Calista dan Resya, Mama Dafa, sahabat Dimas di sekolah sekaligus tetangganya di rumah, sedang duduk berdampingan di sebuah bangku kayu yang terletak di halaman sekolah selagi menunggu anak-anak mereka keluar dari kelas. Seperti biasanya, kedua Mama muda itu saling berbincang ringan, mulai dari gosip artis sampai gosip yang sedang hangat di perbincangkan di sekitar lingkungan sekolah.
“Kasihan ya,” gumam Calista setelah mendengar semua informasi dari Resya tentang orangtua salah satu teman sekelas anak mereka yang akan bercerai.
Resya mengibaskan tangan sambil mendengus, “Lebih kasihan lagi kalau dipertahanin, Ta. Makan hati terus Bu Dewi.”
“Ya tapi bercerai kan bukan satu-satunya solusi, Sya.” Timpal Calista.
Resya melebarkan kedua matanya protes. “Terus, Bu Dewi harus gimana? Coba deh lo bayangin ada di posisi Bu Dewi, suaminya suka main tangan, udah gitu, selingkuh lagi,” Resya bergidik ngeri. “Amit-amit deh, jangan sampai Papinya Dafa ketempelan pelakor gitu.”
Calista terkikik geli melihat reaksi di wajah Resya. “Ketempelan banget, Sya? Berasa Pelakor itu sejenis Jin tomang ya.”
“Mending juga Jin Tomang! Di Ruqyah bisa pergi. Nah, kalau Pelakor, mau ubun-ubunnya disembur pake air kembang tujuh rupa juga gak bakalan pergi. Gatel sih!”
Calista semakin tertawa mendengar rutukan Resya. Ini yang dia suka dari Resya, ceplas-ceplos tapi juga baik. Sejak mereka pindah ke rumah mereka yang sekarang tujuh tahun lalu, perkenalan pertama mereka sudah membuat Calista merasa nyaman berteman dengan Resya.
“Tapi kan kita gak bisa salahin satu pihak aja. Oke lah, si Pelakor itu memang salah. Hm... anggap aja pekerjaan tetapnya memang begitu. Tapi, kalau si laki-lakinya gak nolak, itu artinya mereka berdua juga salah, kan? Belum lagi banyak faktor disekitar hubungan si suami-istri yang kali aja memang bermasalah dari awal. Itu tuh ya, menurut aku rentan banget dengan perselingkuhan.” Ujar Calista.
Resya mengangguk-anggukkan kepalanya lambat. “Iya sih, keluarga jauh gue juga ada yang gitu. Suaminya selingkuh gara-gara dia gak becus ngurusin suami. Tahunya belanja sama hahahihi sama geng sosialitanya. Malah salah satu anaknya ngedrugs lagi.”
“Nah, itu! Jadi ya Sya, perselingkuhan itu bukan cuma karena satu faktor penyebab. Tapi tiga. Si suami, si istri sama si pelakor.”
“Terus, solusinya apa dong menurut lo?”
Calista mengusap dagunya dengan wajah berpikir keras. “Hm...” dia melirik Resya yang tampak serius menunggu jawabannya. “Gue juga nggak tahu. Revan belum pernah selingkuh sih.”
Melihat wajah Resya yang berubah menjadi datar dan kesal. Tawa Calista meledak begitu saja. Dia bahkan sampai memegangi perutnya.
“s****n lo ah! Gue udah nungguin juga.” Rutuk Resya memukul lengan Calista.
Calista meredakan tawanya meski masih sesekali terasa geli. “Ya lo juga sih, nanya masalah pelakor ke gue. Mana lah gue tahu.”
Resya memicingkan kedua matanya, dia sempat melirik ke sekitar untuk berjaga-jaga tidak ada yang menguping pembicaraan mereka. “Memangnya, lo gak pernah curiga gitu sama Revan? Kan dia sering keluar malam.”
“Nggak lah. Ngapain? Gue juga tahu dia pergi kemana, sama siapa. Ngapain gue curiga.”
“Tapi dia kan doyan ke kelab.”
“Cuma buat senang-senang kalau dia udah capek sama kerjaan. Gue juga tahu dia perginya sama sahabat-sahabatnya.”
“Dan lo yakin banget kalau di sana dia gak,” Resya mengangkat kedua tangannya sebatas kepala lalu dia menggerakkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan. “main sama cewek-cewek? Itu kelab loh, Ta.”
Calista menoyor dahi Resya dengan telunjuknya. “Gini nih kalau lo kebanyakan nonton akun gosip yang hobi ngebahas masalah pelakor. Otak lo jadi curigaan terus.” Calista tersenyum tipis.
“Tapi kan, Ta, lo sama Revan... hm...” Resya tersenyum tidak enak. “masih gitu-gitu aja, kan? Belum ada perubahan?”
Calista mengangguk santai.
Resya mengamati sahabatnya itu sejenak. Lalu menggeleng pasrah. “Tadi lo sendiri yang bilang, kalau perselingkuhan itu bisa ada karena salah satu faktor ya hubungan si suami istri yang memang bermasalah. Dan hubungan lo sama Revan itu dari awal udah bermasalah, Ta. Terus, lo nggak takut gitu kalau Revan... selingkuh?”
Calista menggelengkan kepalanya namun kedua matanya sedikit menyendu. “Dia nggak pernah aneh-aneh kok selama ini. Kegiatannya juga cuma itu-itu aja dan gue selalu tahu. Pagi pergi kerja, sore pulang ke rumah, kalau ada urusan kerjaan di atas jam pulang kantor selalu bilang. Keluar malam juga kalau sahabat-sahabatnya ngajakin hangout. Itu juga dia selalu bilang kok ke gue. Selebihnya... dia ada terus sama gue.”
Resya mengangguk lambat meski merasa tidak puas. Mengenai hubungan suami istri itu, memang hanya Resya yang tahu duduk persoalannya karena Calista sudah sangat memercayainya, bahkan sudah menganggap Resya adalah saudaranya sendiri.
Sejenak, keheningnya menemani mereka setelah percakapan itu. Sampai saat Resya menemukan wajah Calista yang terkesan berbeda dari biasanya. Resya menyenggol lengan Calista dengan sikunya. “Kenapa? Ada masalah, Ta?”
Calista menghela napas. “Bukan gue. Tapi Revan,” menghela napas, Calista mulai bercerita. “kemarin kita ke rumah Mama. Ada arisan di sana, jadi Mama minta kita ke rumahnya. Awalnya sih semuanya baik-baik aja. Revan sempat pamit keluar sebentar tapi... sampai hampir tengah malam dia baru pulang ke rumah.”
“Terus masalahnya apa?”
Calista menatap Resya bimbang. “Waktu di rumah, dia kelihatan marah banget.”
“Ke elo?” tebak Resya.
Calista menggelengkan kepalanya. “Gue pikir awalnya dia kesel karena gue omelin, tapi kayanya bukan itu. Gue kenal Revan, dia kelihatan kaya... sedih, marah juga. Tapi gue nggak tahu karena apa.”
“Udah coba nanya ke Revan?” tanya Resya.
Calista tersenyum kecil. “Gue nggak pernah mau ikut campur, Sya.”
“Dia suami lo, Ta. Dan kalau aja lo lupa, lo itu istrinya. Kalau dia ada masalah dan lo nanya sama dia, itu namanya bukan ikut campur. Tapi memang udah kewajiban lo sebagai istri.”
Calista tersenyum kecil dan mengangkat bahunya malas. Resya sampai menggelengkan kepalanya putus asa. “Mau sampai kapan, Ta?”
Calista menghela napas dan membuang wajah kerah lain. “Nggak tahu, Sya.”
Iya, Calista tidak tahu sampai kapan keadaan rumah tangganya akan terus begini. Mereka memang terlihat baik-baik saja jika diperhatikan dari luar. Tapi yang sesungguhnya terjadi berbeda dari apa yang orang-orang lihat.
Pernikahan mereka bermasalah. Atau... memang hanya Calista yang merasa begitu. Karena nyatanya, Revan terlihat biasa saja dengan semua ini. Dan karena Revan tidak terganggu dengan semua ini, maka Calista seolah ikut terbawa arus.
Seolah-olah hubungan pernikahan mereka memang harus seperti itu. Membuat Calista tidak menginginkan apa pun dalam pernikahannya selain kebahagiaan Dimas. Bagi Calista, kehidupan mereka seperti ini sudah cukup. Revan sangat menyayangi putra mereka dan juga bertanggung jawab atas mereka berdua. Revan tidak pernah berlaku kasar. Kalaupun dia tidak sengaja melakukannya, dia akan langsung meminta maaf pada Calista. Seperti kemarin.
Tapi, seperti yang Resya katakan.
Mau sampai kapan...
Dimas tidak mungkin akan terus bersamanya. Suatu hari nanti, ketika dia sudah dewasa, pasti akan tiba masanya Dimas harus meninggalkannya. Lalu setelah itu, apa yang harus Calista lakukan? Sedang tujuan hidupnya saat ini hanyalah untuk Dimas, putranya. Karena Revan tidak akan mungkin mengizinkan Calista menjadikan dirinya sebagai tujuan hidup.
Dan entah kenapa, sejak kemarin malam, semua pikiran itu mulai memenuhi kepala Calista.
***
Revan baru saja selesai merapikan pakaiannya. Kedua mata tajamnya tidak berhenti memandang pintu toilet yang berada di dalam ruang kerjanya. Dan tidak lama setelah itu, pintu toilet itu terbuka, memerlihatkan sosok Renata yang tampak jauh lebih baik keadaannya dari beberapa menit lalu setelah mereka selesai b******a.
Ya, Revan berhasil membuat pertahanan Renata runtuh dengan semua cumbuan dan kalimat rindunya yang menyesakkan d**a Renata. Membuat Renata pada akhirnya pasrah ketika Revan mengurungnya di dalam ruang kerja lelaki itu selama satu jam.
Kedua mata mereka bertemu sejenak sebelum Renata membuang pandangannya lagi. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Renata mengutip tasnya yang tergeletak di atas lantai. Tubuhnya kembali menegang saat dia berhasil berdiri dan menerima sebuah pelukan hangat di belakangnya.
“Kamu mau kemana?”
Bisikan Revan membuat Renata memejamkan matanya erat. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana lemahnya Renata terhadap Revan dan sentuhannya. “Lepas, Van. Aku harus pergi.”
Revan semakin mengeratkan pelukannya. “Sudah terlambat kalau kamu berniat menghadiri seminar itu.”
Renata tetap berusaha melepaskan diri. “Van, udah. Jangan begini lagi.” bisiknya dengan penuh permohonan. “Ini salah, Van. Kita... nggak seharusnya begini.”
“Kembali menjadi munafik, Renata?” bisikan Revan mendadak berubah menjadi tajam.
Renata mengambil napas kuat dan berusaha mengumpulkan keberaniannya yang tersisa. Lalu dengan cepat meloloskan dirinya dan berbalik menatap Revan dengan kedua mata yang kini lebih berani menatap pemilik hatinya hingga saat ini.
“Lebih baik menjadi munafik dari pada harus menjadi pengkhianat,” Renata mengeratkan pegangannya pada tas di tangannya. “kamu sudah menikah, Van.”
Ada ribuah jarum yang masih selalu berhasil menembus relung hati Renata setiap kali dia menyadari kenyaatan itu. Revan sudah menikah. Lelaki yang sampai detik ini masih merajai hatinya sudah bukan miliknya lagi dan terlarang baginya. “Apa yang baru aja kita lakukan ini salah! Nggak seharusnya aku–”
“Munafik.” Desis Revan. Dia menyimpan kedua tangannya di dalam saku celana. Menatap Renata tenang dan juga tajam. “apa yang baru aja kita lakukan tadi sudah lebih dari cukup bagiku untuk tahu kalau kamu masih sangat merindukanku, dan juga mencintaiku.”
“Revan...”
“Kamu bilang ini adalah kesalahan? Ya, ini memang kesalahan, Renata. Tapi semua kesalahan yang kusebut dengan bencana ini, semuanya, penyebabnya adalah kamu.”
Pelupuk mata Renata kembali basah. Dia belum siap dan tidak akan pernah siap jika harus kembali mengungkit masa lalu. “Cukup, aku nggak mau dengar apa apun lagi. Semua itu masa lalu.”
“Masa lalu yang pada akhirnya membuat masa depan kita berdua hancur.” Ucap Revan lagi dan dia berhasil membuat wajah Renata basah oleh air mata. Di dalam sakunya, Revan mengepalkan kedua tangannya kuat. Menahan diri untuk tidak menarik Renata kedalam pelukannya.
Tangisan Renata adalah kelemahannya. Tapi Revan sedang ingin memuaskan diri menghukumnya. Menghukum wanita yang sudah membawa seluruh kebahagiaan dan masa depan yang sudah dia rangkai indah bersama wanita itu juga pergi begitu saja.
Renata mengusap wajah sendunya dengan punggung tangan. “Masa depan kita mungkin memang sudah hancur, Van. Tapi yang aku tahu, kamu punya masa depan lain yang mungkin akan lebih baik dari pada–”
“Aku nggak mencintai Calista, Renata, demi Tuhan!”
Bentakan Revan yang penuh dengan amarah membuat Renata terperangah. Gelagat Revan jelas sekali terlihat ingin memuntahkan amarahnya dan Renata tidak menginginkan itu. Dia harus segera pergi atau mereka berdua akan semakin tenggelam dalam kesalahan.
“Itu bukan lagi menjadi urusanku, Van.” Ucap Renata berusaha terlihat tenang. Lalu tanpa mengatakan apa pun lagi, Renata beranjak dari tempatnya untuk segera pergi. Saat dia sudah berhasil membuka pintu ruang kerja Revan, kedua mata Renata terbelalak sempurna mendapati siapa yang sedang berdiri di sana sambil menutup kedua telinga seorang bocah laki-laki yang tampak tercenung.
Renata merasa sekujur tubuhnya terasa kaku. Dia tidak bisa melakukan atau mengatakan apa pun. Bahkan saat mendengar derap langkah kaki Revan di belakangnya pun, Renata tidak bisa bergerak dari tempatnya.
“Cal...” gumam Revan yang sama terkejutnya dengan Renata.
Calista masih membungkuk dengan kedua tangan yang menutupi telinga Dimas. Dia melirik Revan sejenak, lalu menatap putranya lagi, membuat Revan yang ikut menatap Dimas tersentak dan ingin mengumpat kasar detik itu juga.
Calista menegakkan tubuhnya. “Aku...” gumamnya dengan wajah pucat. “Tadi Dimas... kami...”
“Kenapa Ayah nggak cinta sama Ibu?”
Pertanyaan Dimas dengan suara lirih yang penuh kepolosan itu meluncur begitu saja hingga membuat tulang belulang Calista ingin luruh begitu saja.
***
Revan memijat pangkal hidungnya. Dia terduduk lemas di tepi tempat tidur. Otaknya kembali memikirkan kejadian beberapa waktu lalu, ketika dia menemukan Calista dan Dimas di depan pintu ruangannya. Kepala Revan terasa akan pecah saat ini. Dia sibuk menerka-nerka sebanyak apa istri dan anaknya mendengarkan percakapan antara Renata dan dirinya.
Saat dia menemukan keberadaan Calista dan Dimas di sana, Revan meminta Renata untuk segera pergi, lalu membawa Calista dan Dimas pulang ke rumah. Berkali-kali Revan memerhatikan putranya itu selama di perjalanan. Dimas mendadak menjadi sangat pendiam. Bahkan setelah Calista mengajaknya mengobrol dan menawarinya bermain game pun, Dimas hanya menggelengkan kepalanya sambil menunduk.
Revan cemas. Dia takut apa yang baru saja Dimas dengar akan mengganggau psikis putranya.
“Van,” Calista sudah berdiri di depan pintu menatapnya. “makan dulu, yuk. Belum makan, kan?”
Revan menatap Calista lama. Sejak kejadian tadi, Revan hanya melihat raut cemas dan sedih di wajah Calista beberapa saat. Setelah itu, Calista terlihat biasa saja seolah tidak terjadi apa pun.
“Tadi...” Revan menggumam pelan. “Kamu sama Dimas udah dengar apa aja?”
“Nanti kita bicarain setelah makan siang.” Jawab Calista lalu menghela napas. “untuk saat ini, bersikap biasa aja di depan Dimas.”
“Tapi...”
“Dimas udah nungguin kita di meja makan, Van.”
Revan mengikuti Calista ke meja makan. Memang benar, Dimas sudah duduk di sana. Dia hanya menatap Revan sesaat sebelum kembali menunduk. Membuat hati Revan terenyuh karenanya. Belum pernah Dimas bersikap seperti itu padanya. Seolah-olah jika dia terlalu lama menatap Revan maka Revan akan mematahkan hatinya.
“Ibu lupa beli Ayam, stok di kulkas juga udah abis. Jadi hari ini makannya pakai udang aja ya, Dim.” Ujar Calista. Dia sedang berusaha membangun suasana santai dan nyaman disekitar mereka.
Dimas tidak menyahut. Hanya kepalanya saja yang mengangguk.
“Nanti kita belanja,” ucap Revan menyahut. “Dimas mau ikut?”
Calista dan Revan sama-sama mengamati putra mereka. Kali ini Dimas membutuhkan waktu beberapa saat sebelum mengangguk ragu.
Revan melirik Calista yang masih menatap putranya sendu. Dan hal itu semakin membuat Revan merasa buruk.
Mereka makan dalam keheningan. Calista tidak lagi bersuara dan Revan tampak sangat tidak sabaran untuk segera menghabiskan nasi di piringnya. Dia tidak suka jika keadaan seperti ini bergulir terlalu lama.
Jadi, setelah makan siang berlangsung, Calista dan Revan membawa Dimas ke ruang televisi. Mengajak Dimas menonton agar putra mereka bisa sedikit lebih rileks saat apa yang sejak tadi sudah ingin mereka lakukan pada Dimas terlaksanakan.
“Dim,” panggil Calista. Dimas mengalihkan perhatiannya dari televisi yang sedang menayangkan serial kartun. “Tadi... di kantornya Ayah, Dimas dengar apa aja?”
Dimas yang duduk diantara kedua orangtuanya melirik Revan sekilas, lalu tampak merapatkan dirinya lebih dekat dengan Calista. Calista merasa hatinya sesak mendapati sikap putranya. Dia merangkul bahu Dimas dan berusaha tersenyum menenangkan.
“Bu,” panggil Dimas. “Kalau Ayah nggak cinta sama Ibu, kenapa bisa ada Dimas?” Dimas menengadakan wajahnya ke atas untuk menatap Calista lekat. “kata Bu Guru, anak-anak itu terlahir karena kedua orangtuanya saling mencintai. Tapi tadi Ayah...” Dimas menunduk lirih.
Calista meneguk ludahnya berat. Dia ingin menatap Revan tapi terlalu takut kalau Revan bisa membaca perasaannya dengan mudah. Jadi yang dilakukan Calista hanya menatap putranya.
“Siapa yang bilang Ayah nggak cinta sama Ibu?” tanya Calista, suaranya masih terdengar santai, berbeda dengan perasaannya.
“Ayah. Tadi Dimas dengar. Ayah bilang–”
“Ayah sih...” Calista mengangkat wajahnya, mengalihkan perhatiannya pada Revan yang sejak tadi hanya diam mendengarkan. Calista menyipitkan kedua matanya, berpura-pura menatap kesal pada Revan. “kalau ngambek sama Ibu suka gitu.”
Revan mengerutkan dahinya bingung. Ngambek? Siapa?
Calista berdecih, “Ayah lagi ngambek sama Ibu, Dim. Kemarin Dimas ingat nggak waktu kita kerumah Oma? Ayah kan pergi ninggalin kita di sana, sampai kita pulangnya dianterin sama Om Bima.”
Dimas mengangguk ragu.
“Waktu Ayah pulang, Ibu ngomelin Ayah. Ayah kesel, terus ngambek. Nah, mungkin karena masih kesel sama Ibu, tadi Ayah cerita ke tante Renata. Terus bilang nggak cinta sama Ibu. Padahal sih, Ayah cinta banget sama Ibu. Ya kan, Yah?”
Calista kembali menatap Revan yang hanya mengerjap tidak mengerti.
Bahkan kini, Dimas pun ikut memandanginya penuh harap.
“Iya.” Jawab Revan pelan.
“Beneran? Jadi, Ayah cinta kan sama Ibu?” kejar Dimas.
“Iya, Dim.” Jawabnya Revan lagi.
Dimas kini memutar tubuhnya agar lebih bisa menatap Ayahnya. “Iya apa? Ayah yang jelas dong jawabnya...” rengek Dimas di sertai paksaan.
Revan berdehem pelan. “Iya, Ayah cinta Ibu.”
Lalu senyuman cerah Dimas kembali terlihat. Membuat rasa lega melingkupi perasaan Calista dan Revan.
“Yeayyyy!” Dimas bersorak sambil bertepuk tangan. “Ayah, nggak boleh ngambek gitu lagi, ya. Nggak boleh bilang nggak cinta sama Ibu lagi. Ibu kan baik, udah jagain Dimas, jagain Ayah. Masakin makanan enak setiap hari buat Dimas sama Ayah. Dimas cinta sama Ibu, Ayah juga harus gitu. Yang tadi itu, Yang Ayah bilang ke tante Renata tadi, nggak boleh, Yah. Dimas nggak suka dengarnya.”
Kini Dimas beralih menatap Calista, “Ibu juga, kan Dimas udah bilang, Ibu kalau lagi ngomel berisik. Ayah kan jadi kesel kalau di omelin, Dimas juga gitu. Keseeeeeel banget kalau Ibu mulai ngomel.”
Dimas mencebik sebentar sebelum meraih kedua tangan orangtuanya dan menyatukannya diatas telapak tangannya sendiri. “Baikan dong...”
Revan dan Calista saling memandang satu sama lain.
“Bu, cepetan minta maaf ke Ayah. Ntar ngambeknya makin lama loh.” Dimas sengaja mengecilkan suaranya hingga menyerupai bisikan. Meskipun Revan masih bisa mendengarnya.
Calista mengulum senyumnya. “Mafin aku, ya.” ucapnya pada Revan dengan tulus. Bahkan dia tidak lupa tersenyum manis pada Revan yang hanya menatapnya diam.
Maaf? Bahkan Calista tidak melakukan satu kesalahan pun, batin Revan bersalah. Satu-satunya yang bersalah diantara mereka adalah dirinya.
“Yah, Ibu udah minta maaf loh ini. dimaafin, kan?” desak Dimas.
Mau tidak mau, Revan mengangguk kecil dan bergumam pelan. “Iya, maafin Ayah juga ya, Bu.”
Meski hanya di tatap datar seperti biasanya, tapi menerima ucapan selembut itu dari Revan entah mengapa membuat jantung Calista sedikit berdegup aneh untuk pertama kalinya. Dia mengerjap, lalu merasa wajahnya sedikit memanas hingga akhirnya menyengir seperti orang bodoh. Ayah Ibu banget? Kok rasanya agak gimana ya jadinya...
Dimas kembali bersorak lalu memeluk Ayah dan Ibunya bergantian. Tidak lupa mengecup pipi mereka masing-masing. Beberapa saat setelahnya mereka larut dengan perbincangan hangat hingga Dimas mulai mengantuk dan beranjak pergi ke kamarnya untuk tidur siang.
“Van,” panggil Calista ketika melihat Revan yang sudah akan beranjak pergi.
“Hm?”
“Kedepannya, aku harap kamu gak seceroboh ini lagi.”
Revan masih menatap Calista dalam diam.
Calista mendesah panjang lalu tersenyum kecil. “Aku tahu kamu gak pernah mencintai aku. Tapi seenggaknya, hal itu cukup aku dan kamu aja yang tahu. Orang luar gak seharusnya tahu mengenai ini, apa lagi... Dimas. Masalah Dimas udah teratasi, sekarang giliran kamu. Mbak Renata... pastiin dia nggak bilang apa-apa sama orangtua kamu soal tadi siang. Aku nggak tahu kenapa kamu harus memberitahu mbak Renata soal ini, dan aku nggak akan coba cari tahu juga, seperti biasa. Itu urusan kamu.”
Baik Calista maupun Revan hanya saling bertatapan satu sama lain.
“Bisa kan, Van?”
Dengan gerakan berat, Revan menganggukkan kepalanya. Dan entah kenapa, apa yang baru saja Calista katakan padanya, terdengar seperti sebuah peringatan.
***