Kantor kembali sunyi setelah Om Dafa pergi. Pintu tertutup pelan, tapi bunyinya seperti palu yang memukul pelipisku berulang kali. Aku masih berdiri di tempat yang sama beberapa detik lalu, berkas itu terasa berat di tanganku, bukan karena isinya saja, tapi karena maknanya, yaitu bukti adalah kata yang sederhana, tapi bisa meruntuhkan rumah, keluarga, bahkan nama yang selama ini kujunjung tanpa banyak tanya. Aku duduk perlahan, menaruh map cokelat itu di meja, lalu menatapnya lama. Terlalu lama, sampai kepalaku penuh oleh suara-suara yang saling bertabrakan. Wajah ayah yang dingin, tatapan Bianca yang selalu seolah menang sebelum bertarung, dan senyum Lisa yang rapi, terlalu rapi untuk seseorang yang katanya tulus. Dan Kak Zian, kakakku yang akan meledak begitu mendengar setengah kalimat

