Setelah pertemuanku dan Irzy di taman Rumah Sakit waktu itu , segala cara ku lakukan untuk menghindarinya. Hari itu , setelah memberiku beberapa lembar tissu. Tidak! Tissu itu bukan untuk menyeka air mataku , menangis hanya karna malu itu terlalu drama. Dan fakta bahwa Irzy mengetahui kebiasaanku saat panik dan gugup , masih menjadi misteri di dalam otakku hingga saat ini. Setelah itu , dia duduk di sampingku. Cukup lama waktu yang kami habiskan tanpa suara , padahal dia bisa menanyakan banyak hal tentang 'Apa saja yang aku bicarakan tentang dia kepada Umi?' , 'Kenapa aku membicarakan dia kepada Umi?' atau 'Bagaimana perasaanku tentang dia?'. Tapi nyatanya dia lebih memilih untuk diam , seolah sedang memberiku waktu untuk berpikir. Dan kebersamaan tanpa suara itu harus berakhir dengan

