Aku menatap Rheef beberapa saat setelah ceritaku selesai. Tanganku masih melingkari cangkir matcha yang dingin, hawa terasa panas selama aku bercerita tadi. Kata-kataku barusan mengalir tanpa jeda, tentang Om Dafa, tentang Lisa, tentang kecurigaan yang selama ini hanya berdiam di kepalaku, dan sekarang, setelah semuanya terucap, ada rasa kosong yang menggantung. Rheef tidak langsung bicara. Dia menyandarkan punggung, menautkan jemari di atas meja, lalu menghela napas pelan. Tatapannya serius, bukan terkejut. “Aku tahu, sudah menduganya,” katanya akhirnya. Aku berkedip. “Tahu apa?” “Kalau ada yang nggak beres di perusahaan ayahmu.” Nada suaranya tenang, hampir datar. Seolah itu bukan pengakuan besar. Aku tertawa kecil karena gugup. “Rheef, ini bukan gosip kantor.” “Aku tahu.” Dia

