Satu - Calista

3134 Words
Good morning, world.            Ritual pertama yang kulakukan setiap pagi setelah membuka kedua mataku adalah menggumamkan kalimat itu. Aku juga nggak tahu sejak kapan ritual seperti itu membantuku menambah semangat untuk memulai hariku.            Menggeliat sebentar, aku melirik ke samping kiriku. Ada sesosok lelaki yang tidur dengan tubuh menelungkup kearahku. Tenang saja, aku enggak akan menjerit terkejut seperti kebanyakan cerita roman picisan setelah menemukan keberadaan lelaki disisiku dipagi hari seperti ini karena sosok lelaki itu adalah suamiku.            Yeah, aku, Calista Giani, sudah menikah. Namanya Revan Anggara, bekerja sebagai Direktur di perusahaan properti milik keluarganya. Kami sudah menikah sejak tujuh tahun lalu. Kali ini kisahnya sama seperti roman picisan kebanyakan. Perjodohan.            Aku yang sejak dulu tinggal di panti asuhan di mana keluarganya adalah donatur tetap disana, ternyata telah mencuri perhatian Mama mertuaku, Annisa Wijaksana. Sebenarnya sejak umurku delapan belas tahun, aku sudah nggak lagi tinggal di sana, aku memilih keluar dari sana dan mencari pekerjaan, tinggal di indekos yang murah sambil bekerja di dua pekerjaan sekaligus.            Tapi aku memang selalu menyempatkan diri mendatangi panti setiap hari libur dan membantu pengurus panti mengurus mereka yang bernasib sama sepertiku sejak kecil. Dari sana lah aku dekat dengan Mama dan Papa. Sering mengobrol dan mulai saling menyayangi membuatku mengangguk setuju begitu saja saat Mama dan Papa menawariku perjodohan dengan putra kedua kebangaan mereka.            Kami menikah dan... yeah... tipikal pernikahan tanpa cinta. Tanpa aku jelaskan pun semua orang sudah bisa menebak. Kalimat keramat cinta ada karena terbiasa yang sering orang-orang ucapkan membuatku ingin tertawa geli. Bayangkan saja, tujuh tahun menikah dan terbiasa hidup bersama tapi sampai detik ini kami masih belum saling mencintai. Dan tetap menjadi orang asing satu sama lain.            Sambil menatap wajah damainya yang memesona, aku menghela lirih. Bukan... bukan helaan penuh kekecewaan karena belum berhasil membuatnya mencintaiku. Ugh... percayalah, aku bukan perempuan seluar biasa itu, yang harus berjuang mati-matian untuk membuatnya menyadari keberadaanku. Hei, itu terlalu membuang waktu.            Seperti yang kulakukan saat ini, memandangi wajah tampannya terlalu lama akan membuang waktu berhargaku yang seharusnya kupakai untuk membangunkan putra kesayanganku. Dimas Anggara.            Aku meloncat turun dari tempat tidur, pergi ke wastafel untuk mencuci muka, menyikat gigi dan merapikan tatanan rambutku sebelum melangkahkan kaki ke dalam kamar Dimas. Begitu aku membuka pintu kamarnya, aku menghela napas malas mendapatinya yang sedang meringkuk seperti bayi di dalam selimutnya.            “Dimas... bangun, udah jam tujuh.” Aku mengguncang pelan bahunya. Dia bergeming. Aku mengganti guncanganku dengan menepuk pipinya beberapa kali. “Dim, Ibu nggak bakalan buatin kamu sarapan kalau kamu nggak bangun juga.”            Menggeliat pelan, Dimas menarik selimutnya dan menutupi seluruh tubuhnya. Aku memutar bola mataku malas. “Dimas!!”            “Eungh... Ibu berisik ah...” gumamnya serak. “Hari ini libur, Dimas nggak sekolah, Bu...”            “Ya terus, mentang-mentang nggak sekolah kamu mau bangun siang-siang gitu? Nggak bisa! Biasain bangun pagi.”            “Lima menit lagi...”            “Kamu pikir Ibu percaya?”            “Hm...”            “Ya ampun... Dimas!”            Duduk tegak dengan cepat, Dimas, putraku yang mempunyai bentuk dan sorot mata Ayahnya menatapku dengan kekesalan yang kurasa sudah di ujung tanduk. Melihatnya seperti ini malah membuatku ingin tertawa.            “Kapan sih Ibu bisa berhenti gangguin Dimas pagi-pagi?!” rutuknya dengan bibir mengerucut. Pipi putihnya yang kemerahan setiap kali dia kedinginan semakin terlihat menggemaskan.            Aku bersedekap di depannya. “Sampai kamu bisa bangun sendiri tanpa Ibu bangunin.”            “Ya tapi kan ini hari libur, Bu...” protesnya dengan nada merengek. Tapi aku hanya mengangkat sebelah alisku sebagi jawaban. Dia menggerutu pelan sambil memejamkan matanya, menyibak selimut dan berjalan kekamar mandi dengan kaki menghentak.            Lucu dan menggemaskan.            “Mandi yang bersih ya anak Ibu...” teriakku geli.            “Ibu berisik!” balasnya berteriak.            Aku tertawa geli. Dimas memang selalu menyebutku berisik karena setiap hari dia selalu mendapat omelanku. Tapi aku ngomel juga bukan tanpa alasan, soalnya, Dimas itu nakalnya luar biasa. Terbiasa di manjain sama Oma dan Opanya, belum lagi semua kemauannya dituruti Tante dan Om kesayangannya membuat Dimas menjadi luar biasa egois, keras kepala dan menjengkelkan.            Kalau saja aku nggak mengeluarkan kemampuan ekstraku mendidik Dimas, ugh... aku yakin putra kesayanganku itu akan berubah menjadi monster kecil yang mengesalkan. Ah ya, jangan bertanya peran Revan untuk urusan mendidik Dimas. Revan itu sebelas dua belas seperti keluarganya untuk urusan Dimas.            Semua keinginan Dimas seolah menjadi tanggung jawab untuknya tanpa batasan. Semakin ngeselin kan?            Dan kalau kalian bingung kenapa bisa ada Dimas di antara aku dan Revan, oke... biar aku jelasin. Ide b******a dengan Revan sama sekali nggak pernah terlintas di kepalaku. Bahkan walaupun kami mendapat tiket bulan madu ke Lombok hadiah dari mbak Kila, kakaknya Revan dan Bima, Adiknya, aku tetap nggak tertarik b******a bersama Revan.            Tapi semua itu harus terbantahkan sejak otak tololku ini merasa tertarik dengan enam botol bir yang dibawa Revan masuk ke dalam kamar. Aku sempat bertanya padanya tentang rasa yang di berikan seteguk bir itu kalau aku meminumnya. Dan dengan gampangnya dia bilang, “Coba aja kalau kamu penasaran.”            Yup, penasaran. Dan aku mencobanya. Tebak apa yang terjadi? Benar... aku mabuk hanya karena menegak satu botol bir. Dan aku sama sekali nggak tahu kalau hal yang sama terjadi pada Revan. Sepanjang malam itu mungkin kami habiskan dengan b******a mengingat pagi harinya aku terkejut menyadari kondisi tubuh kami.            Jujur saja, aku sama sekali nggak ingat apa yang sudah kami lakukan sepanjang malam itu. Sama sekali nggak ingat sedikitpun. Tahu-tahu sebulan kemudian aku sudah menyodorkan sebuah tespek ke Revan di mana ada dua garis merah disana.            Awalnya aku ragu dengan kehamilanku. Tapi setelah Dimas lahir dan melihat reaksi Revan saat pertama kali memeluk bayi merah dalam dekapannya, aku hanya bisa tersenyum. Setidaknya, Revan menerima Dimas. *** Aku senang banget kalau sudah bertemu weekend. Karena di hari weekend begini, aku bisa nyantai sepuasnya tanpa melirik jam berkali-kali agar nggak kelewatan masak, beresin rumah, jemput Dimas dan segala hal melelahkan yang biasanya dilakukan Ibu rumah tangga pada umumnya.            Kalau Weekend begini, Dimas akan dimonopoli Revan. Lihat saja, sejak bangun tidur, tanpa mandi lebih dulu dia sudah duduk di samping Dimas yang sedang menonton film favoritnya yang wajib di tonton dihari minggu begini. Real Steel. Dimas cinta banget sama tokoh Atom dan Max difilm itu.            Dan sekarang aku mulai ngerti kenapa dia hobi banget nonton film itu berulang-ulang. Karena tokoh bernama Max menjadi inspirasinya. Dimas senang saat melihat cara Max mengobrol dengan Ayahnya. Ada satu adegan dimana Max berdiri ditengah ring dan merebut earphone salah seorang lelaki. Max bicara dengan lantangnya sambil menyindir seorang wanita dewasa bernama Farah. Dan aku bisa lihat kedua mata Dimas yang berbinar karena terpesona.            Jangan tanya setelah itu apa yang dia lakukan, tentu saja dia akan mencontoh kelakuan Max. Menyebalkan!            “Yah,”            “Hm?”            “Ayah bisa buatin robot kaya Atom nggak buat Dimas?”            Aku yang sedang lewat untuk mengambil beberapa cemilan yang akan kubawa ketaman belakang sebagai teman selagi menikmati waktu santaiku, tersenyum geli mendengar pertanyaan Dimas. Revan bahkan terkekeh mendengar pertanyaan putra kebanggaannya itu.            “Ayah mana bisa.” Jawab Revan.            Dibalik Pantry, aku mulai menyusun cemilan dan minuman yang akan kubawa. Sambil sesekali melirik interaksi dua lelaki itu.            Dimas memiringkan tubuhnya, menghadap lurus pada Revan yang masih menonton televisi. “Tapi Ayahnya Max bisa. Masa Ayah nggak bisa?”            “Beda dong. Ayahnya Max kan pekerjaannya memang menciptakan robot-robot keren kaya Atom. Kalau Ayah kamu pekerjaannya apa?” Revan melirik Dimas sambil bersedekap.            “Ngurusin perusahaannya Opa.” Dimas menjawab polos.            “Nah, itu kamu tahu.”            “Jadi Ayah nggak bisa buatin?”            “Nggak.”            “Ck, Ayah payah!”            Bukannya kesal, Revan malah tertawa sambil mengacak rambut Dimas.            Aku sudah membawa nampan berisi banyak cemilan ditanganku. Tapi saat melewati meja makan dan mendengar nada dering yang berasal dari hp Revan, langkahku terhenti. Kulirik lelaki itu yang masih sibuk mengobrol dengan Dimas.            “Van, hp kamu bunyi.” Tegurku. Dia ini kebiasaan banget. Apa-apa suka ditinggal seenaknya, nanti kalau sudah ketinggalan aku yang harus repot-repot bawain semuanya ke dia. Ini juga yakin banget bakalan ngerepotin aku.            “Bawain kesini.”            Kan, kan, kaaaaaaaan. Dikira aku pembantunya apa!            Dengan malas kuletakkan lagi cemilanku keatas meja. Mengambil hp Revan, aku sempat melirik layarnya. Mama yang telepon. Dan seketika perasaanku memburuk.            “Siapa yang nelepon?” tanya Revan saat kuserahkan hp itu padanya.            “Mama.” Jawabku malas. Dia melirikku, lalu tersenyum miring yang sangat kubenci. Dia pun tahu apa maksud Mama nelepon.            Jadi sambil menyandarkan pinggangku di Sofa, aku mendengarkan Revan yang menjawab panggilan Mama dengan gumaman malas dan datar. Iya, datar. Lelaki yang menjadi suamiku ini memang kelewat datar. Kecuali sama Dimas, baru deh dia bisa sedikit hangat.            “Iya.” Itu jawaban terakhirnya sebelum panggilan terputus. Dia langsung menatapku yang sejak tadi menunggunya bicara sama Mama. “Siap-siap. Mama minta kerumah Besar.”            Kaaaaaaaaaan. Rasanya aku mau nangis kalau sudah begini. Weekend dirumah Mama itu sama aja kaya hari biasanya. Aku tetap nggak bisa santai. Adaaaaaaa aja yang mau dimasak. Fyi nih ya, Mama itu nggak punya asisten buat masak di rumah. Semua-semuanya harus wajib di masak sendiri. Dan kalau aku ada disana, udah pasti bantuin Mama masak banyak buat anak kesayangannya, Revan dan cucu kebanggannya, Dimas.            Belum lagi Dimas! Kalau sudah ada di dekat Opa dan Omanya, dia jadi luar biasa menyebalkan. Ada saja tingkahnya yang membuat darah tinggiku naik. Dan aku nggak bisa berbuat apa-apa selain melotot padanya karena kalau memarahinya, sudah pasti akulah yang akan dimarahi oleh Mama, Papa, Mbak Kila dan Bima. Sedangkan Revan akan selalu mendukung keluarganya dari belakang.            Mendengar jawaban Ayahnya, Dimas langsung menatap Revan dengan kedua mata berbinar. “Kerumah Opa, Yah?”            “Iya. Oma kangen kamu katanya.” Revan tidak lupa mengacak-acak rambut tebal Dimas yang lembut. Kebiasaan favoritnya.            “Yeayyyy.” Bocah itu meloncat-loncat diatas sofa.            “Jatuh, Dimas.” Tegurku            Dia menatapku dengan wajah penuh semangat. “Bu, Dimas pakai baju baru yang dibeliin Onty Kila ya?” dia bertanya dan melesat pergi tanpa menunggu jawabanku. Aku merutuk pelan.            “Aku boleh dirumah aja, nggak?” tanyaku. Menatapnya penuh harap.            Dia menatapku dengan tatapan khasnya yang datar dan sedikit sombong. “Nanti kalau Mama nanya kamu?”            “Bilang aja aku sakit.” Jawabku cepat. Tapi setelah melihat seringain miringnya yang menyebalkan, aku mendengus malas. Iya, aku lupa. Mama mertua kesayanganku itu sangat berlebihan. Kalau tahu salah satu diantara kami bertiga sakit, dia pasti langsung menyusul kemari dan menawarkan diri untuk merawat siapapun itu yang sakit sampai sembuh.            Revan berdiri dari tempatnya kemudian menyimpan kedua tangan di dalam saku celana. Dia nggak lupa melirikku. “Kalaupun aku berhasil yakinin Mama, masih ada Dimas yang akan membongkar kebohongan kamu, Cal.” aku mengerucutkan bibirku kesal selagi dia melewatiku begitu saja. *** Begitu mobil terparkir didepan rumah mertuaku dan Revan mematikan mesin mobilnya, Dimas langsung melompat turun dari dalam mobil dan berlarian memasuki rumah sambil berteriak kencang mengabsen satu persatu penghuni rumah. Aku menggelengkan kepala putus asa melihatnya sedangkan Revan malah tersenyum kecil, menikmati tingkah laku putranya.            Aku memutuskan turun lebih dulu, melenggang memasuki rumah mertuaku dengan hanya membawa tas kecil ditanganku. Hal pertama yang kudengar setelah masuk ke dalam rumah adalah suara berisik Dimas yang berceloteh tentang apa saja. Ternyata bocah itu sedang duduk diatas pangkuan Opanya, tangannya sudah memegang sebuah donat bertoping cokelat. Sedangkan Omanya tampak sangat menikmati celotehan Dimas sambil sesekali mengelap cokelat yang berserakan dibibir bocah itu.            “Pantes berisik. Ada kakak ipar ternyata.”            Bima yang entah datang dari mana tiba-tiba saja sudah berdiri disampingku. Aku meliriknya malas. “Keponakan lo tuh yang berisik.” Cibirku.            Bima menyengir lebar padaku. Bima ini beda banget sama abangnya. Dia jail, cerewet, manja, tapi selalu bisa bikin semua orang tertawa kalau-kalau sudah mulai ngebanyol. Dan itu yang buat aku suka, sayang dan sahabatan banget sama dia.            “Muka lo tuh kak, kalau datang kemari bawaannya sepet banget.”            “Gimana nggak sepet, ini weekend loh ya, gue mau nyantai dirumah kaya ratu Elizabeth seharian aja nggak bisa. Lo kan tahu kalau udah kemari tetep aja judulnya gue ngebabu.”            “Oh... jadi ceritanya lo nggak ikhlas di suruh Mama kemari?”            Tuh kan, k*****t! Sengaja banget ngomong keras-keras sampai semua orang melihat kemari. Aku langsung menjambak rambutnya Bima waktu Mama melotot, bodo amat ini anak meringis-ringis kesakitan.            “Duh, sakit kak! Lo kalau suka k*******n jangan sama gue dong. Sama bang Revan noh di kamar.”            “Mulut lo ya Bim... gue sambelin baru tahu rasa lo!”            Saat kami masih saling bergelut ria dan Mama yang tadinya melotot kini malah melengos melihat kami berdua, aku merasakan tepukan pelan di tanganku yang masih menjambak rambut tebal Bima. Menoleh kebelakang, aku melihat Revan berdecak menatap kami. “Nggak bisa banget ya kalian ini akur kalau ketemu?” rutuknya.            Bima langsung melepaskan diri dariku dan membuat jarak. Mataku masih menyipit menatapnya. “Istri lo s***s banget sih bang. Nggak dapat jatah dari lo ya tadi malam?”            “Mau gue tunjukin videonya sama lo?” ketus Revan.            Baru aja aku mau nendang kaki Bima, jawaban Revan yang kudengar malah membuat kakiku beralih menendang kakinya. Dia ini benar-benar, ya! Video apaan? Cipokan aja nggak pernah gimana bisa punya video?!            “Apaan sih!” ringisnya kesakitan.            “Mulut kamu tuh. Mau aku sambelin juga?”            “Loh, aku bilang apa memangnya?”            “Kamu bilang video-video nanti Bima mikirnya kita beneran punya video yang begituan tahu!”            “Memang punya, kan? Video aku ngasih jatah buat kamu.”            Mataku membulat seketika. Video dia ngasih aku jatah? Kapan?! Jangan-jangan... waktu pertama kali itu dia...            “Jatah uang bulanan kamu. Aku punya videonya. Dirumah kan ada cctv.”            Rahangku hampir aja jatuh kebawah. Revan ini... ya Tuhan... bisa banget ya aku punya suami kaya dia. Lagian sejak kapan dia ngasih uang bulanan cash?! Bego... Dan tawa Bima yang menggelegar membuat kekesalanku semakin menjadi. Kepalaku makin nyut-nyutan kalau sudah berhadapan dengan dua lelaki Anggara ini. Lebih baik aku menyingkir dari pada meladeni mereka berdua.            Aku nggak memedulikan ledekan Bima yang menyebut-nyebut rona diwajahku. Merona? Aku? Karena Revan? Dih, males banget.            “Sehat Ma?” tanyaku setelah memeluk dan mencium Mama.            “Sehat. Kamu gimana? Revan bilang kamu lagi nggak enak badan ya sayang?” Mama menatapku cemas.            Aku mengernyit bingung saat sedang menyalami Papa. Kapan aku... oh, tunggu! Aku langsung melirik Revan yang duduk disebrang sofa.            “Calista?” tegur Papa. “Kamu sakit apa?”            Aku meneguk ludah berat. Selain bingung mau menjawab apa dan belum mempersiapkan diri untuk berbohong, aku memang paling nggak tega kalau harus bohongin orangtua.            “Cuma kecapekan, Pa.” Ini bukan aku yang jawab, tapi Revan. Dan dia jawabnya sambil main hp.            Mama dan Papa langsung menatapku khawatir. “Istirahat dikamar aja, sayang. Kamu nggak usah ngapa-ngapain, biar Dimas Mama yang ngurusin.”            “Ng... Calista nggak apa-apa kok, Ma.” Aku tersenyum kecil, lalu duduk disamping Revan.            “Jangan salahin aku kalau hari ini kamu dibikin ribet sama Mama. Soalnya sebentar lagi bakalan banyak temen arisan Mama yang datang. Aku udah coba selamatin kamu tadi.”            Bisikan Revan yang samar ditelingaku membuat kedua mataku melotot dan tanpa sadar memekik. “Hari ini ada arisan, Ma?”            “Iya. Kan Mama udah bilang sama Revan di telfon tadi.”            Aku langsung melirik Revan yang tampak tidak berdosa memainkan hpnya. Dasar suami durhaka! Tahu gitu mending aku iyain aja waktu dia bilang aku lagi sakit. Ck! Yang tadi itu bisa di ralat gak sih? Aku mau ngaku kena tipes biar sekalian di Opname dan melarikan diri dari arisan ini!!!!            Sebagai menantu kesayangan keluarga dan baik hati, aku langsung melangkah ke dapur. Seperti biasa, membantu acara masak memasak yang paling digemari Mama. Memang sih, anggota arisan Mama gak terlalu banyak. Paling cuma sepuluh orang. Tapi tetap aja, kalau udah berkutat di dapurnya Mama judulnya ya ngebabu.            Saat aku masuk ke dapur, aku melihat punggung seseorang yang terlihat sibuk di depan kompor. Bau masakan lezat juga tercium di hidungku. Gak biasanya Mama pakai asisten buat masak. Aku mendekati orang ini, berdiri dibelakang punggungnya dan melirik kemeja pantry. Banyak masakan yang kelihatannya lezat sudah tersedia di sana.            “Mbak,” kutepuk punggungnya pelan sampai perempuan di depanku ini berbalik terkejut menatapku. “Eh, maaf-maaf. Gak maksud ngagetin mbak kok.”            Perempuan yang mempunyai tatapan lembut ini tersenyum padaku. Kalau dilihat-lihat, perempuan ini seumuran dengan mbak Kila deh. Oh... jangan-jangan ini temennya mbak Kila.            “Kamu Calista, ya?”            “Iya. Mbak kenal aku?”            “Cuma dari foto sama cerita tante sih. Oh iya, kenalin, nama aku Renata. Keponakannya tante Annisa.”            Oh... keponakannya Mama.            “Sepupunya Revan dong?” aku membalas jabatan tangan mbak Renata dan tersenyum. “Aku Calista mbak, istrinya Revan.”            Mbak Renata tersenyum. Aku suka senyumnya, seperti bisa membuat siapapun yang melihatnya merasa tenang. Mbak Renata ini juga cantik banget, anggun, padahal fashionnya masih kalah jauh dari mbak Kila yang WOW. Sederhana, tapi anggun. Ck, mirip banget sama artis Maudy Koesnaedi.            Ngomong-ngomong, kok aku nggak pernah ketemu sama mbak Renata sebelumnya, ya? Padahal dia ini sepupunya Revan loh. “Mbak anaknya tante Ayu?” tebakku. Soalnya diantara adik-adik Mama, om Gilang dan tante Ayu, Cuma anaknya tante Ayu yang belum pernah ketemu sama aku. Kalau anaknya om Gilang, si Akbar, aku malah udah bosen banget ketemu sama dia. Malah sering main kerumah sama Bima.            “Iya, kenapa Cal?”            “Oh... nggak mbak. Cuma agak aneh, kok aku baru sekali ini ketemu sama mbak Renata.”            “Mbak kerja di Singapura. Waktu kamu sama Revan menikah juga mbak gak bisa ambil cuti. Jadi wajar kamu gak kenal sama mbak.”            Aku beroh ria dan mengangguk. Pantesan aja.            “Hm... ini semua mbak yang masak, ya?” tanyaku sambil menunjuk makanan lezat yang sudah tersaji.            “Gak semua kok. Tadi tante juga bantuin aku.”            “Aku bisa bantu apa nih mbak?”            “Hm... udah mau selesai juga kok, Cal. Mending kamu kedepan aja deh, jagain anak kamu. Siapa namanya? Dimas?”            Aku mengangguk, sedikit senang. Ya kapan lagi bisa nyantai dirumah Mama. Mbak Renata ini baik banget ya ampuuuuun. Jadi makin suka deh. “Beneran gak apa-apa mbak?” basa-basi sedikit gak apa-apa kan?            “Iya...”            Dengan senyuman sumringah aku memutar tubuh kebelakang. Baru akan melangkah, Revan muncul dipintu dapur.            “Cal, aku...”            Aku mengernyit saat tatapan tertegunnya jatuh kebelakang tubuhku. Aku menoleh kebelakang. Mbak Renata?            “Ya?” tanyaku.            Ada yang aneh. Tujuh tahun hidup bersamanya membuatku paham semua gelagat Revan. Dan kali ini aku bisa melihat tatapan terkejutnya yang asing.            “Hai, Van. Lama gak ketemu.” Mbak Renata tersenyum kecil pada Revan.            Seperti biasa, Revan yang datar dan dingin hanya mengangguk kecil padanya lalu menatapku. “Aku mau keluar sebentar sama Bima. Tamunya Mama sebentar lagi datang, kamu jaga Dimas.”            “Oke.” jawabku. Setelah itu aku keluar dari dapur bersama Revan.            Dan yang gak Revan tahu adalah, aku memerhatikannya yang sesekali menoleh kebelakang entah karena apa. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD