Apartemen Rheef hening, bersih, dan beraroma kayu serta kopi yang samar. Aku keluar dari kamar mandi dengan langkah pelan, mengenakan kemeja hitam miliknya yang kebesaran di tubuhku. Lengan bajunya harus aku lipat, dan ujungnya di batas pahaku. Bajuku sendiri tergeletak di dalam, kotor, kusut, dan tak layak pakai untuk malam ini. Awalnya, aku berniat memakainya saja walah tak nyaman tapi Rheef menawarkan kemejanya. "Kita bahkan pernah tidur bersama, kenalan kau sungkan?" Aku hanya memutar mata saat dia mengatakan itu. Dasar gila. Rheef berdiri di dekat jendela saat aku keluar. Dia menoleh, lalu berhenti bergerak. Tatapan itu terang-terangan tertuju padaku. Dia tidak menyelidik, hanya diam, seolah dia sedang menimbang sesuatu yang rapuh di dalam diriku. "Kau sudah makan?" Dia bert

