4. Bertemu Lagi

1053 Words
Aku menurunkan kamera yang tadinya siap untuk membidik objek. Dadaku berdebar tanpa alasan. Suara itu masih tetap sama ternyata bahkan setelah bertahun-tahun berlalu pun, aku rupanya masih menyimpan memori suara itu. Sosok yang dulu pernah aku damba, tapi semua buyar saat kusampaikan rasa. Berbalik perlahan, dan benar saja. Itu dia. Aku menarik senyum terbaik walau aku rasa sudut bibirku bergetar. Dia masih tetap sama, seperti dalam ingatanku. "Oh, ternyata memang kamu, Zenata," katanya lantas tersenyum. Senyum itu pun ternyata masih tetap saja, hangat, dan indah. "Hai, Kak," balasku canggung. Dia tersenyum lagi. Tatapannya lalu beralih ke belakangku, pada lukisan yang tergantung di dinding. "Kau masih suka lukisan yang kelihatannya menyimpan rahasia," katanya memperhatikan salah satu lukisan. Suara itu membuat tubuhku tegang. Ujung mataku meliriknya yang berdiri tepat di sampingku. Aroma parfum mahalnya tercium begitu menggoda. Aku hanya tersenyum kecil, menunduk. Momen ini kenapa terasa begitu manis. Faisal, itu namanya. Pria yang dulu selalu menemaniku sepulang sekolah. Dia adalah kakak kelasku di bangku sekolah. Tetangga depan gang rumahku dulu. Dia selalu menemani hingga aku lulus kuliah. "Sudah lama sekali," katanya. "Tadi aku hampir tidak yakin kalau itu kau." Aku merapikan ujung mantelku. Gestur kecil, refleks yang tak pernah muncul pada orang lain. Nada suaraku pun lembut saat menjawab. "Ya. Aku juga tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini." Dia tertawa kecil. Masih terasa sehangat dulu, tidak begitu berlebihan. "Kau masih sama, Zenata," ujarnya. "Datang ke tempat seperti ini sendirian." "Aku memang lebih suka begitu," kataku sambil tersenyum tipis. Kami berjalan berdampingan, langkah yang selaras. Rasanya seperti dulu, ketika kami masih sering bertemu. Tidak pernah kami, tapi selalu ada waktu kebetulan bertemu. Entah aku yang menyapa lebih dulu, atau dia. Dan aku selalu menikmati saat berjalan di sampingnya, seperti saat ini walau tempatnya berbeda. "Kau ke Engpile untuk liburan?" tanyanya. Aku mengangguk. "Iya. Sekadar menjauh dari kesibukan sebentar," jawabku. Dia mengangguk beberapa kali tapi tidak bertanya lebih jauh. Faisal selalu tahu kapan harus berhenti. Tapi tiba-tiba dadaku menghangat oleh kalimat sederhana itu hingga aku lupa caranya bersikap dingin, seperti yang aku lakukan pada dua mantan yang berpapasan tadi. Faisal juga adalah mantan. Mantan yang tak sempat jadian. Aku hampir lupa kalau keheningan ternyata bisa menipu. Saa aku mengira pertemuan ini milik kami, sebuah kebetulan yang tak pernah terpikirkan olehku sejak tak lagi bertemu dengannya lima tahun belakangan. Seorang wanita muncul entah dari mana, mungkin dari arah kerumunan yang penasaran dengan sebuah lukisan perang, atau dari toilet. Dia cantik dengan rambut panjang yang hitam kecokelatan, dibiarkan tergerai bebas di punggung mantelnya. Wajah cantiknya bersinar. Dia tersenyum saat melihat Faisal. Lalu tatapannya mengarah padaku sesaat, sedikit sinis kurasa. "Sayang," ujarnya lembut, dengan nada manja. Aku terdiam kaku. Faisal menoleh, ikut tersenyum kecil pada wanita itu. Tidak perlu dijelaskan oleh kata-kata, bagaimana wanita itu tersenyum, menatap, bahkan mengapit lengan Faizal dengan manja itu cukup membuat aku sadar bahwa dia mempertegas posisinya. Aku terdiam. Perasaan jadi tak nyaman. Pedih. Sial, kenangan itu terulang. Aku seperti dejavu ke masa itu, saat Faisal berpamitan usai aku ungkapkan rasa sukaku padanya. Ah, mataku pedih. "Sayang, aku sudah selesai," katanya dengan nada suara yang manja. Tangannya menggandeng Faisal, memberi tahuku akan sebuah kepemilikan. Aku masih tetap diam, berputar-putar sibuk dengan kameraku. "Baiklah," sahut pria itu. "Zenata," panggilnya. Aku mendongak, menatapnya dengan senyum kecil yang dipaksakan. "Ini Aurel, kekasihku." Sakit, tapi tidak berdarah. Perih dan sesak di dalam d**a. Tubuhnya nyaris bergetar. "Oh, halo," sapaku seadanya. Wanita itu hanya membalas dengan tatapan sinis. Aku tahu, dia seperti tidak suka dengan kehadiranku. "Aurel, ini Zenata, teman lamaku." Ah, rasaku ingin segera pergi dari sini. Dadaku semakin sesak. Teman ... Itu bukanlah yang aku inginkan, tapi itulah faktanya, bahwa aku hanyalah teman. Wanita itu mengalah, mendekati aku dan mengulurkan tangannya. "Aku Aurel." Aku menyambut dengan senyum sopan walau terasa dingin. "Tunangannya Faisal," katanya menambahkan. Ah, semakin sakit saja dengan kenyataan bahwa cinta pertamaku tak akan mungkin bisa ku genggam, kesempatan itu lenyap. Apa yang Aurel katakan itu cukup berat untuk membuat dadaku bergetar. "Oh, senang bertemu denganmu," kataku, tentu saja dusta. Hatiku berharap wanita itu tidak pernah ada, agar kesempatan itu aku ambil. Aku merasa berada di tempat yang salah sekarang. Bukan museum ini, bukan bukan pula kastil besar ini, atau perjalanan ini, tapi karena perasaanku sendiri yang terlalu cepat berharap pada sesuatu yang seharusnya usai sejak lama. Sejak aku berkata, "aku suka kamu." Dan dia pergi jauh, jauh sekali hingga aku tidak tahu keberadaannya. Hanya sesekali bertemu itu dari jauh sebab aku terlalu malu untuk menyapa lebih dulu. Aku mengangguk kecil, senyum sopan masih terjaga di wajahku. "Maaf," kataku pelan, memecah hening yang mulai terasa canggung. "Aku baru ingat kalau masih ada yang harus aku lakukan," lanjutku. Kulihat Faisal menatapku, seakan hendak menyampaikan sesuatu. Tapi aku enggan untuk berlama-lama di sana, di bawah tatapan intimidasi Aurel yang jelas sekali tidak menyukai keberadaanku. "Oh, tentu. Senang bertemu denganmu, Zenata," katanya akhirnya. Aku tersenyum kecil, menyembunyikan riak tak nyaman dalam d**a. "Aku juga," jawabku singkat. Aku menoleh pada wanita itu yang tampak masam karena interaksi singkat antara aku dan Faisal. Itu membuat aku ingin segera pergi saja. Setelahnya aku undur diri lantas melangkah pergi dengan luka yang kembali terbuka. Saat jarak kami cukup jauh, barulah napasku terasa kembali normal. Aku tidak menoleh ke belakang. Beberapa pertemuan tidak diciptakan untuk memulai kembali, kadang itu hanya untuk menjadi pengingat bahwa takdir masih terus berputar dalam sebuah pertemuan kebetulan. "Astaga . Hidupku ini lucu sekali ya?" Aku mendengus, teringat lagi dengan semua kisah itu. Setiap mereka menghadirkan sebuah kenangan berbeda dalam hidupku. Bertemu lagi setelah sekian tahun, bersapa atau apalah yang katakan takdir. Aku hanya berjalan di sepanjang trotoar, naik bus untuk tiba di tempat berikutnya. Aku melihat jam, berpikir berapa lama lagi teater akan di mulai. Hari ini banyak sesuatu terjadi, mulai dari bertemu Rheef, mantan kekasihku di bangku kuliah, bertemu Bram, si mantan yang selingkuh dengan teman baikku. Bertemu Faisal, mantan cinta pertama yang tak sempat jadian. "Liburanku yang sial atau apa, kenapa harus bertemu mantan di waktu yang tidak tepat begini? Berpotensi merusak mood saja." Aku tidak habis pikir dengan pertemuan ini. "Mantan, kenapa harus mantan? Bukan idola saja?" Aku mendengus kesal. Menyandarkan kepala di jendela bus yang akan membawaku ke kota Ghalpi, di mana pertujukan teater digelar. Aku sudah siap untuk menikmatinya sambil berharap tidak ada kejadian apapun lagi di sana. Tapi ... Kenapa firasatku buruk?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD