Enam - Cantik

4521 Words
“Serius?!” tanya Resya sekali lagi dengan bola matanya yang telah melotot sempurna. Calista memasukkan beberapa macam sayuran lagi kedalam troli, mengangguk sekilas pada Resya yang masih menatapnya tidak percaya.            “Ta, lo nggak bohong kan? Ini GW loh! Dan lo baru aja bilang kalau besok lo bakal jadi model di fashion shownya GW?!”            Calista berdecak. “Kan tadi udah gue bilang iya, Resyaaaaa. Mau berapa kali lagi sih gue jawabnya.”            “Kakak ipar lo nggak lagi ngigo kan, Ta?” tanya Resya sangsi.            Calista tertawa geli sesaat. “Gue juga tadi mikirnya gitu, tapi mbak Kila maksa. Gue kan nggak pernah jalan cantik kaya begitu di depan orang-orang. Nah, beberapa hari terakhir ini gue sering latihan di tempatnya mbak Kila. Di ajarin sama si Akbar juga gimana cara jalan di atas catwalk,” Calista terkikik lagi. “lo tahu nggak Sya? Akbar sampai frustasi ngajarin gue, terus ngadu ke mbak Kila kalau mendingan gue di ganti aja dari pada ngerusak acara nanti.”            Calista benar, saat Akbar sudah mengajarinya berkali-kali berjalan anggun dan santai di atas catwalk, pemuda itu berkali-kali mengelus d**a. Mula-mulanya mencoba bersabar tapi akhirnya dia merajuk frustasi. Astaghfirullah, mbak... lo kaku banget kaya kanebo kering. Males ah gue! Nggak bakat lo jadi model kaya gue, udah sana bilangin ke mbak Kila minta cari gantinya aja! Bukannya marah, Calista malah tertawa geli melihat wajah frustasi Akbar. Lalu mereka berdua sama-sama menemui Kila dan menyampaikan niat itu. Tapi Kila malah mengancam Akbar dengan pembatalan kontrak kalau sampai Calista membuat kesalahan di fashion show nanti.            Tentu saja Akbar semakin frustasi.            “Terus gimana? Lo... tetap bakalan ikut? Yakin, Ta?”            “Ya mau gimana lagi. Mbak Kila maksa. Aku juga dapat bayaran kok. Lumayan tahu, Sya... bisa buat liburan selanjutnya nanti.”            Calista menaik turunkan kedua alisnya menatap Resya.            “Terus, Revan gimana?” tanya Resya lagi.            “Kenapa Revan?”            “Dia kasih lo izin ikutan fashion show?”            Dahi Calista sedikit mengernyit. “Hm... dia nggak tahu. Kan gue belum bilang.”            “Lah,” protes Resya. “lo gimana sih? Katanya besok acaranya, tapi lo belum bilang ke Revan? Kalau sampai dia nggak ngizinin, bakal ribet urusannya sama mbak Kila.”            Calista mengulum bibirnya selagi berpikir, “Tapi kan gue sama Revan nggak pernah larang-larangan dalam urusan apa pun.”            “Ya tapi lo sendiri yang bilang, Revan kalau mau kemana-mana pasti bilang sama lo. Terus, ini lo mau melakukan hal besar tapi dia nggak tahu? Begitu-begitu juga dia suami lo, Calistaaaaaaa.”            “Iya, ya?” gumam Calista bingung.            Resya menepuk pelan dahinya. “Ta,”            “Hm?”            “Gue kemarin-kemarin mikirin banget hubungan lo sama Revan.”            “Kenapa sampai lo kepikiran?”            “Nggak tahu, padahal lo yang menjalani aja santai banget, tapi gue yang geregetan. Gue nggak bisa lihat kalian berdua begini terus.”            Calista mengernyit tidak mengerti. Resya merangkulnya, menatap Calista serius.            “Harus ada perubahan, Ta. Lo sendiri juga bingung kan, mau sampai kapan hubungan kalian begitu terus? Jadi, lo harus melakukan perubahan.”            “Hm... maksudnya? Sya, gue nggak ngerti.”            Resya mengangguk tegas. “Kalian itu, begitu-begitu terus karena nggak ada yang mau memulai. Jadi, gue saranin, lo harus menjadi pihak yang memulai lebih dulu.”            “Memulai apa?”            “Belajar mencintai.”            Kedua mata Calista terbelalak sempurna. “Lo bilang apa, Sya?”            Resya menatap Calista lekat. “Tujuh tahun hidup bersama, mustahil Ta kalau kalian berdua nggak punya perasaan apa pun. Ya... minimal rasa sayang gitu.”            Calista tertawa pelan, “Sya, lo kan tahu–”            “Nggak bakal ada yang tahu sebelum ada yang mencoba. Dan gue mau lo yang mencobanya lebih dulu.”            “Mencoba apa? Mencintai Revan? Dih, ogah banget! Dia aja nggak cinta sama gue.”            “Ta...” desah Resya. “kalau dia nggak cinta, maka buat dia jatuh cinta sama lo.”            “Hah?”            “Lo tuh cantik, Ta. Nggak susah lah buat Revan jatuh cinta sama lo.”            “Apa sih, Sya. Jangan aneh-aneh deh!”            “Ck, percaya sama gue. Udah, sekarang buruan beli perlengkapan dapur lo. Abis itu kita lanjut ngemol. Gue harus bantu lo sampai berhasil. Lo lihat aja ya, Ta, kalau sampai Revan nggak mimisan lihat lo, fix dia memang homo.” *** Calista terburu-buru menyimpan enam lingerie dan belasan pakaian dalam bermodel seksi yang tadi terpaksa dibelinya akibat paksaan Resya ke dalam lemari pakaiannya. Saat Revan sudah masuk ke dalam kamar mandi tadi, Calista teringat dengan bungkusan belanjaannya yang masih tergeletak di sudut kamar. Calista panik, takut kalau sampai Revan tahu dia membeli itu dan berpikir yang tidak-tidak.            Resya ada-ada saja. Bagaimana bisa dia berpikir Calista bisa memakai semua itu dan mempertontonkannya di depan Revan. Dia bisa malu disisa umurnya kalau sampai itu terjadi. Lagi pula... Revan kan memang tidak pernah b*******h padanya. Dan Calista selalu memakai piyama setiap kali mereka tidur sejak di awal pernikahan.            Kalau Calista tiba-tiba tidur dengan memakai lingerie itu, bukannya mimisan, mungkin Revan akan menganggap Calista sudah gila.            Menghela napas lega, Calista beralih membuka lemari pakaian Revan, mengeluarkan pakaian untuknya nanti. Jangan ditanya kenapa Calista mau merepotkan diri untuk melakukan itu. Revan dan Dimas tidak ada bedanya. Kalau sudah mengambil pakaian dari lemari, pasti akan merusak susunan pakaian yang telah Calista susun secara rapi.            Jadi, dari pada harus bekerja dua kali, lebih baik Calista yang melakukannya.            “Eh,” gumam Calista saat dia mengamati susunan kaus dalam yang biasa Revan kenakan saat dia bekerja untuk melapisi kemejanya. “kok kaya ada yang kurang ya...” gumamnya lagi.            Calista kemudian memeriksa keranjang pakaian kotor. Tidak ada, dia sudah mencuci semuanya hari ini. Lalu dia melirik ke arah kamar mandi, kalau pun Revan keluar dari sana dan memasukkan satu kaus dalam yang hari ini di pakainya, tetap saja jumlahnya berkurang satu.            Calista kembali menatap keranjang pakaian kotor di depannya.            “Ngapain di situ?”            Teguran Revan membuat Calista tersadar dari pikirannya, dia mengamati Revan yang menghampirinya hanya dengan memakai handuk di pinggangnya. Revan memasukkan pakaian kotor ke dalam keranjang itu.            “Tuh kan bener,” gumam Calista lagi.            Revan meliriknya. “Apa?”            “Kaus dalaman kamu hilang satu. Di lemari nggak ada. Kok bisa, ya? Padahal setiap kali habis aku angkat dari jemuran, terus aku setrika dan langsung kususun di lemari. Tapi kenapa bisa hilang ya, Van?”            Revan mengernyit. Kaus dalam?            Kemudian dia meneguk ludah berat saat mengingat sesuatu.            s**l! Pasti tertinggal di apartemen Renata.            “Apa masuk ke lemari aku, ya...” gumam Calista lagi. Dia sudah akan beranjak mendekati lemarinya tapi Revan menahan lengannya.            “Nggak usah di cari. Cuma hilang satu kan, nanti bisa beli lagi.” ujar Revan.            “Ya nggak bisa gitu dong!” protes Calista. “aku juga penasaran, nggak pernah begini soalnya.”            “Ck, udah lah. Ribet banget sih kamu, Cuma kaus dalam juga.”            Calista berdecih. Dasar orang kaya sombong. Mentang-mentang cuma kaus dalam, kan belinya juga pakai uang!            “Keluar sana, aku mau pakai baju.” Usir Revan.            Calista mendengus pelan. Dia sudah berbalik, berjalan beberapa langkah lalu saat teringat sesuatu, dia kembali menatap Revan yang hampir saja membuka ikatan handuknya.            “Cal!” pekik Revan panik.            “Eh,” gumam Calista polos, lalu dia tersenyum geli. “sori... aku tuh tadi mau bilang sesuatu sama kamu.”            Revan menekuk wajahnya cemberut. “Apa?!”            Calista masih mengulum senyum akibat ekspresi panik Revan yang menggelikan karena takut miliknya hampir saja Calista lihat. Padahal benda itu sudah pernah masuk ke tubuhnya, kenapa Revan harus malu?            Ya... meskipun Calista sendiri tidak ingat bagaimana rasanya.            “Apa sih? Cepat bilang!” rutuk Revan lagi.            “Nggak jadi deh.” Jawab Calista sambil mengangkat kedua bahunya lalu pergi meninggalkan Revan.            Revan menggelengkan kepalanya pelan.            Selagi berpakaian, Revan teringat masalah kaus dalamnya yang tertinggal di rumah Renata. Dia memaki di dalam hati. Ceroboh. Harusnya Revan tahu dia tidak boleh seceroboh itu.            Revan memang sudah kembali merajut hubungan bersama Renata. Sayangnya, mereka tidak bisa bebas bepergian berdua di luar, apa lagi di Jakarta. Takut ada orang yang melihat. Maka itu, setiap kali berkencan, mereka selalu memilih apartemen Renata.            Tidak ada yang berbeda dalam hubungan mereka. Masih sama seperti di masa lalu. Hanya saja, aktivitas s**s mereka memang tidak seperti dulu lagi. Renata lebih sering menolak dan Revan juga tidak semenggebu dulu ketika dia belum menikah.            Hanya di saat-saat yang tepat saja mereka melakukannya. Jika keduanya sama-sama ingin. Dan omong-omong, masalah kaus dalam itu, Revan kemarin memang lupa memakainya lagi setelah mereka b******a. Apa lagi saat itu Revan tergesa-gesa memakai pakaiannya sambil menerima telefon dari Dimas yang menangis mengadu kalau jarinya terjepit pintu.            Karena panik dan juga tidak bisa menemukan kausnya berada di mana, dia hanya memakai pakaian yang bisa dijangkaunya saja, kemudian pamit pulang pada Renata yang masih berbaring lelah di tempat tidurnya.            Revan meraih ponselnya, mengetikkan sebaris pesan singkat pada Renata ketika dia keluar dari kamar. Ada sesuatu yang ketinggalan nggak dirumah kamu? Maksud kamu kaus? Iya, ada? Ada. Kemarin dibawah tempat tidur. Woah, hebat ya sayang. Lain kali selesai buka baju aku, letakkan lagi ketempat yang seharusnya. Kolong tempat tidur jelas bukan tempat yang seharusnya. -_- Nggak lucu, sayang.            Revan tersenyum geli membaca balasan Renata.            “Van,” Calista menegur.            “Hm?” Revan mengangkat wajahnya dengan bibir yang masih mengulas senyuman.            Calista menatap suaminya dengan tatapan aneh, “Kamu kenapa senyum-senyum?” tanyanya.            Seketika Revan melenyapkan senyumannya. Berdehem kaku lalu menggelengkan kepala. Dia sudah akan menarik kursi makan namun Calista menahannya. “Apa? Aku lapar.”            “Dimas lagi ngerjain PR.”            “Terus?”            “Periksa dulu PR-nya, abis itu temenin dia sikat gigi, ngobrol sebentar sebelum dia tidur.”            Satu alis Revan terangkat ke atas.            “Dimas seharian ini lagi bad mood. Jadinya cengeng. Apa-apa nangis, pusing aku tuh.” Keluh Calista.            “Nggak bisa selesai aku makan aja? aku belum makan, Cal, dan ini udah jam sembilan.” Revan mencoba menegosiasi.            “Nggak bisa! Dari pada besok Dimas masih begitu, aku bingung tahu, semua-semua salah sama dia.” Rutuk Calista dengan bibir mengerucut. “ini juga aku masih manasin sayur kok. Jadi kamu urusin Dimas dulu deh, Van.”            Revan menghela napas mengalah, melirik Calista malas, namun meski begitu dia tetap melakukannya. Ketika Revan mendorong pelan pintu kamar Dimas, dia sudah menemukan putranya itu duduk sambil memeluk lututnya di sudut tempat tidur.            “Dim, PR-nya udah selesai?” tanya Revan.            Dimas mengangkat wajahnya kedepan, wajahnya tampak terkekuk, kemudian dia mengangguk.            Dimas melangkah masuk, “Ayah temenin Dimas sikat gigi dulu, abis itu kita periksa PR kamu.”            “Dimas udah sakit gigi.”            “Oh...” Revan mengangguk ragu, kemudian dia melirik tas sekolah Dimas dan mengambilnya untuk memeriksa. “Hm... udah bener kok. Anak Ayah makin pinter.” Puji Revan, biasanya Dimas akan tersenyum lebar jika di puji seperti itu. Tapi kali ini putranya itu masih bungkam.            “Dimas kenapa?” tanya Revan setelah duduk di samping putranya.            Dimas mengangkat wajahnya perlahan, menoleh pada Revan. “Dimas cerita, tapi Ayah jangan bilang Ibu ya.”            “Oke.”            “Janji?”            “Iya, Ayah janji.”            Dimas mengatur letak duduknya agar bisa menghadap langsung ke Revan. “Dimas tadi berantem di sekolah.” Satu alis Revan terangkat ke atas, namun dia tetap berusaha tenang. “masa kata temen Dimas, Ibu anak haram.”            Kali ini Revan tidak bisa menutupi keterkejutannya. “Siapa yang bilang?”            “Teman Dimas. Katanya, Ibu dari panti, orangtuanya nggak jelas. Dia dengar dari Mamanya kalau waktu bayi, Ibu dibuang di depan panti karena lahir nggak ada ayahnya.”            Revan mengatup rapat mulutnya, rahangnya mengeras. Bagaimana bisa anak kecil sudah bisa menyimpulkan hal-hal seperti itu dengan begitu mudah? Dan apa tadi yang Dimas katakan? Temannya mendengar hal konyol itu dari orangtuanya?            “Ibu bukan anak haram kan, Yah?”            Pertanyaan Dimas bernada sedih itu membuat setitik emosi dalam dirinya mulai berkembang lebih besar. “Bukan,” jawab Revan tegas. Dia menatap putranya serius. “Ibu bukan anak haram. Apa yang teman kamu bilang itu nggak benar. Dan Dimas harus tahu, nggak ada satu orang anak pun di dunia ini yang bisa di sebut anak haram. Semua anak pasti punya orangtua. Seperti Dimas, Ibu juga punya orangtua.”            “Tapi kenapa dulu Ibu tinggal di Panti?”            “Karena dulu, Ibu nggak seberuntung Dimas. Orangtuanya Ibu sudah meninggal, Ibu nggak punya keluarga yang bisa jagain Ibu. Makanya... Ibu tinggal di sana.”            Kedua bahu Dimas terkulai lesu, dia menunduk sedih. “Kasihan Ibu.” Gumamnya.            Ya, bahkan Revan yang tahu bagaimana cerita kehidupan Calista pun tidak bisa menolak gumaman Dimas. Apa yang baru saja dia ceritakan tidak sepenuhnya benar. Bahkan, kebenaran yang sesungguhnya adalah apa yang tadi Dimas permasalahkan.            Faktanya, Calista tidak di lahirkan dari sebuah pernikahan. Ibunya seorang p*****r, Ayahnya seorang bandar n*****a yang telah meninggal ketika berusaha melarikan diri dari kejaran polisi.            Ketika Calista berusia sepuluh tahun, Ibunya datang menjenguknya. Memberikannya pelukan pertama dan menceritakan seluruh kebenaran mengenai hidupnya. Dan mirisnya, dua bulan setelah itu, Calista mendapatkan kabar kalau Ibunya telah meninggal setelah berjuang melawan kanker serviks yang dideritanya.            Revan mengetahui seluruh cerita itu dari orangtuanya. Jauh sebelum mereka menikah. Saat itu Revan tidak terlalu mengenal Calista, hanya sempat melihat Calista yang datang ke rumahnya beberapa kali untuk menemui orangtuanya.            Lalu ketika mereka sudah menikah dan Revan mulai mengenali sifat dan tabiat istrinya, Revan sungguh bangga. Untuk seorang perempuan yang latar belakang kehidupannya sepahit itu, Calista berhasil menjadi sosok yang luar biasa tangguh, ceria, tanpa mau mengulang kesalahan kedua orangtuanya.            Revan menghela napas ketika dia keluar dari kamar Dimas. Putranya itu segera tidur setelah Revan menasihatinya. Ketika dia kembali ke meja makan di mana sudah tersaji makan malam untuknya di sana, kini Revan kehilangan selera makannya. Bahkan rasa laparnya pun sirna.            “Gimana Dimas?” tanya Calista setelah menepuk pelan bahu Revan. “masih bad mood? Marah-marah terus kan anak kamu?”            Revan tidak langsung menjawab, hanya terus menatap Calista.            “Van, kok malah bengong sih? Dimas–”            “Ada berapa banyak orang yang udah kamu kasih tahu soal orangtua kamu?” tanya Revan dengan suara dinginnya.            “Hm?”            “Aku nggak peduli kamu ini memang polos atau cuma pura-pura polos. Tapi untuk cerita seprivasi itu, apa semua orang harus tahu, Cal?”            “Maksudnya... apa sih?”            “Bahkan teman-teman Dimas pun tahu kalau kamu anak haram!”            Kedua mata Calista melebar cepat. Ucapan Revan berhasil menyentaknya.            “Dimas marah, dia berantem sama temannya karena mereka bilang kalau Ibunya adalah anak haram yang tinggal di panti asuhan. Dan mereka mengetahui itu dari orangtua mereka. Itu artinya, kamu, dengan sikap sok polosnya kamu udah cerita ke mereka soal–”            “Ibuku p*****r dan Ayahku seorang bandar n*****a,” sela Calista dengan suara lirihnya. Calista tersenyum sendu. “apa yang mereka lakukan memang salah. Tapi bagaimana pun, mereka tetap orangtuaku. Lalu, disaat orang-orang bertanya tentang siapa dan bagaimana orangtuaku, hanya karena mereka bukan orang baik, apa aku harus menutupinya?”            Revan tertegun, dan tersadar dengan ucapan keterlaluannya. “Maksud aku...”            Calista tertawa pelan. Dia mendorong tubuh Revan hingga duduk di kursi. Lalu mengambilkan nasi dan lauk pauk ke atas piring. “Aku nggak punya kenangan baik tentang mereka, Van. Dan aku juga nggak mau menambah hal-hal buruk yang berkaitan dengan mereka. Karena walau bagaimana pun mereka orangtuaku. Walaupun mereka nggak sayang aku, aku tetap sayang mereka. Jadi, nggak peduli orang mau mencemo’oh atau pun mengataiku, aku tetap nggak mau mengelak dari takdirku sendiri.”            Calista meletakkan piring itu di depan Revan. “Dan sebagai imbalan yang aku minta pada Tuhan untuk semua ini, aku mau Dimas juga melakukan hal serupa untuk kita.” Kedua mata Calista dan Revan saling bersitatap. “bagaimana pun kita nanti, aku ingin Dimas tetap mencintai kita dan bangga pada dirinya.”            Revan semakin tertegun. Dia hanya terus menatap Calista yang bahkan tidak ada setitik amarah pun di wajahnya meski Revan sempat mengatakan kalimat yang cukup keterlaluan beberapa detik lalu.            Dia bahkan tetap mencintai kedua orangtuanya yang tidak pernah mengajarkan cinta padanya, tidak merasa malu karena harus lahir dari orangtua seperti itu dan tetap menemukan segala kebaikan dalam semua hal buruk yang menimpanya.            Calista... revan menggumam dalam hati.            Mungkin ini adalah satu dari beribu alasan yang orangtuanya miliki hingga memaksa Revan untuk menikahinya.            Revan bukannya tidak bisa menilai bagaimana sosok istrinya ini. Meski di awal pernikahan dia hanya menganggap Calista perempuan biasa, seperti perempuan-perempuan lainnya. Namun, di setiap tahunnya, Revan seolah semakin mengenal bagaimana Calista yang sebenarnya.            Membuatnya merasa nyaman untuk hidup di bawah atap yang sama meski tanpa hubungan emosional.            “Ya udah, kamu makan dulu. Aku mau ke kamar Dimas sebentar.” Ucap Calista. Dia menepuk pundak Revan beberapa kali sebelum beranjak pergi.            Namun, ketika dia baru saja berhasil melewati Revan, sebelah pergelangannya tertahan, membuatnya harus menoleh kebelakang. Revan masih menunduk, menatap sepiring nasi di depannya. Namun, satu tangannya mecengkram erat pergelangan tangan Calista.            “Van?” tegur Calista tidak mengerti. Dia menatap pergelangan tangannya dan Revan bergantian.            “Maksud aku nggak gitu.” ucap Revan pelan.            Dahi Calista mengernyit. “Maksud... apa?”            “Orangtua kamu. Aku nggak maksud gitu,” Revan menoleh menatapnya. “seperti kamu yang bangga menjadi anak mereka, maka aku juga bangga pada mereka. Karena kalau nggak ada mereka, nggak akan mungkin ada kamu. Ibu Dimas yang luar biasa.”            Calista meneguk ludahnya berat kala entah mengapa, tiba-tiba saja jantungnya seolah sedang bertalu-talu.            Tatapan Revan, kalimat lembutnya yang halus, dan... astaga... ada apa dengan dirinya?            Ini tidak biasanya.            Percakapan serius mengenai hal pribadi yang kelewat sensitif diantara mereka sama sekali tidak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan ini kali pertama Revan mau membicarakan orangtua Calista di depannya. Ada rasa haru yang membuncah, sesak yang entah mengapa terasa nikmat. Calista ingin meraba detak jantungnya tapi rasanya terlalu malu. Maka yang dia perbuat hanyalah mengulas senyuman tipis yang sebiasa mungkin sambil berujar penuh canda. “Ibunya Dimas aja nih? Revan mengernyit. “Maksudnya?” “Kamu bilang, aku Ibu yang luar biasa untuk Dimas. Terus, sebagai istri, luar biasa juga nggak, Van?” Calista menyengir kecil sambil menaik turunkan alisnya. Seketika cekalan hangat di pergelangan tangan Calista Revan lepaskan dengan cepat. Lelaki itu mendengus dan membuang muka. Calista dan ocehannya, seharusnya Revan tahu kalau dia tidak perlu sampai bersikap lembut pada Calista seperti tadi. “Aku mau makan. Kamu ke kamar Dimas sana.” Ucap Revan tanpa mau repot-repot menatap Calista. Calista masih mengulum senyumnya menatap Dimas. Dia mengangkat kedua bahunya ringan dan melenggang pergi. Revan... Revan... kok kamu gemesin banget sih malam ini. *** [Pokoknya mba nggak mau tahu, malam ini kamu harus datang!]            Sambil menyetir dengan telinga tersumbat Airpods Revan berdecak malas. “Aku usahain.”            [Harus!]            Kila dan perintahnya adalah dua hal yang paling tidak bisa dibantah. Revan pun tahu itu. Biasanya dia tidak ambil pusing dan menurut saja, tapi masalahnya sore ini dia sudah punya janji bertemu dengan Renata dan menghabiskan waktu sampai tengah malam nanti berdua.            Lalu siang tadi Kila tiba-tiba saja mengiriminya undangan ke acara Fashion show produk terbaru miliknya. Kila belum pernah melakukan itu, mengundang Revan ke semua acara penting bisnisnya. Maka itu Revan mengiriminya pesan mengenai undangan itu. Revan sempat mengira kalau saudara perempuannya itu salah mengirim undangan.            Sayangnya, Kila memang benar-benar mengundangnya.            “Aku juga ada acara lain. Penting. Lagi pula, nggak biasanya aku diundang ke acaranya mba.”            [Karena acara ini memang bukan acara biasa. Makanya mba undang kamu.]            “Iya. Tapi kan–”            [Mba sibuk, nggak bisa lama-lama telfon. Sampai jumpa nanti malam. Eh, jangan lupa! Bawa bunga, yang besar dan mahal. Kalau nggak, kamu lihat aja nanti mba bakal ngapain! Oke, bye, Van.]            Revan melepas Airpods dari telinga dan mencampakannya dengan sedikit kesal. Astaga... Mba Kila benar-benar merusak rencananya saja.            Begitu sampai di apartemen, Revan menekan bel dengan wajah tertekuk malas.            “Hai sayang, aku udah siap kok. Berangkat sekarang?” tanya Renata yang baru saja membukakan pintu lengkap dengan wajah sumringahnya.            Namun Revan malah melangkah masuk sambil bergumam malas. “Nggak jadi keluar. Kita di sini aja.”            Renata memutar kepalanya, menatap Revan bingung. “Kenapa, Van?”            “Mba Kila. Tiba-tiba minta aku datang ke fashion show GW.”            Renata kembali menutup pintu lalu menghampiri Revan yang duduk di atas sofa dan menyalakan televisi.            “Kamu tahu gimana mba Kila kan, kalau nggak diturutin bakal nyusahin.” Revan masih terus merutuk kesal.            Renata mengulum senyum. Rasanya melegakan dapat mendengar rutukan Revan yang kenakan. Seperti dulu. Dia melirik laci meja yang terletak di sudut ruangan, kemudian menghampirinya untuk mengambil sesuatu dari sana.            “Kalau gitu... kita bisa pergi bareng dong,” Renata menggoyang-goyangkan sebuah undangan yang beberapa saat lalu juga diterima oleh Revan.            “Kamu juga di undang?”            “Aku masih saudaranya Kila juga kok, Van.”            Revan mengulum senyum manisnya yang menawan. Lalu dia menepuk bagian sofa di sebelahnya, membuat Renata langsung menuruti kemauan kekasihnya itu dan sebagai hadiahnya, Renata mendapatkan pelukan dan ciuman manis Revan.            “Jadi, sampai nanti malam kita di sini aja?” tanya Renata, jemarinya bermain di rahang Revan yang menatapnya intim.            “Hm.”            “Duduk disini dan ngobrol?”            “Ya.”            “Benar-benar ngobrol?”            Tawa serak Revan membuat Renata tersenyum geli. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Revan, menarik kepala Revan kebawah hingga dia bisa mengecupnya lama lalu saat melepasnya, Renata memberikan tatapan penuh artinya yang sangat di mengerti Revan.            Maka, dengan gerakan yang leluasa dan telah terbiasa, Revan segera menggendong Renata dan membawanya ke dalam kamar.            Melewati beberapa jam kedepan untuk saling memadu kasih. *** Revan dan Renata sampai di tempat dimana Fashion Show GW di selenggarakan dalam waktu yang hampir bersamaan. Revan sampai lebih dulu, dan lima menit kemudian Renata menyusul. Mereka sengaja melakukan itu agar tidak membuat orang-orang curiga. Atau lebih tepatnya orangtua Renata.            Seperti titah sang kakak. Revan menyempatkan diri untuk membeli sebuket bunga yang besar sebelum pergi. Begitu dia sampai di dalam, matanya mencari keberadaan Kila untuk menyerahkan buket bunga yang mengganggu pandangannya. Dia benci hal-hal berbau romantis sejujurnya.            Bahkan bersama Renata, dia tidak pernah melakukan hal-hal seperti memberikan Renata bunga, cokelat atau hadiah di hari-hari penting. Renata sudah sangat memaklumi. Jangankan memberi hadiah. Ingat kapan hari anniversary mereka saja dia tidak. Saat Renata ulang tahun pun Revan tidak pernah memberi hadiah. Hanya ucapan selamat ulang tahun dan kalimat membosankan seperti mau hadiah apa? Nanti beli aja pakai card aku.            Ya, Revan Anggara memang semembosankan itu.            “Loh, abang juga datang?”            Teguran Bima yang tiba-tiba muncul disampingnya membuat Revan menghentikan kegiatannya mencari-cari keberadaan Kila.            “Iya. Mba Kila dimana?”            “Tadi ada. Tapi udah balik ke backstage. Tumben datang.”            “Di undang.”            “Iya, gue juga tahu lo kesini pasti di undang. Tapi nggak biasanya aja.”            “Di paksa sama mba Kila.”            Bima menyengir kecil. Sejujurnya, dia pun sama di paksanya. Tapi ya sudah lah, mereka sama-sama tahu bagaimana sifat kakak mereka itu.            Acara sudah akan di mulai. Bima dan Revan segera duduk di tempat yang sudah disediakan. Saat melihat-lihat sekitar, Revan menemukan keberadaan kedua orangtuanya beserta Dimas yang duduk di tengah-tengah mereka.            Sontak saja wajahnya mengernyit bingung. “Kok Dimas bisa di sini?” tanyanya pada Bima.            Bima mengikuti kemana arah pandang Revan kemudian mengangguk kecil. “Ngga tahu, pas gue sampai, dia udah di sini. Mama yang ajak deh kayaknya.”            “Calista mana?” tanya Revan lagi.            “Nanti nyusul kata Mama.” Jawab Bima kemudian dia menggedikkan kepala kearah panggung karena acara sudah dimulai.            Revan menatap kearah panggung dengan wajah bosan. Kemudian melirik buket bunga di pangkuannya. Dia berdecak pelan, malas sekali membawa bunga sebesar ini duduk bersamanya.            Seorang host mulai membawakan acara, Bima mendengarkan dengan khusuk. Sementara Revan memilih berkutat dengan ponselnya. Sampai sebuah pesan masuk keponselnya.            Muka bosennya dikondisikan sedikit dong, sayang.            Membacanya dengan bibir tersenyum kecil, Revan sontak mencari di mana keberadaan Renata. Mata mereka bertemu pandang, bibir mereka mengulas senyuman yang sama. Harusnya sekarang kita nggak berada di sini. Terus dimana? Masih di apartemen kamu. Telanjang. Dengan kamu yang menari striptis di depan aku. Nakal. Revan mengulum senyumnya. “Anjir, sok ganteng banget ini anak.” Umpatan Bima bernada mencemo’oh di iringi kekehan membuat Revan menoleh ke depan. Di atas catwalk ada Akbar yang sedang berjalan gagah dengan wajah tanpa senyuman yang terlihat yeah... memang menawan. Tapi sebagai orang yang mengenal benar bagaimana Akbar dikesehariannya, hal itu membuat Bima dan Revan tertawa lucu melihatnya. Akbar ganteng bangeeeeeeeeeet. Revan mendecih membaca pesan yang Renata kirimkan. Masih belum puas dengan satu berondong, hm? Siapa yang kamu maksud berondong? Akbar? Aku. Kamu? Berondong? Van, masih ingat umur, kan? Tetap aja aku memang lebih muda dari pada kamu. Dan Akbar jauuuuuuhhh lebih muda dari pada kamu. Terus? Aku suka Akbar, deh. Ya udah. Ya udah apa? Besok aku berhenti kerja. Daftar jadi modelnya GW Biar kamu sukanya tetap sama aku. Revan melirik ke arah Renata yang sedang menutup mulutnya dengan telapak tangan karena menahan tawa. Renata sempat di tatap Mamanya yang duduk di sampingnya dengan bingung, namun dia cepat-cepat menggelengkan kepala dan melirik Revan geli. Senyuman geli yang menulari Revan. Mereka terus berbalas pesan. Tanpa mau memedulikan sekitar. Terlalu larut dalam dunia mereka sendiri. Sampai tiba-tiba saja gumaman Bima kembali terdengar. Kali ini terdengar lebih heboh dari sebelumnya saat dia melihat Akbar. Bahkan disertai sikutan berkali-kali di lengan Revan. “Oh my God! Cantik banget...” Revan melirik Bima kesal karena menyikut lengannya terus menerus. Lalu dia menatap ke objek yang sejak tadi membuat Bima seheboh ini. Dan Revan melihatnya. Di sana, di atas catwalk. Ada seorang perempuan yang teramat dia kenali namun malam ini seolah tidak dia kenali. Calista. Kedua mata Revan tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya pada apa yang sedang dia tatap. Itu Calista, istrinya, sedang berjalan anggun dengan senyuman yang sama anggunnya. Tidak. Calista tidak berlenggak lenggok bak model papan atas. Dia hanya berjalan santai, dengan raut wajah seperti kesehariannya. Ramah dengan penuh dengan senyumannya. Hanya saja, wajah itu malam ini terlihat berbeda oleh polesan make up yang membuat Calista terlihat cantik. Cantik... Kata itu terus menerus berputar di kepala Revan mana kala matanya tidak bisa berhenti memandangi Calista. Calista memakai gaun tanpa lengan berwarna peach yang panjangnya sebatas lutut. Rambutnya yang malam ini bergelombang tergerai. Heels tinggi yang tidak pernah Revan lihat ada di rumah mereka. Dan ini adalah kali pertama Revan menemukan Calista dalam penampilan seperti ini. Calista terlihat berbeda. Sangat berbeda. Calista yang dalam kesehariannya selalu berpakaian sopan dan cenderung tertutup, malam ini dia seolah menampilkan sisi terbaik yang belum pernah dilihat siapa pun termasuk Revan sendiri. Revan melihat Calista menoleh pada Dimas yang melambai penuh semangat padanya, Calista mengulas senyuman geli dan mengedipkan matanya. Manis sekali... gumam Revan lagi di dalam hati. Lalu wajah itu kembali menghadap ke depan, dan entah mengapa, tiba-tiba saja kedua mata itu seolah sedang mencarinya. Lalu ketika kedua mata mereka bertemu, untuk beberapa detik kedepan, Revan merasa seolah degup jantungnya berdetak sedikit lebih kencang dari ritme biasanya. Hal lebih gila dari itu terjadi mana kala Calista mengulas senyuman sederhananya yang membuat Revan semakin terpana. Degup jantungnya semakin menggila, matanya seolah tidak ingin melepas pandangannya dari wajah Calista. Cantik... kata itu kembali bergaung di telinganya.            Lalu mengapa selama ini Revan tidak pernah menyadarinya? ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD