"Kak Zenata baru pulang, ya?" Aku baru saja menutup pintu ketika suara itu menyambutku nyaring, dan sengaja dibuat manja. Aku melepas sepatu tanpa menoleh lalu berganti dengan sandal rumah berwarna putih. "Seperti yang kau lihat," jawabku ketus. "Tumben jam segini," lanjutnya, langkah kakinya mendekat. "Biasanya Kakak pulang malam. Kerjaan lancar, kan? Atau lagi banyak pikiran? Atau ... Karena ada Ayah di sini?" Senyumnya seketika datar. Hanya aku yang melihat itu, selalu. Aku menghela napas pelan. Belumkma menit. Rekorku hari ini bahkan belum mulai. Aku terlalu hafal polanya, anak manja yang usianya bahkan tidak jauh dariku. Meski sudah dua puluh lima tahun, Bianca masih bersikap seperti anak-anak, manja, sok perhatian, dan sok suci. Aku benci, aku muak sebab dia dengan mudahnya meng

