Dua - Revan

2319 Words
“Kenapa lo?”            Gue menoleh pada Panji, dahi gue mengernyit mendapati tatapan menyelidik dari salah satu sahabat gue ini. “Apa?”            Mario menyahut. “Muka lo, Van. Dari tadi kusut banget. Kurang jatah lo ya dari bini lo?” Gue menatap Mario malas. Di sampingnya ada Ratu, calon istrinya, yang langsung memukul kepalanya tanpa sungkan. Thanks, Rat.            “Mulut kamu, yang!” tegur Ratu. Mario menyengir lebar pada Ratu.            Gue kembali memalingkan muka, terlalu malas meladeni ocehan Mario yang gak pernah disaring. Pertanyaan Panji pun terlalu malas gue jawab. Satu-satunya yang menarik perhatian gue hanya Adrian, yang sedang berada di meja lain, sibuk mencumbu cewek cantik yang berhasil terjerat oleh pesonanya yang menipu.            Sahabat gue yang paling berengsek.            “Mau lo?” Panji lagi-lagi nanya gue. “biar gue cariin. Kalau gue lihat-lihat malam ini banyak cewek yang gak cuma seksi tapi lumayan cantik.”            Mario tertawa geli. “b**o, mana mungkin Revan doyan sama cewek selain-”            “Bisa diam gak kalian berdua. Gue makin pusing!” rutuk gue.            Gue menarik gelas yang dari tadi sama sekali gak menarik minat gue, meneguknya dalam sekali tegukan sampai habis. Di saat yang sama, Adrian kembali duduk di samping gue dengan wajah bahagia khasnya.            “Minum, Van?” tegurnya sambil merangkul bahu gue yang langsung gue tepis. Dia belum cuci tangan setelah meraba apa pun yang dia bisa di tubuh cewek tadi. Najis.            “Tangan lo kotor.”            “Apaan, gue gak abis pegang apa-apa.”            “Tapi tadi lo pasti abis gesek-gesekin tangan lo ke s**********n cewek itu. Cuci tangan dulu, baru pegang-pegang gue.”            “Anjing!”            Gue hanya tersenyum malas.            Ck! s**l banget hari ini. Hanya karena satu orang yang kembali muncul ke hadapan gue, rasanya seharian ini semua hal yang gue lihat berpotensi buat gue emosi.            “Dia kenapa sih?”            Gue masih bisa melihat Adrian yang bertanya dengan wajah bodoh ke Panji dan Mario.            “Biasa, Ian, kurang orgasme.” Jawab Mario. Sekali lagi, Ratu memukul kepalanya. “Ini nih yang buat aku malas di ikutin sama kamu kalau ke kelab. Dikit-dikit KDRT. Belum nikah aja aku udah babak belur, gimana udah nikah coba, yang?”            Ratu bersedekap dan menatap Mario sinis dengan wajah judesnya. “Oh, jadi kamu maunya ke kelab bareng mereka aja? Biar bisa main perempuan sepuasnya kaya si Adrian itu?”            “Heh, heh, ngapain nama gue di bawa-bawa!” Adrian mengetuk-etuk meja dengan gelas di tangannya.            “Ya bukan gitu, tapi yang, lihat deh. Mereka gak ada yang bawa pasangan. Calista aja yang statusnya istri Revan, gak pernah tuh ngintilin suaminya kemana-mana.”            “Ya beda dong, Revan sama Calista kan gak saling cinta. Kalau kita, eh, atau jangan-jangan kamu udah gak cinta ya sama aku?!”            Gue bingung harus marah atau menertawakan Mario yang saat ini melotot seperti orang bodoh dan menatap gue seolah meminta pertolongan. “Mati aja lo, Yo!”            Seperti biasa, setiap Ratu mengikuti Mario ke kelab karena kemungkinan menemukan gelagat Mario yang genit dengan perempuan lain, meja yang kami tempati selalu di ributkan dengan pertengkaran sepasang calon suami istri itu.            Adrian menyikut lengan gue. “Jangan di masukin hati, Ratu kan memang ceplas ceplos orangnya.”            “Soal?”            “Lo yang gak cinta sama Calista.”            Gue mengernyit. “Memang benar, kan?”            Adrian melengos malas. Dia pikir gue sakit hati cuma gara-gara itu? Nggak, lah. Buat apa. Mereka juga tahu kan gue sama sekali gak cinta sama Calista. Gak perlu drama, toh Calista juga sama, gak ada cinta di antara kami.            Lagi pula bukan Calista yang buat gue sampai gak bisa mikirin apa pun seperti sekarang.            “Renata di Jakarta.” Cetus gue pada akhirnya.            “Renata?” tanya Panji seolah ingin memastikan. Gue mengangguk malas lalu mengamati wajah mereka semua.            Gak ada satu rahasia apa pun diantara kami berempat. Semua hal terberengsek yang terjadi dalam hidup kami masing-masing telah kami ceritakan sejak kami memulai persahabatan di bangku perkuliahan. Beruntungnya, terkadang kami jauh merasa tenang.            Seperti masalah Renata.            Iya, Renata Noura. Sepupu gue, keponakannya Mama yang pernah jadi pacar gue selama lima tahun.            “Lo udah ketemu sama dia?” tanya Mario.            Gue mengangguk, “Tadi siang, dirumah Mama.”            “Dan dari siang tadi, lo belum balik kerumah nyokap lo?” tebak Panji.            Gue menggedik malas. Gimana bisa gue pulang kalau satu-satunya manusia yang paling ingin gue jauhi ada di sana.            “Kok bisa sih? Bukannya selama ini Renata selalu menetap di Singapura? Waktu lo menikah juga dia ngotot gak bisa pulang, kan? Sekarang, kenapa tiba-tiba dia muncul? Di rumah nyokap lo lagi.”            Gumaman Adrian itulah yang seharian ini buat kepala gue mendadak pusing.            Kenapa dia balik lagi setelah selama ini berusaha menghilang seperti di telan bumi?            Sementara dia jelas tahu kalau dia adalah kelemahan terbesar gue.            Gue gak bisa ketemu Renata lagi, gak akan pernah bisa.            Karena sejak gue mutusin semua hubungan yang kami punya, gue belum sekalipun merasa siap kehilangan Renata.            Dan menemukan Renata lagi di hidup gue udah pasti menimbulkan satu ketakutan dihati gue.            Gue takut goyah, lalu kembali kepelukan Renata. Dan gue yakin seratus persen, kalau Renata juga sama seperti gue.            Kami seperti magnet yang saling tarik menarik jika didekatkan.            Sementara hal di sekeliling kami nggak akan pernah mengizinkan. Sekalipun itu semesta.            Dan yang lebih parah lagi. Gue udah nggak sendiri. Ada Calista dan Dimas yang harus gue pertimbangkan perasaannya.            s**l! *** “Dari mana?”             Gue baru aja pulang. Gue pikir Calista udah tidur, waktu gue masuk ke kamar, gue lihat dia udah tidur miring seperti biasanya. Tapi waktu gue baru aja melempar kemeja ke dalam keranjang baju kotor, tiba-tiba gue menemukan dia yang udah duduk sambil bersedekap merhatiin gue.            Gue melirik jam dinding. Udah jam sebelas malam. Tumben dia belum tidur. “Kenapa belum tidur?”            “Gimana mau tidur kalau aku masih emosi sama kamu!” Calista mengomel, yeah... hal yang sudah biasa.            “Kenapa?”            “Kenapa?! Kamu tuh ya, pamitnya pergi sebentar tapi sampai arisan selesai, malahan sampai aku mau pulang, kamu juga gak pulang-pulang. Mama sampai ngomel ke aku, malah hp kamu gak bisa di hubungin! Kemana aja sih kamu?!”            “Ada urusan.”            “Ya urusan apa?”            Gue hampir membuka pintu kamar mandi, menatapnya dengan dahi mengernyit. “Adalah, gak usah mau tahu banget. Bukan urusan kamu juga.”            Gue sempat melihat wajah terkejutnya sebelum masuk kedalam kamar mandi dan menutup pintu dengan kasar. Damn! Gue gak harus sekasar itu kan sama dia?!            Mengusap wajah gusar, gue memutuskan menyalakan shower. Gue butuh mendinginkan kepala.            Sekitar lima belas menit, saat gue keluar dari kamar mandi, gue melirik Calista yang sudah kembali tidur memunggungi sisi dimana gue biasanya tidur. Melihatnya begitu membuat gue lagi-lagi merasa bersalah.            Calista...            Dia ibu yang baik untuk Dimas. Banyak mengajarkan kebaikan untuk Dimas, dan juga beberapa hal yang gak bisa gue lakukan sebagai ayah untuk anak gue sendiri. Sebagai istri, Calista gak pernah menuntut apa-apa ke gue. Dari awal menikah, gue gak pernah bilang apa pun tentang perasaan gue, gak pernah juga memberinya pengertian tentang gue yang belum dan mungkin gak akan bisa menerima status dia sebagai istri gue.            Tapi tanpa bertanya, Calista seolah sudah mengerti. Dia menempatkan diri pada porsinya. Gak pernah meminta selain hal-hal yang menyangkut Dimas. Gue bahkan gak pernah memberikan dia kasih sayang sebagai suami. Di awal pernikahan, gue sempat frustasi, apa lagi saat dia mengaku hamil akibat kecerobohan gue.            Gue takut, gak tahu harus melakukan apa untuk hubungan ini. Dan gue kira, Calista juga sama frustasinya.            Tapi nyatanya enggak. Calista ini... adalah wanita yang kelewat mandiri dan periang. Selama masa kehamilannya, gue jarang sekali memerhatikan dia dan kandungannya. Tapi Calista gak pernah marah atau pun protes. Dia menjaga dan mengurusnya sendiri. Tanpa menunjukkan wajah marah ke gue. Tanpa mengadu ke orangtua gue. Bahkan, di depan banyak orang dia selalu terlihat ceria.            Lima hari sebelum dia melahirkan, gue sempat nanya kenapa dia bisa terlihat sebiasa itu.            Dan jawabannya membuat gue merasa tenang, juga mempunyai keberanian untuk menjalani pernikahan ini tanpa beban.            Aku tahu kita menikah karena perjodohan. Kamu gak cinta sama aku, aku juga gitu. Dari awal aku gak berharap banyak. Asalkan kamu tetap sopan dan gak berlaku kasar ke aku, aku gak akan mempermasalahkannya. Cukup menjadi anak yang berbakti ke orangtua kamu dan Ayah yang baik untuk anak yang ada di dalam kandungan aku. Selebihnya, kamu bebas melakukan apa pun. Hm... mungkin nanti kita bisa menjadi partner yang hebat sebagai orangtua?            Maka mulai detik itulah, gue gak lagi bersikap kaku ke dia. Meski status kami sebagai suami istri, tapi di rumah ini, kami lebih mirip seperti dua orang teman yang bahkan tidak terlalu akrab.            Gue menghela napas lelah.            Berbaring di ranjang, gue menatap lirih punggung yang selalu menjadi pemandangan gue setiap kali tidur. “Aku minta maaf.” Gue tahu dia belum tidur.            “Kenapa minta maaf?” dia balik bertanya tanpa merubah posisinya.            “Tadi aku kasar ke kamu.”            Dia hanya diam. Lalu perlahan menoleh ke arah gue.            “Kamu ada masalah, ya?”            Gue mengeryit, sejak kapan dia pintar menebak?            “Nggak.            “Yakin?”            “Iya.”            “Ya udah. Besok telefon Mama, minta maaf.”            Dia kembali memunggungi gue dan menarik selimut keatas bahu.            Tahu apa yang terkadang membuat gue bersyukur menikahi wanita ini? Dia sangat mencintai orangtua gue. *** Hari ini gue harus ke hotel Darma Group, salah satu hotel milik keluarga yang gue kelola. Menjadi pemimpian di perusahaan keluarga itu gak semudah seperti yang orang-orang lihat. Gue bukan Adrian, yang begitu memutuskan berkecimpung dalam urusan perusahaan keluarga maka akan mengabdikan hidupnya di sana. Gue masih butuh waktu bersenang-senang untuk diri gue sendiri, karena itu, sesibuk apa pun, gue masih bisa menyisihkan waktu luang untuk menyenangkan diri gue.            “Laporan yang saya minta sudah selesai?”            Vania, sekretaris gue mengangguk. “Semua yang bapak minta sudah di siapkan di meja bapak.”            Vania berjalan di sisi gue selagi gue mengamati seisi hotel. “Tolong lukisan itu di ganti, Van. Bilang sama Bu Tia lukisannya terlalu mencolok.” Tunjuk gue ke salah satu lukisan di salah satu dinding.            “Iya, Pak.” Vania selalu cekatan, menulis apa pun perintah gue dan setelah itu pasti segera melaksanakannya.            Melirik ke arah lain, gue menemukan beberapa karyawan hotel yang sibuk berkerumun entah sedang melakukan apa. “Mereka ngapain?” tanya gue pada Vania. Vania hanya melirik, lalu menggeleng ragu. “Nanti minta Bu Tia kasih mereka SP. Saya gak suka ada karyawan yang melakukan hal lain selain tugasnya di jam kerja.”            “Iya, Pak.” Jawab Vania lagi.            Gue dan Vania masuk ke dalam lift khusus yang memang hanya diperuntukkan buat gue. Pintu lift sudah hampir tertutup tapi tiba-tiba kembali terbuka dan gue hampir terbelalak menemukan siapa wanita yang sedang berdiri dengan napas tersengal-sengal di sana.            “Renata...”             Renata berdiri di depan gue. Menatap gue dengan riak mata yang sama seperti dikedua mata gue.            “Aku... boleh numpang ke lantai tiga nggak, Van? Hm... lift yang lain penuh terus. Kebetulan aku ada seminar dan udah terlambat–”            “Masuk.”            Dia mengerjap. s**t! Wajah sendunya yang sejak dulu selalu membuat gue kehabisan alasan untuk nggak mencintainya semakin membuat jantung gue berdegup menggila.            Dia masuk, Vania langsung bergerak mundur hingga kami berdua saling berdiri bersisian. Nggak ada yang bicara diantara kami semua sampai pintu lift kembali terbuka. Gue menyadari pergerakan Renata yang sudah akan melangkah keluar.            Persetan!            Gue menahan lengan Renata agar dia nggak keluar dari sini, tatapan terkejutnya adalah yang pertama kali gue lihat setelah itu.            “Vania, kamu keluar!”            “Ya, Pak?” tanya Vania ragu.            “Keluar, Vania! Kamu gak dengar?”            “I-iya, Pak!”            Vania bergegas meninggalkan kami berdua. Pintu lift kembali tertutup. Gue dan Renata masih saling bertatapan. Renata berusaha menarik lengannya tapi gak gue biarin gitu aja. Gue menahannya lebih erat dari sebelumnya.            “Muncul juga kamu akhirnya.” Gumam gue, menahan amarah yang mulai bergejolak sebisa mungkin.            “Lepas, Van.” Ucapnya lemah. Gue tersenyum sinis. “Gak enak kalau di lihat orang.”            “Kenapa? Gak ada siapa-siapa di sini selain aku sama kamu. Oh, kamu masih begini ternyata, sangat peduli dengan pendapat orang lain tapi gak pernah peduli dengan orang yang sangat mencintai kamu.”            “Van...” dia menghiba, menatap gue memohon dan terus berusaha melepaskan tangannya.            Tapi sayangnya saat ini gue lagi gak punya keinginan untuk berbelas kasih, termasuk pada wanita yang hingga detik ini masih sangat gue cintai.            “Sesekali kamu harus berhenti memikirkan orang lain, Renata. Dan berhenti lah menjadi manusia munafik!” gue menarik lengannya dalam sekali hentakan hingga tubuh Renata bertabrakan dengan tubuh gue.            Tuhan, akhirnya gue bisa menghirup aroma tubuhnya yang selama ini gue rindukan.            Memeluk pinggangnya erat, gue gak akan membiarkan Renata melepaskan diri sampai kerinduan gue akan keberadaannya terpuaskan.              “Van, lepas. Tolong, Van... jangan begini.” lagi-lagi dia memohon. Tapi gue bukan orang bodoh yang gak bisa membaca arti tatapannya untuk gue. Dia sama merindunya. Bahkan kedua mata teduh itu seolah memohon agar gue semakin memeluknya erat.            “Aku bilang, berhenti menjadi manusia munafik, Renata.” Desis gue di telinganya.            “Van...”            “Fine, kalau kamu gak ngerti caranya, biar aku yang mengajari kamu.”            Mendorong tubuhnya hingga terbentur dengan dinding lift, gue langsung menciumi bibirnya tanpa jeda. Tuhan, gue benar-benar merindukan dia. Renata memberontak, gue menahan kedua tangannya ke atas kepala, nggak membiarkan wanita yang masih sangat gue cintai ini berani melepaskan diri.            Bibir gue gak berhenti melumat bahkan menghisap bibir ranumnya yang memabukkan. Sampai ketika satu desahnya lolos dan bibirnya menyerah dengan apa yang gue lakukan hingga dia membalas setiap lumatan yang gue berikan, gue mulai mengendurkan cekalan tangan gue di pergelangan tangannya.            Dia memeluk leher gue erat, mendesah lagi ketika gue menggigiti dan menghisap bibirnya tanpa ampun. Desahannya semakin membuat gue menggila. Persis seperti tujuh tahun lalu saat dia selalu menjadi teman tidur gue.            Ya, tujuh tahun lalu, ketika gue merasa benar-benar hidup karena ada Renata di sisi gue. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD