Bus yang aku tumpangi akhirnya berhenti di terminal pusat Ghalpi.
Aku turun bersama arus penumpang lain, dan seketika suasana berubah. Kota ini jauh lebih ramai dibanding Bulipe. Gedung-gedung yang berdiri berdampingan dengan bangunan tua, layar-layar digital bersisian dengan fasad klasik. Ghalpi terasa hidup, bergerak, seakan tidak pernah bener bener tidur.
Siang hari di musim gugur membuat kota ini tampak memesona. Daun-daun kuning dan jingga berjatuhan di trotoar, terbawa angin yang berembus ringan. Orang-orang berlalu-lalang dengan langkah cepat, jas rapi dan mantel panjang mendominasi pemandangan. Di kita pusat bisnis seperti ini, waktu adalah sesuatu yang mahal.
Perutku mulai berisik, keroncongan. Aku memilih salah satu restoran yang tidak jauh dari terminal. Bangunannya tinggi, bergauda modern klasik, dengan jendela kaca besar yang memantulkan cahaya matahari siang.
Aku masuk, memesan makanan siang sederhana,aku setelahnya memilih duduk di balkon lantai dua. Dari sini, aku bisa melihat jalanan Ghalpi dengan jelas. Mobil-mobil melaju teratur, pejalan kaki menyebrang dengan tertib, suara kita berpadu tanpa benar-benar saling mengganggu.
Aku menyandarkan punggung, menyesap minum hangat yang baru saja diantara oleh pelayan. Tubuhku terasa hangat. Beristirahat sejenak setelah perjalanan panjang mengitari destinasi wisata Bulipe tadi. Aku ingin menikmati waktu untuk sesaat saja, mengistirahatkan juga kamera yang telah mengabadikan banyak kenangan indah di setiap sudut Bulipe. Aku tidak ingin buru-buru, masih ada waktu sebelum teater mulai. Sambil menunggu, aku duduk di balkon restoran di kota indah ini yang dulu hanya bisa aku tuliskan di list destinasi.
Aku akan menyiapkan diri untuk malam yang berbeda kali ini.
Setelah selesai makan siang dan duduk beberapa saat sambil menikmati suasana. Aku memutuskan untuk mengakhiri waktu santai. Sebentar lagi teater akan segera mulai. Aku tentu tidak boleh terlambat. Kesempatan ini hanya ada sekali untukku. Mungkin nanti aku bisa datang lagi dengan seseorang yang lebih baik.
Berjalan di trotoar jalan yang di sisinya terdapat deretan toko yang memajang produk khas. Untuk beberapa saat aku hanya melihat-lihat sambil berpikir penampilanku.
Langkahku berbelok ke deretan butuk di pusat Ghalpi. Kota ini seperti tidak kehabisan cahaya, etalase kaca memantulkan warna musim gugur, emas dan cokelat berpadu dengan kilau lampu kota.
Aku berhenti di depan sebuah butik dengan tampilan sederhana tapi berkelas. Tidak ramai atau mencolok. Persis seperti yang aku cari. Begitu masuk, udara hangat menyambut. Aroma lain baru dan parfum lembut memenuhi ruangan. Gaun-gaun tergantung rapi.
Aku akan memilih sesuatu yang menonjolkan diriku. Teater bukan soal tampil sempurna, tapi juga menghormati momen.
Aku memilih satu gaun yang sederhana, lanjut dan warnanya dalam. Gaun yang tidak berusaha mencuri perhatian., tapi cukup membuat aku nyaman dan tenang. Di depan cermin, aku menatap diriku sendiri. Tidak ada luka di sana, hanya seorang perempuan yang sedang belajar berdiri dengan caraku sendiri.
Aku keluar dari butuk dengan gaun yang sudah melekat di tubuhku. Gaun sederhana yang tidak terlalu berlebihan tapi tampak begitu anggun. Aku tetap membawa tas di punggung. Aku juga sedikit mengubah diriku menjadi lebih baik dan lebih fresh daripada tadi setelah mampir ke salon sebentar untuk menata rambut dan make-up.
Ghalpi mulai berubah wajah. Lampu-lampu kota menyala perlahan, menyusuri trotoar dan bangunan tinggi. Orang-orang berdandan rapi, langkah mereka tertuju pada area yang sama. Aku berjalan di antara mereka tanpa merasa asing.
Saat sejak turub, Gedung Teater Ghalpi muncul di hadapanku. Bangunan itu berdiri megah, pilar-pilarnya menjulang dengan cahaya keemasan yang menyapu fasad batu.
Aku merapikan sedikit ujung gaun, menyesuaikan tali ransel di bahu. Kamera dan tiket aman di dalamnya. Aku datang bukan untuk terlihat sempurna tapi untuk hadir dan menikmati pertunjukan yang telah lama aku nantikan. Daun musim gugur berputar di pelataran, suara percakapan rendah memenuhi udara.
Lampu-lampu di dalam teater meredup perlahan saat aku menemukan kurusimh. Ruangan yang luas, langit-langit yang tinggi dengan ukiran klasik yang memantulkan cahaya temaram. Aku duduk, melekatkan tas ransel kecil di kakk, lalu menyandarkan punggung.
Suara penonton mulai menurun. Hanya terdengar bisik-bisik pelan dan derit kursi yang bergeser. Aku menatap panggung yang tertutup tirai.
Saat itulah, seseorang duduk di kursi kosong di sebelahku. Gerakannya tenang, tapi cukup membuat perhatianku teralihkan. Aku tidak langsung menoleh, hanya menangkap aroma samarnya yang terasa bersih, hangat dan sialnya familiar.
"Kau penguntit?" Aku berdecih, tidak suka dengan kebetulan ini yang terkesan direncanakan.
"Tidak. Hanya kebetulan saja," jawabnya.
"Dustamu basi," kataku.
Dia terkekeh. Suara yang rendah tapi cukup membuatku bergetar di dalam d**a.
Aku tahu kapan harus berhenti, begitu musik mulai terdengar aku memutuskan untuk memfokuskan perhatian ke depan walau kehadiran Rheef sesungguhnya cukup menganggu. Aku tahu, apapun yang akan terjadi malam ini, tidak semua berasal dari atas panggung.
Teater malam ini menampilkan kisah sederhana, tentang seseorang yang terluka, mencari obat atas lukanya sendiri, lalu memilih hidup bahagia dengan cintanya. Ceritanya tidak dramatis berlebihan, tidak pula terburu-buru. Setiap adegannya mengalir pelan-pelan seolah memberi waktu bagi penontonnya untuk ikut larut bersama tokohnya yang mendapatkan kebahagiaannya.
Aku menonton tanpa berpikir banyak, hanya merasakan. Tapi hadirnya Rheef yang hanya diam saja sejak tadi, dia memberikan sapu tangannya padaku untuk melap ingus dan air mata yang bercampur saat menikmati klimaks dari cerita teater itu.
"Pelan-pelan, Ze. Suaramu terlalu keras, orang-orang terganggu," bisiknya tepat di telinga kananku.
Aku hanya melirik lewat ekor mata, selebihnya tidak peduli. Karena aku tahu suaraku tidak begitu berlebihan. Hanya saja Rheef yang berlebihan.
Saat tirai menutup dan pada tokoh berkumpul di tengah panggung untuk membungkuk, tepuk tangan riuh memenuhi ruangan. Suaranya menggema, berlapis, hangat dan panjang.
Aku ikut berdiri, bertepuk tangan dengan ritme pelan. Di sampingku Rheef juga berdiri, ikut bertepuk tangan. Sikapnya tenang, seolah pertujukan barusan menyentuhnya dengan cara yang tidak ingin dia perlihatkan terlalu jelas.
Seperti ada sebuah tarikan, aku menoleh ke arahnya. Cahaya lampu panggung memantul di wajahnya sekilas. Lalu aku bener bener menyadarinya, menyadari kehadirannya yang tidak biasa. Entah dulu atau bahkan sekarang pun.
Tanpa sadar aku menarik sudut bibir, tersenyum kecil. Perasaanku mendadak penuh, rasanya hangat. Karena aku pikir, menikmati pertunjukan seperti ini bukanlah ingin kunikmati sendirian, tapi bersama seseorang. Siapa yang menyangka Rheef datang di saat yang tepat.
Lampu-lampu tester perlahan menyala. Tepuk tangan mulai reda, berganti dengan suara kursi yang bergeser dan langkah kaki yang saling bersilang. Penonton beranjak pergi dengan wajah yang puas, sebagian masih membicarakan pertunjukan barusan.
Aku meraih tas ransel kecillku, memakainya di punggung. Rheef berdiri hampir bersamaan denganku, bahkan mengikuti langkahku. Kamu berjalan keluar mengikuti arus, bahu kami sesekali bersentuhan.
"Jangan ikuti aku!" Aku memberi peringatan pada Rheef yang terus mengikuti langkah kakiku.
Di lobi, suara ramai. Pintu-pintu besar terbuka. Aku mengambil langkah cepat, menghindari Rheef yang tertinggal di belakang, terjebak kerumunan. Aku tidak peduli saat dia memanggil namaku.
Namun, meski aku sudah jauh meninggalkan Rheef, entah mengapa aku merasa bahwa malam ini belum benar-benar selesai.
"Zenata!"
Sial. Suara itu lagi. Padahal, baru saja aku menghindar dari Rheef. Mengapa rasanya seperti pagi ini terulang.