Empat - Calista

2031 Words
“Mau ya, Ta?”            Aku menatap mbak Kila ngeri setelah dia menyampaikan alasannya kenapa dia menyuruhku datang ke kantornya. “Kenapa harus aku?” tunjukku pada diri sendiri. “Jangan aneh-aneh deh, mbak. Jalan kaki di sekitar rumah aja aku sering hampir kepeleset gimana kalau harus mondar mandir di atas catwalk coba?”            “Ya kalau nggak kepeleset palingan lo gelundungan, mbak.”            Aku melemparkan tatapan membunuh pada Akbar. Adik sepupu Revan yang nyebelinnya sebelas dua belas sama Bima. Sejak tadi dia memang sudah ada di sini, berbaring nyaman di atas sofa sambil bermain game di hpnya. “Dia ngapain sih mbak di sini? Minta kerjaan? Gini nih kalau baru lulus kuliah tapi gak punya cita-cita.” Aku menggelengkan kepalaku dengan wajah menghina.            Akbar mendengus malas, “Walaupun baru lulus kuliah, gue nggak perlu lah mbak repot-repot mikirin masa depan. Justru masa depan yang sekarang sibuk ngejar-ngejar gue.” Dia melirikku sekilas dengan cara yang menyebalkan.            Aku menjulurkan lidah ingin muntah mendengarnya. Kenapa sih, punya keluarga gini banget kelakuannya. Kalau nggak nyebelin ya punya kadar kepercayaan diri yang berlebihan. Akbar yang paling memprihatinkan.            “Dia baru aja tanda tangan kontrak,” mbak Kila menyahut sambil memilah-milah kertas di atas mejanya.            “Kontrak?”            “Hm. Jadi model tetap di GW.”            Tunggu, tunggu. Duh kok rasa-rasanya kepalaku mendadak puyeng ya. “Akbar jadi... model tetap di sini?! GW?!”            “Nggak usah terlalu histeris mbak, gue masih mau kok di ajakin foto gratis sama lo. Ya... itung-itung nyenengin fans lah.”            Aku melangkah cepat menghampirinya lalu menghadiahinya sebuah pukulan yang lumayan menyakitkan di atas kepalanya. “Siapa yang ngefans sama lo memangnya?!”            Akbar tertawa meski sambil mengusap kepalanya. Jangan heran kenapa aku dan Akbar nggak kelihatan saling bersopan santun satu sama lain. Meskipun aku adalah kakak iparnya, tapi aku sudah menganggap Akbar seperti adikku sendiri.            Kami kelewat akrab hingga sulit untuk bersikap sopan. Yeah... seperti tadi contohnya.            Dan ya Tuhan! Tadi mbak Kila bilang apa? Akbar baru aja tanda tangan kontrak sebagai model di GW? Golden World, salah satu brand terkenal di Indonesia yang pemiliknya adalah kakak iparku sendiri.            Sumpah ya, aku masih nggak percaya.            Ini Akbar loh... remaja pecicilan yang bandel dan nilai pendidikannya yang memprihatinkan banget sampai orangtuanya lebih memilih mewaqafkan seluruh kekayaan mereka pada anak yatim dari pada anak kandung mereka sendiri.            Tapi kalau di lihat-lihat, Akbar memang mempunyai satu faktor sampai membuatnya pantas menjadi model di GW sih. Iya, satu-satunya faktor yang bisa membuat orang menyadari keberadannya.            Akbar ini... luar biasa ganteng. Alisnya tebal, hidungnya mancung mirip perosotan di taman bermain komplek. Bibirnya juga merah natural. Itu karena Akbar nggak pernah merokok katanya, tapi aku nggak percaya. Dia kan bandel. Dan Akbar ini selalu wangi... dia kelewat memerhatikan penampilannya.            Walaupun otaknya cuma sebesar amuba, menurut Bima, kelakuannya yang membuat seluruh keluarga nggak sudi ngakuin dia sebagai saudara, menurut Revan, tapi Akbar sukses menarik perhatian orang-orang dengan wajahnya yang menipu.            Cih.            “Udah sih, nggak usah ngambek. Lo juga di ajakin tuh sama mbak Kila. Ya nggak persis kaya gue sih, lo cuma jadi model panggilan aja kalau stok model mbak Kila lagi menipis.” Akbar sengaja menahan tawanya yang terdengar menghina banget di telinga aku.            Mbak Kila menyahut, “Iya Ta, kamu juga nggak ada kegiatan apa-apa kan selain jadi ibu rumah tangga yang sok manis.”            Mbak Kila ini ya... muka sama mulutnya beda jauh. Muka boleh kalem tapi mulutnya nyinyiiiir banget. Pantes sih, adik-adiknya juga begini. Turunan siapa sih mereka ini, perasaan Mama sama Papa nggak begini-begini banget.            “Mbak Kila bener tuh. Nggak capek apa kerjaannya, kamar, dapur, kamar, dapur mulu? Kasih waktu lah buat s**********n bang Revan istirahat sebentar dengan lo yang keluar dari sangkar emas lo itu buat jagain Dimas.”            “Mulut lo ya!” omel gue pada Akbar yang langsung cekikikan bersama mbak Kila.            Kamar, dapur, kamar, dapur dari hongkong?! s**********n Revan juga nggak mungkin sampai lecet-lecet kalau aku dirumah terus. Nggak pernah di gunain juga! Hih.            “Udah sih, terima aja.” mbak Kila menyerahkan Ipadnya ke aku. “itu yang bakal kamu pakai di Fashion Show nanti.”            Aku menerima benda itu dan melihat ke layar. Kedua mataku nyaris melompat dari tempatnya. Ya ampun... cantik banget gaunnya...            Aku tahu dan nggak pernah meragukan semua karya dari desainer berkelas seperti mbak Kila. Beberapa pakaianku, bukan, kebanyakan dari semua pakaianku juga dari GW. Dan hasilnya selalu membuatku nggak tega kalau sampai mereka kena debu setitik pun.            Harganya mahal sist... satu gaun aja bisa sampai setengah dari uang belanja bulanan yang Revan kasih.            Dan ini... INI! Gaun indah yang sejak tadi aku pandangi ini harus aku pakai, di Fashion Show mbak Kila minggu depan?!            “Mbak nggak lagi ngigo kan ya?” tanyaku dengan wajah bodoh.            “Memangnya kamu nggak bisa lihat mata mbak melek begini?”            “Ya terus, kan ini... gaunnya...”            “Kenapa, jelek?”            Aku mendengus, lalu merengek sedih. “Kebagusan tahu... nggak tega ih kalau harus di pakai sama aku.”            Akbar yang sejak tadi berbaring kini melesat cepat menyusulku dan mengambil IPad dari tanganku begitu saja. “Wuih... gila!” pekiknya. “Bener mbak, gak tega gue kalau sampai lo yang make.”            Gue langsung memelototi Akbar dan menginjak kuat kakinya.            “Sakit b**o!”            “Lo yang b**o!”            “Ta,” mbak Kila memanggilku lagi. “kesempatan emas belum tentu datang dua kali.”            Aku mengerutkan dahi, menatap mbak Kila bingung. Jujur aja, aku nggak ngerti apa yang mbak Kila maksud. Kesempatan emas? Maksudnya... apa?            Tapi entah kenapa, melihat wajah serius mbak Kila membuatku menghela napas dan mengangguk pelan.            Melihat anggukanku, mbak Kila menyeringai puas dan mengacungkan jempolnya padaku.            “Mbak Kila bener, nggak selamanya kesempatan itu datang dua kali. Bisa aja kan, lo malah masuk penjara.” Sahut Akbar menatapku.            Aku menatapnya bingung. “Hah?” gumamku dan mbak Kila bersamaan.            Akbar melengos malas. “Itu istilah permainan Monopoli. b**o lo ah!”            Monopoli? Astaga...            Aku langsung menoyor kepalanya tanpa segan. Dasar Akbar! *** “Sepuluh di tambah dua?” “Dua belas.” “Di tambah lima?” “Tujuh belas.” “Di kurang sembilan?” “Hm...”            Aku yang baru saja selesai mencuci piring di dapur, dan berdiri nggak jauh dari sofa di mana Revan dan Dimas duduk berdampingan mengulum senyum mendapati pemandangan di depanku. Dahi Dimas berkerut, dia pasti sedang menghitung cepat di kepalanya.            “Delapan? Eh, sembilan. Oh nggak, delapan, Yah. Iya, kan, delapan?”            Revan mengangguk dan tersenyum. Kedua tangannya mengacak gemas rambut Dimas. “Hebat.” Pujinya yang membuat Dimas mengulas senyum yang sama di bibirnya.            “Iya dong, anak Ayah...” balas Dimas bangga.            Dih.            “Anak Ayah aja, bukan anak Ibu memangnya?” aku menyahut sambil menghampiri mereka.            Dimas menyengir lebar padaku. “Iya... anak Ibu juga kok. Tapi kan yang paling pintar itu Ayah. Nah, Dimas kan juga pintar, artinya pintarnya Dimas turunan Ayah. Gitu, Bu...”            “Loh, jadi maksudnya Ibu nggak pintar gitu?” protesku.            “Ya...” Dimas memutar bola matanya. “Nggak tahu, kan Dimas kalau belajar sama Ayah, bukan sama Ibu.”            “Itu kan karena kamunya aja yang ribet. Setiap Ibu mau temenin belajar nolak terus. Maunya nungguin Ayah kamu.”            “Ayah jago sih kalau matematika.”            “Ibu juga. Sini, sini, kasih Ibu soal. Ibu pasti bisa jawab kok.”            Aku merasakan ketukan pelan di atas puncak kepalaku oleh jari telunjuk. Dan itu Revan pelakunya.            “Maksa banget. Terima aja kalau aku memang lebih pintar dari kamu.”            Wah, ngajak berantem ini orang!            “Pintar sebelah mananya? Ngajarin anak SD kelas satu aku juga bisa kali.”            Revan tersenyum miring menyebalkan. “Terus kenapa di buku PR Dimas bisa sampai ada nilai sembilan puluhnya?”            “Ya...” eh, sembilan puluh?            “Iya, iya! Itu pertama kalinya Dimas dapat nilai selain seratus. Waktu itu kan belajarnya sama Ibu.” Sahut Dimas. Kok kedengerannya dia semangat banget bongkar-bongkar aib Ibunya? Anak siapa sih ini?            “Kok jadi nyalahin Ibu? Kan yang ngerjain kamu.”            “Tapi kan yang periksa Ibu. Kalau Ayah yang periksa terus Dimas ada salah, Ayah selalu koreksi. Ibu nggak.”            Aku melirik Revan, kini dia tersenyum penuh kemenangan. Benar-benar ya mereka ini. Hobi banget menjatuhkan harga diriku.            Lagi-lagi Revan mengarahkan telunjuknya, kali ini ke dahiku. Dia mendorong-dorong pelan disana. “Ngaku aja. Kamu memang nggak pernah lebih pintar dari aku, Cal.”            Fine!            Aku meraih telunjuknya cepat dan menggigitnya kuat.            “Aarrgghh...”            Melepaskan telunjuknya dengan cara terkasar yang aku bisa, aku nggak lupa menyeringai sepertinya. “Seenggaknya aku nggak terlalu lemah kaya kamu. Di gigit gitu aja udah jerit-jerit kaya cewek,” sekali-sekali niruin gaya nyebelinnya Revan nggak dosa kan? Lipat tangan di d**a, berdiri, senyum dingin ala-ala CEO. “Dasar lemah.” *** Aku mendengar decakan kesal berkali-kali di belakang punggungku. Membuat aku yang hampir terlelap menjadi terjaga sepenuhnya dan berbalik cepat untuk mengetahui apa yang sedang Revan lakukan sejak tadi sampai seberisik ini.            “Kamu ngapain? Berisik, Van.” Rutukku.            Revan duduk menyandar, sedang menunduk memerhatikan telunjuknya dan kini menatapku kesal. Dia nggak bilang apa-apa, tapi kini telunjuknya berada tepat di depan mataku.            “Apa?” tanyaku nggak mengerti.            “Tanggung jawab.”            “Hah?”            “Sakit gara-gara kamu gigit tadi.”            Gigit?            Aku mengerjap lalu melirik telunjuknya yang memang terlihat luka bekas gigitanku. Kedua mataku sedikit melebar. Masa sih tadi sekuat itu? Perasaan gigitnya cuma becandaan doang deh. Tapi... beneran luka kayanya.            Aku ikut duduk di sampingnya, melirik telunjuk dan wajahnya yang tertekuk bergantian. “Cuma luka kecil, Van.”            “Tapi sakit. Gigi kamu tuh...” Revan menipiskan bibirnya.            “Apa? Gigi aku kenapa?”            “Kaya gigi ikan piranha.”            Kupukul lengannya tanpa sungkan, “Sembarangan! Kamunya aja yang manja.” Melompat dari tempat tidur, aku mengambil batu es dari kulkas lalu menggulungnya kedalam handuk kecil. “Siniin,” aku membuka telapak tanganku padanya, dia meletakkan telunjuknya di sana.            Begini lah seorang Revan Anggara, kalau manjanya sedang kambuh akan lebih menyebalkan dari Dimas. Bekas gigitan begini doang harus banget sampai di kompres. Didiemin dua jam juga sakitnya hilang sendiri.            Dasar manja.            “Dimas udah nggak apa-apa, kan?”            Aku meliriknya sekilas. Mengerti maksud pertanyaannya. “Iya. Dimas itu mudah dialihkan perhatiannya. Nggak usah khawatir.”            Kupikir dia nggak akan mengungkit masalah tadi siang lagi setelah jawabanku tadi. Tapi ternyata enggak.            “Tadi siang... kamu dengar apa aja?”            Aku mengernyit, kenapa tiba-tiba dia nanya kaya gini?            “Selain soal aku yang nggak mencintai kamu, kamu... ada dengar hal lain sebelum itu?”            Aku mengamati wajah Revan sejenak, ada guratan khawatir di wajahnya. Asing. Aku nggak pernah menemukan kekhawatiran itu di wajahnya, apa lagi untukku. Dan jujur saja, wajah khawatirnya sama sekali nggak membuatku merasa bangga.            Aku menggelengkan kepalaku pelan.            “Kamu yakin?”            “Memangnya, rahasia apa yang lagi kamu bicarakan sama mbak Renata sampai kamu setakut ini kalau aku nggak sengaja nguping pembicaraan kalian berdua?”            Dan reaksi Revan membuatku semakin merasa aneh. Dia tercengang, sesaat, lalu menarik telunjuknya dari genggamanku perlahan. “Nggak ada rahasia.”            “Kalau nggak ada kenapa kamu ngotot banget nanyain aku.”            Bukannya menjawab pertanyaanku, Revan malah mengambil hp dari nakas dan berkutat dengan benda itu. Aku memutar bola mataku malas. Paham banget kalau sikapnya itu menandakan dia nggak mau lagi membahas apa yang baru aja kami bicarakan.            “Tidur sana, udah malam.” Ucapnya tanpa melirikku sedikitpun.            Aku berdecih, “Dari tadi juga aku mau tidur tapi kamu ganggu banget.”            “Ya udah, sana tidur!”            Aku melemparkan handuk kecil di tanganku ke atas pangkuannya. “Masukin ke keranjang baju kotor,” perintahku sebelum kembali berbaring memunggunginya. Bodo amat dikira durhaka. Ini memang posisi favoritku kalau lagi tidur. lagian mau ngapain coba tidur ngadep Revan. Nggak ada faedahnya.            Aku kembali memejamkan mata. Kalau sebelum ini aku akan mudah tertidur, kali ini enggak. Mataku kembali terbuka. Dan kini, kepalaku sibuk menerka-nerka apa yang tadi sempat Revan bicarakan bersama mbak Renata sebelum aku datang sampai Revan sekhawatir itu.            Aku hanya sempat mendengar dia berteriak soal dia yang nggak mencintaiku sebelum pintu ruangannya terbuka. Tapi, kalau dia sampai mengatakan itu, artinya... mereka berdua... sedang membicarakan pernikahan kami, kan?            Tapi kenapa harus dengan mbak Renata? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD