12. Pamit

1037 Words
Rasanya pagi datang terlalu cepat, bahkan hari berganti pun begitu cepat sampai aku tidak sadar bahwa kebersamaan dengannya usai. Aku harus kembali ke Morphile. Aku berdiri di depan pinter apartemen Rheef dengan ransel di punggung, koper di sampingku. Rheef membawakan barang-barangku dari hotel ke apartemennya. Udara pagi Engpile terasa dingin, tapi dadaku terasa lebih hangat dari semalam. Perjalanan menuju bandara kami lalui hampir tanpa kata, hening. Aku lebih suka menikmati kebersamaan ini, tapi bagaimanapun aku harus tahu diri. Kota masih belum ramai, seperti masih mengantuk, daun daun gugur berserakan di trotoar, seolah menunda kepergianku. Di area keberangkatan, aku berhenti melangkah. "Terima kasih," ucapku pelan. "Untuk apa?" Rheef bertanya dengan senyum jahilnya. Aku mendengus. "Untuk yang kemarin, yang semalam, dan untuk waktunya, Rheef, juga untuk tidak bertanya banyak hal," kataku. Rheef tertawa. "Yah, aku masih punya banyak waktu untuk bertanya banyak hal padamu, kan, Ze?" Aku hanya tersenyum. Dia menatapku cukup lama lalu melangkah semakin dekat padaki. "Pulanglah dengan selamat. Kabari aku begitu tiba." Aku mengangguk sedikit ragu. Ada satu yang terus berputar di kepalaku sejak aku bertemu dengannya, dan menghabiskan waktu bersama. "Rheef," aku menyebut namanya pelan, menatapnya ragu. "Ya?" Aku menelan ludah. Gugup menyerang, tapi aku rasa butuh jawaban, butuh kepastian agar tidak begitu menerka apa yang sebenarnya hubungan kami ini. "Kenapa?" Sepertinya Rheef menyadari keraguanku. Jemarinya yang dingin menyentuh daguku lalu mengangkatnya, membuat tatapan kami beradu. "Katakan saja, kenapa ragu gitu?" katanya dengan senyum tengil yang membuat aku mendengus pelan. "Kau bilang, tunggu aku kenali. Itu, maksudnya apa?" tanyaku. Dia tidak segera menjawab, mengambil langkah mendekat. "Kembali ke Morphile. Setelah dinasku selesai di sini, aku akan kembali ke Morphile. Jadi, tunggu aku di sana, bisakah?" Kulihat tatapannya yang tulus. Aku tahu, walau Rheef suka jahil padaku, tapi dia tulus. Tapi jawaban dia itu tidak membuat aku puas dan yakin dengan jawabannya. "Kalau begitu, kita ini apa?" Aku tidak bisa menahan diri untuk bertanya. Suaraku nyaris bergetar. "Balikan?" Dahiku mengerut. Dia tersenyum lalu mengangguk. "Ya. Zenata, ayo balikan sama aku," katanya dengan nada tegas. Mulutku terbuka sedikit mendengar apa yang dia katakan itu. Tapi itu cukup menghantam Dadali lebih keras dari yang aku duga. Rasanya tidak percaya jika aku balikan dengan mantan. Aku terdiam, lalu tersenyum. Bukan senyum penuh kemenangan, bukan juga lega. Hanya senyum seseorang yang akhirnya pulang ke tempat yang familiar. "Jangan lama-lama," kataku lirih sambil menundukkan kepala. "Tentu. Aku akan menepatinya. Jadi tunggu aku, nggak akan lama kok," katanya tanpa ragu. Aku kembali mengangkat wajah, lalu melangkah mundur. Aku hendak pamit tapi dia menarikku dalam pelukannya. "Aku akan mengusahakan yang terbaik kali ini, Ze. Jadi, jaga dirimu, dan tunggu aku, hm?" Aku hanya mengangguk dalam pelukannya, mengiyakan apa yang dia katakan. Pengumuman keberangkatan terdengar dari jauh. Penumpang diminta untuk bersiap. Dengan berat hati aku melepas pelukannya. "Sampai jumpa di Morphile, Rheef." Aku berpamitan padanya, dan dia hanya mengangguk dengan senyum yang sama, tengil tapi aku tahu ada ketulusan di sana. Aku berjalan menuju gate keberangkatan, langkah kakiku terasa ringan sekaligus berat. Ringan karena ada sesuatu yang kembali kutemukan, berat karena aku harus pergi lebih dulu. Tanganku mencengkram tali ransel, seolah denga. Begitu aku bisa menahan waktu agar tidak berjalan terlalu cepat. Aku menoleh ke belakang. Rheef masih berdiri di sana. Dadaku menghangat, lalu mengencang bersamaan. "Jangan bodoh, Zenata." Aku mengingatkan diriku sendiri. "Kau tidak sedang berada di di adegan film romantis. Ini nyata, terlalu nyata untuk berharap tanpa takut." Aku melangkah lagi, satu langkah, lalu dua. Kenapa rasanya seperti ini? Seperti seseorang yang baru saja menyentuh luka lama, bukan untuk menyakitinya, tapi untuk memastikan bahwa dia benar-benar sudah sembuh, atau justru belum sama sekali. Aku menoleh lagi. Rheef masih belum bergerak. Pandangannya tertuju padaku, tenang, seolah dia sedang memastikan aku benar-benar pergi dengan baik-baik saja. Dia tidak melambaikan tangan, tidak tersenyum berlebihan lagi, tidak menahan juga, hanya berdiri di sana, memberi ruang. Seperti dulu, dan dia selalu seperti itu. "Kau takut, ya?" tanyaku pada diri sendiri. Yah, aku akui kalau aku takut. Takut kalau semua ini hanya kebetulan yang manis, lalu akan berakhir seperti sebelumnya. Aku menarik napas panjang. Aku memang takut. Tapi aku sebenarnya takut berharap, takut untuk percaya, takut membiarkan seseorang kembali masuk ke ruang yang susah payah aku tutup rapat lalu mereka meninggalkan luka yang sama, seperti sebelumnya. Tapi anehnya, ketakutan itu tidak membuatku ingin mundur kali ini. Dia hanya membuatku lebih berhati-hati. Aku berjalan lagi, mendekati batas yang memisahkan area umum dan keberangkatan. Suara pengumuman terdengar samar, bercampur dengan langkah kaki orang-orang yang lalu-lalang. Semua terlihat biasa saja, seolah tidak ada sesuatu yang baru saja berubah dalam hidupku. Aku menoleh sekali lagi. Rheef masih ada di sana. "Kau benar-benar menunggu, ya?" batinku pelan. Bukan hanya berdiri di tempat itu, tapi juga menungguku kembali. Aku tersenyum kecil. Senyum yang hanya aku sendiri yang tahu artinya. Aku tidak akan meminta janji besar, aku hanya ingin kau tetap menjadi dirimu, sosok yang tenang, jujur, dan tidak pergi diam-diam. Langkahku terhenti sejenak sebelum pemeriksaan akhir. Aku memejamkan mata. "Zenata, kali ini tidak apa-apa untuk percaya sedikit saja. Tidak perlu langsung yakin seratus persen. Tidak perlu memikirkan akhir cerita. Cukup percaya bahwa pertemuan ini tidak datang tanpa alasan." Aku membuka mata. Saat aku menoleh lagi, Rheef akhirnya tidak terlihat. Bukan karena dia pergi lebih dulu, tapi karena jarak dan dinding kaca telah memisahkan kami. Dadaku berdenyut pelan. "Tidak apa-apa." Aku berkata pada diriku sendiri. Ini bukan perpisahan. Ini hanya jeda. Aku melangkah masuk ke antrean, pundakku tegak. Setelah sekian lama, aku tidak merasa sendirian meski berjalan sendiri. "Aku akan bertemu lagi denganmu, Rheef." Bukan sebagai masa lalu yang menyakitkan, tapi sebagai seseorang yang memilih untuk kembali. Dan aku, aku memilih untuk menunggumu dengan caraku sendiri. Di dalam pesawat, aku duduk di dekat jendela, memandang landasan yang perlahan menjauh. Mesin menderu, tapi pikiranku justru tenang. Aku menyandarkan kepala, mengingat wajah Rheef yang tertinggal di bandara. Tidak ada air mata, tidak juga kegelisahan berlebihan. Hanya perasaan hangat yang menetap di d**a. Aku sadar ketika lama terluka, aku pulang tanpa membawa beban. Pertemuan singkat itu bukan janji kosong, melainkan awal yang pelan. Pesawat lepas landas, dan aku membiarkan diriku percaya bahwa kami akan bertemu lagi. Untuk saat ini aku akan pamit pada Engpile yang mempertemukan kami lagi, yang memberikan kesempatan untuk merasakan kehangatan yang aku rindukan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD