Renata lagi-lagi menghindar. Gue nggak bisa menghubunginya dan menemukan dia dimana pun. Sedang untuk bertanya ke Tante Ayu, gue nggak bisa. Tante Ayu adalah alasan utama kenapa kami berpisah. Tante Ayu orang pertama yang menyadari hubungan kami, lalu petaka itu terjadi. Dia yang meminta Renata untuk menjauh dari gue. Alasan yang sampai detik ini nggak bisa gue terima.
Keluarga nggak mungkin menerima hubungan kami.
s**l!
Memangnya apa yang salah dari hubungan kami? Kami tetap bisa menikah walaupun kedua Mama kami adalah saudara. Hubungan kami bukanlah aib. Gue jelas bisa memperjuangkan hubungan kami di hadapan keluarga. Tapi ternyata Renata memilih menyerah.
Gue marah. Keputusannya membuat gue sakit hati. Dan pada akhirnya membuat gue juga mengikuti permainannya. Mulanya dia hanya menghindar, tapi masih bisa gue temukan keberadaannya dan itu membuat gue tenang.
Sampai ketika orangtua gue mulai membicarakan tentang perjodohan. Gue kembali menemui Renata, gue lagi-lagi memintanya berjuang bersama. Tapi, dengan sikap sok kepahlawanannya yang paling gue benci, dia menyuruh gue menerima perjodohan itu dan melupakan hubungan kami.
Dan ya, gue melakukan apa yang dia minta.
Sampai detik ini. Gue jalani kehidupan gue sesuai keinginannya.
Apa itu masih belum cukup membuktikan cinta gue kedia?
“Ayah,”
Gue mengerjap, saat menoleh ke ambang pintu, gue melihat Dimas tersenyum lebar kearah gue. Membuat gue ikut melakukan hal serupa. Dia berlari masuk, langsung naik keatas pangkuan gue. Dimas melirik ke layar laptop gue yang masih menyala meski sejak gue mengurung diri di ruang kerja gue ini, nggak ada satu pun pekerjaan yang gue selesaikan.
“Ayah masih kerja?”
“Udah mau selesai kok. Dimas kenapa belum tidur?” gue melirik kearah jam dinding. Masih pukul setengah sembilan. Ah... pantas saja.
“Dimas laper...” adunya dengan wajah lucu. Membuatku kembali tersenyum sambil mengacak rambutnya. Dimas, putra gue ini... satu-satunya hal yang bisa membuat gue tetap waras sejak kejadian itu. “tapi Ibu bilang nggak ada makanan lagi di dapur. Cemilan Dimas juga udah abis, cuma ada jus di kulkas, tapi Dimas maunya makan es krim sama martabak telur.”
Gue mengernyit. Es krim dan martabak telur? Perpaduan yang luar biasa. “Tapi kan udah malam, minta Ibu masakin Dimas yang lain aja.”
Dimas berdecak sambil menggelengkan kepala. “Ibu nggak mau, katanya nanti Dimas jadi gendut. Ayah...” Dimas menarik-narik lengan baju gue. “ayo dong kita keluar sebentar, cari makanan...”
Gue mengulum senyum. Kalau seperti ini, dia mirip sekali dengan Calista.
Calista itu... kalau sedang menginginkan sesuatu dari gue, pasti melakukan hal seperti yang Dimas lakukan ini. Dia akan merengek sambil menarik-narik baju gue. Sampai keinginannya tercapai.
Dan itu sering terjadi kalau dia mau pergi berlibur bersama Resya keluar kota, ke tempat-tempat menarik menurut mereka. Calista akan merengek, bukan meminta izin karena dia jelas tahu gue selalu mengizinkannya pergi kemanapun asalkan dia tetap membawa Dimas.
Dia merengek karena meminta uang bulanannya ditambah dua kali lipat untuk kegiatan berliburnya. Dan kalau gue nggak menurutinya, maka Calista nggak akan pernah menyerah. Gue pernah sekali sengaja ngerjain dia yang saat itu merengek ingin membeli sebuah cincin berlian yang menarik perhatiannya. Dia bilang uang tabungannya nggak cukup tapi dia sangat menginginkan cincin itu.
Gue bilang uang gue juga lagi nggak cukup dan tentu aja dia nggak percaya. Tahu apa yang Calista lakukan? Dia sampai mendatangi kantor dan merusak agenda meeting penting gue dengan ancaman kekanakannya itu. Membuat kepala gue benar-benar pusing dan satu-satunya yang bisa menghentikannya hanyalah menyerahkan card gue dan membiarkannya membeli apa pun itu. Dia bahkan membelinya menggunakan uang gue, bukan seperti perjanjian awal kalau dia hanya meminta kekurangannya. Cih.
“Oke, kita beli es krim sama martabak telur. Dimas ambil jaket di kamar, Ayah mau panggil Ibu.” Ucap gue yang membuatnya langsung berjingkrak senang.
Gue mematikan laptop dan membereskan meja kerja sebelum pergi ke kamar. Di sana, Calista sudah duduk menyandar di tempat tidur, selimut sudah menutupi kaki hingga pinggangnya. Dia tampak serius dengan hp di tangannya. “Cal.”
“Hm.” Gumamnya tanpa menoleh. Ck!
“Siap-siap sana.” Suruh gue, kali ini dia melirik gue, dia jelas tahu apa yang bakal gue bilang setelah ini.
“Dimas kan? Kamu ih... nggak usah diturutin semua maunya Dimas.”
“Cuma beli es krim sama martabak telur.”
Kedua matanya membulat cepat. “Nggak ada! Dia udah makan banyak banget tadi. Itu paling selera matanya aja, nanti juga kalau dibeli nggak bakal di makan. Terus ujung-ujungnya aku yang ngabisin.”
Gue menatapnya malas. “Terus masalahnya apa?”
Dia menatap gue geram sambil menyibak selimutnya kasar. Dan itu membuat gue mengulum senyum. Dia ini... kenapa terlalu ekspresif sih? Gue jadi merasa sering terhibur dengan semua tingkahnya.
“Masalahnya Van, berat badan aku makin bertambah setiap hari kalau harus makan semua makanan sisa punya Dimas setiap kali kamu nurutin maunya dia. Kamu tahu nggak, bulan ini berat badan aku naik dua kilo!”
Gue sengaja mengernyit menyebalkan di depannya yang saat ini sudah berdiri di depan gue, mengacungkan dua jarinya tepat di depan muka gue. “Nggak ada bedanya kok.” Gumam gue.
Dia mengerjap cepat. “Masa sih? Emangnya... aku nggak kelihatan makin gemukan ya?” Gue menggelengkan kepala. Dia tampak tersenyum senang. “beneran?”
Gue mengangguk kali ini sebelum menjawab. “Kan kamu memang selalu kelihatan gemuk. Sejak kapan memangnya tubuh kamu itu kelihatan langsing.”
Senyuman bahagia yang tadi terlihat lenyap seketika. Gue hampir aja tertawa kalau aja dia nggak langsung mencubiti lengan gue membabi buta. Cubitan Calista nggak pernah main-main, sakit banget. Dan walaupun gue udah mengaduh kesakitan, dia tetap nggak mau berhenti. Gue yakin besok lengan gue bakalan biru-biru di banyak tempat.
“Kok pada belum siap-siap sih. Dimas udah pakai jaket loh ini...”
Gue menoleh pada Dimas yang menatap kesal kearah kami. Dengusan Calista langsung terdengar.
“Sana, ajak Ayah kamu keluar. Ibu mau di rumah saja.”
“Ibu nggak ikut?”
“Nggak!”
“Kenapa?”
“Ngantuk.”
Calista kembali ke atas tempat tidur, wajahnya cemberut saat melirik kearah gue. Membuat terkekeh pelan. “Ambekan.” Sindir gue.
“Bodo!” balasnya dengan kedua mata tajamnya.
Gue sedikit merunduk untuk berbisik di telinga Dimas, sebenarnya gue nggak berbisik karena gue mau Calista bisa mendengar ucapan gue. “Ibu kan nggak ikut, jadi Dimas boleh belanja sepuasnya di minimarket.”
Kedua mata Dimas berbinar terang. “Beneran Ayah?!”
Gue belum sempat mengangguk saat suara Calista kembali terdengar.
“Nggak ada! Apaan sih kamu! Belanja sepuasnya di minimarket? Kamu mau besok harus beli kulkas baru gara-gara Dimas hampir beli semua isi minimarketnya?!” dia memelototi gue.
“Ibu ih... ya nggak apa-apa dong Ayah mau beliin Dimas. Kan pakai duit Ayah, bukan duit Ibu,” Dimas melengos malas dan membuat gue benar-benar ingin tertawa sekarang. “ayo, Yah... kita pergi berdua aja.”
Gue kembali menatap Calista dengan senyuman penuh kemenangan. “Aku nggak keberatan kalau besok harus beli kulkas lagi.”
Dia memijat pelipisnya putus asa. Lalu detik selanjutnya segera mengambil pakaian dari lemari dan masuk ke dalam kamar mandi untuk ganti baju. Nggak lupa menghempaskan pintu kamar mandi dengan keras.
Gue tertawa pelan, sementara Dimas mengeluh karena Calista akan tetap ikut.
Calista itu bukan perempuan boros. Dia selalu membuang uang pada tempatnya. Jika uang yang dia keluarkan sangat banyak, dia harus memastikan uang itu bisa kembali. Seperti membeli perhiasan misalnya. Dan dia nggak pernah membiarkan gue menuruti semua keinginan Dimas.
Seperti yang pernah gue bilang, Calista selalu bisa mengajarkan hal-hal baik yang nggak bisa gue ajarkan pada Dimas. Jika ada orang yang memuji Dimas, maka Calista adalah orang yang pantas mendapatkan penghargaan itu.
***
“Sepuluh ya, Bu?”
“Lima aja. Nanti kamu flu kalau setiap hari makan es krim.”
“Ya udah, tapi es krim yang ini lima kotak juga.”
“Nggak, yang itu dua aja. Dim, itu empat keranjang udah penuh ya sama jajan kamu. Kalau nggak bisa Ibu bilangin, dua keranjangnya nggak jadi dibeli.”
“Ibu pelit.”
“Kamu yang boros.”
Gue yang sejak tadi hanya mengekori mereka berdua dan mendengar semua perdebatan itu hanya menggelengkan kepala. Tadi, setelah membeli martabak telur, Dimas langsung ingin segera mampir ke sini. Membeli banyak persedian cemilannya.
Dimas memang lagi senang-senangnya makan. Tubuhnya mulai terlihat gempal beberapa bulan terakhir ini dan gue suka melihatnya. Tapi Calista bilang itu nggak terlalu baik. Karena berat tubuhnya bertambah, Dimas jadi malas bergerak. Calista takut itu akan menjadi keterbiasaannya.
Gue hanya mengangguk patuh saat Calista menceritakan keresahannya tentang Dimas. Untuk setiap keputusan yang berhubungan dengan Dimas, gue memang selalu menyerahkannya pada Calista.
“Udah?” tanya gue setelah mereka selesai dengan perdebatan itu. Calista mengangguk lalu melirik Dimas yang masih cemberut. Gue mengacak rambutnya pelan. “nanti kalau jajannya udah abis, kita beli lagi.”
Meski dengan wajah malas, dia akhirnya mengangguk juga. Calista langsung menarik tangan Dimas keluar dari minimarket. Sedangkan gue harus membayar empat keranjang yang seluruh isinya hanyalah cemilan Dimas.
Gue membawa semua belanjaan itu, namun langkah gue terhenti saat melewati jajaran k****m dari berbagai merk. Ada sebuah perasaan gusar melingkupi hati gue menatap benda itu. Gue kembali mengingat kejadian kemarin, ketika lagi-lagi gue meniduri Renata. Dan ini kali kedua gue nggak pakai pengaman saat melakukannya.
Lalu... bagaimana kalau...
“Kamu mau beli k****m?”
Gue tersentak kaget saat tiba-tiba saja Calista sudah berdiri di samping gue dan berbisik tepat di telinga gue. Gue mengerjap beberapa kali, melirik ke bawah, pada Dimas yang menatap gue polos. Kenapa mereka bisa balik ke sini lagi?
“Buat apa?” Calista menatap gue penuh selidik.
Gue berdehem pelan. “Nggak. Siapa yang mau beli memangnya.”
“Jadi kenapa dari tadi dilihatin terus?” Calista melirik Dimas ragu dan kembali berbisik. “kalau kamu beli, nggak guna juga kan? Nggak akan kepakai. Lagian, apa enaknya self service pakai k****m?”
Self service... apa? Tunggu, maksudnya...
Astaga... istri siapa sih dia ini? Sembarangan banget kalau ngomong.
“Siapa yang mau self service memangnya? Jangan ngarang kamu.” bisik gue tajam.
Dia tampak menahan senyum. “Memang kamu pikir aku nggak tahu, kalau kamu tengah malam ke kamar mandi hampir setengah jam ngapain? Nggak mungkin mau pup kan, Van?”
s**l! Sejak kapan dia tahu?
Calista mengibas tangannya. “Nggak usah malu. Kan kamu laki-laki normal, wajarlah!”
“Cal...” desisku kesal.
Dia terkikik geli lalu kembali menarik Dimas keluar dari sana. Muka gue rasanya panas banget. Padahal di mini market ini jelas-jelas ada AC. Calista... dasar s****n! Memangnya dia pikir gara-gara siapa gue harus sering tengah malam ke kamar mandi?!
Itu semua karena dia yang tidur terlalu grasak grusuk sampai selimutnya tersingkap dan entah gimana bisa piyamanya juga sudah setengah naik ke atas, membuat gue bisa melihat perutnya yang... argh... s****n!
Gue berdehem, berusaha meredakan rasa malu, gue segera ke kasir.
Selesai membayar, gue keluar dari sana sambil menenteng empat kantung plastik belanja di kedua tangan gue. Gue melihat Calista melambai kearah gue, lalu ekor mata gue mendapati Renata di sana. Berdiri di samping Calista yang tampak menunduk untuk bicara pada Dimas yang memegang tangannya, sedang menatap gue panik.
Langkah gue terhenti. Setelah beberapa hari ini gue resah mencari di mana keberadaanya, sekarang dia ada di sana. Menatap gue dengan kedua matanya yang selalu membuat gue mencintainya.
Gue meneguk ludah berat, saat kembali melangkah untuk menghampiri mereka, jantung gue berdebar keras. Selalu seperti ini setiap kali gue berada di dekatnya.
“Van, ada mbak Renata,” adu Calista ke gue. “mbak Renata mau beli air mineral kan tadi?”
Renata memalingkan wajah dari gue, tersenyum lalu mengangguk kecil pada Calista. Calista memeriksa setiap kantung plastik di tangan gue, dia mengeluarkan sebotol air mineral yang tadi dia beli untuk dirinya sendiri, lalu dia menyerahkannya pada Renata.
“Ambil aja mbak.”
“Eh, nggak usah Cal. Aku beli aja di dalam.”
“Nggak apa-apa mbak, ini juga kita udah mau pulang. Aku bisa minum di rumah. Lagian mbak Renata cuma mau beli air mineral kan? Ya udah ambil aja, hitung-hitung hemat tiga ribu kan?”
Calista menyengir lucu pada Renata, membuat seulas senyuman akhirnya terpatri di bibirnya. Gue terlalu menyukai senyuman itu sampai rasa-rasanya gue nggak mau memalingkan tatapan gue.
“Dari mana?” tanya gue.
Renata tampak tersentak mendengar pertanyaan gue. Dia mengulum bibirnya sebentar, menunduk ragu sebelum kembali menatapku. “Dari rumah teman,” jawabnya terdengar lirih.
“Sama siapa?”
“Sendiri.”
“Siapa yang ngantar kamu?”
“Tadi aku naik taksi, taksinya lagi nunggu di sana sebentar.”
Renata menunjuk sebuah taksi yang terparkir nggak jauh dari kami. Malam-malam begini... dia pergi menemui temannya? Cih, apa dia pikir gue bisa percaya?
Tanpa mengatakan apa pun, gue membuka bagasi dan meletakkan belanjaan. Lalu menghampiri taksi itu, membayar ongkosnya dan menyuruhnya pergi. Saat gue kembali menghampiri mereka, Renata jelas sekali menatap gue nggak terima. “Aku antar kamu pulang.”
“Tapi...”
“Iya mbak,” sela Calista. “pulang bareng kita aja. Udah malam juga, bahaya kalau mbak pulang sendiri.”
Gue melirik sekilas pada Calista, dia terlihat tulus menatap Renata. Ada setitik rasa iba di hati gue melihat ketulusannya. Tapi untuk saat ini, gue nggak mau menyia-nyiakan kesempatan. Gue butuh bicara dengan Renata. Gue butuh penjelasannya.
Setelah dia mengangguk pelan, gue segera menyuruh mereka masuk ke dalam mobil. Renata duduk di bangku belakang, Dimas yang tadinya mau duduk di sana, kali ini dia meminta duduk di depan, di pangkuan Calista karena Dimas mengeluh mengantuk.
“Mbak Renata di Jakarta lagi cuti atau gimana? Katanya kerja di Singapura kan?” Calista menolehkan sedikit wajahnya kebelakang.
“Nggak cuti. Cuma... balik kerja di sini lagi.”
Pegangan gue di atas kemudi mengerat mendengar jawabannya yang teramat pelan. Renata akan kembali menetap di sini.
“Memangnya mbak Renata kerja apa sih? Eh, maaf ya kalau aku kepo. Abisnya aku nggak tahu banyak soal mbak.” Calista tersenyum salah tingkah.
“Nggak apa-apa Cal, aku juga mau tahu banyak soal kamu kok.”
“Oh ya? Kenapa?”
Gue melirik kearah spion, dan Renata juga melakukannya hingga kedua mata kami bertemu.
“Mungkin... karena aku senang, akhirnya bisa mengenal istri Revan.” Ucapnya dengan kepedihan yang bisa gue rasakan.
Gue memalingkan muka, jawaban Renata membuat gue merasakan kehancuran yang sama seperti tujuh tahun lalu. Senang? Bullshit! Kami sama-sama menderita.
“Jadi, mbak Renata ini kerja dimana?”
“Di Rumah sakit Umum Ganda Medistra.”
“Oh, mbak Renata Dokter?”
“Dokter anak tepatnya.”
“Ya ampun... keren!” Calista kembali menoleh dan tersenyum pada Renata. “kalau gitu, mulai sekarang Dimas periksanya ke mbak Renata aja ya Van, kalau dia lagi sakit atau cek kesehatan.”
Gue hanya berdehem pelan. Tapi hal itu nggak akan pernah terjadi. Gue nggak mau Calista dan Dimas memiliki hubungan dekat dengan Renata. Dimas... dia nggak boleh sampai tahu. Gue nggak mau membuat putra gue kembali kecewa seperti kemarin.
“Kalau dipikir-pikir, semua keluarganya Mama itu hebat-hebat ya. Mbak Kila desainer, Bima punya bisnis resto sendiri. Revan ngurusin bisnis keluarga. Mbak Renata Dokter. Cuma Akbar aja deh kayanya yang nyeleneh. Itu anak jangan-jangan ketukar kali di rumah sakit.” Gumam Calista sambil mengelus rambut Dimas. Dia kembali melakukan kebiasaannya, berceloteh tanpa henti.
Saat gue kembali mengamati Renata, dia tampak menatap Calista dan juga Dimas dengan senyuman sendu di bibirnya. Ada kesedihan di kedua matanya yang membuat hati gue mencelos melihatnya.
Mungkin, jika saja kami nggak berakhir seperti ini, maka Renata lah yang berada diposisi Calista. Lalu keberadaan Dimas akan membuat hidup gue semakin sempurna.
“Cal,” panggil gue.
“Ya?”
“Aku antar kamu sama Dimas dulu, baru antar Renata. Kasihan Dimas kalau harus terlalu lama tidur di mobil.”
“Oke.”
Renata kembali menatap gue nggak terima. Tapi gue nggak peduli. Ada yang harus kami bicarakan berdua. Dan gue nggak mau terlalu lama menunda.
Maka begitu Calista turun dan berpamitan pada Renata, gue menyuruhnya pindah ke depan.
“Aku di sini aja.”
“Jangan buat aku harus memaksa kamu.”
“Van, aku nggak mau kamu antar pulang.”
“Kenapa? Karena kamu takut aku tahu dimana tempat tinggal kamu?”
“Nggak, aku tinggal sama Mama.”
“Kamu lupa lagi berusaha membohongi siapa? Sejak kapan kamu bisa bohong sama aku? Dan kamu pikir, aku percaya kamu baru aja dari rumah teman kamu.”
Dia tampak terkejut.
Gue tersenyum miring. “Aku juga capek Renata, kalau harus terus bermain kucing-kucingan seperti ini. Aku berusaha cari kamu, tapi kamu selalu menghindar. Padahal, diam-diam kamu juga mau ketemu aku. Sampai harus diam-diam datang ke sini. Iya, kan?”
Renata nggak pintar berbohong. Apa lagi sama gue. Waktu dia bilang pulang dari rumah temannya, gue tahu dia bohong. Renata bukan orang yang senang berteman. Dia penyendiri. Nggak menyukai keramaian. Sejak kecil, cuma gue yang dia izinkan masuk ke dalam hidupnya.
Jadi, mendengar dia mau beramah tamah dengan mendatangi rumah temannya sama saja omong kosong buat gue.
“Renata.” Tegur gue lagi, kali ini gue sedikit membentak.
Dia akhirnya menurut, duduk di sebelah gue, kemudian menyebutkan alamatnya. Dia tinggal di sebuah apartemen yang nggak jauh dari rumah gue. Sampai di apartemennya, dia melarang gue untuk ikut, tapi gue nggak peduli. Gue berjalan lambat di belakangnya yang tampak ragu.
Bahkan dia kembali menyuruh gue pulang sebelum dia membuka pintu apatemennya. Sayangnya, Renata jelas tahu kalau dia nggak akan pernah menang dari gue. Jadi, begitu dia membukakan pintu, gue segera menarik lengannya masuk kedalam, menendang pintu itu dengan sebelah kaki gue hingga tertutup, sedang gue memuaskan diri mencium bibirnya yang selalu memabukkan.
“Van...”
Renata melakukan kesalahan besar saat menyebut nama gue dengan cara yang seperti itu. Terlebih lagi menatap gue selirih itu dengan tatapan sayunya. Gue membelai wajahnya lembut, menatapnya sama lirih. “Jangan pergi lagi, please...”
Dia memejamkan mata sedang air mata luruh dari sudut matanya. “Kita udah nggak bisa, Van...”
“Aku cuma mau kamu, sayang.”
Renata menggelengkan kepalanya pelan, “Kamu sudah punya kehidupan lain,” dia meremas kaus gue dengan tangannya. “aku nggak bisa... dan memang nggak akan pernah bisa bersama kamu.”
Gue menjatuhkan dahi di atas dahinya, memejamkan mata. Rasanya teramat lelah setiap kali memikirkan hubungan ini. “Kita bisa, Renata. Kita bisa...”
“Tapi Mama... mereka...”
“Mereka nggak harus tahu. Dan mereka nggak akan tahu kalau kita kembali menutupinya seperti dulu.”
“Van...” dia menatap gue dengan sorot mata yang begitu gue rindukan. Jemarinya menyentuh sisi wajah gue, membelainya penuh sayang hingga gue nyaris memejamkan mata menikmatinya. “kamu sudah menikah.” Ucapnya serak. “semua akan menjadi lebih rumit kalau–”
“Sshhtt...” gue menggelangkan kepala. “untuk kali ini aja, Renata, tolong... jangan pikirkan orang lain selain kita. Hanya kita.”
“Calista...”
“Hubungan kami nggak seperti yang kamu pikirkan. Dia bahkan tahu kalau aku nggak akan pernah bisa mencintainya.”
Ada riak terkejut di kedua matanya. Gue mengulas senyuman tipis untuknya. “Kalau kamu setuju dengan permintaanku, maka aku akan menceritakan seluruhnya. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku... cuma mencintai kamu, Renata.”
***
Sudah pukul setengah dua belas dan gue baru sampai di rumah. Gue lebih dulu masuk ke kamar Dimas setelah tadi memeriksa meja makan di mana masih ada setengah porsi martabak yang belum habis. Calista pasti yang menghabiskan setengahnya karena Dimas sudah tidur sejak turun dari mobil.
Gue membenarkan letak selimut Dimas, mencium dahinya pelan agar dia nggak bangun. Lalu setelah itu beranjak ke kamar gue. Calista sudah tidur, seperti biasa, selalu memunggungi sisi di mana gue tidur. Jika biasanya gue langsung mandi atau berganti pakaian, kali ini entah kenapa gue malah menatapnya berlama-lama.
Beberapa saat lalu, gue dan Renata sepakat untuk kembali merajut hubungan. Nggak ada orang yang boleh mengetahuinya. Keluarga atau pun orang terdekat kecuali sahabat gue. Termasuk juga... Calista.
Gue nggak mungkin membiarkan Calista mengetahui hubungan gue dan Renata. Calista memang tahu gue nggak mencintainya. Tapi, seandainya dia mengetahui apa yang gue lakukan bersama Renata, gue takut dia akan tersakiti.
Bagaimana pun, dia adalah istri gue, Ibu dari anak gue. Meski hubungan kami nggak melibatkan perasaan, murni hanya sepasang orangtua yang hidup bersama demi Dimas, tapi gue tetap nggak bisa membayangkan bagaimana sakit hatinya Calista seandainya saja dia tahu...
Gue menghela napas. Nggak pernah sekalipun gue sangka hari ini akan terjadi. Gue pikir, setelah kepergian Renata, gue akan tetap melanjutkan hidup seperti sebelumnya. Demi Dimas, tanpa urusan percintaan yang rumit.
Gue nggak pernah memikirkan Renata akan kembali seperti sekarang, dan pada akhirnya membuat gue kembali egois memilikinya.
Gue nggak tahu semua ini akan bertahan sampai kapan. Tapi, selagi gue bisa, maka gue akan berusaha untuk tetap membuat semuanya baik-baik saja.
Ya, semoga.
***