"Ze, kenapa?" Suara Viona menyelinap di antara keheningan yang mendadak hadir.
"Kenapa diam, Ze? Aku bukan hantu," katanya dengan nada menggoda. "Teleponnya, Ze, suaranya berisik," lanjutnya sambil menunjuk ponselku dengan dagunya.
"Hei, Rheef?"
Sial. Viona mengenali suara itu.
"Hai, Vi. Aku ---"
Aku menutup sambungan dengan buru-buru, membuat pria itu tak melanjutkan sapaannya yang sok akrab dengan sahabatku.
"Kenapa kau di sini?"
Pertanyaan yang bodoh.
Rheef Waverly, pria itu hanya tertawa. Tawa meremehkan yang membuat aku kesal.
"Kenapa? Kau tidak menyangka akan bertemu denganku di sini, Ze? Sama, aku pun tak menyangka bertemu denganmu di sini. Dunia itu sempit ternyata." Dia terkekeh padahal tidak ada yang lucu.
Aku diam. Rasanya ingin segera pergi saja. Dia terlalu memuakkan, sekaligus menyesakkan.
"Ini tempat umum, Ze. Aku bisa ada di manapun aku mau. Kebetulan aku ada dinas di sini. Dan kafe ini yang buka pagi-pagi, jadi aku datang ke sini. Siapa yang menyangka akan bertemu dengan bibir seksi."
Mataku membulat sempurna mendengar apa yang dia katakan. Oh, aku ingin mengumpat lagi. Sialan. Julukan itu masih saja lolos dari bibirnya.
Dia tertawa. Menyebalkan sekali. Tampak sangat puas menggodaku.
"Nostalgia kan, Ze. Bibirmu memang seksi."
"Tutup mulutmu, sialan. Kau b******n. Kenapa kau muncul di depanku lagi?"
Dia terdiam. Senyum tengilnya yang selalu muncul perlahan memudarkan.
"Tidak boleh aku rindu?"
Raut wajahnya tampak serius, dan aku benci itu. Benci diriku yang ternyata masih saja terpengaruh.
"Aku tahu, kau melihatku malam itu di pesta pernikahan. Kita bahkan saling bertatapan, tapi kau pergi begitu saja. Padahal aku ---"
"Hentikan!" Aku berseru tegas, menatap tajam Rheef. "Aku tidak butuh apapun darimu."
Aku berdiri terburu-buru, mengambil tas dan ponselku, bergegas ke kasir untuk membayar tanpa menoleh. Dadaku terlalu sesak untuk bertahan di depannya, bersama kenangan yang membuatku membenci diriku sendiri.
Jauh, kurasa sudah terlalu jauh dari kafe The Quite Hour. Trotoar jalan lenggang, beberapa orang berjalan, kendaraan sudah mulai ramai. Aku melambaikan langkah kaki lalu menoleh ke belakang, berharap tidak ada Rheef di sana. Dan syukurlah, dia sama sekali tidak mengikuti.
"Lima tahun, sepuluh, lima belas, atau dua puluh tahun, bahkan seratus tahun pun, aku tidak akan pernah bisa bertatapan dengannya terlalu lama." Aku mendunel sepanjang jalan, entah ke mana kaki akan membawa. "Sial. Kenapa mataku basah?"
Sungguh, rasanya sesak sekali ketika kenangan masa itu terlintas di benak. Rheef, dia itu mantanku.
"Ah, sudahlah." Aku membuang napas, mengatur perasaan yang masih bergejolak. Jantungku berdebar, masih sama ternyata, tidak benar-benar mati. "Jangan rusak rencana hari ini," bisikku.
Ya, aku tidak boleh merusak rencana hari ini. Nanti sore ada pertunjukan teater, aku ingin sekali menikmatinya. Jadi harus menjaga mood.
Destinasi wisata yang aku tuju setelah dari kafe tadi adalah taman. Sebuah taman di kota Bulipe.
Ashbourne Autumn Garden adalah taman tua di jantung kota Bulipe yang katanya paling jujur memperlihatkan musim. Daun-daun gugur menutupi jalur batu, beederak pelan setiap kali kakiku melangkah. Udara dingin terasa menyusup ke sela mantel, tapi justru itu yang membuat pikiranku terasa jernih.
Aku berhenti di bawah pohon maple besar, mengangkat kameraku dan memotret, mengabadikan kenangan akan perjalanan ini tentang diriku, bukan lagi tentang orang lain. Aku tersenyum puas melihat hasilnya.
Aku duduk di kursi taman setelah puas mengambil beberapa gambar.
Ada pesan masuk ke ponsel.
[Bibir seksi, sampai jumpa lagi. Mulai sekarang kita akan sering bertemu.]
Dahiku mengerut membaca pesan itu. Tanpa nama, tapi aku tahu siapa yang menyebutku begitu.
"Sialan. Rheef!"
Hanya satu orang itu memberi aku julukan bibir seksi. Memang sialan sekali buaya darat seperti dia.
Aku membuang napas kesal. Jika dia tahu nomorku, maka bisa aku pastikan hariku akan buruk.
"Wah. Lihat, siapa yang ada di sini?"
Mataku seketika terpejam. Satu tarikan napas tidak akan cukup untuk menahan rasa getir yang tiba-tiba muncul saat mendengar suara itu. Tidak asing.
Dua orang berdiri di hadapanku. Pengantin baru yang rupanya sedang berbulan madu.
"Kebetulan sekali," lanjut wanita itu sambil tersenyum lebar, senyum yang selalu dia dia gunakan untuk menutupi kesalahannya sendiri. "Engpile kecil ya? Bahkan di sini pun kita bertemu."
Rasanya menyebalkan sekali. Aku muak. Niatku datang ke sini adalah untuk berlibur dari manusia rese seperti mereka. Tapi ternyata, semesta tak mengizinkan aku untuk jauh-jauh dari pasangan itu? Oh, ayolah. Itu terlalu ... Mengharukan. Cih!
Aku berdiri, meraih kameraku dengan gerakan tenang.
"Kau liburan sendirian?" tanyanya lagi dengan nada suara yang dibuat penuh empati. "Atau, memang terbiasa sendirian sejak putus?"
Aku mengangkat pandangan, kutatap pria di sebelahnya, dia tampak gelisah. Beberapa kali mengkode agar istrinya berhenti. Aku tahu kalau dia merasa bersalah tapi tidak punya keberanian untuk mengakuinha.
"Ayo, jangan mulai ---" pria itu mengajak istrinya untuk pergi.
"Kenapa?" wanita itu menatapnya tidak terima. "Aku hanya ingin menyapa teman lama."
Aku tersenyum tipis, tidak berusaha untuk ramah, atau sok baik seperti sebelumnya. Ini memuakkan, kenapa harus bertemu dengan sumber luka yang paling menjijikan.
"Tenang aja," kataku akhirnya sambil melirik pria itu yang tampak jelas canggung. "Aku juga senang bertemu kalian di sini. Bahkan tidak menyangka kalau kalian itu murahan dengan mengikuti aku ke manapun," lanjutku dengan seringai tipis ketika mendapati mata wanita itu menyipit.
"Kamu ---"
Aku memajukan wajah lalu berbisik, "Dari sekian banyaknya negara, kenapa masih mengikuti jejakku? Kau masih takut aku akan merebutnya?" Aku tertawa, kembali menegaskan tubuh dan menatap lurus temanku itu. "Aku kasihan sekali padamu yang ternyata tidak bisa lepas dari bayang-bayangku. Kasian sekali."
Kupatri senyum terbaik di bibir, lantas berbalik. Tidak ingin terlalu berlama-lama di sana. Tidak ingin terlalu berdrama yang berujung membuat moodmu jelek.
"Zenata!"
Aku abaikan teriakan itu yang menyebut namaku dengan kesal. Aku hanya mengangkat tangan, melambai tanpa menoleh.
Uh, sial sekali. Dua kali aku bertemu mantan di pagi hari yang indah ini? Benar-benar tidak habis pikir. Temanku itu tahu list traveling yang aku tulisan dulu. Jadi tidak heran, hanya tidak habis pikir kenapa harus sekarang dan di saat yang sama.
Aku melanjutkan perjalanan, mengabadikan setiap sudut kota yang indah. Pemandangan kota Bulipe yang memiliki destinasi wisata tua ini selalu ramai dikunjungi. Aku juga mengabadikan dedaunan yang jatuh.
Aku kemudian meninggalkan Ashbourne Autumn Garden. Udara pagi terasa dingin dari sebelumnya, atau mungkin hanya perasaanku saja. Daun-daun gugur berjatuhan dengan tenang, soalnya dunia tidak peduli pada apapun, termasuk luka kecil yang hadir di hariku pagi ini.
Langkah kaki membawaku menyusuri jalan batu tua Bulipe. Di kejauhan bangunan megah yang menjadi tujuanku berikutnya itu mulai terlibat. Dia berdiri anggun di balik pagar besi hitam yang tinggi.
Eldermoor Castle Museum. Bangunan itu lebih mirip istana yang tak terlupakan oleh waktu. Dinding batu kelabu menjulang, menara-menara kecil berdiri kaku, dan jendela-jendela tinggi berbingkai lengkung memantulkan cahaya menjelang siang.
Ada keheningan yang terasa berat di sekeliling, sempet tempat yang menyimpan terlalu banyak cerita untuk dilupakan.
Aku berhenti sejenak di depan gerbang. Jika taman tadi adalah ruang untuk bernapas, maka tempat ini adalah ruang untuk mengingat. Di dalam kastil gua yang kini menjadi museum, masa lalu akan menyapa, sepanjang kaki menjelajah. Ada banyak kenangan di sana, terpanjang, tersimpan rapi, dan siapapun bisa melihatnya.
Aku memasuki kastil. Melihat-lihat dan tentu saja, tidak lupa untuk mengabadikannya di dalam kamera yang aku bawa.
Entah sejauh apa aku melangkah, entah sebanyak apa kenangan yang aku abadikan, entah seberapa puas aku menikmati sejarah dalam keheningan ini. Tapi semua kenyamanan itu seakan membekukan waktu sampai suara lain menyapa namaku.
"Zenata."
Sial. Siapa lagi kali ini? Suara itu familiar. Apa yang harus aku lakukan lagi kali? Menyapa atau mengabaikan?