aku hanya diam saja, duduk di kursi sendiri, tanpa pasangan. Aku cukup mengerti arti tatapan itu, ejekan. Itu membuat aku semakin tidak betah saja.
"Zenata ke Engpile sendirian?" tanya Aurel, nadanya manis, terlalu manis malah. "Hebat juga, ya. Tidak semua perempuan berani."
Seva tertawa kecil. "Iya. Tapi kadang sendirian itu sepi. Tapi bagi Zenata, itu sudah biasa. Padahal, punya pasangan untuk diajak traveling itu menyenangkan, bukan?"
Mereka tertawa, ringan, terkontrol, tapi terasa seperti pisau tumpul yang digesekkan perlahan. Aku tersenyum saja, pura-pura bodoh.
Aku sungguh ingin pergi dari sini. Sesekali aku melihat ponsel selagi mereka asyik menyindirku. Satu pesan masuk membuat dahiku mengerut.
"Tidak mungkin."
Nama itu, menghubungiku.